
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Teya, lantas membuat Hana memutuskan untuk menyusul gadis itu.
Saat Hana masuk ke dalam kamar mandi, Hana melihat hanya ada 1 pintu bilik kamar mandi yang tertutup. Hal itu membuat Hana yakin kalau orang yang ada di dalam bilik kamar mandi itu adalah Teya.
Hana lantas mendekati bilik kamar mandi yang tertutup itu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Te, kau baik-baik saja?" Hana bertanya dengan di penuhi rasa khawatir.
"Ya, aku baik-baik sa.. Huweeekk!!"
Mendengar Teya yang tengah mengeluarkan isi perutnya, seketika saja membuat Hana memutuskan untuk menerobos masuk ke dalam.
Melihat Teya yang tengah berjongkok di depan closet, lantas membuat Hana mengernyitkan dahinya. Karena sedari tadi pagi dia bersama dengan Teya, gadis itu terlihat baik-baik saja.
Seingatnya, Teya juga tidak salah makan atau pun salah minum. Apa yang di makan dan di minum oleh Teya, sama dengan apa yang di makan di minum olehnya.
Oleh sebab itu, ketika melihat Teya yang seperti ini, membuat Hana benar-benar merasa bingung juga khawatir.
"Apa yang terjadi padamu?" Hana bertanya seraya memijat tengkuk Teya secara perlahan.
Teya lantas menoleh pada Hana. "Apa yang kau lakukan di sini, keluarlah.. Ini menjiji."
Belum sempat Teya menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah kembali mengarahkan wajahnya pada closet untuk kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Oh God! Huweeeek!!"
Hana pun terus memijat tengkuk Teya dengan lembut, membantu gadis itu agar lebih mudah mengeluarkan isi perutnya.
Namun, yang membuat Hana merasa sedikit heran. Teya sama sekali tidak memuntahkan apa pun, melainkan hanya memuntahkan cairan bening.
"Apa kau salah makan sesuatu?" Tanya Hana.
__ADS_1
Teya menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku tidak tau."
Teya lantas menekan tombol push untuk menyiram kloset kemudian menegakkan tubuhnya.
"Are you done?" Tanya Hana.
Teya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari dalam bilik kamar mandi dengan langkah yang sedikit lunglai.
Hana yang melihat hal itu pun segera membantu Teya untuk berjalan, Hana merasa khawatir kalau tiba-tiba saja gadis itu tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Karena sungguh, wajah Teya kini benar-benar terlihat sangat pucat.
Saat mereka berada di depan wastafel, Hana mengarahkan Teya akan menghadap ke arah cermin besar yang ada di sana.
"Lihatlah Te, kau benar-benar terlihat pucat. Apa kau masih akan berkata kalau kai baik-baik saja?" Hana berkata dengan sedikit gemas karena Teya selalu sulit untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya.
Melihat pantulan dirinya sendiri dari cermin, seketika saja membuat Teya merasa sangat terkejut. "Oh God! Kau benar Hana, aku terlihat sangat pucat." Gadis itu berseru seraya memegangi wajahnya yang memang terlihat sangat pucat.
Hana lantas bersedekap dada kemudian menatap Teya dari pantulan cermin dengan mata yang memicing tajam. "Bukan kah sudah ku katakan padamu kalau kau terlihat sangat pucat. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Sedari pagi, kau selalu bersama denganku, apa yang kita makan dan kita minum itu selalu sama."
Hana menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Kalau kau lupa, kita memiliki perut yang sama-sama sensitive. Jika perutmu sakit karena makanan atau minuman, seharusnya aku pun mengalami hal yang sama. Tapi, see.. Aku baik-baik saja.. So, ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Memdengar penuturan panjang dari Hana, lantas membuat Teya membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah gadis itu. Teya menatap Hana dengan sedikit ragu kemudian mengusap tengkuknya dengan sedikit canggung.
