Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Masih Sedikit Tegang


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


"Oh Shii...T!!!" Liam dan Enzo mengumpat secara bersamaan.


(Apa terjadi sesuatu?) -Kheil bertanya dengan nada yang terdengar khawatir.


"Kau bilang 30 menit? Ini bahkan belum sampai 10 menit, tapi target sudah kembali!!"


Liam menjawab seraya menarik Eliza agar segera pergi dari sana menuju ke arah hutan.


Begitu juga dengan Enzo, dia mengikuti langkah Liam dan Eliza dari belakang seraya terus menolehkan kepalanya ke arah datangnya Fier. Pria itu terus memastikan kalau Fier tidak melihat keberadaan mereka.


(Maafkan aku, aku benar-benar lupa untuk memperkirakan hal ini.) -Kheil berkata dengan nada penuh penyesalan.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Enzo bertanya cepat.


(Bisa kah kalian menemukan tempat untuk bersembunyi terlebih dahulu? Aku sudah mengirim pesan pada *Garaga untuk menjemput kalian.)


*Garaga : Kepala keamanan yang menjaga bukit.


Setelah memastikan mereka berada jauh dari jangkauan Fier, Liam pun memberikan isyarat pada Enzo untuk berhenti berlari.


Enzo menganggukan kepalanya kemudian berhenti berlari. Pria itu berdiri di dekat pohon besar seraya memperhatikan keadaan sekitar.


"Berapa lama kami harus menunggu? Kita tidak tahu apa yang akan di lakukan target ketika dia mengetahui kalau Eliza tidak berada di tempatnya."


Liam bertanya seraya menuntun Eliza untuk duduk di akar pohon besar yang ada di dekatnya.


(5 menit, hanya 5 menit. Garaga berada tidak jauh dari lokasi kalian.)


"Baiklah.. Kami akan menunggu.." Sahut Liam cepat.


"Apa semuanya aman?" Liam bertanya pada Enzo yang terus memperhatikan keadaan sekitar.


Enzo menoleh pada Liam kemudian menganggukkan kepalanya.


Mendengar nafas Eliza yang terus saja tersengal-sengal, lantas membuat Liam menatap wanita itu dengan di penuh rasa kekhawatiran.


"Apa Zia baik-baik saja?"


Liam bertanya seraya berjongkok dengan bertumpu menggunakan ujung kakinya di hadapan Eliza.


Ya, Liam memutuskan untuk memanggil Eliza dengan sebutan Zia, karena Zia merupakan bahasa yang umum untuk memanggil perempuan yang seusia dengan ibunya.


Mendapatkan tatapan yang di penuhi rasa kekhawatiran dari pria yang terlihat seusia dengan putranya, seketika saja membuat Eliza menyunggingkan senyum harunya.


Karena selama ini, meskipun Eliza membesarkan Fabio dengan tangannya sendiri. Namun, untuk satu kali pun, Fabio belum pernah menatap Eliza dengan tatapan penuh kekhawatiran seperti tatapan yang Liam berikan kepadanya saat ini.


Tatapan yang Fabio berikan untuknya selama ini adalah tatapan tajam layaknya orang asing yang tidak saling mengenal.


Oleh sebab itu, ketika mendapatkan tatapan penuh kekhawatiran dari Liam, membuat Eliza tak kuasa menahan senyum harunya. Bahkan hingga membuat mata Eliza kini terlihat sedikit berkaca-kaca.

__ADS_1


Yang mana, hal itu benar-benar membuat Liam merasa semakin khawatir.


"Zia.. Apa Zia baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang sakit?" Liam kembali bertanya seraya menatap lekat mata Eliza.


"Aku baik-baik saja.. Aku bahkan belum pernah merasa sebaik ini." Eliza menjawab cepat dengan senyum haru yang terus tersungging di bibirnya.


Mendengar hal itu, lantas menbuat Liam ikut menyunggingkan senyumnya. "Ya, Zia terlihat sangat baik-baik saja.. Bersabarlah untuk sedikit lagi.. Sebentar lagi, Zia pasti akan bertemu dengan Zia Mona."


Eliza menganggukkan kepalanya. "Ya, aku cukup kuat untuk terus bersabar."


.....


Sedangkan Fier, pria itu kembali ke tempat persembunyiannya karena melupakan suatu hal.


