Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Rela Mengorbankan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sam, yang kita ketahui adalah suami Nay, merupakan sahabat baik dari Fabio.


Setelah tabungan milik Nay dan juga Sam terkuras habis untuk biaya pengobatan sang putra yang hingga saat ini masih terbaring di atas brankar rumah sakit. Sam yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya meminta bantuan ada Fabio.


Beruntungnya, karena Sam merupakan sahabat baik Fabio. Membuat Fabio mau membantu biaya pengobatan putra Sam.


Hingha setelah waktu berlalu, Fabio tiba-tiba saja meminta Nay untuk segera mengembalikan apa yang dia pinjam secara keseluruhan.


Tapi sayangnya, karena Nay hanya bekerja sebagai seorang ovice girl, Nay tentu saja tidak bisa mengembalikan uang itu dalam waktu singkat.


Sebagai gantinya, Nay harus mau bekerja sama dengan Fabio untuk melakukan rencana yang sudah Fabio susun.


Awalnya, Nay menolaknya dengan sangat tegas. Namun, karena Fabio mengancam akan mencelakai anaknya. Nay pun menerima tawaran itu meskipun dengan terpaksa.


Dan ya, itulah kenapa Nay saat ini bergabung dengan Fabio.


Tapi percayalah, meskipun Nay bergabung dengan Fabio. Nay tidak sepenuhnya mendukung rencana pria itu. Nay justru selalu mencari cata untuk menggagalkan rencana yang di susun oleh Fabio.


Nay bahkan benar-benar rela jika harus mengorbankan anaknya demi untuk menyelamatkan Al. Bukan karena Nay tidak menyayangi putranya, tapi karena dia merasa tega melihat anaknya yang terus terbaring di atas brankar rumah sakit dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.


Karena satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa putranya hanya dengan transplantasi jantung, mengharuskan putranya terus memakai alat-alat untuk menopang kehidupannya. Dan karena hingga saat ini Nay belum juga mendapatkan jantung yang cocok untuk putranya, membuat dia merasa sedikit frustasi hingga dia tidak sanggup lagi jika harus terus menerus melihat putranya menderita.


Oleh sebab itu, Nay rela mengorbankan anaknya demi untuk menyelamatkan kehidupan anak yang sudah pasti terjamin kesehatan dan kehidupannya.


Tapi sayang seribu sayang, meskipun telah berpikir dengan matang. Nay tetap tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Yang mana akhirnya, satu-satunya hal yang bisa di lakukan oleh Nay yaitu hanya mengikuti setiap rencana yang sudah di susun oleh pria itu.


Tapi, meskipun begitu, Nay tidak terlalu khawatir. Karena sejujurnya, Nay sudah tau kalau Teya memasang alat pelacak pada kalung pemberian Sam yang tidak pernah terlepas dari lehernya.


Karena pada suatu ketika, kalung yang di kenakannya tersangkut pada baju yang di lepaskannya hingga membuat kalung itu terputus dan jatuh ke lantai. Saat mengangkat kalung itu untuk dia kenakan kembali, Nay menyadari perbedaan berat ada bandul kalung itu karena dia tau persis seberapa berat kalung yang di kenakannya.


Ingat, Nay merupakan seorang anggota pasukan elite khusus. Jadi, tidak heran jika dia bisa membandingkan perbedaan berat meskipun hanya nol koma sekian gram saja.


__ADS_1


Pict by : Pinterest


Nay yang merasa curiga akan hal itu pun segera membongkar bandul kalung itu. Dan benar saja, di dalam bandul kalung itu, terpasang chip berupa alat pelacak yang terus menyala.


Nay yang juga menguasai tentang hal itu pun segera memeriksa kode yang tertera pada chip itu. Dia merasa sangat penasaran, kemanakah alat pelacak itu tersambung. Nay juga merasa sedikit was-was kalau saja orang yang memasang alat pelacak pada kalungnya adalah Fabio.


Namun, setelah mengetahui kalau kode yang tertera pada alat pelacak itu tersambung pada ponsel Teya, membuat Nay memutuskan untuk membiarkan chip pelacak itu terpasang di kalungnya.


Dia sengaja melakukan hal itu agar nantinya Teya lebih mudah menemukan keberadaan Al. Jadi, ketika sebelumnya Fabio hendak membawa Al. Nay memaksa Fabio agar dia ikut serta bersama dengannya.


