Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Kemarahan Teya


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Tepuk tangan menggema dengan begitu meriah pertanda berakhirnya pentas drama yang baru saja di adakan.


"Terima kasih, Javer. Aku benar-benar menyukainya.. Aku benar-benar merasa bahagia.." Teya menatap Javer dengan penuh haru.


Javer menyunggingkan senyumnya. "Jangan berterima kasih, babby.. Sudah seharusnya aku membahagiakanmu."


Teya pun membalas senyuman Javer. "Ah ya, aku harus mencari Al. Dia sudah terlalu lama berada di luar."


"Kau di sini saja, biarkan aku yang mencari Al, hmm.. Nikmati saja acara penutupannya." Javer menyelipkan helaian rambut Teya ke belakang telinga wanita itu.


Teya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


Javer pun beranjak dari sana untuk mencari keberadaan Nay dan Al. Pria itu mendatangi taman terlebih dahulu, karena satu-satunya tempat yang nyaman untuk Al adalah taman.


Namun sayangnya, saat Javer mendatangi taman, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan Nay dan Al.


Javer lantas menyusuri setiap sudut luar gedung. Namun, dia tetap tidak menemukan keberadaan mereka.


Javer lantas masuk ke dalam gedung untuk memastikan, siapa tau mereka berada di sana. Karena gedung itu merupakan gedung khusus yang biasa di sewa untuk melakukan pertunjukkan. Tidak ada ruangan lain selain ruangan gedung itu sendiri, ruang ganti, dan toilet. Jadi, Javer hanya bisa memeriksa keberadaan Nay dan Al ke setiap ruangan itu.


Tapi sayangnya, setelah membuka satu persatu ruangan yang ada, Javer tetap tidak menemukan keberadaan Nay. Bahkan Javer rela masuk ke dalam toilet perempuan demi untuk mencari Nay dan Al.


"Ck, di mana mereka?" Javer bergumam seraya menuju tempat parkir.


Javer masih berusaha untuk bersikap tenang, siapa tau saja Nay membawa Al ke dalam mobil.


Namun, sayang seribu sayang, Javer juga tetap tidak bisa menemukan keberadaan Nay dan Al.


Javer lantas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Marco yang kini tengah berada di dalam gedung bersama dengan Teya dan yang lainnya.


Setelah dering ke 4, Marco pun mengangkat panggilannya.


πŸ“ž(Ya Tuan?)


"Menjauhlah dari Teya." Sahut Javer cepat.


πŸ“ž(Baik Tuan.)


Setelah menunggu untuk beberapa saat, Javer kembali mendengar suara Marco.


πŸ“ž(Saya sudah berada di luar gedung, tuan.)


"Nay dan Al menghilang, segera kerahkan para bawahan yang ada untuk mencari keberadaan mereka di sekitaran gedung. Dan jangan sampai Teya mengetahui tentang hal ini." Titah Javer.

__ADS_1


πŸ“ž(Baik, Tuan.)


Lalu, sambungan pun terputus.


Tidak ingin hanya tinggal diam, Javer pun kembali mencari keberadaan Nay dan Al.


Hingga setelah mencari selama hampir 1 jam lamanya, mereka pun tetap tidak bisa menemukan keberadaan Nay dan Al.


Javer yang kini tengah berada di atas atap gedung untuk melihat keadaan sekitar, segera mengangkat panggilan dari Marco yang masuk ke ponselnya.


"Bagaimana?" Tanya Javer cepat.


πŸ“ž(Maafkan kami, Tuan. Kami sudah mencari ke setiap sudut yang ada, kami bahkan memastikannya sebanyak 4x. Tapi kami tetap tidak bisa menemukan keberadaan Nay dan tuan muda Al.)


Javer seketika saja menggeram karena merasa frustasi.


"Bubarkan acaranya dan segera berkumpul di markas utama!" Titah Javer dengan tegas.


πŸ“ž(Baik, tuan.)


Sambungan pun terputus.


Javer lantas turun dari atap gedung kemudian segera masuk ke dalam gedung untuk menghampiri Teya.


Melihat Javer yang datang sendiri, seketika saja membuat Teya mengernyitkan dahinya. "Di mana Al? Kenapa dia tidak bersama mu? Bukan kah kau akan membawanya kemari?"


