Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Beberapa Jam Menjelang Pernikahan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Ke esokan harinya...


Di pagi hari yang cerah, di saat semua orang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dalam mempersiapkan acara pernikahan yang akan di adakan dalam hitungan jam.


Terlihat sepasang sijoli yang masih bergelung di bawah selimut hangat mereka, mengabaikan teriakan merdu yang terus saja menggema dari luar kamar sejak 10 menit yang lalu.


"Teyaaa!!!"


Itu Amaya..


Ya, sejam 10 menit yang lalu, Amaya berusaha membangunkan Teya dengan memanggil nama gadis itu. Amaya bahkan sudah menggedor pintu kamar Teya bak seorang perampok yang ingin menerobos masuk.


Namun sayangnya, Amaya sama sekali tidak mendengarkan sahutan apa pun dari dalam kamar itu. Amaya tidak tahu kalau anak gadis satu-satunya yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai seorang istri, kini tengah terbuai akan pelukan hangat yang mana di berikan oleh sang calon suami itu sendiri.


Amaya yang merasa mulai kehilangan kesabarannya pun meminta salah satu pelayan untuk membawakan kunci cadangan kamar Teya. Terlebih lagi, Amaya benar-benar merasa penasaran, hal apa yang membuat anak gadisnya itu tidak kunjung bangun dari tidurnya.


"Tidak mungkin kan kalau anak itu tiba-tiba menghembuskan nafas terakhirnya?" Amaya bergumam seraya menatap pintu kamar Teya dengan sedikit khawatir.


"Nyonya, ini kuncinya." Pelayan yang baru saja menghampiri Amaya itu segera menyerahkan kunci yang sebelumnya di minta oleh Amaya.


Tanpa berpikir lagi, Amaya lantas segera membuka pintu kamar Teya.


Dan ya, seperti yang sudah bisa kita bayangkan. Melihat pemandangan yang ada di depan matanya, seketika saja membuat wajah Amaya melongo tak percaya.


Setelah menetralkan rasa terkejutnya, Amaya bergegas ke arah jendela kemudian membuka lebar-lebar gorden yang menutupi jendela itu.


Alhasil, saat cahaya matahari masuk memenuhi ruangan melalui jendela yang baru saja di buka oleh Amaya, seketika itu juga sepasang sijoli itu terbangun dari tidurnya.


Melihat Amaya yang berdiri berkacak pinggang seraya menatap tajam ke arahnya, seketika saja membuat Javer menyunggingkan senyum canggungnya.


Sedangkan Teya, dia yang belum menyadari keberadaan Amaya karena memunggungi wanita itu pun hanya melenguh kecil seraya merapatkan tubuhnya pada Javer.


"Babby.. Sepertinya kau harus bangun.." Javer berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari Amaya.


"Eungh.. Berikan aku 10 menit lagi, aku masih mengantuk." Sahut Teya seraya semakin merapatkan tubuhnya pada Javer.


Mendengar hal itu, seketika saja membuat Javer menggaruk pelipisnya dengan canggung.

__ADS_1


"Tapi, kau benar-benar harus bangun saat ini juga babby.." Javer berkata seraya berusaha melepaskan lengan Teya yang melilit di pinggangnya.


"Ck, hanya 10 menit lagi, ok.." Teya menyahut tanpa membuka matanya.


Amaya yang merasa mulai kehilangan kesabarannya pun lantas mendekati Teya. Dan tanpa berkata apa pun, wanita itu menjewer kuping Teya hingga membuat Teya meringis kesakitan.


"Yak yak yak!! Javer, apa yang kau lakukan!! Haishh, apa kau bodoh? Itu menyakitkan!!" Gadis itu berteriak seraya memegangi kupingnya, dia masih belum sadar kalau yang menjewer kupingnya adalah Amaya.


Namun, ketika melihat Javer yang masih berbaring di atas kasur seraya menatapnya dengan senyum canggung yang tersungging di bibirnya. Seketika saja membuat Teya mengerjapkan matanya.


Gadis itu menelan ludahnya seraya perlahan menoleh untuk melihat orang yang menjewer kupingnya.


Melihat pelaku yang menjewer kupingnya adalah Amaya, sontak saja membuat Teya menampilkan cengiran lebarnya.


Sedangkan Javer, pria itu segera beranjak dari kasur kemudian berdiri di dekat kasur dengan sedikit canggung. Karena sungguh, ini adalah situasi akward yang baru pertama kali dia alami.


