
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Di sisi lain, masih di malam yang sama.
Ketika Javer memasuki kediamannya, pria itu segera menghampiri kedua orang tuanya yang kebetulan masih menonton film di ruang keluarga.
Athena yang melihat kedatangan Javer pun berniat untuk pergi. Namun, Javer segera menghentikan Athena yang hendak beranjak dari duduknya.
"Mom.. Dengarkan aku, only a while, ok.."
"Hmmm" Athena menyahut dengan malas.
"Aku ingin kalian menolongku" ucap Javer setelah duduk
Yama menatap Javer seraya menaikkan sebelah alisnya. Yama yakin, ketika Javer sudah berkata seperti itu, maka pasti akan ada sesuatu hal yang sangat penting.
"Katakan" ucap Yama.
Javer menghela nafasnya sejenak. "Bantu aku melamar seorang gadis" Javer berkata dengan mantap.
Athena yang mendengar itu pun seketika menatap Javer dengan penuh minat. "Coba katakan sekali lagi"
"Bantu aku untuk melamar seorang gadis" ucap Javer.
"Apa kau sudah kehilangan keberanianmu boy?" Yama bertanya seraya terkekeh geli.
Javer mengangkat bahunya acuh. "Bukan kah akan lebih meyakinkan jika kalian yang datang untuk melamarnya."
Mendengar perkataan Javer, seketika membuat Yama merasa sedikit penasaran. Karena sudah pasti, jika gadis yang di maksud oleh Javer bukanlah gadis dari keluarga sembarangan.
"Anak gadis dari keluarga mana yang kau maksud?" tanya Yama kemudian.
"Mommy berteman baik dengan Nyonya dari keluarga itu" jawab Javer.
"Biarkan mommy berpikir sejenak" ucap Athena.
Athena pun tampak merenung, dia sedang berpikir tentang siapa di antara teman-temannya yang memiliki anak gadis. Setelah berpikir cukup lama, hanya ada 2 nama keluarga yang terlintas di benaknya. Namun, Athena kembali menimang, siapa kah anak gadis di antara 2 keluarga yang di maksud oleh Javer.
Apa kah anak gadis dari keluarga Macethini? Tapi.. Athena pikir, anak gadis dari keluarga Macethini tidak lah mungkin masuk ke dalam kriteria Javer. Secara, kelakuan anak gadis itu sangatlah bertentangan dengan tipe gadis yang Javer inginkan. Di tambah lagi, cara berpenampilan anak gadis itu yang terlalu berlebihan.
Jadi, apa mungkin... "Jangan katakan jika kau sedang mengincar anak gadis dari keluarga Griffiths.." tanya Athena cepat.
__ADS_1
Karena setelah di pikir-pikir, hanya anak gadis dari keluarga Griffiths yang saat ini sesuai dengan tipe gadis idaman Javer. Gadis yang selalu bersikap apa adanya, juga gadis yang pandai menempatkan diri dalam berbagai ke adaan.
Athena akui, gadis itu adalah menantu idaman para orang tua pria. Dan Athena adalah salah satunya.
Lalu, kenapa Athena bisa mengetahuinya? Itu karena teman-temannya terkadang suka membawa anak atau cucu mereka jika sedang mengadakan perkumpulan.
"Apa tebakan mommy benar?" Athena kembali memastikan.
"Hmm..." sahut Javer.
Athena seketika berdiri lalu menepuk tangannya satu kali. "Ok, mommy dan daddy akan mendatangi rumahnya esok hari. Kau hanya perlu berdandan dengan tampan"
"Wait mom.. Aku tidak meminta hal ini terlaksana esok hari" Javer sedikit terkejut akan reaksi mommy nya yang sedikit berlebih.
Begitu pula dengan Yama, bahkan kini mulutnya sedikit terbuka karena merasa terkejut akan semangat istrinya yang terlihat menggebu-gebu itu. Meskipun Yama juga berteman baik dengan Roma, tapi melihat reaksi istrinya yang seperti itu, tetap saja membuat Yama merasa terkejut.
"Ehmm, ehmm, ehmm" Athena menggoyang jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. "Bukan kah lebih cepat itu lebih baik.. Mommy tidak ingin kehilangan menantu idaman mommy.. Lagi pula, jika hal ini di tunda-tunda, apa kau tidak takut kalau nantinya ada pria yang lebih dulu melamar gadis itu"
Javer seketika menggelengkan kepalanya.
