
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Setelah puas menikmati sore hari dengan berkeliling kota, Teya pun memutuskan untuk segera kembali ke rumahnya..
Namun, ketika Teya memasuki gerbang rumahnya, gadis itu sedikit mengerutkan keningnya saat melihat ada sebuah mobil asing yang terparkir di rumahnya.
"Apa pria tua itu menggunakan mobil lain?" Teya bergumam seraya turun dari mobil.
"Hmm.. Mungkin pria itu menggunakan mobil lain." gadis itu kembali bergumam seraya melangkah hendak masuk ke dalam rumahnya.
Namun, saat Teya membuka pintu rumah, gadis itu tiba-tiba saja mematung di ambang pintu seraya menatap tajam ke ke arah ruang keluarga. Di sana, di sofa yang letaknya persis menghadap ke arah pintu masuk, ada seorang pria yang sedang duduk seraya menatapnya dengan memegang segelas minuman.
Tapi sedetik kemudian, Teya berdecih saat melihat pria yang sangat dikenalinya itu kini merubah posisi duduknya menjadi menopang kaki dengan gayanya yang terkesan sok cool..
Pict by : Danijel Aleksic
Pria tampan dengan tinggi badan 180cm itu memiliki nama lengkap Del Rion Bifatigirni, dia adalah putra pertama keluarga Bifatigirni. Pria berusia 30 tahun yang kerap di sapa Rion itu merupakan pria yang memiliki sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan dan orang-orang sekitar.
Namun, sikap acuh tak acuhnya itu tidak akan pernah berlaku ketika dia sedang berada di dalam rumah.
Contohnya seperti sekarang ini..
Sikap cool yang baru saja di tunjukkan Rion tiba-tiba saja luntur, ketika melihat gadis mungil yang berstatus sebagai adik kandungnya itu kini tengah berkacak pinggang seraya menatapnya dengan sangat tajam. Pria itu lantas meletakkan gelas yang dia pegang ke atas meja dengan sedikit terburu-buru, lalu bersiap siaga kalau-kalau adiknya itu tiba-tiba saja menyerangnya.
"Haiiiii sister.. How are you today???" Rion sedikit berbasa basi seraya tertawa canggung ketika Teya tak kunjung mengeluarkan suaranya.
Yang mana, hal itu seketika membuat tangan kanan Teya terangkat untuk menunjuk Rion dengan penuh emosi. "Kau.. Dasar kau saudara terkutuk!!!" gadis itu menggeram dengan penuh amarah.
Dan benar saja, apa yang di perkirakan Rion kini benar-benar terjadi. Tepat setelah Teya memaki Rion, gadis itu segera berlari menghampiri Rion.
"Oh God, tamat sudah riwayatku" Rion bergumam seraya hendak beranjak untuk melarikan diri.
__ADS_1
Namun sayang, saat Rion hendak melarikan diri dengan melompati sofa, adiknya itu sudah lebih dulu mencekal pergelangan kaki Rion hingga membuat pria itu terjungkal ke belakang sofa.
"Oh Tuhaaaan.. Yak, yak, yak.. Teya, berhenti aish.. Teya stop.. Itu sungguh menyakitkan" Rion berteriak dengan sangat dramatis ketika Teya mulai memukulinya dengan sangat brutal.
"Berhenti katamu!!! Kau!! Tak tau kah kau!! Gara-gara kau, hidupku kini tidak sedamai dulu!!!" Teya membalas teriakan Rion seraya terus saja melayangkan pukulan demi pukulan pada pria yang berstatus sebagai kakak kamdungnya itu.
"Aw.. Aw.. Aw.. Astaga Teya stop, aku benar-benar menyesal menyuruhmu untuk belajar bela diri, pukulanmu terlalu menyakitkan.." pria itu kini berusaha untuk melarikan diri.
"Aku tidak peduli!! Rasakan ini!! Rasakan hah!! Bisa-bisanya kau menumbalkan adikmu pada raja iblis!!!!"
"Yaaakkkkk.. Kemari kauuuu!!" Teya menunjuk Rion yang kini berhasil lepas darinya.
