
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Baiklah.. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Teya kemudian.
Setelah melirik Teya untuk sekilas, Javer lantas menggenggam tangan kanan gadis itu menggunakan tangan kirinya. Pria itu kemudian memasukkan tangannya beserta tangan Teya yang di genggamnya kedalam saku jas sebelah kirinya.
"Apa kau mendapatkan sesuatu?" Tanya Javer kemudian.
"Hmm.." Teya mengangguk sekilas. "Benda ini sebesar kancing jas yang kau pakai."
"Tanpa harus ku jelaskan, kau pasti sudah mengetahui fungsi dari benda ini."
"Lalu, apa yang harus ku lakukan?"
"Kau harus memastikan kalau benda ini terpasang di tubuh Fabio."
"Apa benda ini bisa menempel di kain?"
"Tentu.. Kau hanya perlu melepaskan lapisan perekatnya terlebih dahulu."
"Hmm.. Baiklah, apa hanya itu?" Teya bertanya cepat.
Yang mana, hal itu seketika membuat Javer mengernyitkan dahinya. "Hanya itu?" Pria itu mengulangi apa yang Teya katakan.
"Hmm.. Hanya itu??" Teya sedikit memiringkan kepalanya. "Bukan kah pekerjaan ini terlalu mudah untuk aku lakukan."
"Kau yakin?" Javer sedikit tidak mempercayai apa yang baru saja di katakan oleh gadisnya.
"Ya.. Sangat yakin.. Tapi.."
Javer menaikkan sebelah alisnya. "Tapi?"
Teya tiba-tiba saja mengembangkan senyum liciknya. "Setelah ini, kau harus membayarku dengan harga yang sangat mahal.. Aku tidak memberikan bantuanku secara cuma-cuma."
(Yasshh... Gadismu benar-benar..) Enzo terdengar terkekeh geli.
Begitu pun dengan Liam dan Kheil, mereka terkekeh mendengar apa yang baru saja Teya katakan.
Namun, Javer mengabaikan suara-suara yang terdengar dari earphone yang di kenakannya.
"Baiklah.. Apa yang kau minta?" Tanya Javer kemudian.
"Hmm.. Tidak banyak.. Aku hanya memintamu untuk membelikanku mobil yang sama persis seperti milik Mommy Athena." Sahut Teya cepat.
__ADS_1
(Bisa kah aku meminta bayaran yang sama seperti yang di minta Teya?) Liam kini ikut menimpali apa yang baru saja Teya katakan.
Karena ketahuilah, mobil yang di inginkan oleh Teya merupakan mobil sport keluaran terbaru yang hanya di produksi 5 buah saja. Dan juga, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan mobil itu. Dengan begitu, kalian sudah pasti tahu kalau harga mobil itu tidaklah main-main.
Namun lagi-lagi, Javer mengabaikan suara yang terdengar dari earphone yang di kenakannya.
"Khem.." Javer sedikit merenggangkan otot lehernya. "Bukan kah hal ini di namakan dengan matrealistis, babby??"
Teya mengangkat bahunya acuh. "Apa salahnya? Bukankah kau menghasilkan miliyaran rupiah hanya dalam hitungan menit? Bahkan jika aku memintamu untuk membelikanku sebuah lautan pun, hartamu hanya akan hilang seujung kuku saja."
"Tcih!" Javer seketika saja mengembangkan senyum tipisnya. "Siapa yang mengajarkanmu hal ini?"
Karena ya, selama ini, Teya hampir tidak pernah meminta apa pun kepada Javer.
"Mommy Athena, tentu saja.. Siapa lagi?" Teya menyahut dengan acuh tak acuh.
Mendengar nama Athena di sebut, seketika saja membuat Javer menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sepertinya, setelah ini, Javer harus sedikit menjauhkan Teya dari Athena agar otak gadis itu tidak terlalu di racuni oleh Mommy kesayangannya.
"Sshh, hmm.. Baiklah, kau bisa mendapatkannya."
"Okay.."
Tanpa menunggu detik, gadis itu menjawab seraya segera berlalu pergi untuk melakukan tugasnya.
(Waaah.. Aku tidak menyangka, Aunty Athena benar-benar bisa meracuni otak gadis polos itu dengan sangat cepat.) Enzo kembali terdengar terkekeh geli.
Sedangkan Javer, pria itu hanya bisa mengembangkan senyum gelinya melihat tingkah Teya yang semakin hari semakin ajaib.