Athena tersenyum senang. "Bagus, biarkan mommy yang menyiapkan semuanya.. Ah.. Bahkan mommy mampu menyiapkannya hanya dalam waktu hitungan menit"
"Ah sayang, ayo kita kembali ke kamar.. Ini hampir tengah malam, besok kita harus bangun pagi-pagi sekali." Athena berkata seraya menarik tangan Yama untuk kembali ke kamar mereka.
Javer pun hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja terasa kaku.
Pict by : Michele Morrone
Sungguh, Javer sedikit khawatir tentang reaksi seperti apa yang akan di berikan oleh Teya. Tapi satu hal yang Javer yakini, gadis pujaan hatinya itu sudah pasti akan menolak keras lamarannya.
Setelah menghela nafasnya, Javer pun beranjak untuk masuk ke dalam kamarnya.
.....
Ke esokan harinya...
Sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Athena semalam. Dia benar-benar mengajak Yama dan Javer untuk mendatangi kediaman Teya. Bahkan, wanita itu sudah siap sedia dengan membawa beberapa perhiasan yang akan di jadikan sebagai mahar awal.
Tapi, Javer tidak merasa terkejut ketika mommy nya benar-benar mampu menyiapkan semua hal hanya dalam waktu yang begitu singkat. Lagi pula, siapa yang berani menentang perintah dari tuan Ratu??
Dan ya.. Di sini lah mereka sekarang, duduk saling berhadapan dengan keluarga Griffiths.
"Jadi?? Bagaimana??" Athena bertanya sekali lagi.
__ADS_1
Athena melirik Javer sekilas kemudian menatap Athena dengan sedikit ragu. "Khem.. Begini tante.. Bukannya Teya bersikap tidak sopan, tapi...."
Benar kan apa kata Javer.. Gadis itu sudah pasti akan menolak lamarannya..
Tapi, belum sempat Teya menyelesaikan kalimatnya, Amaya sudah lebih dulu menyela. "Kami menerima lamarannya"
Berbeda dengan Teya merasa terkejut setengah mati, Javer justru diam-diam mengulum senyumannya.
Athena pun perlahan menoleh pada Amaya dengan tatapan tajamnya. "Moooommm..."
"What?? Mommy dan Daddy menyetujuinya.." Amaya menyahut dengan santainya.
Teya menoleh pada Roma yabg terlihat menganggukkan kepalanya. Karena sejauh yang dia ketahui, meskipun Javer di kelilingi banyak wanita. Roma sama sekali tidak mendengar kabar tentang Javer yang bermain wanita. Toh dia juga mengenal Yama dengan baik, jadi Roma yakin jika Javer memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dengan Yama.
Hah.. Sepertinya Teya mencium bau-bau persekongkolan di sini.
"Tapi mom, Teya masih dalam masa kuliah.. Bahkan Teya sebentar lagi akan memasuki masa magang"
"Sayang.. Ini hanya sebuah lamaran, kami tidak meminta mu untuk menikah dengan Javer dalam waktu dekat. Jadi kamu masih bisa meneruskan kuliahmu.. Untuk soal pernikahan, itu bisa di bahas setelah kamu menyelesaikan study mu" ucap Athena.
Sedangkan Roma, Javer dan Yama, mereka hanya mengamati perdebatan itu dalam diam. Mereka ingin tahu, di antara 3 wanita beda usia itu, siapa yang akan berakhir menjadi pemenang.
Teya pun menghela nafasnya sejenak. Jika seperti ini, hanya ada satu hal yang bisa dia katakan untuk menolak lamaran ini. "Tapi aku tidak mencintai Javer"
"Maka belajarlah untuk mencintainya" sahut Athena cepat.
"Lagi pula, tante yakin, kamu tidak akan menyesal jika menjadi pasangan Javer"
Ok.. Kali ini Teya benar-benar kehilangan kata-katanya.. Gadis itu hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Yang mana, hal itu membuat Javer menarik sudut bibirnya. Setelah ini, dia harus sering-sering bersyukur karena memiliki mommy yang bisa di andalkan.
Bukannya Javer tidak bisa melakukannya sendiri, Javer mungkin bisa saja memaksa Teya, atau bahkan mungkin mengurung gadis itu untuk berada di sisinya. Tapi, Javer tidak ingin melakukan hal itu. Javer ingin merebut hati Teya dengan cara yang halus. Ya meskipun cara ini juga sedikit memaksa, tapi setidaknya dia tidak melakukannya dengan kekerasan.
Dan juga, Javer sudah berjanji pada kakak dari Teya untuk menjaga gadis itu dengan baik-baik. Lagi pula, tanpa harus berjanji pada siapa pun, Javer sudah pasti akan menjaga Teya dengan sebaik mungkin.
...-TBC-...
Thank for reading..
Jangan lupa kritik dan..
Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1