
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Pagi harinya..
Teya mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya. Gadis itu menguap merasakan tidurnya yang entah kenapa terasa sangat nyenyak.
Hingga ketika Teya akan merenggangkan tubuhnya, dia terlihat sedikit bingung karena ada sesuatu yang menghalangi pergerakannya. Dan saat gadis itu sudah membuka mata sepenuhnya, dia terkejut karena berada di dalam pelukan Javer yang masih terlelap.
"Yaaaaaakkkk" Teya refleks berteriak seraya tanpa sengaja menendang Javer hingga pria itu jatuh terduduk ke bawah kasur.
"Shhhh..." Javer mendesis merasakan pantatnya yang sedikit linu.
Pria itu sebenarnya sudah bangun sekitar 30 menit yang lalu. Namun tetap saja, dia tidak siap jika harus menerima serangan mendadak dari Teya.
Teya sedikit gelagapan saat Javer menatapnya dengan sangat tajam, gadis itu lantas segera turun dari kasur.
"Apa.. Apa sangat sakit?? Ma,afkan aku.. Aku, aku, aku hanya sedikit terkejut" Teya berkata seraya hendak membantu Javer untuk berdiri.
Namun sepertinya Teya salah mengambil langkah, karena Javer memanfaatkan posisi itu untuk mendorong Teya agar kembali berbaring di atas kasur, pria itu lantas menempatkan Teya di bawah kungkungannya.
"Ja, Javer.. Apa yang akan kau lakukan.. Me..nyingkirlah.." Teya berkata seraya berusaha mendorong dada Javer agar pria itu menyingkir dari atas tubuhnya.
Alih-alih menyingkir, pria itu justru semakin menekan tubuhnya kebawah hingga hampir menimpa tubuh Teya.
"Javer.. Please.. Ini tidak lucu" Teya merasa sedikit gugup karena dengan posisi seperti ini, dia bisa menghirup wangi tubuh Javer yang sangat menggoda. Di tambah lagi dengan telapak tangannya yang menyentuh dada bidang Javer, membuat rasa gugupnya kian menjadi.
"Aku tidak sedang bercanda denganmu babby"
Teya meneguk ludahnya dengan kasar.. "Khem" gadis itu berdehem seraya memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Sungguh, suara serak Javer saat bangun tidur terdengar sangat sexy di telinganya.
Teya tidak munafik, meskipun Teya masihlah seorang gadis yang tersegel, dia bukanlah gadis polos yang tidak tau apa-apa. Maka jangan heran kalau iman Teya sedikit goyah, jika harus berurusan dengan pria yang memiliki model seperti ini.
"Javer.. Cepat, menyingkirlah.." suara gadis itu terdengar sedikit tertahan.
"Babby...." Javer semakin merendahkan suaranya. Dia tidak bodoh, dia tau jika Teya sedikit tergoda olehnya. Tidak ada salahnya kan jika Javer semakin menggoda gadis itu??
Yang mana, suara bariton pria itu kini membuat bulu kuduk Teya sedikit meremang. Teya lantas menatap Javer dengan tajam. "Apa yang kau inginkan?"
"Berikan aku kecupan selamat pagi."
Teya kembali meneguk ludahnya dengan kasar. "Aku tidak ma..."
__ADS_1
Terlambat, belum sepat Teya menyelesaikan ucapannya, Javer sudah lebih dulu mengecup bibir Teya. Tidak mendapatkan penolakan, pria itu lantas sedikit ******* bibir Teya lalu segera beranjak untuk membersihkan diri.
Meninggalkan Teya yang terdiam mematung dengan rasa terkejutnya. Tangan gadis itu terangkat untuk memegang bibirnya yang terasa sedikit basah, hingga saat kesadarannya pulih.
"Javeeeeer........." gadis itu memekik dengan penuh emosi.
.....
Setelah perdebatan yang cukup panjang, juga dengan acaman dari Javer yang tidak akan mengijinkan Teya untuk keluar dari kamarnya. Akhirnya Teya bersedia untuk berangkat ke kampus dengan di antarkan oleh Javer.
Saat Teya hendak turun dari mobil, Javer menyerahkan sebuah kartu pada Teya.
Teya tidak segera menerima kartu itu, dia menatap Javer dengan tatapan bingung. "Apa itu?"
"Kau tidak bodoh babby.." ucap Javer.
"I know.. But, untuk apa kau memberiku black card?"
