
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Mia yang sudah tidak berdaya pun hanya bisa pasrah menerima setiap tinju yang di layangkan oleh Teya.
Kondisi Ben juga tidak jauh berbeda dengan Mia dan Fabio. Pria itu tersungkur beberapa kali akibat menerima pukulan dari Liam, wajah pria itu pun juga sudah di penuhi dengan darah. Tapi bedanya, Ben bisa menandingi Liam dn membuat kondisi Liam sama berantakannya dengannya.
Padahal, jika di bandingkan dengan Fabio, Ben jauh lebih lemah dalam berkelahi. Namun, karena Fabio terlalu tersulut emosi, membuat Fabio kini jauh lebih lemah jika di bandingkan dengan Ben.
Saat Fabio, Mia dan Ben dalam posisi yang hampir sekarat, mereka bertiga terselamatkan oleh teriakan Fier yang meminta mereka untuk menghentikan perkelahian.
Mereka semua yang ada di sana pun menatap ke arah datangnya Fier.
Namun, alangkah terkejutnya pihak Javer saat melihat Fier yang datang dengan Al yang berada di dalam gendongan pria itu bersama dengan Nay yang di seret dalam keadaan terikat oleh anak buah pria itu.. Terlebih lagi dengan melihat tangan kanan Fier yang menggenggam sebilah pisau, membuat Javer, Teya dan Liam pun memilih untuk tidak lagi melayangkan pukulan. Namun, mereka tetap menahan Mia, Fabio dan Ben sebagai sandera.
Belum selesai rasa terkejut yang di alami pihak Javer akibat Fabio yang datang dengan Nay dan Al sebagai sanderanya. Kini mereka merasa semakin terkejut saat melihat salah satu anak buah Fabio menyeret Marco yang kini tengah dalam keadaan sekarat.
Ya, orang yang sebelumnya di tendang oleh Nay bukanlah salah satu anak buah Fabio. Melainkan Marco yang sengaja berkeliling untuk mencari keberadaan Al.
....
Flashback ke beberapa saat yang lalu..
Saat Nay melihat sosok pria itu, Nay pun segera menendang pria itu hingga pria itu terjungkal.
Namun, saat Nay melihat orang yang baru saja dia tendang, Nay tiba-tiba saja menelan ludahnya dengan kasar.
"Ya ampun, Tuan, maafkan saya.." Nay membantu Marco untuk berdiri
"Saya benar-benar minta maaf Tuan, saya kira Tuan Marco adalah salah satu anak buah Fabio yang tadi sempat mengejar saya."
"Ya, tak apa, aku baik-baik saja."
Tapi percayalah, meskipun mulut pria itu berkata demikian, berbeda halnya dengan perutnya yang sebelumnya dia tendang oleh Nay. Karena sungguh, tendangan Nay tidaklah main-main hingga membuat Marco sedikit meringis akibat perutnya yang terus berdenyut.
Saat Marco hendak bertanya, niatnya itu harus terhenti karena Nay tiba-tiba saja menariknya menuju lorong yang tadi di lewati oleh Nay.
Nay melakukan hal itu karena dia melihat salah satu anak buah Marco yang berbelok ke lorong yang menuju ke tempat di mana dia dan Marco berada.
Marco yang mengerti maksud Nay pun hanya diam dan mengikuti langkah wanita itu.
Nay lantas membawa Marco untuk masuk ke salah satu ruangan yang dia temukan dengan niat untuk bersembunyi di sana.
Namun sayangnya, langkah yang di ambilnya itu benar-benar langkah yang salah.
__ADS_1
Karena di dalam ruangan itu ternyata ada Fier dan empat orang anak buahnya.
"Sh*it!" Ucap Nay seraya hendak keluar dari ruangan itu.
Tapi sayang, Nay dan Marco tidak bisa keluar dari ruangan itu karena anak buah Fabio yang sebelumnya di lihat oleh Nay kini sudah memblokir pintu keluar.
"O ho.. Tanpa harus di kejar pun, kalian sudah masuk ke dalam sangkar dengan sendirinya." Fier menatap Nay dan Marco dengan smirk yang tersungging di bibirnya.
Dalam keadaan terdesak seperti ini, akhirnya mau tak mau membuat Marco dan Nay pun memutuskan untuk melawan mereka.
"Maafkan atas kecerobohanku Tuan, sepertinya tidak ada pilihan lain selain melawan mereka." Kata Nay.
"Maka kita akan melawan mereka." Sahut Marco cepat.
"Hajar mereka!" Titah Fier.
Ke lima orang anak buah Fier pun segera maju untuk melawan Marco dan Nay.
Tapi sayangnya, ke lima anak buah itu bukanlah tandingan Nay dan Marco.
