
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Warning!!
Bab ini banyak di taburi gula pasir..
Jadi siapkan mental wakk wakk sekalian kalo nanti setelah membaca bab ini langsung terkena gejala diabetes untuk sesaat..
....
Ke esokan harinya..
Sesuai dengan apa yang di bicarakan semalam, hari ini Javer membawa Teya untuk tinggal di rumah yang tadinya akan dia berikan sebagai hadiah pernikahan.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sekitar 2 jam yang terhitung dari kediaman Leon, mereka pun kini sudah sampai di tempat tujuan.
"Wake up baby, kita sudah sampai.." Javer berkata seraya menyelipkan helaian rambut Teya ke belakang telinga gadis itu yang kini tengah tertidur pulas.
Teya lantas mengerjapkan matanya lalu mulai merenggangkan tubuhnya. "Eunghh.. Kita sudah sampai??"
"Hmm.. Turunlah.."
Setelah turun dari mobil, rasa kantuk gadis itu tiba-tiba saja hilang tergantikan dengan decakan kagum tat kala menatap rumah yang ada di hadapannya.
Pict by : Pinterest
"Waaah.. Javer.. *Is that your hous??" Gadis itu bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari rumah yang ada di depannya itu.
*Itu rumahmu?
Javer seketika terkekeh gemas tat kala melihat binar mata gadisnya yang terlihat sangat bersemangat. "*No babby, it's our house... You like it?"
(*Tidak sayang, itu rumah kita.. Kamu menyukainya?)
Teya menggelengkan kepalanya. "No.. But.. I love it.."
Javer pun mengembangkan senyum bangganya karena telah berhasil membuat gadisnya merasa senang.
"Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam.." Ucap Javer lalu menggenggam tangan Teya.
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah, dengan Teya yang tidak ada hentinya berdecak kagum saat melihat setiap isi ruangan yang sangat menyejukkan mata dan pikiran.
Kini Teya mengerti, kenapa pria itu sering kali menanyakan apa yang di sukai dan apa yang tidak di sukai Teya dalam hal suasana. Karena ternyata, pria itu membubuhkan semuanya di dalam rumah ini. Pantas saja pria itu berkata jika rumah ini baru selesai di renovasi sekitar 4 hari yang lalu.. Dan ya, ternyata ini lah alasannya, pria itu mengubah setiap ruangan sesuai dengan apa yang Teya sukai.
Namun, saat mereka memasuki ruangan yang akan menjadi kamar tidur mereka, Teya seketika menatap kamar berdinding kaca itu dengan mulut yang sedikit terbuka seakan tengah menggantungkan ucapannya.
Pict by : Pinterest
Pict by : Pinterest
Melihat ekspresi Teya yang seperti itu, membuat Javer menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"*That something's wrong, babby??" Tanya Javer kemudian.
__ADS_1
*Apa ada yang salah, sayang?
Teya menoleh pada Javer lalu menggelengkan kepalanya kemudian berkata. "Nothing.. Hanya saja.. Apa kau yakin kita akan tidur di sini??"
Javer menganggukkan kepalanya. "*Yeah, sure.. You don't like it?"
"Ya, tentu.. Kau tidak menyukainya?
Teya kembali menatap kamar itu lalu berkata. "No.. I like it, but.. You know.. Yeah.." Gadis itu mengedikkan bahunya, dia terlihat sedikit bingung untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.
Seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Teya, Javer segera melangkah menuju meja yabg ada di dekat kasur, lalu mengambil sebuah remot yang ada di sana kemudian menekan tombol yang ada di remot itu.
Dan alhasil, semua kaca yang ada di sana pun kini berubah menjadi buram.
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya mengulum senyumnya lalu berkata. "Ok.."
Javer tersenyum simpul lalu berkata. "Come, aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
Teya pun segera menghampiri Javer.
Pria itu lalu menuntun Teya menuju bagian belakang kamar mereka.
Saat mereka berjalan melewati sebuah lorong, Teya samar-samar mendengar suara gemericik air.
Hingga ketika Javer membuka sebuah pintu, gadis itu seketika menahan nafasnya saat melihat apa yang ada di balik pintu itu.
Pict by : Pinterest
Teya lalu menoleh untuk menatap Javer dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Karena sungguh, gadis itu benar-benar merasa sangat tersentuh atas apa yang Javer berikan untuknya.
Yang mana, hal itu justru membuat Javer merasa sedikit panik.
Sebelum Javer sempat menyelesaikan perkataanya. Teya segera memegang kedua lengan Javer menggunakan kedua tangannya lalu berjinjit untuk mengecup bibir pria itu sekilas.
