
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Tak terasa, hari demi hari berlalu dengan begitu cepat.. Kini, hanya tinggal menghitung hari untuk menunggu kelahiran sang buah hati yang tengah di kandung oleh Teya.
Tidak ada perubahan signifikan yang di alami oleh tubuh Teya selama masa kehamilannya. Tapi, selama masa kehamilannya, Teya semakin hari justru terlihat semakin cantik.
Aura kecantikan dan kebahagiaan yang Teya pancarkan, semakin hari semakin bertambah bersinar. Dia melewati masa kehamilannya dengan kebahagiaan penuh. Semua orang merawatnya dengan sangat baik.
Mereka selalu menuruti apa yang Teya inginkan. Mereka juga tidak melarang Teya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Semuanya berjalan dengan sangat normal.
Tidak ada gangguan sedikitpun dari dunia luar. Namun, justru itulah yang membuat Javer merasa sedikit gelisah.
Karena seperti yang kita ketahui, Fier dan juga Fabio masih berkeliaran di luar sana.
Ke setiap ujung tempat sudah Javer kunjungi guna menemukan keberadaan mereka. Namun sayangnya, Javer sama sekali tidak bisa menemukan mereka berdua.
Setiap hari, pengawasan yang di berikan untuk Teya semakin dia perketat. Javer tidak ingin kalau dia sampai lengah dalam menjaga Teya. Javer tidak ingin kalau Fier atau pun Fabio sampai menyentuh istri dan juga calon anaknya.
Namun, lagi dan lagi harus di sayangkan. Hingga saat ini, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka ataupun tanda-tanda mereka akan menunjukkan diri.
Javer sudah berusaha untuk bersikap dengan tenang. Tapi apalah daya, kekhawatiran itu semakin hari justru semakin membesar.
"Apa yang kau lamunkan?" Teya menepuk bahu Javer.
Javer yang tengah duduk di kursi yang ada di halaman belakang pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Teya dengan dahi yang sedikit mengernyit.
"Sejak kapan kau di sini, babby??"
Teya mengedikkan bahunya. "Sejak 5 menit yang lalu mungkin.."
Melihat Teya yang hanya mengenakan piyama tipis, lantas membuat Javer menatap penampilan Teya dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
"Kau keluar malam-malam begini mengenakan pakaian seperti ini, apa kau tidak merasa dingin?" Pria itu bertanya seraya menarik Teya agar duduk di pangkuannya.
"Entahlah.. Aku justru merasa sedikit gerah.." Teya menyandarkan kepalanya di bahu Javer.
"Lantas, kenapa kau turun ke bawah? Apa kau lapar?" Javer mengelus lembut perut Teya yang kini sudah sangat besar.
Teya menatap Javer dengan wajah yang sedikit masam. "Kau meninggalkan istrimu yang tengah tertidur, jelas saja aku bangun karena kehilangan pelukan hangat dari suamiku."
Javer seketika saja terkekeh gemas. Dia benar-benar gemas akan tingkah Teya yang semakin hari semakin menjadi manja. Javer benar-benar menyukai sifat Teya yang manja seperti ini. Javer kini justru ingin membuat Teya terus hamil agar gadis itu selalu menunjukkan sikap manjanya.
"Apa yang kau tertawakan?" Teya menatap Javer dengan dahi yang mengernyit bingung.
Javer menggelengkan kepalanya. "Tidak.. Hanya saja, aku menyukai sikap manjamu yang seperti ini.. Aku bahkan berpikir untuk membuatmu tetap hamil agar kau selalu bermanja padaku."
__ADS_1
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Teya memicingkan matanya.
"Apa kau gila!" Teya menepuk bahu Javer.
Javer mengangkat bahunya acuh. "Anggap saja seperti itu.."
"Haish.." Teya mencebikkan bibirnya.
"Mari kita kembali ke kamar.. Angin malam tidak terlalu baik untuk tubuhmu.."
Teya menganggukkan kepalanya.
Javer pun menggendong Teya ala bridal kemudian menuju kamar mereka.
