Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Taman Bunga


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Setelah mendapatkan ucapan selamat dari para tamu undangan yang hadir, kini mereka menghabiskan sisa acara dengan berpesta.


Teya pun kini sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai agar dia dapat mengikuti pesta dengan lebih leluasa.


Saat ini, Teya tengah bersenda gurau dengan Hana, Gena, dan juga Liam di salah satu meja yang tersedia untuk para tamu undangan.


Melihat Javer yang kini datang menghampirinya, lantas membuat Teya mengembangkan senyumnya.



Pict by : Anna Maria Sieklucka


"Hai babby.." Ucap Javer seraya menyelipkan helaian rambut Teya ke belakang telinga gadis itu.


"Hai.. Apa kau sudah selesai menyapa kolega-kolegamu?" Tanya Teya.


"Hmm.." Javer menganggukkan kepalanya seraya tak hentinya memainkan rambut Teya.


"Aku mengerti kalau kalian sudah menikah dan bebas bermesraan di mana saja. Tapi, tidak bisakah kalian menyimpan kemesraan kalian untuk sementara waktu? Tolong kasihanilah aku yang masih sendiri ini. Cukup sudah aku sedari tadi nenyaksikan kemesraan yang di tunjukkan oleh Gena dan Liam." Hana melirik Teya dan Gena dengan sedikit sinis.


Teya dan Gena seketika saja terkekeh geli.


"Tapi, sepertinya kau tidak akan sendiri lagi." Teya berkata kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Hana.


Yang mana, halnitu seketika saja membuat Hana menatap Teya dengan sedikit bingung.


"Apa maksudmu?" Tanya Hana.


Teya mengedikkan dagunya ke arah belakang Hana.


Hana lantas menoleh ke arah belakangnya di mana kini Rion tengah berjalan ke arahnya. Melihat Rion yang datang, seketika saja membuat Hana menatap Teya dengan dahi yang mengernyit bingung.


"Apa hubungannya denganku?" Tanya Hana.


Namun, Teya hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahunya.


"Ikut aku." Ucap Rion pada Hana tanpa berbasa basi lagi.


Hana yang merasa bingung pun menatap Rion dengan mata yang mengerjap. "Aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


Rion menghela nafasnya kemudian menggenggam tangan Hana, dan tanpa berkata apa pun, pria itu menarik Hana untuk pergi dari sana.


"Ee, eeeh.. Kau akan membawaku kemana??" Hana bertanya dengan sedikit bingung.


Teya dan Gena yang melihat hal itu pun hanya bisa saling bertukar pandang.


"Apakah Hana akan baik-baik saja?" Tanya Gena.


"Sepertinya tidak terlalu.." Teya menyahut dengan di iringi kekehan gelinya.


Melihat hal itu, seketika saja membuat Gena menaikkan sebelah alisnya. "Tunggu dulu.. Apa kau mengatakan sesuatu pada Rion?"


Namun, Teya hanya mengedikkan bahunya.


"Sayang, bisakah kau menemaniku menari?" Liam bertanya pada Gena setelah dia mendapat lirikan dari Javer.


"Bukan kah kau tidak suka menari?" Gena menatap Liam dengan sedikit bingung.


Liam mengedikkan bahunya. "Hanya ingin saja.."

__ADS_1


Gena terlihat berpikir untuk sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Baiklah.."


Liam dan Gena pun beranjak dari sana, mereka lalu bergabung bersama dengan yang lainnya yang memang sedang menari dengan di iringi lagu ballad yang romantis.


Seperginya Liam dan Gena, Javer lantas duduk di samping Teya, di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Hana.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Teya bertanya tat kala Javer hanya menatapnya.


Javer menggelengkan kepalanya. "Tidak.. Aku hanya merasa seperti sedang bermimpi karena aku akhirnya berhasil menikahi wanita cantik yang ada di hadapanku saat ini."


Mendengar hal itu, seketika saja membuat Teya tersenyum malu.



Pict by : Anna Maria Sieklucka


"Apa aku perlu mencubitmu agar kau sadar kalau ini bukan mimpi?" Tanya Teya.


"Alih-alih mencubit, bukankah mencium lebih baik?"


"Haish.. Kau benar-benar.." Teya memukul pelan bahu Javer.


Teya menyunggingkan senyumnya tat kala melihat Athena yang menghampirinya.


"Hai mom.." Ucap Athena.


"Hai sayang, apa kau merasa lelah, hmm?" Athena bertanya seraya mengelus lengan Teya.


"Sedikit." Teya menampilkan cengirannya. "But it's okay.. Aku baik-baik saja.."


"Apa kau tidak menginginkan sesuatu? Mommy belum pernah mendengarmu meminta apa pun." Athena menatap Teya dengan sedikit bingung.


Karena ya, dari semenjak Athena mengetahui kalau Teya tengah mengandung. Hingga saat ini Athena sama sekali belum pernah mendengar Teya mengidamkan hal apa pun itu.


