Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Benih Kecebong Unggul


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Hana memutar bola matanya malas, gadis itu melepaskan tangan Teya yang ada di dalam genggamannya dengan begitu saja. "Oh God, Teya.. Bisakah kau menggunakan istilah yang lebih baik lagi? katakan saja itu sebagai benih, okay.. Bisa-bisanya kau menyebut calon anakmu sebegai kecebong."


Mendengar hal itu, lantas membuat Teya menatap Hana dengan sedikit tidak terima. "Heeey.. Apa kau bodoh? Mereka benar-benar berbentuk seperti kecebong. Apa yang aku bicarakan sesuai dengan kenyataan yang ada."


"I know, but.. Itu anakmu Teya, bukan anak katak!" Hana menyahut dengan sedikit gemas. "Kau lihat aunty, inilah sebabnya kenapa tekanan darahku selalu naik setelah aku berurusan dengan gadis ini."


"No Aunty.. Itu bukan salahku.. Itu salah dia sendiri karena terlalu mengandalkan otak bodohnya!!" Sahut Teya.


"Yakkk!! Kauuu!!" Hana menatap Teya dengan sangat tajam


Syiena yang menyaksikan perdebatan itu pun hanya bisa terkekeh geli. Alih-alih memisahkan mereka, Syiena justru memilih untuk mencetak hasil dari USG itu seraya terus menyaksikan perdebatan antara 2 gadis itu.


Karena sungguh, perdebatan yang mereka lakukan benar-benar membuat Syiena merasa sangat terhibur. Jarang sekali Syiena bisa melihat Hana bersungut-sungut seperti ini. Karena selama dia mengenal Hana, Hana merupakan gadis yang pendiam.


Jadi, ketika dia melihat Hana yang terus meladeni setiap perkataan yang di lontarkan oleh Teya. Benar-benar membuat Syiena merasa sangat terhibur akan hal itu.


Tidak ingin perdebatan itu terus berlanjut karena Syiena harus menangani pasien yang lain, Syiena pun akhirnya memilih untuk melerai perdebatan di antara mereka.


"Bisakah kalian menghentikan perdebatan kalian? Mari kita sebut saja ini sebagai benih kecebong unggul, okay?" Tutur Syiena.


Hana dan Teya seketika saja menatap Syiena untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala secara bersamaan.


"Itu lebih baik.." Teya berkata seraya beranjak dari brankar.


"Ya, itu lebih baik.." Sahut Hana seraya membantu Teya.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Syiena tertawa renyah melihat betapa menggemaskannya tingkah ajaib dari 2 gadis itu.


Sebelum Hana melajukan mobilnya, gadis itu menoleh pada Teya untuk sejenak.


"Setelah ini apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hana kemudian.


Teya lantas berpikir untuk beberapa saat. "Bisakah kau mengantarku ke perusahaan?"


Hana menganggukkan kepalanya. "Yeah, sure.. Why not.." Ucap gadis itu kemudian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Mereka melewati perjalanan itu dengan keheningan karena pikiran mereka terlalu fokus dengan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.


Hingga setelah melewati perjalanan selama kurang lebih 20 menit, mereka pun sampai di tempat tujuan.


"Haruskan aku menemanimu?" Tanya Hana setelah dia memarkirkan mobilnya di depan gedung perusahaan milik Javer.


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri."

__ADS_1


"Baiklah." Ucap Hana.


Teya pun segera keluar dari dalam mobil.


Namun, sebelum gadis itu memasuki gedung perusahaan. Dia mengetuk kaca jendela mobil bagian kemudi terlebih dahulu, meminta Hana untuk menurunkan jendela kaca itu.


Hana pun menurunkan kaca jendela itu kemudian menatap Teya dengan sedikit bingung.


"Thanks alot for today Hana, aku akan membayarnya dengan design baju terbaruku." Teya berkata kemudian berlalu pergi begitu saja.


Hana yang melihat hal itu pun hanya bisa tersenyum kecil seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


....


"Selamat siang Nona.." Ucap Landsley saat melihat kedatangan Teya.


"Siang Landsley.. Apa Javer ada di ruangannya?"


"Ya, nona bisa langsung naik ke atas."


"Bisakah kau memberikan kartu aksesnya? Aku meninggalkan kartu akses milikku."


"Ah, tentu." Ucap Landsley seraya menyerahkan kartu akses pada Teya.


