
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Ke esokan harinya..
"Apa kau tidak akan meminta maaf pada kami?" Gena berkacak pinggang seraya menatap Teya dengan sangat tajam.
"Tidak tahu kah kau, semalam kami menunggu kabar darimu hingga kami hampir mati karena kelaparan?" Hana yang tengah bersedekap dada pun menimpali perkataan Gena seraya menatap Teya dengan tak kalah tajamnya dari tatapan Gena.
Kalian ingat kan kalau Teya mengundang Hana dan Gena untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan Javer? Semalam, berhubung dengan Gena dan Hana yang tidak memiliki kartu undangan. Mereka menunggu kabar dari Teya di tempat parkir umum yang letaknya dengan dengan perusahaan Javer.
Namun, hingga larut malam tiba, mereka sama sekali tidak mendapat kabar apa pun dari Teya. Parahnya lagi, ketika mereka berusaha menghubungi Teya, gadis itu sama sekali tidak bisa di hubungi. Sehingga membuat mereka benar-benar merasa kesal kepada Teya. Dan ya, mereka pun pagi ini memutuskan untuk melakukan sidang dadakan untuk gadis itu di gudang penyimpanan kain.
Teya yang kini tengah duduk di kursi pun hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya menautkan kedua tangan di atas pahanya. Gadis itu lantas sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Gena dan Hana yang tengah berdiri di hadapannya.
Namun, sedetik kemudian, Teya kembali menundukkan kepalanya tat kala melihat tatapan Gena dan Hana yang seakan hendak membunuhnya saat ini juga. Sungguh, Teya kini merasa seperti se ekor kucing yang tengah berhadapan dengan 2 ekor singa betina ganas yang seakan ingin melahapnya detik ini juga.
"Apa kau berubah menjadi bisu?" Hana kembali berkata karena Teya hanya diam seperti patung.
"Atau kau akan berpura-pura amnesia?" Timpal Gena.
Teya lantas menelan ludahnya dengan kasar. "Sorry.." Gadis itu bercicit dengan suara yang sangat pelan.
"Apa? Kau mengatakan apa? Kami tidak mendengarnya!" Sahut Gena.
"Sorry.." Teya kembali berucap dengan nada suara yang sedikit lebih keras.
"Hah? Apa??" Hana sedikit memajukan telinganya ke arah Teya.
Teya pun mengangkat wajahnya untuk menatap Gena dan Hana dengan tatapan memelas. "Oh, ayolah.. Aku minta maaf, ok.. Aku tiba-tiba memiliki masalah mendadak yang membuatku benar-benar lupa terhadap kalian. Maafkan aku, ok.. Aku akan menebusnya dengan apa pun yang kalian minta. Ya, ya, ya.. Maafkan akuuuu.." Gadis itu merengek dengan sangat dramatis seraya mengedip-ngedipkan matanya.
Gena dan Hana seketika memutar bola mata malas. Namun, meskipun begitu, setelah mendengar penjelasan Teya yang mendapatkan masalah. Setidaknya mampu membuat emosi yang Gena dan Hana rasakan sedikit mereda.
"Tidak usah bertingkah imut, itu tidak akan mempan terhadap kami." Hana berkata dengan sedikit ketus.
"Hmm.. Sudahlah, lebih baik kita masuk ke kelas, sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai." Timpal Gena.
__ADS_1
Lalu, Gena dan Hana pun berlalu pergi dari sana.
Teya yang melihat hal itu lantas segera beranjak dari duduknya kemudian menyusul Gena dan Hana.
Teya yang berjalan di belakang Hana dan Gena pun bertanya dengan sedikit ragu. "Jadi, kalian sudah memafkanku?"
"Tidak, sebelum kau membelikan kami makan siang." Sahut Gena cepat.
Teya yang mendengar hal itu pun seketika mengembangkan senyum lebarnya. "Ok, aku akan membelikan kalian makan siang hingga kalian mati kekenyangan.." Gadis itu berkata dengan sangat ceria seraya menggandeng lengan Gena dan Hana.
.....
Sesuai dengan janji Teya tadi pagi, ke 3 gadis cantik itu kini tengah berada di cafeteria yang biasa mereka kunjungi dengan Teya yang akan membayar semua tagihan mereka.