Saat tinggal beberapa langkah lagi, gadis itu sengaja menyandung kakinya sendiri.
Dan ya, sesuai dengan apa yang di harapkannya, gadis itu terjatuh tepat di pelukan Fabio dengan kedua tangannya yang memegang erat bahu Fabio.
Meskipun sedikit terkejut, Fabio dengan refleks segera memegang erat pinggang ramping Teya agar tidak terjatuh.
Dan dengan gerakan cepat, sesaat sebelum Fabio membantu Teya untuk berdiri, tangan gadis itu bergerak menuju tengkuk Fabio untuk menyelipkan alat perekam itu kedalam lipatan kerah jas yang di kenakan oleh Fabio.
Melihat apa yang di lakukan oleh Teya dari layar monitornya, lantas membuat Kheil kini mengeluarkan suaranya.
(Kali ini aku setuju dengan Teya.. Kau memberikan pekerjaan yang terlalu mudah untuk di lakukan olehnya.)
(Bisa kah kau memberitahuku apa yang di lakukan olehnya?) Suara Enzo terdengar sangat penasaran.
(Aku akan memberikan rekamannya padamu saat kau sudah kembali ke sini.) Sahut Kheil cepat.
(Aku tidak sabar untuk melihatnya.) -Enzo.
Dan untuk Javer, kalian pasti sudah tahu reaksi seperti apa yang di tunjukkan olehnya.
__ADS_1
Yuuup, Javer menatap Teya dengan sangat tajam seolah ingin membunuh Fabio saat ini juga. Tapi, mengingat apa yang menjadi tujuan Teya melakukan hal itu, membuat Javer menahan diri untuk tidak berlari pada Teya demi menarik gadis itu dari pelukan Fabio.
Javer kini berpikir.. Kira-kira, hukuman seperti apa yang sekiranya harus dia berikan kepada Teya atas cara apa yang baru saja telah di lakukan oleh gadis itu.
Sedangkan Teya, setelah berhasil melakukan apa yang menjadi tujuannya, gadis itu segera kembali menyeimbangkan tubuhnya dengan bantuan dari Fabio yang memegangi kedua bahunya.
Di balik Fabio yang membantu Teya untuk berdiri, pria itu merasa sedikit curiga karena akan Teya yang tiba-tiba saja hendak terjatuh di hadapannya.
Namun, rasa curiganya itu sedikit menghilang tat kala melihat wajah Teya yang sedikit pucat.
"Kau baik-baik saja?" Fabio bertanya dengan sedikit khawatir.
Ya, Fabio merasa khawatir karena meskipun Teya merupakan tunangan dari Javer, namun gadis itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan rencana balas dendam yang akan di lakukannya.
Ya, meskipun Fabio pernah beberapa kali mencelakai gadis itu, tapi itu dia lakukan hanya untuk memancing kemarahan Javer.
Toh, kalau boleh jujur, Fabio sebenarnya tidak berniat untuk sampai membunuh gadis itu. Karena sekali lagi, meskipun Fabio ingin melakukan balas dendam. Fabio tidak ingin membunuh siapapun yang tidak ada sangkut pautnya dengan rencana balas dendamnya.
Tapi, kalau untuk sekedar di jadikan sebagai pancingan, tidak ada salahnya kan?
Alih-alih menjawab pertanyaan dari Fabio, gadis itu kini justru memegangi perutnya menggunakan tangan kanannya.
Yang mana, hal itu membuat Fabio merasa semakin khawatir.
"Teya, kau baik-baik saja?" Pria itu kembali bertanya dengan dahi yang mengernyit karena melihat wajah Teya yang kini terlihat semakin pucat.
Kedua tangan pria itu masih saja memegang kedua bahu Teya. Berjaga-jaga kalau seandainya Teya kembali tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Ah ya, aku baik-baik saja.. Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. Aku terlalu terburu-buru hingga tidak bisa menyeimbangkan langkah kakiku." Teya berkata dengan sedikit tidak enak hati.
Gadis itu kini perlahan mulai menekan perutnya, karena sungguh, kali ini perutnya benar-benar terasa seperti di tusuk-tusuk.
Horis dan 2 orang lainnya yang ada di sana pun menatap Teya dengan sangat khawatir.
"Nona, kau terlihat pucat." Ucap Horis kemudian.
Teya berusaha menampilkan senyum kecilnya. "Tak apa, aku...."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..