Teya lantas menerima kartu akses itu kemudian segera menuju lantai paling atas tempat di mana ruangan Javer berada.


Sesampainya di lantai paling atas, Teya tidak melihat keberadaan Marco. Jadi, Teya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Javer.



*Note : Anggap aja si Teya nyelonong masuk tanpa noleh ke arah orang-orang yang lagi ngobrol sama Javer. Ingat, gambar hanya sekedar ilustrasi.


Javer dan orang-orang yang ada di sana pun menatap Teya dengan sedikit bingung.


Apa yang di lakukan gadis ini di sini ketika Javer tengah mengadakan rapat. Karena yang mereka ketahui, Teya bukanlah gadis yang akan masuk begitu saja tanpa melihat keadaan sekitar.


Namun, Teya yang masih tidak meyadari keberadaan orang-orang itu pun berkata dengan cepat. "Javer, sepertinya kau harus segera menikahiku."


Mendengar apa yang baru saja Teya katakan, sontak saja membuat Javer mengernyitkan dahinya karena merasa bingung juga terkejut.


Begitu pula dengan mereka yang ada di sana. Kini mereka menatap Teya dengan semakin bingung.


"Tiba-tiba saja?" Tanya Javer kemudian.


Teya menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, tiba-tiba saja."


"Ok, but, why? Apa ada sesuatu hal yang terjadi padamu?" Javer kini semakin bertambah bingung.


Teya kembali menganggukkan kepalanya. "Ya, benih kecebong unggul milikmu sudah tumbuh di dalam perutku. Jadi kau harus segera menikahiku."

__ADS_1


Mendengar hal itu, kini membuat Javer mengerjapkan matanya.


"Benih kecebong unggul? Tumbuh di dalam perut?" Javer bergumam di dalam hatinya.


Pria itu masih berusaha untuk mencerna apa yang baru saja Teya katakan.


Sedangkan orang-orang yang ada disana, mereka seketika mengalihkan perhatian mereka dari Javer dan juga Teya karena mereka sangat mengerti tentang apa yang di maksud oleh Teya.


Hingga setelah Javer dapat memahami apa yang di maksud oleh Teya, pria itu seketika menatap Teya dengan wajah melongo tak percaya.


"Wait, babby.. Are you pregnant?" Tanya Javer kemudian.


Teya menganggukkan kepalanya. "Ya, benih kecebong itu sudah tumbuh di dalam perutku selama hampir 2 bulan." Gadis itu berkata seraya menunjukkan hasil foto USG yang di lakukannya tadi pada Javer.


Javer lantas menerima hasil foto USG itu dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Oh God.. Babby, are you really pregnant?" Javer bertanya seraya terus menatap hasil foto USG itu dengan mata yang berbinar terang.


"Apa kau pikir aku sedang bercanda?" Gadis itu menyahut dengan alis yang menukik tajam.


Tanpa berkata apa pun lagi, Javer lantas beranjak dari duduknya kemudian memeluk gadis itu dengan sangat erat.


"Oh God, thank alot for this.. I'm so happy!" Javer berkata kemudian mengecup puncuk kepala Teya berulang kali.


Mereka yang ada di sana pun menatap Javer dengan senyum yang mengembang di bibir mereka. Melihat kebahagian yang di rasakan oleh Javer, membuat mereka juga ikut merasakan kebahagiaan itu.


"Selamat atas kabar bahagia ini, Tuan." Ucap salah satu pria yang ada di sana.


Mendengar hal itu, lantas membuat Teya mengerjapkan matanya kemudian menoleh ke arah 3 orang pria yang tengah duduk di sofa.


Teya yang baru menyadari kalau ada orang lain di dalam ruangan itu, lantas membuat gadis itu segera melepas pelukannya kemudian bersembunyi di belakang tubuh Javer.


"Javer, kenapa kau tidak bilang jika ada orang lain di dalam ruangan ini? Aku malu!!" Teya berbisik dengan gemas pada Javer seraya meremat jas belakang yang di kenakan pria itu.


"Tak apa Nona.. Kami memakluminya.." Ucap salah seorang pria lain yang ada di sana.


Karena percayalah.. Bisikan Teya dapat di dengar oleh semua orang.


Teya lantas sedikit melongokkan kepalanya dari balik tubuh Javer kemudian menatap satu persatu pria yang ada di sana seraya tersenyum malu.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2