
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sementara itu...
Flow yang saat ini tengah berbaring di atas kasur pun melirik ke arah jam yang terpasang di dinding.
"Hmm.. 30 menit.. Baiklah.. Sepertinya sudah cukup untuk membuatnya menunggu bantuan dariku.." Gumam gadis itu.
Flow lantas beranjak dari kasur, dia kemudian segera bersiap-bersiap untuk menemui Javer. Pria yang selama beberapa waktu terakhir ini menjadi pria yang selalu menghantui pikirannya.
"Haaahhh.. Aku tidak sabar untuk menghabiskan malam panas dengannya.."
Flow berkata dengan penuh semangat seraya memoles dirinya di depan cermin rias yang ada di kamar itu.
Setelah memastikan kembali kalau dirinya benar-benar siap untuk menemui Javer, Flow pun segera beranjak dari tempatnya kemudian berlalu pergi dari sana.
Namun.. Saat dia hendak membuka pintu, dia mengurungkan niatnya karena teringat akan suatu hal.
"Eeh?? Sebentar.. Sepertinya aku melupakan sesuatu.."
Gadis itu tampak berpikir tentang apa yang dia lupakan.
"Ah ya, bagaimana aku bisa masuk ke kamar itu jika aku tidak memiliki kuncinya."
Flow lantas duduk di atas sofa kemudian segera menghubungi Mia.
Namun, Mia tidak mengangkat panggilannya, bahkan hingga dering terakhir.
"Ck.. Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?"
Flow lalu kembali menghubungi Mia.
Hingga pada panggilan ke 4, Mia pun akhirnya mengangkat panggilannya.
"Kau di mana sekarang?" Tanya Flow cepat.
π(Saya berada di parkiran, nona..)
Mendengar jawaban Mia, seketika membuat Flow mengernyitkan dahinya. "Apa yang kau lakukan di sana?"
π(Saya hendak kembali ke markas karena pekerjaan saya sudah selesai.)
"Bisa kah kau kembali ke kamarku terlebih dahulu? Kau lupa memberikan kunci kamar itu padaku."
π(Benarkah?)
"Ya, kau lupa memberikan kuncinya padaku.. Jika aku tidak memiliki kuncinya, bagaimna aku akan masuk ke kamar itu?" Flow berkata dengan nada suara yang sedikit merajuk.
Tapi, sejujurnya, Flow rasanya sangat ingin membentak gadis itu. Namun, Flow tidak berani melakukan hal itu karena berbagai alasan.
Salah satunya adalah karena gadis itu bukanlah bawahannya secara langsung. Dan juga, gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Jadi, Flow tidak berani bersikap semena-mena terhadap gadis itu.
__ADS_1
Setelah hening selama beberapa saat, Flow pun mendengar sahutan sari Mia.
π(Ah, ya.. Saya meninggalkan kunci itu di dalam saku seragam yang tadi saya kenakan.)
"Lalu, bisa kah kau mengantarkan kunci itu padaku?"
π(Saya sedang menuju ke kamar nona.)
"Baiklah, aku tunggu."
Flow pun mematikan sambungan itu.
"Andai saja kau bukan orang kepercayaan Fabio, aku sudah mencincangmu habis-habisan!!"
Flow bergumam seraya menatap ponsel yang sebelumnya dia gunakan untuk menghubungi Mia.
Gadis itu lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, menunggu Mia yang saat ini sedang mengantarkan kunci itu padanya.
Hingga setelah beberapa saat menunggu, Flow pun akhirnya mendengar suara bel pintu yang berbunyi.
Gadis itu lantas segera beranjak dari sana kemudian melangkah menuju pintu dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa. Karena sungguh, dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Javer.
Setelah menutup pintu, Flow pun menengadahkan tangan kanannya pada Mia. Meminta Mia agar segera menyerahkan kunci kamar itu kepadanya.
Namun, Mia tidak segera menyerahkan kunci itu pada Flow. Gadis itu menatap Flow untuk beberapa saat.
"Ck, mana kuncinya.."
Flow yang sudah tidak sabar pun merengek kecil seraya sedikit menggoyang-goyangkan telapak tangan kanannya yang masih menengadah.
"Jangan melakukan kesalahan apa pun!" Mia berkata dengan penuh penekanan.
