Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
The End Of Revenge


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Aku juga ingin kalian merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang paling di cintainya di depan mata kalian sendiri!" Fier kembali berkata.


"Tidak tidak!!" Ucap Teya saat melihat tangan kanan Fier yang memegang sebilah pisau terangkat untuk mencelakai Al.


Namun, sebelum hal itu terjadi.


"Hentikan semua omong kosongmu Fier!!!"


Semua orang yang ada di sana seketika saja mengalihkan perhatian mereka ke arah asal suara. Yang di mana ternyata, dari arah asal suara itu ada Eliza yang datang bersama dengan Kheil, Mona, Kakek tua Robert, Yama dan Athena.


Ya, mereka datang bersama dengan Kheil. Kheil yang tadinya akan bergabung bersama yang lainnya untuk menemukan keberadaan Al, harus mengurungkan niatnya karena Mona tiba-tiba saja menelponnya.


Mendengar Mona yang meminta Kheil untuk menjemputnya, Kheil awalnya tentu saja menolak untuk melakukan hal itu. Namun, setelah mendengar penjelasan singkat dari Mona, Kheil pun akhirnya mau menjemputnya.


Dan ya, di sinilah mereka sekarang.


"Sudah cukup Fier!! Hentikan semuanya!! Aku sudah bilang padamu sejak dulu untuk menghentikan semua ini!!" Eliza menatap Fier dengan tatapan memohon.


"Tidak! Aku tidak akan menghentikan semua ini sebelum aku berhasil membuat dia merasakan apa yang kita rasakan dulu.!!" Fier menunjuk Yama menggunakan pisau yang dia pegang dengan penuh emosi.


Karena ya, tujuan utama yang di lakukan oleh Fier dalam balas dendamnya bukanlah kematian Yama, melainkan kematian Javer. Fier ingin Yama merasakan apa yang dia rasakan ketika kehilangan orang yang paling berharga untuknya.


Fier ingin Yama mengalami penderitaan hidup yang teramat sangat atas kematin orang yang paling di sayanginya. Karena menurut Fier, kematian yang di alami Yama tidak akan setimpal dengan apa yang telah Yama lakukan dulu.


Namun, karena Fier sadar kalau dia tidak bisa menyentuh Javer, Fier memutuskan untuk mengalihkan tujuannya pada Al. Fier ingin melihat Yama menderita atas kehilangan keturunannya. Fier benar-benar ingin melihat hal itu terjadi.


Oleh sebab itu, dia melakukan segala cara agar bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.


"Apa yang kau lakukan itu salah Fier!! Aku mohon, cukup sampai di sini saja! Balas dendam yang kau lakukan ini benar-benar tidak ada gunanya Fier, semua yang kau lakukan ini salah!" Eliza menangkup kedua tangannya di depan dada, memohon pada Fier agar Fier segera menghentikan semua ini.


Fier seketika saja mengernyitkan dahinya. "Bukan kah dulu kau adalah orang yang paling sedih atas kematian orang tua kita? Bukan kah dulu kau adalah orang yang selalu mendukungku untuk melakukan balas dendam ini? Kenapa sekarang kau justru memihak kepadanya? Haaa!! Kenapa kau kini malah berpihak pada orang yang telah membunuh kedua orang tua kita!! Kenapa kau malah berpihak pada orang yang sudah membuat kita menderita!!" Pria itu tidak kuasa menahan emosinya.


"Tidak Fier, selama ini kita salah paham terhadap Tuan Yama. Orang tua yang selalu kita bangga-bangga kan itu tidak sebaik yang kita pikirkan. Mengertilah Fier, aku mohon. Jangan berbuat sesuatu yang akan kita sesali nantinya. Cukup sudah kau mengorbankan suamiku atas rasa dendam yang kau miliki. Jangan mengorbankan orang lain lagi. Aku mohon!!" Eliza duduk bersimpuh menghadap ke arah Fier dengan menangkupkan kedua tangannya pada Fier. "Aku mohon.."


"Apa kau bodoh!! Dia bisa saja memutar balikan fakta!! Dia bisa saja mengelabuimu!!"


Eliza menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak.. Aku punya buktinya, dia memberikan buktinya. Bukti itu sangat akurat, kau bisa memeriksanya."


