
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sesampainya di rumah sakit, para suster dan dokter yang bertugas pun segera membawa Teya ke ruang VVIP.
Setelah melakukan pemeriksaan berulang, kini Teya hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi untuk dia bisa melahirkan anaknya karena kini dia sudah memasuki masa pembukaan 7.
Teya yang kini tengah berbaring di atas kesur dengan selang infus yang terpasang di pergelangan tangan kirinya pun hanya bisa meringis merasakan perutnya yang semakin lama semakin terasa ngilu.
Javer yang baru saja kembali setelah menerima panggilan telpon pun segera menghampiri Teya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu, hm??" Javer bertanya dengan lembut seraya menggenggam tangan kanan Teya.
"Bantu aku untuk duduk.." Lirih Teya.
Javer pun segera membantu Teya untuk duduk di tepi kasur. Javer lantas duduk di kursi yang berhadapan dengan Teya.
"Naikkan kedua kakimu ke atas pahaku." Kata Javer.
Teya seketika saja menatap Javer dengan dahi yang mengernyit bingung. "Untuk apa?"
"Naikkan saja.."
Teya lantas menapakkan kedua kakinya di atas kedua paha Javer karena memang posisi Teya sedikit lebih tinggi dari pada Javer.
Setelah Teya menapakkan kedua kakinya di atas paha Javer. Javer lantas memijat kedua kaki Teya secara perlahan.
Melihat apa yang di lakukan Javer, sontak saja membuat Teya menyunggingkan senyumnya.
"Apakah merasa lebih baik?" Tanya Javer.
Teya menganggukkan kepalanya. "Posisi ini mengurangi sedikit rasa sakitnya."
Javer menyunggingkan senyum kecilnya. "Ya.. Setidaknya.."
Di saat Javer tengah memberikan lelucon untuk Teya agar Teya bisa sedikit lebih rileks dari rasa sakit akibat pembukaan yang tengah di alaminya. Teya dan Javer seketika saja menoleh ke arah pintu masuk tat kala kedua orang tua mereka masuk ke ruangan itu.
Yama dan Roma pun duduk di sofa tunggu. Sedangkan Amaya dan Athena segera menghampiri Teya.
"Hai sayang.. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Amaya seraya mengelus kepala Teya.
Teya menyunggingkan senyumnya kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja ma.. Javer banyak membantuku."
"Itu sudah kewajiban dia sebagai seorang suami. Bukan begitu son?" Athena seraya menepuk bahu Javer.
Javer hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahunya.
"Ah ya, mommy membawakan buah-buahn untukmu. Apa kau ingin memakannya??" Tanya Athena seraya mendekati meja, tempat di mana dia menyimpan bingkisan yang sebelumnya dia bawa.
Teya menganggukkan kepalanya.
Athena pun menyunggingkan senyumnya. "Kalau begitu akan mommy kupaskan untukmu."
"Terimakasih mom.." Ucap Teya.
Athena mengangguk kecil.
"Ah ya, apa dokter sudah memeriksa pembukaanmu?" Tanya Amaya.
"Emm.." Athena menganggukkan kepalanya. "Dokter berkata, aku sudah sampai di pembukaan 7."
__ADS_1
"Kenapa kau terlihat santai sekali, apa kau sama sekali tidak merasakan sakit?" Tanya Athena.
Karena dulu, ketika dirinya akan melahirkan Javer. Di saat dia sedang melewati masa pembukaan untuk jalan lahir, dia benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat. Jadi, melihat Teya yang saat ini bersikap biasa saja, benar-benar membuat Athena merasa sedikit heran juga takjub.
Teya menyunggingkan senyumnya, di menatap Javer yang masih saja memijat kedua kakinya.
"Aku merasakan sakitnya mom.. Pinggul, perut dan punggungku benar-benar terasa nyeri. Tapi Javer selalu menghibur dan mengajakku untuk bercanda, jadi aku tidak terlalu merasakan sakitnya." Tutur Teya tanpa mengalihkan tatapannya dari Javer.
Karena ya, memang begitulah seharusnya. Perhatian dan candaan bisa membantu mengalihkan rasa sakit yang di alami ibu hamil ketika dia tengah mengalami masa pembukaan.
*Note : Ini pengalaman pribadi sensi sendiri ya wak.. Hehe..
"Ok.. Mommy akui, dalam hal ini. Javer memang lebih baik dari pada daddynya.." Athena melirik Yama dengan sedikit sinis.
Karena dulu, di saat Athena akan melahirkan. Bukannya menghibur, Yama justru ikut merasakan kepanikan.
Yama yang merasa sedikit tersindir pun seketika melirik Athena. "Apa kau tengah menyindirku?"
"Tentu saja.." Sahut Athena cepat.
Athena menghampiri Teya dengan membawa sepiring buah apel yang sudah dia kupas dan dia potong agar Teya lebih mudah memakannya.
"Kau tau sayang.. Dulu, ketika mommy akan melahirkan suamimu. Daddy Yama benar-benar payah dalam menangani mommy." Athena menyerahkan piring berisi buah itu pada Teya.
Teya menerima piring itu seraya terkekeh geli.
Yama yang mendengar hal itu pun hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Bersabarlah.. Bukan kah wanita seperti itu, selalu mengungkit masa lalu." Roma menepuk-nepuk bahu Yama.
