
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Javer sekilas melirik Teya yang kini duduk di sampingnya. "Apa yang kau lakukan dengan pria itu?"
Teya seketika memutar bola matanya malas, gadis itu sedikit jengah dengan sikap Javer yang akhir-akhir ini menjadi lebih posesif.
Teya lantas menatap Javer yang kini tengah mengemudikan mobilnya. "Sungguh, aku tidak melakukan apa pun Javer" gadis itu berkata dengan suara yang di buat se tenang mungkin.
"Lalu untuk apa kau di sana?"
Teya menghela nafasnya sejenak lalu berkata. "Ada hal penting yang harus dia bicarakan padaku. Tapi dia belum sempat mengatakan apa pun karena kau sudah lebih dulu datang menemuiku"
"Lalu, kenapa kau tidak membiarkanku untuk mendengarkan hal penting apa yang akan dia katakan?"
Teya lagi-lagi memutar bola matanya malas. "Apa kau tidak sadar jika aura yang kau timbulkan seakan ingin melenyapkan orang saat itu juga!! Aku hanya mencoba untuk menghindari keributan!!" gadis itu berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Javer pun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.
Gadis itu seketika mengernyitkan dahinya. "Apa kau tidak percaya padaku?"
"Aku tidak percaya pada pria itu" sahut Javer cepat.
Mendengar suara Javer yang sedikit ketus, tiba-tiba saja terlintas hal licik di pikiran Teya. Teya pikir, tidak ada salahnya kan memanfaatkan Fabio untuk membalas perbuatan Javer sewaktu mereka di jepang.. Dan jika hal itu berhasil, maka permainan mereka akan berakhir dengan impas.
Teya lantas menatap Javer seraya tersenyum simpul. "Oh come on Javer, pria itu tidak seburuk yang kau kira.. Lagi pula, bukan kah hal yang wajar jika seorang atasan mengajak bawahannya untuk berbincang"
Yang mana, perkataan yang Teya lontarkan itu cukup membuat emosi Javer sedikit terpancing.
"Apa kau tidak menyadari jika pria itu menatapmu seperti se ekor harimau yang akan melahap mangsanya?" pria itu bertanya dengan suara yang sedikit menggeram.
Teya yang mendapat reaksi seperti itu pun diam-diam menyunggingkan senyum liciknya. Bukan kah ide nya ini berhasil? Tapi tunggu dulu, biarkan Teya menikmati permainan ini secara perlahan. Jadi, kali ini, biarkan Teya sedikit mengalah.
"Ok ok, maafkan aku, lain kali aku akan memberitahumu terlebih dahulu. Apa kau puas?" Teya berkata dengan suara yang di buat serendah mungkin. Bahkan hampir seperti gumaman.
Javer sekilas melirik Teya yang kini tengah menatapnya dengan pandangan sedikit memelas, yang mana hal itu mampu membuat emosi Javer tiba-tiba saja melebur entah kemana.
Javer lantas menghela nafasnya sejenak. "Akan ku pegang kata-kata mu" ucap Javer kemudian memfokuskan dirinya untuk mengemudi.
....
__ADS_1
Ke esokan harinya...
"Aku akan menjemputmu" ucap Javer pada Teya yang hendak turun dari mobilnya.
Teya lantas melepaskan kembali pegangan pintu yang sebelumnya sudah dia sentuh, lalu menatap Javer dengan alis yang sedikit menukik.
"Lalu, bagaimana dengan mobilku?" tanya Teya.
Javer mengangkat bahunya acuh. "Aku sudah meminta Marco untuk menyimpan mobilmu di apartmentku."
Teya pun menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya. "Ok.." ucap gadis itu kemudian hendak turun dari mobil.
Namun, lagi-lagi dia harus mehentikan niatnya itu tat kala Javer menarik lengannya.
"Ada ap..."
Perkataan Teya seketika terhenti saat Javer tiba-tiba mencium bibirnya dengan sangat lembut.
Ketahuilah, meskipun ini bukan kali pertama Javer menciumnya. Tapi tetap saja, Teya selalu merasa terkejut dengan gerakan pria itu yang selalu tidak terduga.