"By the way, Te.." Gena berkata seraya menikmati dessertnya.
"Hmm??" Teya yang tengah bermain ponsel pun melirik Gena sekilas.
Gena lantas meletakkan alat makannya kemudian menatap Teya lekat-lekat. "Tentang masalah yang kau bilang tadi pagi, tidak kah kau ingin memberitahu kita berdua?"
Hana pun menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui apa yang Gena tanyakan.
"Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaanmu waktu itu?" Hana mencoba untuk menebak kemana arah pembicaraan Teya.
Teya mengedikkan bahunya. "Bisa di bilang begitu.. Tapi, tidak sepenuhnya benar."
"Jadi benar, itu bukanlah sebuah murni kecelakaan?" Hana bertanya dengan sedikit mengernyitkan dahinya.
"Hmmmm," Teya pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Itu bukanlah murni sebuah kecelakaan."
"Waaah.. Apa dia musuh Javer? Dan apa kau sudah mengetahui siapa pelakunya?" Gena bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.
"Ya, dia musuh Javer. Aku juga sudah mengetahui orangnya."
"Lalu?" Tanya Hana.
Teya mengedikkan bahunya. "Javer yang akan mengurusnya."
"Apa kau tidak takut?" Gena bertanya dengan sedikit memicingkan matanya.
__ADS_1
"Tcih.." Teya memalingkan wajahnya sekilas. "Apa kau meremehkanku? Apa kau ingin mencoba berduel denganku?" Tanya gadis itu cepat.
Gena seketika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak.. Aku tidak ingin mati konyol." Gadis itu lantas menyedot minumannya.
Hana yang melihat hal itu pun hanya bisa terkekeh geli. Karena dia tahu betul, meskipun Teya merupakan seorang gadis yang memiliki tubuh mungil dan terkesan lemah. Tapi percayalah, gadis itu bukan lah seorang gadis yang bisa di remehkan keganasan dalam bertarungnya.
Berpikir tentang hal itu, seketika membuat Hana kembali teringat akan keganasan Teya dalam menghadapi sekelompok siswa yang sempat ingin membully Hana sewaktu masa sekolah menengah dulu.
Di mana, waktu itu, ketika Hana tengah di berikan hukuman untuk membersihkan lapangan basket. Hana di hampiri sekelompok kakak kelas yang berjumlah 7 orang yang terkenal suka membully, dengan 2 orang siswi dan 5 orang siswa.
Tapi beruntungnya Hana, ketika 7 orang itu hendak membullynya. Teya sudah lebih dulu datang untuk menolongnya.
Awalnya, Hana merasa sanksi jika Teya mampu mengalahkan ke 7 orang itu. Namun, Hana seketika terpukau tat kala melihat Teya yang mampu membuat 7 orang itu terkapar tak berdaya hanya dengan nenggunakan ikat pinggang.
Setelah kejadian itu pun, akhirnya Teya bercerita kepada Hana tentang bagaimana kerasnya Rion mengajari Teya dalam hal bela diri dan menembak. Dan semenjak kejadian itu juga, ke 7 orang itu akan mengurungkan aksi membull mereka jika mereka kebetulan melihat Teya ada di sekitar mereka.
Hana yang sedang asik melamun pun seketika berjengkit kaget tat kala Teya memukul keningnya menggunakan gulungan kertas.
"Yakk.. Apa kau ingin membuatku mati karena serangan jantung?" Hana berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Teya mengangkat bahunya acuh. "Tapi nyatanya kau tidak benar-benar mati." Gadis itu berkata dengan acuh tak acuh kemudian melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Sudahlah, jangan nengkhawatirkanku ok.. Aku bisa menghadapi semuanya. Aku pergi dulu, Javer sudah menungguku di depan."
Teya lantas beranjak dari duduknya kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Meninggalkan Hana yang menatap Teya dengan melongo tak percaya karena perkataan sarkas yang di lontarkan gadis itu padanya.
Sedangkan Gena, gadis itu terlihat acuh tak acuh dengan hanya melambaikan tangannya pada Teya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..