"Aku berjanji, aku tidak akan melakukan kesalahan apa pun." Sahut Mia cepat.
"Baiklah, saya pergi. Hubungi saya jika nona mengalami sesuatu hal yang buruk."
Flow mengangguk cepat. "Pergilah.. Percayakan semuanya padaku.. Aku akan menanganinya dengan sangat, sangat, sangat, saaaaaaangat baik.." Gadis itu menampilkan senyum manisnya.
Tanpa berkata apa pun lagi, Mia pun akhirnya berlalu pergi dari sana.
Setelah Mia menghilang dari jarak pandangnya, Flow pun segera menuju kamar di mana Javer berada dengan langkah cepat.
"Apa yang sedang dia lakukan?"
"Apa kah dia sudah menanggalkan semua pakaiannya??"
"Aaaaaahh.. Aku tidak bisa membayangkannya!!" Gadis itu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya dengan perasaan yang sangat gemas.
Setelah menormalkan nafasnya, gadis itu lantas melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar yang menjadi tujuannya.
Sesampainya di sana, Flow menghela nafasnya untuk sejenak sebelum akhirnya membuka pintu itu.
Gadis itu lantas segera masuk ke dalam sana dengan senyum kecil yang terus tersungging di bibirnya.
"Javer??"
__ADS_1
Gadis itu melangkah masuk semakin ke dalam dengan langkah perlahan.
Namun, saat di depan pintu kamar, senyum yang sedari tadi tersungging tiba-tiba saja luntur karena tidak merasakan tanda-tanda keberadaan Javer.
Gadis itu lantas membuka pintu kamar itu dengan sedikit kasar. Dia mengernyitkan dahinya karena di sana juga dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Javer.
Namun, setelah mendengar gemericik air. Flow kembali menyunggingkan senyumnya karena mengira kalau Javer tengah berada di dalam kamar mandi.
Flow pun melepaskan alas kakinya kemudian melangkah ke arah kamar mandi dengan rasa tidak sabar yang semakin bertambah besar.
Tapi sayangnya, ketika Flow membuka pintu kamar mandi, senyum yang baru saja kembali terbit di wajahnya pun harus benar-benar luntur tak bersisa karena tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi itu.
Hingga ketika tatapan mata Flow teralihkan pada cermin besar yang ada di kamar mandi itu. Seketika saja membuat gadis itu merasakan emosi yang bercampur dengan kekecawaan.
Karena, tepat di tengah-tengah area cermin besar itu terdapat tulisan yang berbunyi YOUR PLAN IS FAILED!!! yang di tulis menggunakan huruf kapital.
Karena ya, tanpa Flow ketahui, Marco berhasil memapah Javer ke lorong yang menuju kamar milik Javer tepat sesaat sebelum Flow berbelok ke lorong yang menuju ke kamar nomor 245 itu.
Merasakan emosi yang bercampur dengan kekecewaan yang kini semakin membesar, seketika saja membuat kedua kaki Flow terasa sangat lemas seolah tulang pada kedua kakinya berubah menjadi sangat lunak.
Yang mana, hal itu membuat Flow tidak kuasa lagi menopang beban tubuhnya sendiri hingga gadis itu kini jatuh terduduk tepat di ambang pintu kamar mandi.
"Kenapa??" Gumam Flow dengan sangat lirih.
Pandangan mata gadis itu kini terlihat sangat kosong.
"Kenapa harus gagal??"
Gadis itu kembali bergumam lirih dengan buliran bening yang mulai menetes dari kedua matanya.
Bahkan kini, gadis itu mulai terisak kecil karena merasa kecewa atas kegagalan yang baru saja di alaminya.
"Arrrrgghhhhhh!!!!!"
Flow yang sudah tidak kuasa menahan emosinya pun hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya.
Beruntungnya, kamar itu merupakan kamar yang kedap suara sehingga tidak ada satu pun dari penghuni kamar lain yang mampu mendengar teriakan Flow.
"Aaaarrrrrgghhhh!!!!"
Flow kembali berteriak dengan sangat kencang seraya menjambak rambutnya dengan sangat kasar guna menyalurkan semua rasa yang kini mulai bercampur aduk di dalam hatinya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1