
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
"Apa yang terjadi, apa mommy kembali kritis?" Tanya Javer.
Al menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mommy menggerakkan kelopak matanya!" Al berseru dengan cepat, anak laki-laki itu seakan masih tidak percaya atas apa yang baru saja dia lihat.
Javer kini semakin mengernyitkan dahinya. "Bisa kau katakan satu kali lagi?" Pria itu perlahan mendekati Al.
"Mommy menggerakkan kelopak matanya, dad!!" Al kembali mengulangi perkataanya.
Mendengar hal itu, Javer lantas mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam kamar Teya.
Ketika Javer dan Al kembali masuk ke dalam kamar Teya, dua pria berbeda usia itu seketika saja terdiam mematung seolah dunia kini tengah berhenti berputar. Dua pria beda usia itu seakan tidak mempercayai apa yang mereka lihat saat ini.
Bagaimana tidak? Wanita yang selama 7 tahun terakhir ini hanya bisa terbaring di atas kasur dengan berbagai alat medis yang menopang kehidupannya, kini tengah mengerjapkan matanya seraya berusaha untuk menggerakan kedua tangannya.
Javer menelan ludahnya dengan kasar seraya mengerjapkan matanya, dia berusaha untuk meyakinkan diri kalau apa yang dia lihat saat ini bukanlah halusinasi.
Setelah yakin kalau apa yang dia lihat benar-benar nyata, buliran bening seketika saja keluar dari kedua matanya.
"Babby?" Ucap Javer dengan sangat lirih, pria itu perlahan mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati Teya.
Meskipun samar, namun Teya mampu mendengar suara Javer yang memanggilnya. Teya lantas menoleh ke arah asal suara seraya terus mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya.
"Javer?" Mulut Teya tergerak dengan sangat kaku, wanita itu belum bisa menheluarkan suaranya.
Meskipun Javer belum bisa mendengar suara Teya, namun Javer tahu kalau Teya kini tengah menyebut namanya. Javer lantas segera naik ke atas tempat tidur.
"Yes babby, i'm here.." Pria itu menunduk untuk mengecuk kening Teya.
"Oh God.. Terima kasih.. Terima kasih banyak karena sudah bertahan, babby.. Terima kasih banyak karena telah bersedia untuk membuka kedua matamu kembali." Javer terus mengecup kening Teya, pria itu menyalurkan segala rasa rindunya yang selama ini dia taha.
Javer lantas menoleh pada Al. "Boy, bisa kah kau memanggil dokter untuk datang kemari."
Al mengangguk dengan sedikit kaku, dia mendekati nakas kemudian menekan tombol yang ada di sana untuk memanggil dokter.
Setelahnya, anak itu kembali menatap Teya dan Javer secara bergantian. Al dapat melihat kalau Javer benar-benar merindukan wanita itu, terbukti dari Javer yang tidak hentinya mengecup wajah Teya.
"Air.." Akhirnya Teya kini bisa menheluarkan suaranya meskipun dengan sangat lirih.
Al yang masih mampu mendengar apa yang di ucapkan oleh Teya pun dengan sigap segera mengambilkan segelas air untuk wanita itu.
"Dad." Ucap Al seraya memberika segelas air dan sendok pada Javer.
Javer pun menerimanya kemudian mulai membantu Teya untuk minum dengan menyendokkan air itu sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, tiga orang dokter yang selama ini bertanggung jawab untuk menangani Teya masuk ke dalam kamar. Melihat apa yang sedang terjadi, tentu saja membuat tiga orang dokter itu melongo tak percaya. Mereka tidak menyangka kalau perjuangan yang selama ini Javer lakukan benar-benar akan membuahkan hasil.
Meskipun masih merasa terkejut, ketiga dokter itu segera bergerak untuk mengecek kondisi Teya.
Dan alangkah bahagianya mereka, kondisi Teya kini sudah pulih sepenuhnya.
Alat-alat medis yang terpasang di tubuh Teya pun mulai di lepaskan satu persatu hingga hanya meninggalkan selang infus.
Setelah memastikan untuk yang kedua kalinya kalau kondisi Teya benar-benar baik-baik saja, para dokter pun mulai merapikan alat-alat medis yang sebelumnya terpasang di tubuh Teya. Selesai dengan hal itu, mereka pun meninggalkan kamar itu.
Javer pun kembali menghampiri Teya.
Sedangkan Al, anak laki-laki itu memilih untuk duduk di sofa dengan jantung yang berdegup kencang. Dia merasa sedikit canggung untuk mendekati Teya.