Meskipun Nay tengah menggendong Al, namun Nay bisa mengalahkan musuhnya dengan mudah. Begitu pula dengan Marco, dia bisa menumbangkan lawan hanya dengan dua kali pukulan.
Tapi, ke lima orang itu tidak ingin menyerah. Mereka bangkit kemudian kembali menyerang Marco dan Nay.
Namun sayangnya, Nay melupakan keberadaan Fier sehingga membuat Fier memanfatkan kelengahan Nay untuk menembakkan alat kejut listrik pada wanita itu. Dan ya, sekuat-kuatnya daya tahan tubuh Nay. Jika dia di serang dengan alat kejut listrik dalam keadaan yang tiba-tiba, tetap saja membuat Nay menjadi lemas seketika.
Tapi sayangnya, se erat apa pun dia memeluk Al. Salah satu anak buah Fier tetap dapat merebut Al dari Nay karena Nay benar-benar kehilangan tenaganya akibat alat kejut listrik itu.
Nay yang tidak berdaya pun hanya bisa menatap Al yang kini menangis kencang dengan mata yang berkaca-kaca. Nay benar-benar marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Al dengan baik.
Marco yang melihat hal itu pun menjadi sangat geram. Dia kini memukuli musuhnya dengan sangat brutal. Tanpa dia sadar kalau seseorang tengah bersiap untuk memukulnya dari belakang menggunakan tongkat besi.
Dan dalam satu kali pukulan yang sangat keras, orang itu mampu membuat Marco kini menjadi limbung.
Para anak buah Fier yang sedari tadi bertarung dengan Marco pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memukuli Marco dengan membabi buta.
Yang mana, hal itu kini membuat Marco tak berdaya.
Mereka terus memukuli Marco hingga keadaan Marco kini benar-benar sangat berantakan. Baju yang di kenakan Marco sudah tidak berbentuk, wajah tampan pria itu pun sudah di penuhi dengan darah.
Tidak ingin Marco menjadi sekarat akibat pukulan dari para anak buahnya, lantas membuat Fier segera menghentikan aksi mereka.
"Sudah cukup! Ikat tangannya lalu seret dia keluar dari sini!" Titah Marco.
Mereka pun segera mengikuti perintah dari Fier.
Flashback Off.
__ADS_1
.....
"Lepaskan mereka!" Titah Fier.
Teya menatap sendu pada Al yang tengah menangis dengan suara yang terdengar sangat serak, bahkan suara tangisan Al hampir tidak terdengar. Karena ya, bayi itu sudah terlalu lama menangis hingga membuat bayi itu mulai kehilangan suaranya.
Jika terus seperti ini, Teya sangat takut jika Al benar-benar akan kehilangan suaranya. Namun, Teya tidak bisa bertindak gegabah. Karena hal itu tentu saja akan membahayakan keselamatan Al.
"Tidak sebelum kau melepaskan mereka!!" Kata Teya.
"Lepaskan mereka terlebih dahulu, maka aku juga akan melepaskan mereka."
"Jangan anggap kami bodoh!!" Javer menatap Fier dengan sangat nyalang.
Fier menaikkan sebelah alisnya. "Bukan kah kau ingin anakmu kembali? Maka lepaskanlah mereka terlebih dahulu."
"Aku tidak akan melepaskan mereka!" Teya kini meninggikan suaranya.
"Baiklah, jika itu memang pilihanmu, maka aku akan mencelakai anakmu.."
Mendengar apa yang di katakan Fier, sontak saja membuat emosi Teya kini semakin meluap. "Jika kau berani melukai anakku meskipun hanya untuk satu centi saja, aku bersumpah, aku akan membunuh keponakanmu saat ini juga!"
Fier tiba-tiba saja terkekeh. "Lakukanlah!! Aku tidak membutuhkan pria lemah seperti dia. Selama ini aku hanya memanfaatkannya untuk membalaskan dendamku. Tapi sayangnya dia terlalu bodoh, sama seperti ayahnya! Aku sudah pernah menyaksikan kematian keluargaku di depan mataku sendiri. Aku tidak akan merasa keberatan jika harus menyaksikan kematian keluargaku untuk yang kedua kalinya."
Memdengar hal itu, seketika saja membuat Fabio menatap Fier dengan tatapan tak percaya. Fabio tiba-tiba saja terkekeh pilu, dia benar-benar tidak percaya kalau selama ini Fier hanya menjadikannya sebagai alat.
"Aku juga ingin kalian merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang paling di cintainya di depan mata kalian sendiri!" Fier kembali berkata.
"Tidak tidak!!" Ucap Teya saat melihat tangan kanan Fier yang memegang sebilah pisau terangkat untuk mencelakai Al.
Namun, sebelum hal itu terjadi.
"Hentikan semua omong kosongmu Fier!!!"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1