
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Di sisi lain..
"Yaaaakkk!! Bukan kah sudah ku katakan padamu untuk mengosongkan jadwalku hari ini? Kenapa kau menerima jadwal pemotretan ini!!!" Flow berteriak di depan muka Anna yang tengah menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya, nona. Tapi, kalau saya menolak, saya takut nona akan di berikan sanksi." Anna menyahut dengan suara yang sedikit gugup.
"Apa peduliku dengan sanksi, aku benar-benar muak jika harus terus menerus bekerja di bawah tekanan gadis sok berkuasa itu." Flow kini semakin meninggikan suaranya.
Anna yang mendengar teriakan nyaring Flow pun hanya bisa semakin menundukkan kepalanya. Tapi sejujurnya, Anna juga merasa sedikit penasaran. Apakah tenggorokan gadis yang menjadi atasannya itu tidak sakit? Karena sungguh, suara teriakan yang di hasilkan oleh Flow benar-benar membuat kupingnya terasa berdengung.
"Aku tidak mau tau.. Aku tidak ingin melakukan pemotretan hari ini!!" Flow kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Anna seketika menegakkan wajahnya, gadis itu segera mengejar Flow. "Tapi, nona.. Apa yang harus saya katakan pada pihak agency? Saya benar-benar tidak tahu harus memberikan alasan apa."
Flow seketika menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Anna. Anna berdiri di belakang Flow, gadis itu menundukkan kepalanya dengan nafas yang sedikit dia tahan, bersiap untuk mendengar teriakan yang mungkin saja akan kembali di suarakan oleh Flow.
Flow lantas membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah Anna. "Itu urusanmu!!"
Benar kan apa kata Anna, Flow benar-benar kembali meneriakinya.
"Aku tidak peduli tentang apa yang akan kau katakan sebagai alasan!! Aku tidak ingin ambil pusing!! Aku membayarmu untuk melakukan hal ini!!"
Nafas Flow kini terdengar sangat memburu karena merasa emosi. Kedua tangan gadis itu terangkat seakan hendak meremas kepala Anna.
"Haisssshhh, katakan saja apa yang bisa kau katakan!!" Flow berkata dengan gigi yang terkatu rapat seraya meremat tangannya di udara dengan sangat gemas.
Karena sungguh, hingga hari ini, Flow sama sekali belum merasakan apa itu hari libur. Flow benar-benar muak atas apa yang di jalaninya kini dalam sehari-harinya. Sungguh, jika boleh jujur, kini Flow merasa sedikit menyesal karena telah mengikuti rencana yang di buat oleh Fabio.
Karena dengan Flow mengikuti rencana yang di buat oleh pria itu, Flow kini benar-benar merasa seperti telah di renggut kebebasannya. Andai saja Flow bisa mengulang waktu, Flow akan menolak mentah-mentah ajakan Fabio untuk melakukan rencana yang di buat oleh pria itu.
Oh ayolah.. Bayangkan saja.. Bahkan hanya untuk sekedar menghabiskan waktu santai dengan meminum segelas kopi saja Flow tidak bisa melakukannya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena Flow sama sekali tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu.
Flow juga kini benar-benar semakin membenci Teya. Gadis itu benar-benar mempekerjakannya dengan sangat keras. Uang bayaran yang di terima Flow memang tidak bisa di bilang main-main jika menghitung jumlahnya.
Tapi tetap saja, jika Flow harus bekerja terlalu keras seperti ini, Flow benar-benar merasa sangat muak.
__ADS_1
Flow lantas menghela nafasnya kemudian menatap Anna dengan sangat tajam. "Pergilah, hari ini aku sama sekali tidak ingin mendapat gangguan apa pun.." Gadis itu berkata dengan suaranya yang terdengar sangat lelah.
Anna perlahan mengangkat wajahnya, gadis itu menatap Flow dengan sangat memelas. "Tapi non.."
"Yaaaaakkkkk!!!!!" Flow berteriak tepat di depan wajah Anna.
Yang mana, hal itu seketika membuat Anna sedikit memundurkan wajahnya dengan mata yang terpejam.
"Pergiii!!!"