Javer pun hanya membiarkannya, Javer akan memberikan waktu untuk Al menyesuaikan diri.
Setelah Javer kembali duduk di samping Teya, wanita itu menoleh pada Javer dengan tatapan yang terlihat bingung karena teringat akan suatu hal.
"Javer?" Ucap Teya.
Meskipun masih sedikit lirih, namun suara Teya kini sudah terdengar jelas jika di bandingkan dengan sebelumnya.
"Hm?" Sahut Javer.
"Di mana Al? Apa dia baik-baik saja?" Tatapan mata Teya terlihat di penuhi dengan rasa kekhawatiran.
Karena posisi Teya yang masih berbaring, membuat Teya tidak sadar kalau ada seorang anak laki-laki yang sedari awal sudah ada di dalam ruangan itu.
Sedangkan Al, jantung anak laki-laki itu kini berdetak dengan semakin cepat setelah mendengar kalau dialah orang pertama yang di tanyakan oleh Teya. Terlebih lagi, Teya bertanya dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir, membuat jantung Al seolah ingin keluar dari tempatnya. Al benar-benar tidak menyangka kalau Teya masih bisa mengingatnya setelah wanita itu tidak sadarkan diri untuk sekian lamanya.
"Dia baik-baik saja babby, dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat hebat." Tutur Javer.
Teya mengernyitkan dahinya. "Tunggu dulu Javer, apa maksudmu dengan tumbuh menjadi anak laki-laki?"
Javer mengedikkan bahunya.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Hmm.." Javer kembali mengedikkan bahunya.
Kedua mata Teya tiba-tiba saja berkaca-kaca. "Bisa kah aku bertemu dengan anakku?"
Jaber menyunggingkan senyumnya. "Sure.. Kau bisa bertemu dengan anakmu, ah tidak.. Anak kita.. Kau bisa bertemu dengannya saat ini juga?"
"Kalau begitu cepat bawa dia kemari."
"Dia sudah di sini sejak tadi."
Teya seketika saja mengernyitkan dahinya. "Benarkah?"
Javer menganggukkan kepalanya, pria itu menoleh pada Al.
__ADS_1
Teya lantas ikut menoleh ke arah yang di tuju oleh Javer.
"Bisa kau membantuku untuk duduk?" Teya bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Al.
Javer pun membantu Teya untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.
Al yang terus saja di tatap oleh Teya pun hanya bisa meremat kedua tangannya.
"Apa kah dia benar-benar anakku?" Teya bertanya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Hmm.." Javer menganggukkan kepalanya.
"Tapi dia terlalu mirip denganmu." Teya kini mulai terisak kecil.
Javer seketika saja terkekeh geli. Karena ya, wajah Al benar-benar sangat mirip dengannya. Javer dan Al bak pinang di belah dua. Wajah mereka terlalu mirip, ah tidak, wajah mereka bahkan terlihat sama. Mereka bagaikan saudara kembar.
Teya lantas merentangkan kedua tangannya ke arah Al.
"Kemarilah.." Ucap Teya.
Al pun beranjak dari duduknya kemudian perlahan mulai melangkah ke arah Teya.
"Bisa kah kau memberikan pelukan untuk mommy?" Tanya Teya.
Tanpa mengatakan apa pun, Al pun masuk ke dalam pelukan Teya dengan di iringi isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
Teya memeluk Al dengan sangat erat seraya terus terisak kecil. "Maaf, maafkan mommy.. Mommy tidur terlalu lama sehingga tidak bisa merawatmu.. Maafkan mommy karena tidak bisa mengiringi pertumbuhanmu.. Mommy benar-benar minta maaf padamu.."
Al menggelengkan kepalanya. "No, don't say sorry mom.. Itu bukan salah mommy. Justru Al yang harusnya berterima kasih pada mommy karena mommy bersedia untuk bangun dari tidur panjang mommy." Anak laki-laki itu semakin mempererat pelukannya.
Javer yang melihat hal itu pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Saat ini dia benar-benar merasa sangat bahagia. Karena setelah sekian tahun lamanya, keluarga kecilnya kini sudah kembali utuh. Kesedihan yang selama ini Al dan Javer alami kini sudah terlewati.
Javer lantas ikut bergabung dengan Teya dan Al, dia memeluk dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya itu dengan penuh kasih dan sayang.
"Terima kasih karena sudah bertahan, terima kasih karena telah kembali pada keluarga kecil kita. Terima kasih.." Ucap Javer.
Dia mengecup puncuk kepala Teya dan Al secara bergantian. Air mata bahagia terus mengalir dari kedua matanya.
...-The End-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1