"Hmmmm.. Itu sedikit aneh.. Tapi, jika kau menginginkan sesuatu, jangan sungkan untuk meminta, hmm?"


Teya menganggukkan kepalanya.


"Kembalilah ke kamar jika kau merasa lelah, hmm.. Tubuhmu akan kewalahan jika kau memaksakan diri.. Ingat, kau tengah mengandung. Lagi pula, ini sudah malam, mommy mengkhawatirkan kondisimu." Tutur Athena.


Teya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan kembali ke kamar."


Athena lantas menoleh pada Javer. "Antarkan istrimu kembali ke kamar, jangan biarkan dia berkeliaran sendiri."


Javer menganggukkan kepalanya kemudian mengajak Teya untuk segera kembali ke kamar.


Teya pun beranjak dari kurisnya, gadis itu lalu menggandeng lengan Javer.


Mereka pun segera menuju ke kamar tempat di mana malam ini mereka akan beristirahat.


"Babby.." Ucap Javer.


"Hm?"


"Aku juga merasa sedikit penasaran, apa kau tidak mengidam sesuatu? Kau tidak pernah meminta apa pun padaku. Bukan kah seharusnya wanita hamil mengalami masa ngidam?"


Teya mengedikkan bahunya. "Entahlah.. Aku pun merasa sedikit bingung. Tapi, ada satu hal yang sudah lama ingin aku minta darimu."


Javer menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" Pria itu bertanya dengan sangat antusias.


Karena ya, setelah mengetahui Teya mengandung, Javer benar-benar menunggu momen di mana Teya akan meminta bergai hal padanya. Namun sayangnya, hingga saat ini Teya sama sekali tidak pernah meminta apa pun.


Jadi, ketika Teya mengatakan kalau dia menginginkan sesuatu, benar-benar membuat Javer merasa sangat antusias.


"Jadi, apa yang kau inginkan?" Javer bertanya seraya membuka pintu kamar mereka.

__ADS_1


"Bisakah kau membuatkanku taman bunga? Aku ingin merubah halaman belakang rumah kita menjadi taman bunga."


Javer seketika saja mengernyitkan dahinya. "Hanya itu?"


"Mmm.." Teya menganggukkan kepalanya. "Hanya itu." Ucap Teya seraya menutup pintu.


"Apakah permintaanku terlalu mudah?" Teya bertanya seraya duduk do atas sofa.


Javer lantas duduk di samping Teya.


"Ya, itu adalah permintaan kecil yang sangat mudah untuk aku kabulkan. Aku benar-benar masih merasa sedikit heran padamu. Aku bahkan bisa merubah halaman belakang rumah kita menjadi arena balap mobil. Tapi kau hanya memintaku untuk merubahnya menjadi taman bunga?"


"Hmm.." Teya kembali menganggukkan kepalanya. "Aku hanya ingin melewati masa-masa kehamilanku dengan merawat taman bunga."


Meskipun masih merasa sedikit heran, namun Javer tetap mengiyakan apa yang di minta oleh Teya.


"Ssshh.. Baiklah, berapa luas taman yang kau inginkan?" Tanya Javer.


Teya lantas berpikir untuk sejenak.


"Bagaimana dengan 1 hektar? Apa itu cukup?" Tanya Javer.


Teya menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu terlalu luas."


"700 meter?"


Teya kembali menggelengkan kepalanya.


"500 meter?"


Teya menganggukkan kepalanya. "Itu lebih baik.. Aku akan memintamu untuk membantuku merawat bunga."


Javer mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tidak masalah, aku bisa membantumu kapan pun kau mau."


"Ok.." Ucap Teya kemudian memeluk Javer dengan gerakan cepat.


Javer seketika saja terkekeh gemas. "Bergeraklah dengan lebih lembut, hmm.. Ingat, kau tengah mengandung." Pria itu berkata seraya mengelus punggung Teya dengan penuh sayang.


"Aku hanya terlalu senang.." Sahut Teya cepat.


Javer pun lagi-lagi hanya bisa terkekeh gemas. Bukan kah terlalu mudah untuk membuat istrinya merasa senang?


"Baiklah.. kalau begitu, sebaiknya kau segera beristirahat. Aku akan kembali turun untuk bergabung dengan yang lainnya. Aku juga akan meminta Marco untuk mengurus pembuatan taman yang kau inginkan." Tutur Javer.


Teya menganggukkan kepalanya kemudian melerai pelukannya.


Gadis itu menatap Javer untuk sejenak kemudian memberikan kecupan singkat di bibir pria itu sebelum akhirnya beranjak dari sana menuju kamar.


"Tcih." Javer seketika saja menyunggingkan senyum tipisnya kemudian beranjak dari sofa.


"Bukan kah bayaran itu terlalu sedikit? Setelah ini aku akan meminta bayaran yang lebih layak." Pria itu bergumam seraya berlalu pergi dari sana untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2