Mendengar pertanyaan beruntun dari Teya, sontak saja membuat Javer mengusap tengkuknya canggung. Dia benar-benar merasa sangat bingung, bagaimana caranya dia menjelaskan mengenai keadaan ini pada Teya.


Melihat mata Javer yang memancarkan rasa frustasi, seketika saja membuat Teya memiliki firasat buruk.


Tidak hanya Teya saja. Para orang tua yang melihat Javer duduk bersimpuh di depan Teya pun menatap Javer dengan tatapan bingung.


"Apa yang kau lakukan, Javer?" Teya menarik kedua tangannya yang di genggam oleh Javer.


Namun Javer mempertahankan kedua tangan wanita itu agar tetap berada di dalam genggamannya.


"Dengarkan aku, babby.. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku mohon padamu, kau harus bersikap tenang. Okay?" Javer menatap Teya dengan instens.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Javer, benar-benar membuat firasat buruk yang di rasakan oleh Teya kini semakin menjadi.


Begitu pula dengan para orang tua, kini mereka menatap Javer dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


Namun, meskipun Teya memiliki firasat yang sangat buruk, Teya tetap menganggukkan kepalanya, menyutujui apa yang di minta oleh Javer.


"Berjanjilah untuk bersikap tenang." Javer ingin memastikan satu kali lagi.


Teya kembali menganggukkan kepalanya. "Katakanlah.."


"Nay dan Al menghilang." Ucap Javer cepat.

__ADS_1


Berbeda dengan Teya yang diam membisu, para orang tua kini berdiri untuk mendekati Javer.


Athena lantas menarin Javer untuk berdiri, wanita itu menghadapkan Javer ke arahnya.


"Katakan sekali lagi!" Athena menatap Javer dengan sangat tajam.


"Nay dan Al menghilang." Javer mengulangi perkataanya.


Athena dan Amaya yang mendengar hal itu pun seketika saja merasa lemas.


Yama dan Roma pun dengan sigap membantu kedua wanita itu untuk mempertahankan keseimbangan tubuh mereka.


Javer lantas kembali menghadap ke arah Teya, pria itu kembali menggenggam kedua tangan Teya.


"Babby?" Ucap Javer.


Tanpa berkata apa pun, Teya tiba-tiba saja beranjak dari duduknya. Wanita itu menarik kedua tangannya dari genggaman Javer kemudian berlalu pergi dari sana.


Namun, Javer segera menghentikan langkah wanita itu.


"Kemana kau akan pergi?" Tanya Javer.


Teya menoleh pada Javer dengan tatapan nyalangnya. "Markas! Aku akan meminta Kheil untuk melacak keberadaan Al. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anakku! Aku akan meratakan siapa saja yang berani bermain-main dengan anakku!!"


Javer seketika saja menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh, tatapan mata Teya kini benar-benar memancarkan aura kemarahan yang sangat besar. Ini adalah kali pertama Javer melihat Teya yang benar-benar marah seperti ini.


Terlebih lagi, mendengar suara Teya yang tiba-tiba saja berubah menjadi sangat rendah. Benar-benar membuat Javer sedikit bergidik ngeri.


Javer baru tau kalau Teya bisa se mengerikan ini jika emosinya tersulut. Javer kira, hanya Athena saja yang terlihat mengerikan ketika benar-benar marah. Namun, setelah melihat Teya yang terlihat mengerikan ketika marah, sepertinya Javer harus menambahkan Teya ke dalam daftar wanita yang harus dia waspadai ketika wanita itu marah.


"Calm down, babby.. Atur nafasmu.. Kita akan mencarinya bersama-sama.." Javer berusaha meredamkan emosi Teya.


"Kalau begitu cepatlah! Kita tidak tahu apa yang kini tengah di alami Al!" Teya berkata dengan sedikit gemas.


"Ok, ok.. Kita ke markas sekarang."


Tanpa menyahuti perkataan Javer, Teya segera berlalu pergi dari sana.


Javer pun mengikuti langkah Teya dari belakang dengan perasaan yang sedikit was-was. Kira-kira, apa yang akan di lakukan oleh wanita itu jika dia sudah menemukan orang yang menyembunyikan Al?


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2