
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sebelumnya...
"Flow, kau bisa memanggil gadis yang di sampingku dengan nama Teya. Dia tunanganku, orang yang akan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan yang akan kau lakukan." Tutur Javer dengan acuh tak acuh.
Yang mana, hal itu seketika membuat Flow dan Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa terkejut.
....
"Jadi, gadis kampungan ini adalah tunangan dari Javer? Tapi, apa kah mereka benar-benar bertunangan? Bukan kah itu terlihat sangat mustahil? Apa kah aku harus mempercayainya?" Flow terus bergumam di dalam hatinya.
Sungguh, Flow ingin sekali untuk tidak percaya kalau Teya adalah tunangan dari Javer. Karena Flow bahkan tidak melihat berita tentang pertunangan Javer dan Teya. Tapi, bagaimana caranya Flow tidak percaya jika yang mengatakannya adalah Javer itu sendiri. Oh ayolah.. Flow merasa seperti kalah sebelum berperang.
Sedangkan Teya, dia masih saja menatap Javer dengan alis yang menukik tajam. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Javer pun menoleh pada Teya. "Bukan kah kau memintaku mencari seorang model untuk menjadi model pakaian yang kau buat?"
Teya menganggukkan kepalanya perlahan tat kala melihat Javer yang memberinya tatapan misterius.
"Model yang kau inginkan sudah ada di depan matamu." Javer berkata dengan acuh tak acuh.
Teya kini menatap Javer dengan penuh tanda tanya.
Namun, Javer tidak menghiraukannya. Pria itu menatap Flow kemudian berkata. "Kau boleh pergi."
"Tapi Tuan.. " Flow hendak mengutarakan protesannya.
"Kau sudah menandatangani kontraknya." Sahut Javer cepat.
Flow pun hanya bisa mendesah dengan pasrah kemudian beranjak dari duduknya untuk berlalu pergi dari sana dengan perasaan yang sedikit kesal.
Seperginya Flow, Teya pun segera mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Apa yang sedang kau rencanakan, Javer?"
"Tidak ada, aku hanya memintamu untuk mengawasi gadis itu."
Teya mengernyitkan dahinya. "Aku tetap tidak mengerti apa yang kau maksud."
Javer lantas meraih surat kontrak yang sebelumnya sudah di tanda tangani oleh Flow kemudian menyerahkannya pada Teya.
__ADS_1
"Bacalah." Ucap Javer.
Teya pun menerima surat kontrak itu kemudian mulai membacanya. Gadis itu tiba-tiba menaikkan sebelah alisnya tat kala membaca nama lengkap dari Flow.
"Flowina Dorado?" Teya menatap Javer dengan sedikit bingung. "Apa kah gadis ini ada hubungannya dengan Fabio?"
Javer menganggukkan kepalanya.
Teya kini menatap Javer dengan serius. "Tapi, bukan kah kau bilang jika keluarga Dorado tidak ada hubungannya dengan rencana balas dendam yang akan di lakukan oleh Fabio?"
"Itu yang harus kita cari tau."
"Lantas, hubungan apa yang terjalin antara Flow dan Fabio? Bukan kah Horis tidak memiliki anak selain Fabio?"
"Flow adalah anak dari adik perempuan Horis."
"Jadi, secara tertulis, Flow adalah sepupu Fabio?"
"Hmm.." Javer menganggukkan kepalanya.
"Tapi tunggu dulu, apa kau benar-benar memintaku untuk mengawasi gadis itu?"
Javer kembali menganggukkan kepalanya.
"Tcih, tidak kah kau lihat jika cara gadis itu menatapku seperti sedang menatap musuhnya? Tapi kau justru memintaku untuk mengawasi gadis itu? Tidak, aku terlalu malas untuk melakukannya." Teya lantas bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya.
"Heh, jadi kau berniat untuk dekat-dekat dengan gadis itu?"
Javer mengangkat bahunya acuh.
Teya seketika menatap Javer dengan alis yang menukik tajam. "Apa kau bercanda?"
Javer lantas sedikit memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Teya. Pria itu perlahan memajukan tubuhnya ke arah Teya seraya menatap Teya dengan sangat intens.
"Apa aku terlihat sedang membuat lelucon, babby?" Pria itu bertanya dengan suara rendahnya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya perlahan memundurkan tubuhnya hingga dirinya terbaring di atas sofa. Gadis itu menelan ludahnya dengan kasar karena benar-benar merasa sangat terintimidasi.
"O, ok, ok.. Ak, aku akan melakukannya." Teya yang merasa sangat gugup pun hanya bisa menahan nafasnya.
Karena.. Oh ayolah.. Siapa yang tidak akan gugup jika di tatap dengan sangat intens dalam jarak wajah yang sangat dekat, bahkan hidung mereka kini hampir bersentuhan.
