Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Harapan Tanpa Kepastian


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Beberapa waktu pun berlalu..


Setelah acara ulang tahun Teya, mereka kembali melakukan kesibukan mereka masing-masing.


Begitu pula dengan 3 gadis yang menjadi sahabat itu. Mereka selalu di sibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing hingga tidak memiliki waktu untuk menghabiskan waktu bersama.


Namun, setelah melewati kesibukan itu, mereka kini memiliki waktu untuk berkumpul. 3 gadis itu kini tengah menghabiskan waktu di rumah Teya.


Awalnya, mereka ingin menghabiskan waktu di coffee shop langganan mereka. Namun, karena Teya terlalu malas untuk berkendara, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumah gadis itu.


Saat ini, mereka tengah berkumpul di ruang televisi. Teya dan Hana duduk di atas karpet dengan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Gena tidur telungkup seraya menceritakan awal pertemuannya dengan Liam. Mereka mengabaikan suara dari televisi yang menyala.


"Kau sungguh tidak menganggap kami sebagai sahabatmu.." Hana berkata setelah Gena menyelesaikan ceritanya.


Hana kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Teya.


Teya mengangguk, menyetujui apa yang di katakan oleh Hana. "Andai saja kalian tidak bertemu di acara ulang tahunku tempo hari. Aku yakin, hingga saat ini, kau tidak akan bercerita kepada kami tentang Liam."


Gena menghela nafasnya kemudian membalikkan tubuhnya untuk tidur dengan terlentang. Gadis itu menoleh pada Hana dan Teya.


"Bukannya aku tidak ingin menceritakannya. Hanya saja, aku belum terlalu yakin mengenai Liam." Gena berkata dengan sedikit lirih.


"Apa yang tidak kau yakini?" Tanya Teya kemudian.


Gena kembali menghela nafasnya. "Aku tidak tahu, aku hanya belum yakin.. Terlebih lagi kini aku tau jika Liam adalah salah satu bagian dari klan Cosa Nostra.. Haaah.. Entahlah.."


Teya menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau memikirkan bahaya yang akan di hadapi?"


Gena menganggukkan kepalanya.


"Apa salahnya jika Liam adalah bagian dari Cosa Nostra? Bukan kah Teya juga menjalin hubungan dengan Javer. Terlebih lagi Javer adalah ketuanya.. Bukan kah itu lebih berbahaya?"


Mendengar apa yang di katakan Hana, lantas membuat Gena merenung untuk beberapa saat. "Aku tahu itu, hanya saja.. Ah, entahlah, aki bingung memikirkannya."


Teya seketika mengembangkan senyum kecilnya. "Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba.. Bukan kah dulu kau juga berkata seperti itu padaku ketika aku akan bertunangan dengan Javer? Maka cobalah.. Lakukan itu untuk dirimu sendiri.."


Teya menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya jika kau belum mencobanya.. Coba saja.. Yakinlah.. Semuanya tidak terlalu buruk.. Meskipun bahaya memang akan selalu menantimu, tapi ketahuilah, hal itu akan menjadi tantangan tersendiri untukmu.. Karna aku pun merasakannya.." Gadis itu mengakhiri kalimatnya dengan kekehan kecil.


"Apa kah harus?" Gena bertanya dengan sedikit ragu.

__ADS_1


Teya mengedikkan bahunya. "Aku tidak mengharuskannya, aku hanya memintamu untuk mencobanya.. Tapi ya.. Semua itu kembali kepada hatimu.. Jika kau memang merasa tidak yakin dan tidak siap untuk menjalaninya, maka jangan lakukan. Tapi, jika kau memang tidak ingin melakukannya, jangan pernah memberikan harapan apa pun kepada Liam.."


"Hmmm.. Mendapatkan harapan tanpa kepastian itu sangatlah menyakitkan.. Lebih baik mendapatkan penolakan dari pada hanya harapan tanpa kepastian.." Hana menimpali perkataan Teya dengan sedikit lirih.


Mendengar apa yang di katakan Hana, seketika membuat Gena dan Teya mengerutkan keningnya.


Teya lantas menundukkan kepalanya untuk menatap Hana. "Tunggu dulu.. Apa kau sedang mengungkapkan apa yang sedang kau rasakan saat ini?


"Hmmm.." Gena menganggukkan kepalanya, gadis itu lantas beringsut dari tidurnya untuk duduk. "Kau mengatakannya seperti benar-benar dari dalam lubuk hatimu." Gadis itu menatap Hana dengan di penuhi rasa penasaran.


