Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Pesta Ulang Tahun Teya - Part 3


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya...


Hingga tiba-tiba, Liam terkekeh kecil karena kartu yang dia pegangnya merupakan kartu dengan angka 2. Pria itu lantas mengacungkan kartunya, menunggu siapa yang akan memberikan pertanyaan kepadanya.


.....


Dan beruntungnya, Teya kini mendapatkan kartu diamond king, sehingga kini dia memiliki giliran untuk bertanya. Gadis itu segera mengacungkan kartunya.


Tanpa di sadari oleh siapapun, Teya melirik Gena untuk beberapa detik dengan senyum tipis yang mengembang di bibirnya. Senyum tipis yang ternyata di sadari oleh Javer dan Gena.


Mereka yang ada di sana pun menatap Teya dengan rasa penasaran tentang pertanyaan seperti apa yang ada di ajukan oleh Teya.


Termasuk Javer, dia melirik Teya dengan penuh minat. Karena sungguh, kini Javer benar-benar merasa penasaran tentang pertanyaan ajaib seperti apa yang akan di lontarkan oleh gadisnya. Terlebih lagi karena Teya sudah tau mengenai Liam dan Gena yang sudah saling mengenal.


Sedangkan Gena, dia yang menyadari senyum tipis Teya lantas membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Dia menunggu dengan harap-harap cemas, apa yang akan di tanyakan oleh sahabatnya yang memiliki mulut sepedas cabai carolina reaper itu.


Tidak ingin membuat teman-temannya menunggu, Teya pun segera mengutarakan pertanyaannya. "Ok, jawab pertanyaanku dengan seeeeee jujur jujur nya.. Apa kau berkencan dengan Gena?" Gadis itu benar-benar menekankan kata jujur dengan sangat pasti.


Nah kaaan.. Ini yang Gena waspadai.. Apa yang ada di pikirannya benar-benar terucap dari mulut Teya. Rasanya Gena benar-benar ingin merobek mulut sahabatnya itu saat ini juga.


Mendengar pertanyaan yang Teya lontarkan, alih-alih menatap Liam, semua mata yang ada di sana seketika tertuju pada Gena. Tapi tidak dengan Javer, pria itu menunggu jawaban seperti apa yang akan di ucapkan oleh Liam.


Melihat semua mata yang tertuju padanya, seketika membuat Gena kini merasa sedikit gugup. Oh ayolah.. Siapa yang tidak gugup jika mendapatkan tatapan tajam dari setiap pasang mata yang ada di dekatnya.


Gena kini merasa seperti se ekor kancil yang sedang berada di tengah-tengah kerumunan para buaya yang siap memangsanya kapan saja. Gena lantas berdehem kecil guna menghilangkan rasa gugupnya. Gadis itu sedikit menundukkan kepala seraya mengusap tengkuknya canggung.


Liam yang melihat tingkah gugup Gena pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya. Dia benar-benar merasa gemas pada tingkah Gena yang seperti itu. Dalam jarak dekat seperti ini, Liam dapat menyadari wajah Gena yang sedikit memerah karena merasa malu.

__ADS_1


Tapi jujur, sesungguhnya, Liam juga tidak tau jika Gena adalah sahabat baik dari Teya. Andai saja Liam tau, mungkin Liam sudah meminta informasi lebih pada Teya mengenai Gena, gadis yang kini sedang menjadi incarannya.


Setelah puas melirik tingkah gugup gadisnya yang sangat menggemaskan, Liam lantas berdehem kecil. "Kita belum berkencan, aku sedang berusaha untuk mendapatkan hatinya. Mungkin setelah ini aku akan meminta dia untuk menjadi kekasihku." Pria itu menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Teya dengan sangat percaya diri.


Yang mana, jawaban Liam yang seperti itu seketika membuat mereka yang ada di sana memberikan sorakan kecil namun panjang. Tapi perlu kalian ingat, Javer akan selalu menjadi pengecualian di sana. Tau kan lah ya, iblis yang satu itu hanya bisa menampilkan wajah datarnya.


"Ohooooooooo...."


Sedangkan Gena, gadis itu kini sudah merasa malu setengah mati. Andai saja dia bisa, dia akan menenggelamkam dirinya ke dasar bumi saat ini juga. Karena sungguh, jika saja halaman belakang rumah Teya di berikan pencahayaan yang terang, kini wajah Gena akan terlihat sangat merah bak kepiting yang baru saja di rebus.