Namun, Teya berusaha menetralkan rasa terkejutnya itu lalu mulai memejamkan matanya. Mencoba untuk menerima ciuman lembut yang Javer berikan.
Hingga ketika Teya mulai kehabisan napasnya, gadis itu meremat lengan Javer dengan sedikit kuat.
"Aku, aku tidak bisa bernafas" gadis itu berkata dengan sedikit gugup.
"Jangan berpikir untuk melakukan hal yang akan membuatku cemburu. Atau aku akan melakukan hal yang tidak akan pernah terlintas di pikiranmu" Javer berkata dengan suara rendahnya kemudian mengusap bibir Teya menggunakan ibu jarinya lalu kembali berkata.
"Ingat, kau milikku, dan akan selamanya menjadi milikku"
Setelah memberikan kecupan singkat di bibir Teya, Javer lantas segera menarik kembali kedua tangannya sebelum dia tidak bisa lagi mengontrol hasrat terpendamnya.
Teya yang masih merasa sedikit gugup pun akhirnya memilih untuk turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Gadis itu melangkah menuju gedung perusahaan Bottega Veneta dengan perasaan yang sedikit campur aduk.
"Sadarlah Teyaaa.. Kenapa kau mudah sekali tersipu jika berhadapan dengan pria itu.." gadis itu bergumam seraya menepuk-nepuk pipinya yang masih terasa sedikit panas.
"Tapi tunggu dulu, apa mungkin pria itu mengetahui rencanaku??"
"Tapi.. Ah sudahlah.."
Teya pun akhirnya memilih untuk mengenyahkan pikirannya itu, lalu mulai fokus s untuk mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
.....
"Akhirnya selesai juga.." Teya bergumam seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
Setelah melihat jam yang kini menunjukkan pukul 16.00, Teya lantas segera merapikan barang-barangnya untuk segera pulang.
Namun, di saat Teya tengah merapikan barang-barangnya. Gadis itu melihat Fabio yang mendekat ke arahnya dengan senyum manis yang tak luntur dari wajah pria itu.
"Kau sudah mau pulang?" Fabio bertanya setelah dia berdiri di hadapan Teya.
Teya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Apa Mr. juga akan pulang?" Teya bertanya kemudian.
Fabio menatap Teya sjenak sebelum akhirnya berkata. "Sebenarnya, jika kau tidak merasa keberatan, aku ingin memintamu untuk menemaniku menemui seorang Client yang tertarik dengan beberapa design buatanmu"
"Sekarang?" tanya Teya.
Fabio pun menganggukkan kepalanya.
Teya terlihat berpikir untuk beberapa saat. Bukankah hal ini merupakan kesempatan yang bagus untuk membalas perbuatan Javer. Jadi tidak ada salahnya kan dia memanfaatkan kesempatan yang ada?
Teya lantas tersenyum lalu menganggukkan kepalanya guna menyetujui ajakan Fabio. "Tapi, biasakah anda menunggu sebentar saja? Aku harus memberitahu tunanganku terlebih dulu."
Fabio yang mendengar itu pun seketika terkekeh. "It's okay, jangan sungkan, aku mengerti.. Kalau begitu, aku akan menunggumu di parkiran" ucap Fabio.
"Terima kasih" ucap Teya.
Fabio menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelahnya, Teya lantas meraih ponselnya lalu membuka aplikasi chatting dengan nama kontak 'Pria Tua Pemaksa', kemudian mulai mengetik pesan.
^^^(Kau tidak usah menjemputku, aku akan menemani atasanku untuk menemui seorang client.)^^^
Setelah menekan 'Kirim', Teya pun segera beranjak dari sana untuk menemui Fabio yang sudah menunggunya. Tanpa tahu, jika perbuatan nekatnya itu kini justru memunculkan kembali sisi gelap Javer yang sudah berusaha pria itu kendalikan dengan sebaik mungkin.
...-TBC-...
Thanks for reading lah ya pokonya..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..