"Bagaimana aku harus menjelaskannya?" Teya bertanya dengan sedikit bingung.
Teya seketika saja meringis karena merasa semakin canggung. "Okay, jadi, begini.."
Hana menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya, berharap kalau apa yang akan di katakan okeh Teya sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Mm.. Aku, aku bulan ini belum mendapatkan tamu bulananku, ya.. Emm.. Kau tau betul kan kalau aku tidak pernah terlambat memdapatkan tamu bulanan.. Emm.. Itu, itu.. Ah, bagaimana aku harus mengatakannya?" Teya menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya karena merasa sangat bingung sekaligus malu.
"Tcih." Hana menyunggingkan senyum simpulnya karena apa yang di katakan oleh Teya benar-benar sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
"Are you pregnant?" Hanya bertanya dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya menatap Hana dengan mata yang mengerjap lucu. "Kau, kau bisa mengerti apa yang aku pikirkan?" Gadis itu bertanya dengan wajah polosnya.
Hana yang melihat hal itu pun hanya bisa memutar bola matanya malas. "Oh, c'mon Te.. Siapa yang tidak bisa mengerti apa yang kau pikirkan jika satu setengah bulan yang lalu saja kau datang ke kampus dalam keadaan leher yang di penuhi dengan tanda kepemilikan!! Bahkan Gena pun pasti akan berpikiran yang sama denganku jika saat ini dia melihat keadaanmu yang seperti ini."
Teya seketika saja menggaruk pelipisnya yang tidak gatal seraya menampilkan cengiran lebarnya. "Begitukah?"
__ADS_1
"Hrrgghh, God!" Hana kembali memutar bola matanya malas. "Lupakan hal itu.. Sekarang, yang perlu di pertanyakan, apa kau benar-benar hamil?"
Teya mengedikkan bahunya. "I don't know.. Aku belum memastikannya."
"Mari kita menemui *Aunty Syiena, nanti aku akan meminta dia untuk meluangkan waktunya agar besok kau bisa menemuinya dengan leluasa." Kata Hana.
Teya perlahan menganggukan kepalanya. "Tapi, bisa kah kau tidak menceritakan hal ini pada siapa pun untuk sememtara waktu?"
Hana menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tidak ingin memberitahu Javer tentang hal ini?"
"Aku akan segera memberitahunya jika semuanya sudah benar-benar pasti."
Hana pun menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, ayo kita kembali bergabung dengan yang lainnya. Kau sudah terlalu lama meninggalan Javer, dia pasti akan khawatir jika kau tidak kunjung kembali."
Teya menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng Lengan Hana untuk kembali bergabung dengan yang lainnya.
Dan benar saja, sesuai dengan apa yang Hana katakan, Javer sudah menunggu Teya di kursi yang sebelumnya Teya duduki.
"Kau dari mana saja? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Javer cepat saat Teya dan Hana sudah berada di dekat Javer.
"Aku baik-baik saja.. Hanya ada sedikit panggilan alam. Aku hanya terlalu menahannya, jadi aku terlihat sedikit pucat. Ah, yeah.. Begitulah.." Teya mengusap tengkuknya canggung.
Javer lantas melirik Hana, mencoba untuk meminta kebenaran atas apa yang baru saja Teya katakan. Karena ya, di antara Gena dan Hana. Hanya Hana lah yang mampu Javer percaya. Bukan karena apa. Tapi karena Gena terlalu memihak pada Teya. Sehingga membuat Javer sedikit tidak bisa percaya pada Gena.
Mendapat tatapan tajam dari Javer, Hana seketika menampilkan cengirannya kemudian menganggukkan kepala.
"Baiklah, bisa kah kita berdansa?" Tanya Javer seraya mengulurkan tangan kanannya pada Teya.
Teya tersenyum kecil kemudian menganggukkan kepalanya. "Sure.." Ucap gadis itu seraya menerima uluran tangan Javer.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..