"A, haha.." Hana tertawa canggung seraya beringsut untuk duduk. "Kalian salah mengartikan.. Aku tidak sedang mengalami hal itu.. Haha.. Mana mungkin aku mengalami hal itu.."


Namun, Teya dan Gena justru semakin menatap Hana dengan penuh rasa curiga.


"Yaaakkk!! Kenapa kalian menatapku seperti itu??" Hana sedikit meninggikan suaranya.


Hana mencoba untuk menutupi rasa gugupnya, gadis itu benar-benar di buat salah tingkah akan tatapan curiga yang di layangkan oleh kedua sahabatnya itu.


"Kau benar-benar mencurigakan." Gena berkata seraya bersedekap dada, gadis itu menatap Hana dengan sangat tajam.


"Hmmm.." Teya menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang di katakan oleh Gena. "Bahkan kau kini terlihat salah tingkah.."


"Haha.." Hana mengibaskan tangan kanannya seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah, berusaha untuk menghindari tatapan Teya dan Gena. "Aku tidak salah tingkah.. Apa yang kalian pikirkan.."


"Kita betiga saling mengenal diri masing-masing tidak hanya dalam 1 atau 2 hari, kita bertiga sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Aku tahu bagaimana sikapmu ketika kau sedang menutupi sesuatu." Gena menimpali perkataan Teya.


"Haissssh... Aku tidak sedang menyembunyikan apa pun." Hana mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Aku tidak percaya padamu." Sahut Teya.


"Aku juga tidak percaya." Timpal Gena.


"Yaaakkkk!!" Hana kembali sedikit meninggikan suaranya. "Bukan kah kita sedang membahas tentang Gena dan Hana. Kenapa sekarang kaliam beralih menyerangku!!"


Melihat Hana yang bertingkah seperti itu, seketika membuat Teya menyunggingkan senyum kecilnya. "Kau benar-benar menyembunyikan sesuatu Han.."


Hana menggelengkan kepalanya. "Aku tidaaaak.." Gadis itu kini merengek kecil.


"Hmmmm.. Apa kau sedang menunggu kepastian dari Max?" Tanya Gena cepat.


Hana menggelengkan kepalanya.


"Atau kau sedang menunggu kepastian dari Rigen?" Sahut Teya cepat.


Hana kembali menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Atau kah Frans??" Tanya Gena lagi.


Hana semakin menggelengkan kepalanya.


"Atau mungkin Vano?" Teya menyahut kembali.


Teya dan Gena menyebutkan satu persatu nama pria yang berteman dengan mereka. Namun, Hana masih berusaha untuk mengelak dengan terus menggelengkan kepalanya.


"Atau kah..."


"Yaaakkkk.. Aku sedang menunggu kepastian dari Rion.. Del Rion Bifatigirni.. Kakak kesayangnmu.. Kalian puas?" Hana segera memotong perkatan Teya dengan sedikit bersungut-sungut.


Yang mana, hal itu seketika membuat Gena dan Teya menatap Hana dengan wajah melongo tak percaya.


Hana yang mendapat tatapan seperti itu pun hanya bisa menekuk wajahnya. Kini, 2 sahabatnya itu mengetahui apa yang selama 2 tahun terakhir ini selalu dia sembunyikan. Itu pun akibat dari kecerobohannya sendiri.


Ya, 2 tahun.. Selama 2 tahun terakhir ini, Hana tengah dekat dengan Rion. Namun sayangnya, anak tertua dari keluarga Bifatigirni itu hanya memberikan harapan tanpa berniat untuk memberikan kepastian.


Haaaaahhhhh... Setelah ini, Hana tidak tahu bagaima harus bersikap dalam menghadapi Teya atau pun Gena. Terlebih lagi, 2 gadis yang mejadi sahabatnya itu kini hanya menatapnya, seolah-olah tidak memiliki niat untuk memberikan tanggapan apa pun.


"Apa kau bisa mengulangi apa yang kau katakan tadi?" Tanya Teya kemudian.


"Ck, aku sedang menunggu kepastian dari Del Rion Bifatigirni. Kakak kesayanganmu.." Hana mengulangi perkataanya dengan sangat lirih.


"Del Rion Bifatigirni?" Teya kembali bertanya, gadis itu ingin memastikan jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik.


"Haisssshh.. Iyaaa.. Del Rion Bifatigirni.. Kakak mu.. Anak tertua keluarga Bifatigirni.." Hana kini merengek kecil.


"Hahaaa.." Teya tertawa tidak percaya.. "Sejak kapan??"


Hana semakin menekuk wajahnya, gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Itu...."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2