Setelah memarkirkan sepeda motornya di pekarangan rumah, Fier segera berjalan menuju rumah tempat persembunyiannya itu.


Namun, saat di depan pintu, pria itu menghentikan langkahnya tat kala melihat pintu rumah itu yang sedikit terbuka.


"Bukan kah aku sudah mengunci pintu?" Fier bergumam seraya menatap pintu itu dengan tatapan bingung.


Setelah mengingat kembali kalau sebelum pergi dia sudah mengunci pintu, seketika membuat pikiran buruk tiba-tiba saja terlintas di benaknya.


Pria itu lalu membuka pintu secara perlahan.


"El.."


Fier mencoba untuk memanggil Eliza.. Pria itu berjalan dengan langkah lebar menuju kamar Eliza yang terletak di lantai 2.


"El..." Fier mengetuk pintu kamar Eliza. "Eliiiii.." Pria itu terus mengetuk pintu kamar Eliza.


"Eliza.."


Sekali lagi, Fier mencoba untuk memanggil Eliza dengan sedikit panik.


Namun, karena tidak kunjung mendengar sahutan apa pun dari Eliza, Fier pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Eliza dengan sedikit kasar.


Tidak melihat keberadaan Eliza, lantas membuat Fier mendekati kamar mandi dengan masih berusaha untuk berpikiran positive. Pria itu memegang gagang pintu seraya menempelkan telinganya pada pintu untuk memastikan kalau Eliza berada di dalam sana.


Tapi sayangnya, Fier juga tidak mendengar tanda-tanda keberadaan Eliza dari dalam kamar mandi.


Fier lantas membuka pintu kamar mandi itu secara perlahan dengan jantung yang mulai berdegup dengan sangat cepat.


"Eliza?"


"Shiiii...T!!!!"


Pria itu seketika mengumpat tat kala melihat kamar mandi yang kosong.


Yang mana, hal itu seketika membuat Fier berlari keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Eliza dengan perasaan panik.


"Ellll....!!!!"


"Elizaaa!!!"


Pria itu berteriak seraya terus mencari Eliza ke setiap ruangan yang ada.

__ADS_1


Pria itu kini benar-benar merasa sangag panik karena tidak menemukan Eliza di ruangan mana pun.


Fier lantas menghentikan langkahnya di dekat tangga kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Pria itu lantas segera menghubungi Fabio.


Setelah dering ke 4, Fabio pun mengangkat panggilannya.


"Kembali sekarang!!" Ucap Fier cepat.


(Ada apa?) Fabio terdengar sedikit bingung.


"Kembali sekarang dan lupakan masalah saham perusahaan itu!!"


Fier sedikit meninggikan suaranya karena tidak kuasa menahan perasaan panik yang kini mulai bercampur dengan emosi.


(Tapi, bukan kah saham perusahaan ini sangat penting untuk uncle?) Fabio terdengar semakin bingung.


"Tidak usah banyak bertanya dan segera kembali!! Ibumu jauh lebih penting dari pada saham perusahaan itu!!"


(Mamah? Ada apa dengan mamah?)


"Dia menghilang!! Ibumu menghilang!!"


Fier kini benar-benar meninggikan suaranya.


(Menghilang? Bagaimana bisa?? Apa uncle tidak mengunci pintu??)


"Aku tidak tahu!! Aku meninggalkan dia tidak lebih dari sepuluh menit!! Aku bahkan sudah memastikan pintu terkunci dengan rapat!! Simpan semua rasa penasaranmu!! Cepat kembali dan segera temukan ibumu sebelum dia melakukan hal yang tidak kita inginkan!!"


(Baiklah, aku akan kembali sekarang juga. Sebaiknya Uncle mencarinya terlebih dahulu. Aku yakin, dia belum pergi jauh dari tempat itu.)


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Fier pun mematikan sambungan itu.


Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana yang dia kenakan, Fier lantas segera keluar dari rumah itu untuk mencari keberadaan Eliza.


Namun, setelah menyusuri setiap sudut area tempat itu, Fier sama sekali tidak bisa menemukan tanda-tanda keberadaan Eliza.


Yang mana, hal itu sontak saja membuat Fier mengusap wajahnya dengan kasar seraya mendesah dengan di penuhi rasa frustasi.


"Hashhh!!! Kemana perginya perempuan itu!!"


Fier kembali mengusap wajahnya dengan sangat kasar.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye by


__ADS_2