"Ja, Javer.. Tidak bisa kah kau sedikit menjauh? Jantungku, jantungku berdetak terlalu cepat. Ak, aku rasa dadaku sebentar lagi akan meledak."
Tepat setelah mengatakan hal itu, Teya seketika meringis memikirkan betapa konyolnya kalimat yang baru saja dia katakan.
__ADS_1
Namun, Javer yang mendengar hal itu justru terkekeh geli. "Apa kau butuh dokter untuk menangani jantungmu?"
Teya pun hanya bisa menanggapi perkataan Javer dengan senyum canggungnya.
Tatapan mata Javer kini beralih pada bibir Teya yang sangat menggoda di dalam penglihatannya. Lihatlah, betapa menggodanya bibir mungil nan penuh milik gadis itu. Bahkan tanpa memerlukan polesan bibir pun bibir itu sudah terlihat berwana pink. Oh, sungguh, Javer benar-benar tak kuasa lagi menahan godaan dari bibir yang sudah menjadi candunya itu.
Javer pun kini menempelkan bibirnya pada bibir Teya secara perlahan, tidak puas dengan hanya menempel. Javer lantas mulai sedikit memberikan luma..tan pada bibir Teya yang terasa manis di indra pengecapnya.
Teya yang mendapatkan ciuman itu pun hanya bisa memejamkan matanya. Menerima dan membalas setiap ciuman lembut yang Javer berikan. Ketahuilah, meskipun ini bukan kali pertama Teya dan Javer melakukan hal yang intim. Tapi, jantung Teya tetap saja berdetak dengan sangat cepat.
Tidak puas hanya bermain dengan bibir, tangan kanan Javer kini mulai menyelusup masuk ke dalam baju yang Teya kenakan. Pria itu mengelus perut rata Teya secara perlahan hingga membuat gadis itu sedikit bergetar, merasakan sensasi menggelitik dari telapak tangan Javer yang sedikit kasar.
Javer mulai menurunkan ciumannya menuju perpotongan leher Teya yang menguarkan aroma menenangkan sekaligus menggoda. Tangan kanan pria itu juga tidak tinggal diam, dia mulai merambat mengelus pinggang ramping gadis itu, terus naik hingga kini mulai mengelus punggung mulus gadis itu.
Namun, saat Javer hendak melepaskan pengait dari kain yang menutupi dada Teya. Javer seketika menghentikan aksinya tat kala tubuh Teya terasa bergetar dengan sangat hebat. Yang mana, hal itu juga membuat terlintas di benaknya akan Janjinya pada Teya untuk tidak melakukan hal yang lebih dari sekedar mencium.
Javet lantas mengeluarkan kembali tangan kanannya dari dalam baju yang di kenakan Teya, pria itu kemudian meletakkan keningnya pada bahu sempit Teya.
"Maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana." Pria itu berkata dengan suaranya yang terdengar sangat serak karena menahan hasrat.
"It's okay.. Aku juga minta maaf.. Aku.."
Teya tidak bisa meneruskan kalimatnya, dia benar-benar merasa bersalah pada Javer. Tapi, gadis itu hanya bisa memejamkan matanya dengan nafas yang sangat memburu.
Jika boleh jujur, Teya pun merasa tergoda akan setiap sentuhan yang Javer berikan. Namun, Teya juga merasa sedikit takut untuk melakukan hal yang lebih dari ini hingga tanpa sadar membuat tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.
Setelah mengendalikan hasratnya, Javer pun beranjak dari atas tubuh Teya kemudian hendak berlalu pergi dari sana.
Teya yang melihat hal itu pun seketika mengerutkan keningnya. Gadis itu segera menoleh pada Javer tanpa merubah posisinya. "Kau mau kemana?"
"Menuntaskan apa yang tidak bisa kau tuntaskan." Javer menyahut tanpa menghentikan langkah menuju kamar pribadinya.
Teya yang nendengar hal itu pun hanya bisa meringis dengan di penuhi perasaan bersalah. "I'm Sorry.." Gadis itu bergumam seraya menenggelamkam wajahnya pada bantal sofa.
...-TBC-...
*Note : Oh ya wakk.. Sebelumnya sensi mau minta maaf dulu.. Sensi mau ngasih tau wakk-wakk sekalian.. Dari beberapa hari yang lalu, sensi udah ga bisa update tiap hari, sensi bisa update nya setiap 2 hari sekali.. Tapi sensi ga bisa jelasin alesannya apa.. Tapi nanti kalo udah bisa update tiap hari, sensi bakalan updet tiap hari lagi kok.. Mon maaf banget ya wakk.. Terima kasih untuk pengertiannya..
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..