Setelahnya, Teya kembali menurunkan kedua tangannya dengan sedikit kikuk. "Anggap saja itu, emmm.. Sebagai ucapan terima kasihku.." Gadis itu berkata dengan gugup seraya menundukkan wajahnya secara perlahan karena merasa sedikit malu atas apa yang baru saja dia lakukan.
Namun, Javer segera mendongakkan kembali wajah Teya yang masih berada di dalam tangkupan tangannya kemudian mulai mencium bibir gadis itu dengan lembut.
Teya yang sudah terbiasa menerima ciuman mendadak dari Javer pun mulai memejamkan matanya seraya membalas setiap ciuman yang Javer berikan. Dan secara perlahan, kedua tangan gadis itu terangkat untuk memegang kerah jas yang Javer yang kenakan.
Pict by : Pinterest
*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi..
Merasa gadisnya mulai kesulitan bernafas, Javer pun melerai ciumannya dengan sedikit enggan. Pria itu lantas tersenyum kecil seraya mengusap bibir Teya yang sedikit membengkak menggunakan ibu jarinya.
Jika boleh jujur, ingin sekali rasanya Javer melahap gadis itu saat ini juga. Di tambah lagi dengan menatap wajah merona Teya yang terlihat sangat menggemaskan di matanya, membuat Javer semakin ingin melahap Teya hingga gadisnya itu tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Teya yang menyadari kilatan nafsu yang terpancar dari mata Javer pun berkata dengan lirih. "Jangan menatapku seolah-olah kau ingin melahapku saat ini juga."
Mendengar apa yang di katakan gadisnya, seketika membuat Javer terkekeh kecil. "Lalu, bolehkah??" Pria itu bertanya dengan suara yang sangat serak akibat menahan hasrat kelelakiannya.
"Uhmm.. Bisa kah kau bersabar sedikit lagi untuk menungguku hingga aku merasa siap?" Gadis itu bertanya dengan sedikit ragu.
Javer pun mengembangkan senyum tulusnya lalu berkata. "*As you wish, babby."
(*Sesuai dengan keinginanmu, sayang..)
"Terima kasih.." Ucap Teya seraya membalas senyuman Javer.
__ADS_1
"*Anything for you, my babby girl.."
(*Apapun untukmu, gadis kesayanganku..)
Setelah saling menatap untuk beberapa saat, Teya lantas berkata. "Javer.."
"Hmm..." Pria itu bergumam seraya mengelus pipi kiri Teya menggunakan ibu jarinya secara perlahan.
"*Can I be deeply in love with you??"
(*Bolehkah aku mencintaimu dengan sangat dalam?)
Mendengar pertanyaan tak terduga dari Teya, seketika membuat Javer sedikit memicingkan matanya.
"Can I??" Teya kembali bertanya.
Javer lantas tersenyum lembut. "Sure.. Kau bisa mulai mencintaku kapan saja di saat hatimu sudah siap.."
"*But.. I already love you so deeply since a fiew minutes ago.." Gadis itu berkata dengan sedikit malu-malu.
(*Tapi.. Aku sudah sudah sangat mencintaimu sejak beberapa menit yang lalu..)
Javer kini semakin memicingkan matanya. "*Sorry, what did you say??"
(*Maaf, apa yang kamu katakan??)
"I love you..." Ucap Teya dengan sedikit lirih.
"*Can i hear it again??"
(*Bisakah aku mendengarnya lagi??)
Teya lantas memejamkan matanya untuk beberapa saat.
"Javer.. I love you.." Gadis itu kembali mengulangi perkataanya dengan gigi yang terkatup rapat, dan dengan mata yang masih saja terpejam.
Oh ayolah.. Seharusnya Javer tau jika gadis itu kini tengah menahan rasa malu nya..
Melihat wajah Teya yang semakin memerah hingga ke telinga pun kini membuat Javer semakin mengulum senyumnya.
"*Say it louder..." Pria itu masih berusaha untuk menggoda Teya.
(*Katakan lebih keras..)
"Aaaaa.." Gadis itu menenggelamkam wajahnya pada dada bidang Javer. "Cukup, hentikan.. Aku maluuu...." Gadis itu merengek dengan suara yang sedikit teredam.
Javer lantas tertawa renyah lalu memeluk gadis itu dengan sangat erat.. "Haaaaah.." Pria itu menghela nafasnya dengan sangat lega. "I love you more, babby..."
...-TBC-...
Mon maap wakk kalo bab ini terlalu banyak di taburin gula.. Soalnya sensi tadi habis nonton film romance, jadi kebawa deh sampe sini, hehe..
Thanks for reading lah ya pokoknya..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1