
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Di sisi lain..
Berbeda dengan para pria yang mengadakan pesta lajang dengan memanggang daging. Para gadis itu menghabiskan waktu pesta lajang mereka dengan berenang di kolam renang yang berada di kediaman keluarga Bifatigirni.
Setelah ke 3 gadis itu merasa lelah karena berenang, mereka pun kini bersantai di kursi santai yang ada di sana, ditemani dengan beberapa camilan dan juga beberapa kaleng bir. Dengan Teya yang berbaring di antara Hana dan Gena.
Pict by : Pinterest
Melihat Teya yang bersikap seolah hari esok bukanlah hari istimewa untuknya, sontak saja membuat Gena menatap Teya dengan sedikit heran.
Menyadari kalau Gena tengah menatapnya, lantas membuat Teya menoleh ke arah kanan di mana Gena berada.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Teya.
Hana yang mendengar hal itu pun ikut menoleh pada Gena.
"Tidak, hanya saja, apa kau tidak merasa gugup sedikit pun? Kau tampak biasa-biasa saja." Gena berkata masih dengan di penuhi rasa herannya.
"Hmm.." Hana mengangguk, menyetujui apa yang baru saja di katakan oleh Gena. "Kau sedari tadi terlihat bersikap seolah kau tidak memiliki beban sedikit pun."
Teya lantas menoleh pada Hana. "Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?" Gadis itu kembali menoleh pada Gena.
Gena dan Hana menganggukkan kepala.
Teya menghela nafasnya kemudian berkata. "Sejujurnya, sejak beberapa hari yang lalu, jika aku memikirkan hari esok, jantungku selalu saja berdetak dengan sangat cepat."
Teya lantas beringsut untuk duduk, gadis itu terdiam untuk sejenak seraya menatap air di dalam kolam renang yang terlihat tenang.
"Bukan kah air itu terlihat tenang?" Tanya Teya kemudian.
Gena dan Hana yang mendengar hal itu pun hanya bisa mengernyitkan dahi karena merasa bingung atas pertanyaan yang tiba-tiba daja di lontarkan oleh Teya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Kata Hana.
Teya menatap Hana dengan alis yang sedikit menukik. "Ck, jawab saja pertanyaanku.. Bukan kah air itu terlihat tenang?"
Hana mengangguk cepat.
Teya lantas kembali menatap ke arah kolam renang. "Meskipun air itu terlihat tenang, tapi kalian sudah tau pasti kalau terdapat aliran air yang cukup deras di dasar air yang ada di kolam itu.
__ADS_1
Karena ya, tepat di dasar kolam renang, ada aliran air yang cukup deras yang di sebabkan oleh filter yang terus menyaring air agar air di dalam kolam itu selalu bersih.
Namun, bukannya mengerti dengan apa yang di maksud oleh Teya. Hana dan Gena kini menatap Teya dengan semakin bingung. Mereka benar-benar tidak bisa memikirkan apa yang saat ini tengah di pikirkan oleh Teya.
Hana dan Gena lantas saling bertukar pandang kemudian menggelengkan kepala pertanda kalau mereka tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Teya.
"Te, kami tetap tidak mengerti apa yang kau maksud." Kata Gena.
"Oh astaga.. Kenapa kalian bodoh sekali.. Itu perumpaan yang saat ini menggambarkan isi hatiku!! Ck! Haish.." Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Hana dan Gena memutar bola mata malas.
"Sejak kapan kau menggunakan istilah-istilah seperti itu Tee.." Hana berkata dengan sedikit jengah.
"Ah, sudahlah.. Lupakan.." Teya berkata seraya kembali merebahkan tubuhnya.
Setelah melewati keheningan untuk beberapa saat, Gena kembali membuka percakapan.
"Te.." Ucap Gena.
"Hm?" Teya menyahut seraya menoleh ke arah Gena tanpa membuka kedua matanya.
"Apa kau sudah mendapat kabar tentang gadis itu?" Tanya Gena.
Teya mengernyitkan dahinya. "Gadis? Siapa?"
"Model yang ada di bawah tanggung jawabmu. Gadis yang memberikan Afrodisiak pada Javer." Tutur Gena.
"Hmm.. Apa kau sudah mendapatkan kabar tentangnya?" Gena kembali mengulang pertanyaannya.
