
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Di sisi lain...
"Kau menghindari sesi mu?" Liam bertanya pada Fabio yang baru saja memasuki arena latihan tinju.
"Sudah pasti, aku lebih baik berlatih tinju selama sehari penuh dari pada harus berlatih yoga. Masih baik kalau saja mommy mengajarkan berbagai macam gerakan yoga. Ini, aku hanya di minta untuk duduk diam, meresapi energi, selama 2 jam penuh. Bayangkan saja, betapa frustasinya aku." Fabio menyahut dengan sedikit bersungut-sungut seraya bersiap untuk berlatih tinju.
Liam yang mendengah hal itu seketika saja terkekeh geli. Liam menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Fabio yang masih saja memberenggutkan wajahnya.
Ya, kalian tidak salah membaca.. Orang yang saat ini tengah berbincang dengan sangat akrab bersama dengan Liam adalah Fabio.
Saat kejadian itu berlalu, Javer tidak memberikan hukuman apa pun kepada Fabio maupun Mia dan Ben.
Itu semua karena Eliza yang terus memohon pada Javer agar membebaskan Fabio dari segela hukuman yang akan dia berikan padanya. Eliza juga berjanji, dia akan merubah Fabio menjadi orang yang lebih baik lagi.
Meskipun awalnya Javer menentang hal itu, namun Javer tetap memberikan kesempatan pada mereka. Karena toh, jika di pikir kembali. Fabio tumbuh menjadi pria yang seperti itu akibat dari hasutan yang di berikan oleh Fier. Sedangkan untuk Mia san Ben sendiri, mereka juga hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Fabio.
Oleh seban itu, Javer pun bersedia memberikan kesempatan untuk berubah pada Fabio, Mia dan Ben.
Dan ya, benar saja. Secara perlahan, ketiga orang itu mulai berubah, mereka bahkan mulai akrab dengan para anggota Cosa Nostra.
Perubahan cepat itu terjadi karena pada dasarnya, Fabio pun sudah menyadari kesalahannya sejak tragedi itu terjadi. Terlebih lagi, ketika mendengar fakta mengenai kematian Kavin yang ternyata memang di sebabkan oleh sahutan dari Fier sendiri.
Ya, yang Fabio ketahui, kematian Kavin murni di lakukan oleh Yama tanpa sebab apa pun. Hal itu lah yang membuat dia terdorong untuk membalaskan dendam pada Yama.
Tapi, setelah mendengar fakta secara keseluruhan dari Eliza, Fabio pun merasa sangat menyesal karena sedari dulu dia sama sekali tidak mau mendengarkan wanita yang berstatus sebagai ibu kandungnya itu.
Fabio pun menebus rasa bersalahnya itu dengan mendekatkan diri dengan Eliza. Fabio mencoba untuk menjadi anak yang berbakti untuk Eliza. Fabio mencoba untuk membuka dirinya apada Eliza. Fabio juga akan menceritakan semua yang di alaminya pada Eliza.
Dan ya, semua itu berhasil. Kini, hubungan Fabio dengan Eliza sudah selayaknya hubungan seorang ibu dan anak. Mereka juga kini sering mengunjungi makan Kavin bersama-sama.
__ADS_1
Tidak hanya Fabio yang berusaha, Eliza juga berusaha untuk mendekatkan diri dengan Fabio. Segala cara dia lakukan agar Fabio mau membuka diri kepadanya.
Eliza juga melakukan segala cara demik membuat Fabio dapat mengontrol emosinya.
Termasuk hal yang di hindari oleh Fabio. Yup, yoga.
Selama 3 tahun terakhir ini, Eliza mengajak Fabio untuk melakukan yoga bersama-sama.
Namun, Eliza hanya meminta Fabio untuk duduk tenang, berkonsentrasi, dan menyerap energi dari alam selama 2 jam penuh. Karena menurut Eliza, hal itu sangat bagus untuk ketenangan Fabio. Dengan begitu, Fabio bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik. Sedangkan Eliza sendiri, dia akan menemani Fabio seraya melakukan gerakan-gerakan yoga seperti pada umumnya.