"Untuk kau gunakan, tentu saja."
Gadis itu mengerutkan keningnya. "Aku memilikinya"
Javer menarik tangan kiri gadis itu. "Mulai saat ini, gunakanlah milikku." Javer berkata seraya meletakkan kartu itu pada telapak tangan Teya.
"Aku tidak mau" Teya meletakkan kartu itu pada dashboard lalu segera turun dari mobil.
Javer lantas segera melajukan mobilnya menuju perusahaannya.
.....
"Khemm.. Sepertinya mulai hari ini kau telah memiliki supir pribadi" ucap Gena ketika Teya menghampirinya dan Hana yang menunggu kedatangan gadis itu di dekat gerbang kampus.
"Shu..t Up girl.. Jika bukan karena pria itu yang memaksa, aku tidak akan mau di antarkan olehnya" Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut seraya berlalu menuju kelasnya.
Gena dan Hana pun hanya bisa terkekeh geli lalu mulai melangkah untuk menyusul Teya.
Hingga saat ketiga gadis itu berjalan di koridor kampus, Teya terlihat mengerutkan keningnya karena merasakan sesuatu yang janggal.
"Wait girl.. Apa berita pertunanganku dengan Javer belum tersebar luas? Aku seperti tidak merasakan ancaman apa pun" ucap Teya.
Hana mengedikkan bahunya. "Hmm.. Sepertinya belum.. Aku juga melihat para gadis yang masih terlihat seperti biasanya, bergosip tentang betapa menggodanya seorang Javer Vencentio Griffiths"
"Sepertinya pria mu mengatur semuanya dengan begitu matang" sahut Gena.
Teya mengangguk-anggukan kepalanya. "Begitu kah?"
__ADS_1
"Hmm.. Dan seharusnya kau merasa senang, itu tandanya kau memiliki tunangan yang sangat perhatian kepadamu" ucap Hana.
"Cih, ambil saja dia jika kau mau" sahut Teya cepat.
"Tapi sayangnya dia hanya menginginkamu" Gena menimpali ucapan Teya.
Teya duduk di kursinya lalu menatap Gena yang duduk di samping kirinya. "Dan itu membuatku frustasi"
"Ck.. Teya, kau harus mencoba berusaha untuk menerimanya.. Terlebih lagi, kalian sudah memiliki status hubungan yang jelas" ucap Hana.
Teya lalu memalingkan wajahnya pada Hana yang duduk di samping kanannya. "Kenapa kalian begitu mendukungnya?? Aku bingung, sebenarnya kalian ini sahabatku atau bukan??" Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
"Kita memang sahabatmu, tapi kali ini kita mendukung Javer. Bukan kah pria itu terlihat lebih baik jika di bandingkan dengan kedua mantanmu yang sebelumnya?" ucap Gena.
"What?? Lebih baik?? Justru pria itu lebih berbahaya jika dibandingkan dengan Brian dan Mario" gerutu Teya.
Gena seketika menatap Teya dengan jahil.. "Memangnya apa yang telah di lakukan padamu?? Atau jangan-jangan......"
Namun, saat Teya hendak menjawab perkataan Gena. Gadis itu kembali menelan kalimatnya karena Miss Alea sudah lebih dulu memasuki ruangan.
....
Saat kelas berakhir, ketiga gadis itu segera mengemasi barang-barang mereka.
Hana melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Siapa yang akan menjemputmu?" Hana bertanya pada Teya.
"Entah lah.. Sepertinya pria itu tidak mungkin datang menjemputku.. Kurasa ini belum waktunya dia menyelesaikan pekerjaannya" jawab Teya.
"Mau ku beri tumpangan?" Gena menawarkan diri karena letak rumah mereka memang searah.
Teya menatap Gena lalu tersenyum. "Sure"
"Ok.. Kau yang menyetir" ucap Gena seraya menyerahkan kunci mobilnya pada Teya.
Ketiga gadis itu pun segera berlalu menuju luar kampus, karena selama beberapa waktu terkahir ini, mereka terbiasa memarkirkan mobil di area luar kampus.
Namun, saat mereka hendak mendekati gerbang.. Teya menghentikan langkahnya, tangan gadis itu terangkat untuk memijat pangkal hidungnya karena kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut..
"Oh god.." Teya berkata seraya menatal lurus ke arah luar gerbang kampus.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
__ADS_1
Salam sayang dari sensi π
Bye bye..