
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sebelumnya...
"Jaaa..."
"Haissshhh!!"
Tapi terlambat, Javer sudah lebih dulu menegak habis minuman yang di berikan oleh pelayan itu.
....
"Hoishh!! Shi...T!! God dam..n It!!" Pantas saja dia tidak bisa mendengarku!!"
Kheil mengumpat seraya memperhatikan earphonenya yang retak akibat benturan yang terlalu keras.
"Setelah ini aku harus membuat earphone yang tahan banting!!"
Kheil menggerutu seraya melangkah ke arah laci tempat penyimpanan earphone. Pria itu lantas mengambil 1 earphone lainnya yang masih berfungsi.
Melihat Javer yang masih terlihat normal, seketika saja membuat Kheil sedikit mengerutkan keningnya.
Pria itu kembali mendekati meja komputernya dengan wajah yang di penuhi dengan tanda tanya.
"Apa yang di berikan pelayan itu? Kenapa Javer masih terlihat baik-baik saja?"
Kheil bergumam seraya menyambungkan earphone yang baru di ambilnya itu dengan milik yang lainnya. Pria itu mengotak atik pengaturan earphone itu dengan pikirannya yang tertuju kepada Javer.
"Apa aku salah menebak? Lantas, jika bukan racun, apa yang di bubuhkan pelayan itu pada minuman yang di minum Javer?"
Ya, Kheil merasa sangat panik menghadapi hal yang baru saja terjadi karena dia pikir, cairan yang di bubuhkan pelayan pada minuman milik Javer adalah racun.
Tapi, setelah melihat Javer yang baik-baik saja, membuat Kheil kini benar-benar berpikir keras. Karena dia sama sekali tidak bisa menebak, cairan apa yang sebenarnya di minum oleh Javer.
Setelah selesai mengotak atik pengaturan yang menyambungkan earphone itu dengan milik yang lainnya. Kheil pun mencoba untuk memanggil 4 pria itu.
"Halo, halo.. Cek, cek!! Kalian bisa mendengarku??"
Namun, selama 2 menit menunggu, dia sama sekali tidak mendengar sahutan apa pun dari ke 4 pria itu.
"Halo.. Halo... Apa kalian bisa mendengarku???? Liam? Enzo? Marco? Javer? Yuhuuuu.. Apa kuping kalian tersumbat sesuatu??"
Tetap saja.. Dia tidak mendapatkan sahutan apa pun.
"Haish..!! Kenapa earphone ini juga tidak berfungsi."
Kheil lantas kembali beranjak dari sana kemudian melangkah kembali mendekati laci penyimpanan earphone. Dia memutuskan untuk membawa laci berisi berbagai macam earphone itu ke meja komputernya guna mencoba semua earphone yang ada.
__ADS_1
15 menit pun berlalu, namun Kheil sama sekali belum menemukan satu pun earphone yang dapat tersambung dengan ke 4 orang pria itu.
"Haishh!! Sebenarnya apa yang salah dengan tumpukan earphone ini!! Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang berfungsi!!"
Kheil terus mencoba menghubungkan satu persatu earphone itu dengan teman-temannya. Saat dia tengah terus mencoba, dia melihat sedikit keanehan dari tingkah Javer.
"Tunggu dulu.. Apa mungkin??"
Kheil lantas memperbesar layar yang menampilkan pergerakan Javer. Kebetulan, Javer saat ini tengah menoleh ke arah kamera, hal itu membuat Kheil dapat memperhatikan wajah Javer dengan lebih teliti.
"Holly Shi...T!! Itu *Afrodisiak!!! Kenapa aku tidak terpikirkan sejak tadi!!"
*Note : Afrodisiak adalah obat perangsang.
Kheil bisa langsung menyebutkan apa yang di bubuhkan pelayan itu di minuman Javer setelah melihat wajah Javer yang mulai memerah dengan mata yang mulai terlihat sayu. Bahkan kini Kheil dapat melihat kalau Javer mulai kehilangan kesadarannya.
"Oh God.. Apa yang harus aku lakukan??"
Kheil masih saja terus mencoba untuk menghubungkan berbagai earphone itu, dia tidak menyadari kalau berbagai earphone yang tengah di cobanya adalah berbagai earphone yang akan di buangnya.
Ya, Kheil berniat untuk membuang berbagai earphone itu karena earphone itu merupakan earphone yang gagal dia rakit. Atau lebih umumya, kita sebut saja sebagai earphone yang rusak.