Teya yang menyadari tingkah Gena yang salah tingkah kini semakin mengembangkan senyum jahilnya. "Kenapa kalian tidak berkencan mulai saat ini? kalian terlihat sangat serasi.." Gadis itu berkata dengan nada jahilnya.


Yang mana, perkataannya itu mendapatkan lirikan tajam dari Gena.


Teya yang mendapatkan tatapan seperti itu pun hanya mengangkat bahunya acuh dengan senyum jahil yang masih saja terpatri di wajahnya.


"Bisa kah kita melanjutkan permainannya?" Gena bertanya dengan suara yang sedikit tertahan karena masih merasa malu.


Mendengar hal itu, membuat mereka yang ada di sana seketika saja terkekeh kecil. Namun, mereka memilih untuk kembali melanjutkan permainan. Mereka tidak se jahat itu untuk terus menerus menggoda Gena.


Enzo, Kheil, Hana dan Gena kini benar-benar sudah tidak bisa lagi merespon apa pun yang ada di sekitar mereka. Mereka benar-benar mabuk karena banyaknya minuman yang mereka tenggak.


Tapi tidak dengan Javer, sebanyak apa pun dia minum, hal itu tidak berpengaruh pada dirinya. Padahal, Javer tidak hanya meminum minuman bagiannya, dia juga meminum minuman bagian milik Teya. Tapi tetap saja, hal itu sama sekali tidak membuatnya mabuk sedikit pun.


Ah ya, dan pengecualian juga untuk Liam. Pria itu masih memiliki kesadarannya karena toleransi tubuhnya terhadap alkohol lebih baik di bandingkan Enzo dan Kheil. Ya meskipun masih jauh jika di bandingkan dengan Javer, tapi setidaknya dia tidak mudah mabuk seperti 2 temannya yang lainnya.


Sedangkan Teya, gadis itu sama sekali tidak mabuk. Karena ya, seperti yang kalian ketahui, Javer meminum semua minuman bagian gadis itu.


Melihat teman-temannya yang benar-benar sudah tidak bisa di kondisikan, membuat Javer meminta mereka untuk menghentikan permainan.


"Kita sudahi sampai di sini.. Kalian tidurlah, gunakan kamar kalian masing-masing. Dan kau Liam, sebaiknya kau membawa gadismu bersama dengan mu." Titah Javer.


Enzo dan Kheil hanya bisa menganggukkan kepala kemudian beranjak untuk menuju kamar mereka tanpa menghiraukan apa pun lagi.

__ADS_1


Begitu pula dengan Liam, pria itu beranjak dari duduknya kemudian menggendong Gena ala Bridal menuju kamar yang akan di tempati mereka.


Teya yang melihat hal itu seketika menatap Javer. "Apa tidak apa-apa membiarkan Gena bersama dengannya?" Gadis itu bertanya dengan sedikit khawatir.


Javer mengembangkan senyum kecilnya. "Tak apa, percayakan Gena padanya. Gena akan selalu aman bersama dengan Liam, hmmm.."


Javer mencoba untuk mengatasi ke khawatiran Teya.


Jika Javer sudah berkata seperti itu, maka tidak ada pilihan lain untuk Teya selain percaya.


Teya lantas menatap Hana yang terlihat sudah tidak sadarkan diri. "Kalau begitu, aku akan menuntun Hana masuk ke dalam rumah." Teya berkata kemudian.


Javer menggelengkan kepalanya. "Biarkan *Lady yang mengantarkannya ke kamar."


*Lady : Pengawal perempuan pribadi Teya.


Teya pun hanya bisa menghela nafas kemudian menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang di katakan oleh Javer.


Javer lantas memanggil Lady menggunakan ponselnya.


Tak lama kemudian, Lady datang lalu sekilas menundukkan kepalanya pada Javer dan Teya sebelum akhirnya mengantarkan Hana menuju kamarnya.


Seperginya Lady dan Hana, Javer dan Teya pun segera beranjak dari sana kemudian masuk ke dalam rumah menuju kamar mereka. Menghabiskan sisa malam di hari ulang tahun Teya dengan beristirahat setelah melewati pesta kecil yang sangat berarti bagi Teya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2