Oleh sebab itu, ketika Nay mengetahui kalau mereka masuk ke dalam bangunan yang terbuat dari dinding beton. Nay mencari cara agar dia bisa membawa Al keluar dari bangunan itu.


Hal itu dia lakukan agar sinyal dari alat pelacak itu lebih mudah untuk ditemukan. Karena seperti yang kita ketahui, dinding beton dapat mempersulit tersambungnya sinyal.


Kini, meskipun Al sudah tertidur pulas, Nay tetap membawa Al untuk berjalan di sekitar arena balap. Beruntungnya, waktu kini sudah memasuki sore hari, sehingga sinar matahari sudah tidak terlalu terik.


Nay terus berjalan menyusuri sisi arena balap seraya terus menimang Al agar Al tetap merasa tenang dan nyaman.


"Tuan muda, bertahanlah sebentar lagi, hmmm. Saya yakin, tuan dan nyonya besar sedang menuju kemari untuk menjemput Tuan muda." Bisik Nay di telinga Al.


"Tuhan, apa mereka sudah menemukan keberadaan kami? Apa mereka sudah menuju kemari? Tolong lindungilah anak yang tidak berdosa ini. Aku mohon.." Nay menghela nafasnya untuk sejenak kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"Ikut kami!" Ucap salah satu penjaga itu seraya hendak menarik Nay agar segera pergi dari sana.


Namun, Nay segera menghindari 2 penjaga itu. "Tunggu dulu, ada apa ini?! Bukan kah sudah ku katakan kalau aku tidak akan membawa kabur anak ini!!"


"Jangan banyak bertanya! Cepat ikuti saja kami!!" Teriak salah satu penjaga yang lainnya.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Al terbangun hingga menangis kencang.


Tapi, 2 penjaga itu mengabaikan tangisan Al. Mereka menarik lengan Nay agar Nay mengikuti mereka.


Nay pun akhirnya mengikuti 2 penjaga itu dengan pasrah.


"Apa tuan dan nyonya besar sudah datang?" Nay bergumam di dalam hatinya.


Hingga ketika 2 penjaga itu sudah membawa Nay masuk kembali ke dalam bangunan yang sebelumnya di masuki Nay. Nay menatap semua orang yang ada di sana yang kini tengah bersiap seperti hendak meninggalkan tempat itu.


Yang mana hal itu berarti, keberadaan mereka kini sudah di ketahui oleh pihak Javer.

__ADS_1


Nay lantas menatap Fabio dengan tatapan bingungnya, dia berpura-pura tidak tahu apa yang kini tengah terjadi.


"Fabio, kenapa kau memaksaku untuk masuk kembali ke kisini?? Aku sudah berjanji padamu untuk tidak mengacaukan rencanamu!" Kata Nay.


"Semua rencana memang sudah gagal! Mereka mengetahui keberadaan kita!! Cepat berikan anak itu padaku!!" Sahut Fabio.


"Tidak, aku tidak akan memberikan anak ini padamu!!" Nay mendekat Al dengan sangat erat.


"Haishh!! Cepat berikan anak itu!! Aku ingin memeriksa kalau saja anak itu memiliki alat pelacak!" Fabio hendak meraih Al dari dalam dekapan Nay.


Namun, Nay segera menghindarinya. "Aku yang akan memeriksany!"


Fabio mengusap wajahnya dengan kasar. "Haiiishhh!! Cepatlah!! Kita akan segera meninggalkan tempat ini!"


Nay pun segera menurunkan Al ke salah satu kursi yang ada di sana. Dia membuka pakaian yang di kenakan Al hingga tidak ada satu helai benang pun yang menempel di tubuhnya.


Nay menatap Fabio dengan tajam. "See, tidak ada alat pelacak apa pun yang terpasang di tubuhnya!" Wanita itu lalu kembali memakaikan pakaian ada Al.


Fabio lantas meminta salah satu anak buahnya untuk menggeledah tas yang sebelumnya di bawa oleh Nay.


Tapi sayangnya, di juga tidak menemukan alat pelacak apa pun di dalam tas itu.


"Haish!! Sudahlah!! Pikirkan itu nanti, kita harus segera pergi dari tempat ini." Titah Fabio.


Mereka pun bergegas untuk pergi dari sana.


Namun..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2