"Ooh God, Teya!! Stop, stop, stop, berhenti di situ.." Rion lantas memajukan kedua tangannya ke depan seolah meminta Teya untuk berhenti di tempat nya. "Dengar.. Aku hanya mewujudkan keinginanmu, okay.. Bukankah aku seorang kakak yang baik hati.. Seharusnya kau berterima kasih padaku.. Bukan malah menyerangku dengan membabi buta.." pria itu berkata dengan tersenyum lebar.
Melihat ekspresi Rion yang seakan tidak memiliki dosa apa pun, seketika membuat emosi yang Teya rasakan kian meluap-luap.
Gadis itu lantas berkacak pinggang seraya menatap Rion dengan sangat tajam.
"Ooohh.." gadis itu mengangguk-anggukan kepalanya secara perlahan. "Jadi kau merasa menjadi kakak yang baik hati heh??"
Rion tersenyum semakin lebar seraya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Rion kembli menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Ohkey.. Kalau begitu kemari kau!!! Aku belum selesai mengungkapkan rasa terima kasih ku padamu!!!" gadis itu berteriak dengan gemas seraya kembali berlari untuk mengejar Rion.
"Oh God!!! Tolong akuuuuuuuuu" lagi.. Pria itu berteriak dengan sangat dramatis seraya berusaha menghindari kejaran Teya.
Ketahuilah, pria itu diam-diam menahan tawanya karena berhasil membuat adiknya merasa kesal. Karena setelah hampir 3 bulan lamanya dia berjauhan dengan adiknya, kini dia bisa kembali berkelahi dengan adiknya.
Terlalu berlebihan memang, tapi sungguh.. Baginya, 3 bulan tidak berkelahi dengan Teya terasa seperti 3 tahun lamanya..
Dua saudara kandung itu terus saja saling berteriak dan berlarian hingga mengundang perhatian para pelayan yang bekerja di rumah mereka, juga Roma dan Amaya yang tengah mengobrol santai di halaman belakang.
Para pelayan yang seolah terbiasa melihat tingkah dua saudara itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka, kemudian berlalu pergi untuk kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Sedangkan Roma dan Amaya, mereka kini tengah menatap tingkah kedua anaknya itu dari ambang pintu.
__ADS_1
"Oh Tuhan.." Tangan Amaya terangkat untuk memijat pelipisnya karena kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut. "Pa, bisa kah kau memisahkan mereka?? Mama sudah terlalu lelah menghadapi sikap mereka yang tidak pernah berubah.."
Namun, belum sempat Roma menanggapi perkataan Amaya, Rion sudah lebih dulu berlari ke arahnya.
"Paaaa, Maaaaa.. Selamatkan aku dari amukan singa betina ituuuuu..." pria itu kini berusaha bersembunyi di balik tubuh Roma dan Amaya.
"Yaaaakkkkk.. Beraninya kau mengataiku singa betina.. Kemari kau harimau jantan yang terkutuk!!!" gadis itu berusaha meraih Rion yang terus saja menghindarinya.
Hingga.. "Stooooooooop"
Dua saudara kandung itu seketika berhenti bergerak ketika mendengar teriakan yang keluar dari mulut Amaya.
"Tidak bisa kah kalian bersikap selayaknya orang dewasa???" Amaya berkata seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa kaku.
"Oh astaga ya Tuhaaaaan.. Dosa apa aku dulu hingga melahirkan putra dan putri yang seperti ini!!" Amaya kembali berkata seraya berlalu pergi dari sana.
Rion dan Teya yang mendengar itu pun seketika meneguk ludah mereka dengan kasar kemudian saling melayangkan tatapan sinis.
"Sudah cukup??" Roma melirik Teya dan Rion yang masih saja saling melemparkan tatapan sinis. "Haaaaah... Sebaiknya kalian segera membersihkan diri kalian, waktu makan malam sebentar lagi akan tiba" Roma pun berlalu pergi dari sana seraya menekan pangkal hidungnya yang juga terasa kaku.
Teya lantas melirik Rion dengan sini lalu mengacungkan jari tengahnya pada pada kakaknya itu. "Fuc..K You brother" ucap gadis itu kemudian berlalu pergi dari sana.
Rion pun seketika terkekeh geli atas tingkah kesal adiknya yang menurutnya sangat nenggemaskan. "I love you too sister" Rion menyahuti umpatan Teya dengan sedikit berteriak.
Teya yang mendengar hal itu pun hanya menanggapinya dengan kembali mengacungkan jari tengahnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..