Andai saja yang memergokinya bukan Amaya yang notabenenya adalah ibu mertuanya, mungkin saja Javer tidak akan merasa secanggung ini.


"Hai maa.." Ucap Teya dengan sangat canggung, gadis itu benar-benar melupakan rasa sakit di kupingnya.


"Apa kau baru saja mengatai mamamu bodoh??" Amaya menatap Teya dengan sangat tajam.


"Ti, tidak.." Teya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku yakin, mama salah mendengar apa yang aku katakan."


"Apa kau baru saja mengatakan kalau pendengaran mama bermasalah?" Amaya semakin memperkuat jewerannya pada kuping Teya.


"Aaaa.. Ma, ma.. Itu benar-benar menyakitkan.." Teya meringis seraya berusaha melepaskan tangan Amaya yang tidak kunjung melepaskan kupingnya.


"Sakit katamu!! Apa yang kalian lakukan semalam ha!! Apakah kalian tidak bisa bersabar untuk satu malam lagi saja?" Amaya berkata dengan gigi yang terkatup rapat karena merasa sangat gemas.


"Maaaa.. Itu salah Javer, aku tidak memintanya untuk datang kesini!! Dia datang dengan sendirinya, aku berani bersumpah!! Maaa, lepaskan kupingkuuuuuuuu!! Itu menyakitkan!!!" Teya merengek dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Karena sungguh, Amaya menjewer kuping Teya dengan sangat keras.


Melihat Teya yang benar-benar merasa sangat kesakitan, sungguh membuat Javer merasa tidak tega.


"Ma, benar apa yang di katakan Teya. Itu salahku.. Bisakah mama melepaskannya, kupingnya kini sudah memerah." Javer berkata seraya sedkit meringis ngilu membayangkan betapa sakitnya kuping Teya.


Mendengar hal itu, seketika saja membuat Amaya tersadar kalau dia terlalu menyakiti putrinya. Wanita itu lantas segera melepaskan kuping Teya.


"Oh Tuhan, maafkan mama okay.. Mama terlalu terkejut hingga mama tidak bisa mengendalikan emosi mama.. Maafkan mama, hmmmm.." Amaya berkata seraya meniup kuping Teya yang memang terlihat sangat merah.


"Sudahlah, aku baik-baik saja." Teya menyahut dengan bibir yang mencebik sebal.

__ADS_1


Gadis itu menatap Javer dengan sangat tajam, gadis itu diam-diam mengacungkan jari tengahnya pada Javer.


Javer yang melihat hal itu pun hanya bisa mengusap tengkuknya canggung.


Saat Javer hendak berbicara, dia harus menelan kembali kalimatnya tat kala Amaya lebih dulu berkata.


"Apa kau tidak bisa menunggu hanya untuk 1 malam lagi saja? Tidak tahu kah kau kalau telah melanggar peraturan!! Oh astaga.. Para pria memang tidak bisa menahan hasrat mereka!!" Amata berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


"Maafkan aku ma.." Hanya itu yang bisa Javer katakan.


Karena ya, setelah Athena dan Teya, kini Amaya masuk ke dalam salah satu daftar wanita yang sedikit sulit untuk Javer bantah.


Bukannya Javer tidak berani, hanya saja, Javer lebih menghormati ke 3 wanita itu sehingga Javer merasa sedikit enggan untuk membantah mereka.


Mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Javer, lantas membuat Amaya menghela nafasnya. Karena mau bagaimana pun, Javer memang memiliki hak untuk menemui Teya yang memang dalam hitungan jam akan resmi menjadi istrinya.


"Sudahlah, lebih baik kau kembali. Beberapa jam lagi pemberkatan akan segera di laksanakan." Ucap Amaya.


Dan tanpa bantahan apa pun, Javer pun menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.


Seperginya Javer, Amaya menatap Teya dengan sedikit sendu.


"Maafkan mama karena telah menyakiti anak gadis kesayangan mama, hmmm.." Ucap Amaya seraya mengelus kepala Teya dengan sayang.


Teya menganggukkan kepalanya. "It's ok.. Aku baik-baik saja ma.."


"Kalau begitu bersiaplah, para stylish sudah menunggumu sejak tadi."


Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya.


Amaya pun menghela nafasnya kemudian berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Teya yang kini segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2