Eliza mengambil map yang di bawa oleh Mona kemudian menunjukkannya pada Fier. "Lihat, aku punya buktinya."


Eliza membuka map itu kemudian mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam map itu. "Lihatlah, ini adalah buktinya. Semua ini buktinya. Aku mohon, cukup sampai di sini saja, hmmm.. Aku mohon.."


Setelah melihat apa yang di bawa oleh Eliza, perlahan membuat keteguhan Fier terhadap keyakinan yang selama ini dia miliki pun mulai goyah. Fier menatap bukti yang di bawa oleh Eliza dengan dada yang berdegup kencang. Fier perlahan mulai takut pada kenyataan yang sebenarnya terjadi.


Melihat keadaan Fier yang lengah, membuat Nay memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut Al dari pria itu. Karena sebelumnya, Nay berhasil melepaskan ikatan tangannya secara diam-diam.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, Nay merebut Al kemudian berlari kepada Teya yang berada di arah kanannya.


Teya yang melihat hal itu pun segera melepaskan Mia kemudian berlari ke arah Nay yang membawa Al.


Masih merasa tidak terima atas semua yang telah berlalu, lantas membuat Fier mengangkat pisau yang dia genggam. Pria itu hendak melemparkan pisau itu ke arah Al.


Semua orang yang melihat hal itu seketika saja melebarkan bola mata.


"Oh God, tidak!" Teya kini menambah kecepatan berlarinya, dia berniat untuk menarik Nay dan Al agar pisau itu tidak mengenai salah satu dari mereka.


Yama dan Athena yang kebetulan ada di arah kanan Teya pun berlari ke arah Nay dan Al.


Javer yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, dia yang berada tidak jauh dari Teya pun ikut berlari ke arah Nay dan Al untuk menyelamatkan mereka.


Marco yang mulai mendapatkan kembali tenaganya pun memberontak dari cengkraman anak buah Fier. Pria itu lantas menendang kaki Fier, dia berniat untuk menggagalkan Fier yang akan melemparkan pisaunya.


Namun, sayang seribu sayang. Semuanya sudah terlambat. Meskipun Marco mampu membuat Fier jatuh tersungkur, tapi pisau itu berhasil di lemparkan oleh Fier.


Dan hal yang membuat mereka semua yang ada di sana tiba-tiba diam terpaku adalah karena pisau itu yang mendarat dengan sangat mulus di punggung Teya.


Ketika Teya sudah berhasil memeluk Nay dan Al, wanita itu berniat untuk membawa mereka jatuh bersama dengan tujuan agar tidak ada satu pun dari mereka yang terkena pisau itu.


Tapi sayangnya, langkah yang di ambil Teya kalah cepat dari pisau yang di lemparkan oleh Fier.


Teya yang kebetulan memunggungi Fier pun akhirnya harus menerima pisau yang lemparkan oleh Fier.


Semua orang yang ada di sana benar-benar terdiam mematung menatap Teya yang sudah jatuh tersungkur dengan darah yang mulai membasahi tubuhnya.


Javer yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi pun meraih pistol yang tergeletak di dekatnya.


"Oh, sayang.. Kau bisa mendengar mommy?" Athena mengelus kepala Teya.


Namun sayangnya, Teya sama sekali tidak memberikan respon apa pun. Teya hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan erat, merasakan punggungnya yang termat sakit akibat pisau yang tertusuk di punggungnya.


Athena pun hanya bisa terisak pilu seraya terus mengelus kepala Teya.


"Baji*ngan!!" Javer melayangkan satu tembakan pada Fier.


Fier yang berusaha untuk berdiri pun harus kembali tersungkur akibat pahanya yang terkena tembakan.


Tidak hanya sampai di situ saja, Javer kembali melayangkan tembakan pada Fier yang di mana peluru dari pistol itu kini mengenai perut Fier.


Fier yang mendapatkan tembakan untuk yang kedua kalinya pun hanya bisa meringis menahan rasa sakit pada area yang terkena tembakan.


Javer kembali menembak perut Fier seraya mendekati pria itu.