Flow kembali berteriak dengan di penuhi rasa emosi, gadis itu mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah pintu keluar kamarnya. Mengusir Anna agar segera pergi dari hadapannya.
Anna pun akhirnya mau tidak mau memilih untuk segera pergi dari sana sebelum dia kembali mendapatkan teriakan ajaib dari Flow.
Flow lantas berkacak pinggang seraya mengatur nafasnya yang sedikit tersengal-sengal. Karena sunggu, emosinya benar-benar terasa sangat meledak-ledak.
Setelah nafasnya kembali normal, gadis itu pun akhirnya memilih untuk membersihkan diri.
Selesai dengan membersihkan diri, gadis itu segera bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
.....
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam lamanya, Flow pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Yang mana, tempat itu adalah rumah milik Fabio. Gadis itu kemudian memarkirkan mobilnya di tempat parkir.
Melihat Flow datang dengan wajah yang terlihat sangat suram, lantas membuat Fabio menaikkan sebelah alisnya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Pria itu bertanya dengan sedikit bingung.
Flow lantas menoleh pada Fabio yang tengah duduk di atas sofa ruang tamu dengan ipad yang berada di dalam genggaman pria itu.
Flow melangkah mendekati Fabio dengan bibir yang mencebik sebal. "Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih berani bertanya ada apa? Hoooo.. Sungguh.. Andai kau bukan sepupuku, aku sudah merusak wajah tampanmu dengan kuku jari tanganku yang sangat tajam ini!!" Gadis itu berkata dengan sangat bersungut-sungut.
Melihat Flow yang sangat emosi, seketika membuat Fabio menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Sebaiknya kau duduk terlebih dahulu, buat pikiranmu sedikit lebih rileks, baru setelahnya kau menceritakan apa yang sebenarnya kau alami." Fabio berusaha untuk sedikit menenangkan emosi Flow.
Flow pun melakukan apa yang di katakan oleh Fabio, gadis itu duduk di sofa yang berhadapan dengan Fabio lalu mulai sedikit mengatur emosinya.
Setelah melihat Flow yang sedikit rileks, Fabio pun meletakkan tablet yang tengah di pegang ke atas meja. Pria itu menyilangkan kakinya kemudian menatap Flow dengan lembut.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Fabio kemudian.
__ADS_1
Flow lantas menghela nafasnya kemudian mulai menceritakan apa yang sudah terjadi beberapa waktu terakhir ini.
Setelah Flow menyelesaikan ceritanya, Fabio lantas mengembangkan senyum kecilnya. "Anggap saja itu sebagai usaha yang kau lakukan untuk mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Apa kau bilang? Usaha?? Haha.." Gadis itu mengeluarkan tawa jengahnya. "Aku sebaiknya berhenti sampai di sini."
"Khem.." Fabio seketika berdehem kecil, dia sedikit tidak menyangka jika Flow akan menyerah. "Tidak bisa kah kau bersabar untuk sedikit lagi?"
Mendengar apa yang di kataka oleh Fabio, seketika membuat Flow menatap pria itu dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Apa maksudmu?"
"Sedikit lagi.. Sedikit lagi kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.. Begitu pun dengan ku, sedikit lagi aku akan mendapatkan apa yang menjadi tujuanku.."
"Aku masih tidak mengerti."
"Acara peresmian pemegang saham.. Kita akan menjalankan rencana di saat acara itu di langsungkan."
"Tiba-tiba saja?"
Fabio menggelengkan kepalanya. "Aku sudah merencanakannya sejak lam."
Flow mengatupkan giginya rapat-rapat. "Kenapa kau tidak memberitahuku sedari awal!!" Gadis itu berkata dengan sangat gemas.
"Jangan berkata karena aku tidak bertanya!!" Flow kembali berkata saat Fabio hendak menyahuti perkataannya.
"Baiklah-baiklah.. Maafkan aku, di sini, aku yang salah.. Jadi, kau hanya perlu bersabar untuk 1 bulan lagi."
Flow pun menghela nafasnya, gadis itu bersedekap dada kemudian menatap Fabio dengan di penuhi rasa penasaran. "Kali ini, apa yang sedang kau rencanakan?"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..