Teya pun mengalungkan kedua lengannya di leher Javer dengan kepalanya yang dia sandarkan di dada bidang pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Apa berat badanmu tidak bertambah lagi?"
Mendengar pertanyaan Javer yang tiba-tiba saja, membuat Teya mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer dengan alis yang sedikit menukik. "Berat badanku bertambah 10 kg.. Kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya saja.. Aku merasa kau terlalu mungil.. Aku bahkan tidak merasakan apa-apa ketika menggendongmu."
Karena ya, jika di lihat. Javer kini seperti tengah menggendong anak berusia 15 tahun. Teya benar-benar terlihat sangat mungil jika berada di dalam gendongan atau pelukan Javer.
"Apa kah aku memang se kecil itu?" Teya benar-benar merasa sangat heran. Karena bahkan dirinya saja merasa kalau badannya saat ini benar-benar terasa sangat berat.
Javer mengangkat bahunya acuh. "Bahkan samsak tinju yang ada di ruang latihan benar-benar terasa lebih berat jika di bandingkan denganmu."
"Hmm.. Karena memang begitu adanya.." Javer menjawab seraya merebahkan tubuh Teya di atas kasur.
Teya mencebikkan bibirnya. "Bod.. Shhhht.."
Teya tiba-tiba saja meringis seraya memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa ngilu.
Melihat hal itu, sontak saja membuat Javer merasa sangat khawtir.
"Kau baik-baik saja babby?" Tanya Javer seraya duduk di samping Teya.
Teya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, perutku tiba-tiba saja terasa keram."
"Apa kau ingin aku mengompres perutmu?" Tanya Javer.
Teya menganggukkan kepalanya. "Sepertinya aku memerlukan hal itu."
Karena ya, jika Teya merasakan keram di perutnya, dia akan mengatasi hal itu dengan mengompres perutnya menggunakan handuk yang di rendam di air hangat.
Namun, ketika Javer hendak beranjak dari sana. Teya segera menggemgam tangan Javer untuk menghentikan pria itu.
"Ada apa babby?" Tanya Javer.
__ADS_1
Teya menatap Javer dengan mata yang mengerjap. "Air ketubanku pecah."
"Pecah?"
Teya menganggukkan kepalanya.
Javer lantas menyingkap piyama tidur yang di kenakan Teya. Pria itu tiba-tiba saja merasa panik saat melihat kasur yang sedikit basah akibat air ketuban yang merembes keluar dari inti Teya.
"Ouuuucchhh.. Javer, perutku semakin sakit.." Teya menggenggam tangan Javer dengan sangat erat.
"Kita ke rumah sakit." Javer berkata cepat.
Pria itu lantas menggendong Teya ala bridal.
"E, eh.. Javer, tunggu.. Aku hanya mengenakan piyama." Teya berkata cepat saat Javer hendak membawanya pergi.
"Ah ya, aku lupa.."
Javer mendudukan Teya di tepi kasur kemudian segera mencari pakaian yang lebih layak untuk di kenakan Teya.
Setelah Teya mengenakan pakaian yang lebih layak, Javer kembali menggendong Teya ala bridal kemudian segera membawa gadis itu menuju rumah sakit.
Saat di dalam perjalanan, Javer segera menghubungi Marco.
Setelah dering ke 4, Marco pun mengangkat panggilan dari Javer.
π(Ya Tuan?) Suara Marco terdengar serak, khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Datang ke rumahku lalu minta pelayan untuk menyiapkan beberapa pakaian milik Teya, dia akan segera melahirkan. Aku saat ini sedang menuju rumah sakit. Dan juga segera hubungi orang tuaku untuk memberi tahukan kabar ini." Titah Javer.
π(Baik Tuan.) Sahut Marco cepat.
Javer pun mematikan sambungan.
"Are you okay, babby?" Tanya Javer seraya menggenggam tangan kanan Teya.
Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya. "Don't worry.. I'm okay.."
Javer menghela nafasnya kemudian menambah kecepatan laju mobilnya agar segera tiba di rumah sakit.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..