Javer yang kini sudah berada di dekat Fier pun membuang pistol yang di bawanya kemudian membalikkan tubuh Fier yang telungkup di atas lantai.


Dan tanpa berkata apa pun, Javer mencengkram kerah baju Fier kemudian memukuli Fier dengan sangat brutal hingga wajah Fier kini di lumuri dengan darah.


Tidak ada satu pun dari pihak Javer yang ada di sana yang berani menghentikan aksi Javer. Mereka hanya terdiam seraya menatap ke arah Javer yang terus saja memukuli Fier.

__ADS_1


Sementara pihak Fier yang ingin membantu Fier pun di tahan oleh pihak Javer sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membantu Fier. Termasuk Eliza, dia tidak bisa menghentikan Javer karena Mona menahannya.


Karena meskipun Fier telah berbuat salah, namun Fier tetaplah saudaranya, sehingga membuat Mona merasa sedikit tidak tega jika Javer memukili Fier dengan sangat brutal.


Namun, meskipun begitu, Eliza pun hanya bisa pasrah pada nasib Fier yang kini berada di tangan Javer. Eliza memeluk Mona dengan sangat erat seraya terus menerus menangis pilu.


Hingga pada akhirnya, Javer mengakhiri pukulannya karena Fier kini sudah tidak lagi bergerak. Javer bahkan sudah tidak bisa merasakan deru nafas Fier.


Javer lantas beranjak dari sana kemudian menghampiri Teya. Wajah pria itu tidak menampilkan ekspresi apa pun, juga tidak ada emosi apa pun yang terpancar dari mata pria itu. Pandangan mata pria itu tidak lah kosong, tapi datar, bahkan lebih datar dari biasanya.


Tanpa berkata apa pun, Javer menggendong Teya kemudian berlalu pergi begitu saja.


Begitu pula semua orang yang ada di sana, mereka hanya diam membisu seraya menatap kepergian Javer.


Athena yang melihat kepergian Javer pun segera meraih Al dari Nay kemudian berlalu pergi dari sana mengikuti langkah Javer. Begitu pula dengan Mona, Eliza dan Uncle Robert. Mereka pun berlalu pergi dari sana tanpa ada niat untuk membereskan semua kekacauan ini.


Untuk Fabio, setelah mendengar semua penuturan Fier tentang dirinya. Dia yang kini merasa sangat menyesal karena telah percaya pada Fier pun hanya bisa pasrah untuk menerima buah dari perbuatannya selama ini.


Fabio benar-benar pasrah untuk menerima hukuman apa pun yang akan di berikan kepadanya.


Bahkan, saat ini Fabio merasa sedikit menyesal karena selama ini dia telah mengabaikan peringatan dari Eliza.


Andai saja.. Ya, andai saja..


Namun, mau sebesar apa pun rasa penyesalan Fabio, semuanya sudah terjadi. Fabio tidak bisa mengulang waktu kembali.


Begitu pula dengan Mia dan Ben. Mereka yang selama ini hanya mengikuti perintah dari Fabio pun hanya berdiam diri. Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk memberikan perlawanan.


Karena meskipun semuanya telah menjadi kacau seperti ini, sampai kapan pun, mereka tetap akan mengikuti perintah dari Fabio. Jika Fabio hanya berdiam diri tanpa menunjukkan tanda-tanda perlawanan, maka mereka pun juga hanya akan berdim diri.


Yama yang sedari tadi hanya berdiam diri pun menatap keadaan sekitar yang benar-benar kacau.


Yama lantas menatap Marco yang kini sudah membalikkan keadaan dengan menyandera anak buah Fabio yang sebelumnya menyanderanya.


Dan satu anak buah Fabio yang sebelumnya menyandera Nay, dia sudah di amankan oleh para anak buah Javer ketika dia hendak melarikan diri.


"Bereskan kekacauan in dan bawa mereka semua yang masih hidup ke markas utama, termasuk Fier." Titah Yama kemudian berlalu pergi dari sana.


Mereka pun segera membawa Fabio, Mia, Ben, 2 anak buah Fabio yang masih hidup dan Fier menuju ke markas utama Cosa Nostra.


Sedangkan beberapa yang lainnya tinggal di sana untuk membereskan kekacauan yang terjadi.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2