Cerobohnya dia, karena terlalu bersemangat untuk menjalankan rencana, dia tidak sengaja memasukkan berbagai macam earphone yang rusak itu ke dalam laci penyimpanan. Sedangkan untuk earphone yang masih berfungsi, justru dia masukkan ke dalam tas pembuangan.
Kheil yang masih belum menyadari kecerobohannya pun masih berusaha untuk mencoba satu persatu earphone itu. Karena itu merupakan hal yang lebih efisien untuk di lakukan.
Karena kalau dia harus menyusul Javer ke hotel, itu akan terlalu memakan waktu karena jarak dari markas menuju hotel memerlukan waktu sekitar 1,5 jam dalam jarak tempuh yang normal.
Pria itu menggerutu seraya terus mencoba dengan rasa panik yang mulai menyerangnya.
Namun, setelah 10 menit berlalu, tidak ada satu pun dari earphone itu yang bisa dia gunakan.
Kheil lantas kembali melihat layar, di mana Javer kini terlihat melangkah entah kemana dengan langkah pria itu yang sedikit limbung.
Pria itu terus memperhatikan Javer yang mulai mendekati lift. Saat Javer sampai di depan lift, Kheil melihat si pelayan yang tadi memberikan minuman pada Javer kini mulai mendekat ke arah Javer.
Yang mana, hal itu kini benar-benar membuat Kheil merasa sangat panik.
Kheil yang kini sudah merasa frustasi pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari duduknya kemudian segera mengenakan jaket miliknya.
Pria itu lalu berlari menuju garasi penyimpanan kendaraan kemudian memakai helm full face yang tersusun rapi di rak penyimpanan.
Kheil lantas menyambar kunci motor kesayangan milik Liam.
"Huhffh.. Liam, maafkan aku, aku terpaksa harus menggunakan kekasihmu.."
Pria itu lalu segera menaiki kendaraan roda 2 kesayangan milik Liam itu. Dia kemudian mengendarai motor milik Liam menuju hotel tempat di mana Javer berada dengan kecepatan penuh.
.....
Mari kita beralih ke sisi Javer..
__ADS_1
(Javer!!)
Javer mengerutkan dahinya tat kala mendengar suara Kheil yang memanggilnya dengan sedikit keras.
Namun, setelah menunggu hingga beberapa saat, Javer tidak mendengar apa pun lagi.
Javer tidak bisa menyahuti Kheil karena dia tengah berbincang dengan kolega-kolega bisnisnya.
Pria itu pun akhirnya memilih untuk mengabaikan Kheil karena dia pikir, Kheil mungkin saja sedang dalam keisengannya. Tapi, untuk apa juga Kheil melakukan hal itu di saat mereka tengah menjalankan rencana? Tapi, ah sudahlah.. Javer tidak terlalu memikirkan hal itu.
Saat Javer tengah melanjutkan perbincangannya, ada seorang pelayan wanita yang datang menghampirinya dengan membawa minuman.
"Champagne untuk kemenanganmu, Tuan.." Ucap si pelayan wanita itu.
Javer yang tidak menaruh rasa curiga pun mengambil minuman itu tanpa berpikir panjang lagi.
Salah satu kolega Javer yang ada di sana pun mengajak Javer untuk bersulang, karena kebetulan, mereka yang ada di sana sudah memegang gelas minuman mereka masing-masing.
Javer pun menyunggingkan senyum kecilnya kemudian sedikit mengangkat gelas yang tengah dia pegang, di susul oleh para kolega yang tengah berbincang dengan Javer yang juga ikut mengangkat gelas mereka untuk bersulang.
Javer lantas menenggak minuman itu dalam sekali teguk hingga minuman itu benar-benar tandas.
Pria itu lalu memanggil salah satu pelayan pria yang kebetulan lewat di dekatnya. Dia lalu meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas nampan yang di bawa oleh si pelayan.
Javer lalu kembali melanjutkan perbincangannya dengan oara kolega-koleganya.
Namun, selang 15 menit berlalu, Javer mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dari tubuhnya.
Tangan kanan pria itu lalu terangkat untuk melonggarkan dasi yang di kenakannya karena tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas.
Menyadari apa yang tengah di alaminya, lantas membuat Javer mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru arah untuk mencari keberadaan si pelayan wanita yang tadi memberikan minuman untuknya.
Namun sayangnya, Javer sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan si pelayan wanita itu.
"Aku harus menandai pelayan itu!"
Javer bergumam di dalam hatinya seraya menoleh pada kamera pengawas di mana Kheil dapat melihatnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1