"Berkacalah.. Kau pun sama seperti itu.. Bukannya menyemangatiku, kau justru menangis di sudut ruangan rumah sakit karena takut akan darah." Sahut Amaya.
Roma yang mendengar hal itu pun hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia lebih memilih untuk diam. Membela diri pun percuma, dia tetap akan kalah jika harus meladeni perdebatan ini.
Teya dan Javer yang mendengar perdebatan itu pun hanya bisa terkekeh geli.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Javer dengan cemas.
"Perutku benar-benar mulas.. Sepertinya, bayinya ingin segera keluar.." Lirih Teya dengan mata yang terpejam erat, dia kini sudah tak kuasa lagi menahan rasa ngilu di perut dan juga pinggulnya.
"Mama akan memanggil dokter." Ucap Amaya cepat.
Amaya yang memang berada di dekat tombol intercom pun segera menekan tombol itu untuk memanggil dokter jaga.
Tak butuh waktu lama, dokter Freya dan seorang suster pun datang untuk melihat kondisi Teya.
"Dokter, sepertinya bayinya ingin segera keluar." Teya berkata dengan suara yang sedikit tertahan.
Para orang tua yang mengerti pun segera keluar dari ruangan itu.
"Berbaringlah, saya akan memeriksa kondisi Nyonya." Kata Dokter Freya.
Javer pun membantu Teya untuk berbaring.
Dokter Freya pun memakai sarung tangan karetnya kemudian segera mengecek pembukaan.
Setelah mengecek kondisi bukaan Teya, dokter Freya pun menatap sang suster.
"Siapkan perlengkapan persalinan. Jalan pembukaannya sudah memasuki pembukaan 9." Titah dokter Freya.
Sang suster pun menganggukkan kepalanya kemudian segera keluar dari ruangan itu untuk menyiapkan perlengkapan persalinan.
Mendengar hal itu, membuat Javer kini menggenggam tangan Teya dengan semakin erat.
__ADS_1
"Apakah nyonya masih bisa menahannya sebentar lagi?" Tanya dokter Freya seraya menatap tempat tidur untuk Teya melahirkan.
Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya.
Sedangkan para orang tua yang ada di luar, melihat beberapa suster yang masuk ke dalam ruangan dengan membawa alat persalinan pun segera berdoa agar Teya bisa melahirkan dengan lancar.
Setelah menyiapkan semua peralatan persalinan, dokter Freya pun menatap Teya dengan lembut.
"Apa nyonya sudah siap?" Tanya dokter Freya.
Teya menganggukkan kepalanya.
"Tuan Javer, berikan kekuatan agar nyonya Teya bisa melahirkan dengan lancar." Kata dokter Freya.
Javer menganggukkan kepalanya.
"Mari kita mulai. Dalam hitungan ketiga, nyonya bisa mulai mengejan. Usahakan untuk tidak mengangkat pinggul nyonya, hal itu akan menyebabkan bayinya sulit untuk keluar." Tutur dokter Freya.
Teya menganggukkan kepalanya.
"Ok. Tarik nafas, lalu buang." Kata dokter Freya.
Teya melakukan apa yang di katakan oleh dokter Freya.
Dokter Freya pun mulai melakukan aba-aba. "1, 2, 3. Tarik nafas yang dalam, lalu mengejan dengan sekuat tenaga."
Teya menggenggam tangan Javer dengan sangat erat. Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mulai mengejan. Peluh kini sudah membasahi seluruh wajah Teya, bahkan hingga membasahi rambutnya.
Rasa lelah mulai menghampiri Teya. Namun Teya tetap berusaha untuk terus mengumpulkan kekuatannya demi bisa melahirkan sang buah hati.
"Kau bisa babby.. Aku disini bersamamu.." Javer berbisik di telinga Teya seraya terus mengelus kepala Teya dengan lembut.
Pria itu mengecup kening Teya dengan penuh kasih sayang, mengabaikan peluh yang membasahi kening gadis itu yang sebentar lagi resmi akan menjadi seorang ibu.
Hingga setelah mengejan untuk yang ke sekian kalinya, sang buah hati yang di tunggu-tunggu kelahirannya pun kini sudah datang ke dunia.
"Oweeeekkk!!!" Bayi itu menangis dengan sangat kuat.
"Lahir dengan normal tepat pukul 09.00 pagi" Seru dokter Freya.
Javer yang mendengar hal itu pun tak kuasa menahan rasa harunya. Buliran bening kini menetes dari kedua mata pria itu.
"Terima kasih atas perjuanganmu, babby.. Kau hebat.. Benar-benar hebat.." Javer tak ada henti-hentinya mengecup kening Teya.
"Selamat Tuan, Nyonya.. Putra kalian yang sangat tampan ini lahir dalam keadaan sehat dan tanpa cacat sedikit pun." Dokter Freya berkata seraya meletakkan bayi itu di dada Teya.
Melihat sang buah hati yang lahir dengan begitu sehat, menbuat Teya tak kuasa menahan tangisnya. Gadis itu tersenyum dengan buliran bening yang terus mengalir dari kedua matanya.
"Kau benar-benar tampan.." Teya berkata seraya mengelus pipi putranya menggunakan jari telunjuknya.
"Lihatlah Javer, benih kecebong unggulmu lahir dengan sangat sehat.." Teya tidak bisa mengalihkan tatapannya dari sang buah hati.
Javer seketika saja terkekeh kecil. "Ya, benih kecebong unggulku benar-benar lahir dengan sehat.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..