Teya mengangkat bahunya acuh. "Entahlah.. Semenjak kejadian itu, aku sama sekali tidak mendapatkan kabar apa pun tentangnya. Ketika aku bertanya pada Anna pun, gadis itu juga tidak tau apa-apa."
"Lantas, bagaimana dengan nasib Anna? Bukan kah itu berarti dia sudah tidak memiliki pekerjaan lagi?" Tanya Hana.
"No.." Sahut Teya cepat. "Dia masih memiliki pekerjaan. Aku meminta Javer untuk mempekerjakannya di salah satu boutique milik Mommy Athena. Aku tidak mungkin membiarkan orang yang tidak bersalah ikut merasakan dampaknya."
Hana dan Gena pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Tapi, sebenarnya aku juga merasa sedikit penasaran tentang kemana perginya gadis itu. Javer berkata, dia sudah mencari gadis itu. Bahkan Javer selalu mengawasi setiap pelabuhan, bandara, dan juga tempat penyelundupan imigran gelap. Namun Javer tidak bisa menemukannya. Bukan kah itu sedikit aneh?" Teya berkata dengan alis yang sedikit menukik.
Mendengar hal itu, lantas membuat Gena dan Hana berpikir cukup dalam.
"Apa kau pernah mendengar istilah tentang bersembunyi di kandang musuh merupakan pilihan paling tepat? Dengan begitu, musuh tidak akan menyadari keberadaan kita." Hana berkata kemudian.
"Javer sudah mencarinya di setiap tempat persembunyian milik Cosa Nostra yang ada, tapi dia tetap saja tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu." Sahut Teya cepat.
"Itu berarti, dia bersembunyi di tempat yang tidak pernah terlintas di pikiran kalian." Kata Gena.
__ADS_1
Teya mengernyitkan dahinya. "Tempat seperti apa?"
"Entahlah.. Aku pun tidak bisa memikirkannya." Sahut Gena dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu sontak saja membuat Gena mendapatkan cubitan sayang dari Teya.
"Yakk!! Kau menyakitiku!!" Gena menjerit kecil seraya menatap Teya dengan sangat tajam, gadis itu mengusap lengannya yang sebelumnya di cubit oleh Teya.
"Usulanmu tidak berguna sama sekali " Sahut Teya dengan sedikit ketus.
Teya lantas beranjak dari kursinya.. "Sudahlah, tubuhku mulai mengigil.. Aku akan kembali ke kamarku sekarang. Pelayan sudah menyiapkan kamar kalian seperti biasanya. Masuklah di saat kalian sudah merasa lelah." Tutur gadis itu.
Hana dan Gena pun menganggukkan kepala.
Teya lalu meraih bathrobe miliknya kemudian segera berlalu menuju kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, merasakan tenggorokannya yang sedikit panas karena terlalu banyak meminum bir, lantas membuat Teya meraih segelas air mineral yang ada di atas meja kemudian menenggak air mineral itu hingga tandas.
Sebelum Teya tidur, gadis itu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena tubuhnya terasa sdikit lengket akibat air kolam yang mengandung kaporit.
Selesai dengan membersihkan diri, Teya lalu segera mengenakan piyama tidurnya.
Saat gadis itu membuka pintu walk in closet, gadis itu sontak saja berjengkit kaget karena melihat seorang pria yang selama 2 minggu terakhir ini tidak dia temui tengah duduk di atas sofa single yang ada di dekat kasur.
Yup, siapa lagi jika bukan Javer.
"Apa kah aku berhayal?" Gadis itu berguman seraya menggosok kedua matanya, memastikan kalau Javer benar-benar ada di sana.
"Apa aku terlalu merindukannya sehingga kini aku berhayal melihatnya?" Gadis itu kembali menggosok kedua matanya karena kini Javer berjalan ke arahnya.
Javer yang melihat hal itu pun hanya bisa mengulum senyumnya, pria itu ingin sekali rasanya mendekap Teya dengan sangat erat. Karena sungguh, tingkah menggemaskan Teya yang seperti ini yang membuat Javer benar-benar merindukan gadis itu.
Hingga ketika Javer sudah berada di hadapannya, Teya lantas mengerjapkan matanya seraya mencoba untuk menyentuh wajah Javer.
Merasakan Javer yang benar-benar nyata, sontak saja membuat Teya kembali berjengkit.
"Yak!! Apa yang kau lakukan di sini!!" Gadis itu menjerit kecil seraya menatap Javer dengan sedikit horor.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..