Tanpa dia ketahui, kalau selama ini hal itu sebenarnya percuma. Karena bukannya berkonsentrasi atau pun menyerap energi dari alam, Fabio justru tertidur.
Ya, Fabio benar-benar tertidur dalam posisi duduk bersila. Hal itu bisa dia lakukan karena selama ini Fier mendidiknya dengan sangat keras.
Jika Fabio sudah benar-benar merasa lelah atau pun bosan dari pelatihan yang Fier berikan, Fabio akan langsung tertidur dalam posisi seperti apa pun. Bahkan Fabio bisa tertidur ketika dia tengah berdiri tegak.
Tapi, meskipun tertidur, fabio tidak akan bergerak dari tempatnya. Pria itu akan tetap tegak sama seperti posisi semula. Hal itu lah yang membuat Eliza tidak menyadari kalau selama ini Fabio tidak benar-benar mengikuti kelas yoga nya dengan baik.
Namun, meskipun Fabio tidak menyukai kelas yoga yang di berikan oleh Eliza. Fabio tetap mengikuti kelas yoga itu demi menyenangkan hati Eliza.
"Kalau begitu, berlatihlah. Jika sudah selesai, datanglah ke ruang putih, kau perlu membantu para anggota baru untuk berlatih." Kata Liam.
Fabio menganggukkan kepalanya. "Aku akan datang dalam 1 jam."
"Ok." Ucap Liam kemudian berlalu pergi dari sana.
Liam kini menuju ruang putih, tempat di mana para anggita baru kini tengah berlatih bela diri.
Sesampainya di ruang putih, Liam lantas menghampiri Ben dan Mia yang sedang mengawasi latihan.
Ya, Ben dan Mia kini bergabung dengan anggota Cosa Nostra. Bahkan mereka berdua kini masuk ke dalam team inti. Termasuk Fabio, dia juga menjadi salah satu bagian dari team inti.
Yang di mana, team inti merupakan team yang mengawasi seluruh kegiatan yang di lakukan oleh kelompok Cosa Nostra. Termasuk melatih para anggota dalam hal bela diri dan juga cara menggunakan senjata api.
"Sudah sampai di mana?" Tanya Liam.
__ADS_1
"Tuan.." Ucap Mia dan Ben, mereka sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Liam.
"Mereka cukup cepat dalam menguasai berbagai tekhnik. Mereka kini hanya perlu melatih daya tahan tubuh." Kata Ben.
Liam mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baguslah, sesuai dengan yang di harapkan."
"Kalau begitu, kalian bisa melanjutkan latihan. Aku ada urusan yang harus segera aku selesaikan. Satu jam lagi Fabio akan datang untuk membantu kalian." Kata Liam.
"Baik Tuan." Ucap Mia dan Ben.
Liam pun berlalu pergi dari sana.
Sedangkan untuk nasib Fier sendiri, pria itu kini di makamkan tepat di samping makam Kavin. Karena meskipun pria itu sudah berbuat salah, namun pria itu tetaplah manusia. Pria itu berhak mendapatkan pemakaman yang layak.
Ya, pria itu meninggal karena luka tembak yang dia terima. Ah tidak, lebih tepatnya, pria itu meninggal karena kehabisan darah. Selain karena luka tembak, itu juga karena Javer yang memukulinya dengan sangat brutal.
Lalu, bagaimana dengan Flow? Gadis itu juga bernasib sama dengan Fier. Dia meninggal akibat luka tembak yang dia terima.
Bukan karena kehabisan darah, melainkan karena tembakan yang di berikan Enzo benar-benar mengenai alat vital gadis itu. Sehingga membuat gadis itu tidak bisa bertahan untuk waktu yang lama.
Pada intinya.. Setelah semua yang berlalu, mereka kini mulai menjalani kehidupan mereka dengan tenang dan damai. Tidak ada lagi pertikaian dan tidak ada lagi rencana balas dendam.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1