
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Setelah acara pengenalan dan juga tanya jawab selesai, Javer, Teya dan Al pun kembali bergabung dengan yang lainnya.
Tapi sayangnya, untuk para wartawan, mereka merasa tidak puas karena pertanyaan yang ada di benak mereka belum sepenuhnya terjawab. Namun, mau bagaimana pun, waktu yang mereka miliki untuk mengajukan pertanyaan sangat terbatas. Mau tidak mau, rela tidak rela, para wartawan pun harus berpuas diri atas semua jawaban yang sudah ada.
Kini, sang pembawa acara pun mempersilahkan para tamu yang hadir untuk menikmati sisa pesta.
Pesta di isi dengan berbagai pertunjukkan. Salah satunya adalah pertunjukkan tari balet. Yang di mana, penari balet itu merupakan penari yang secara khusus di pilihkan oleh Amaya. Adanya pertunjukkan lain, itu berupa band music yang sengaja di minta oleh Athena.
Dan pertunjukkan yang paling utama adalah pentas drama. Yang di mana, pentas drama itu merupakan keinginan dari Teya. Karena semasa kehamilan Teya berusia 9 bulan, Teya sangat ingin melihat pertunjukkan drama.
Namun, karena Teya lebih dulu melahirkan, Teya tidak sempat menonton pentas drama yang sangat di idamkannya. Oleh sebab itu, Javer memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan keinginan Teya yang sempat tertunda.
"Kau senang?" Javer bertanya seraya mengelus paha Teya.
Teya mengangguk dengan senyum bahagia yang tersungging di bibirnya.
"Lain kali, kita bisa pergi ke Milan untuk melihat pentas drama itu di sana."
Teya seketika saja menatap Javer dengan mata yang berbinar. "Benarkah?"
Javer menganggukkan kepalanya.
Teya lantas menunduk untuk menatap Al yang tengah tertidur pulas di atas kereta bayinya. "Kau dengar itu Al.. Kita akan pergi ke Milan untuk menonton pentas drama yang kau inginkan.."
Karena ya, meskipun para aktor dan aktris yang saat ini tengah tampil merupakan pemeran pentas drama yang Teya inginkan. Namun rasanya akan tetap berbeda jika Teya melihat mereka melakukan pentas drama di studio mereka yang aslinya.
Teya seketika saja terkekeh kecil tat kala Al menanggapi perkataannya dengan sebuah senyuman serta gumaman kecil.
"Lihatlah.. Bahkan Al ikut merasa bahagia.." Teya menoleh pada Javer.
Javer menyunggingkan senyumnya. "Ya, dia memang mengerti apa yang menjadi keinginan mommy nya.."
Teya pun kembali fokus pada pentas drama yang masih berlangsung.
Hingga beberapa saat kemudian, Al sedikit merengek karena merasa haus.
"Apa dia haus?" Tanya Javer.
Teya menganggukkan kepalanya. Dia lantas memanggil salah satu pelayan wanita yang ada di dekatnya.
__ADS_1
Si pelayan itu pun sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Teya agar Teya mendengar suaranya.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Tanya pelatan itu.
"Tolong minta gadis yang mengenakan pakaian baby sitter itu untuk kemari."Teya menunjuk tempat di mana Nay berada.
Si pelayan itu pun menganggukkan kepalanya. "Baik nyonya."
"Terima kasih." Ucap Teya.
Si pelayan itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Dia lantas segera menghampiri Nay.
"Permisi nona.." Ucap si pelayan itu.
Nay yang sebelumnya fokus pada pentas drama pun menoleh pada si pelayan wanita itu. "Kau berbicara denganku?" Tanya nya.
"Ya nona.. Anda di minta untuk menghampiri Nyonya Teya." Jelas si pelayan wanita itu.
"Aah.." Nay mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, terima kasih.." Ucapnya.
Si pelayan itu menganggukkan kepalanya.
Nay pun beranjak dari sana kemudian segera menghampiri Teya. Sebelum Nay benar-benar menghampiri Teya, tangan kanannya terangkat untuk menakan tombol earphone yang terpasang di telinga kanannya.
(Okay!) Sahut seseorang dari earphone yang di kenakannya.
Nay pun kembali bersikap seperti biasanya kemudian mempercepat langkahnya.
"Nay, kemarilah.." Teya melambaikan tangannya pada Nay.
Setelah berada di dekat Teya, Nay pun membungkukkan tubuhnya agar Teya bisa mendengar suaranya. "Anda membutuhkan sesuatu nyonya?"
"Sepertinya Al membutuhkan susunya, apa kau memiliki asi yang sudah siap?" Tanya Teya.
"Ada nyonya.. Saya sudah menghangatkan asi untuk Al."
"Apa kau membawanya?" Tanya Teya.
"Maafkan saya nyonya, saya meninggalkannya di tempat duduk saya. Bisa kah saya membawa Al menuju ke sana?" Nay berkata dengan sedikit tidak enak hati.
Teya menganggukkan kepalanya. "Kau bisa membawanya.. Lagi pula, sepertinya Al sedikit terganggu akan kebisingan ini. Kau bisa membawanya ke tempat yang lebih tenang."
"Baik nyonya.." Ucap Nay.
Nay pun segera menggendong Al yang terus saja merengek akibat tida sabar untuk segera mendapatkan asinya.
__ADS_1
"Sepertinya kau benar-benar haus.." Nay terkekeh saat Al terus mengusakkan mulutnya ke dadanya.
"Bersabarlah.. Sebentar lagi kau akan mendapatkan asi mu.." Ucap Nay seraya menepuk-nepuk punggung Al dengan lembut.
Sesampainya di tempat duduknya, Nay pun segera mengeluarkan dot berisi asi yang sebelumnya sudah dia panaskan dari dalam tas perlengkapan milik Al.
Setelah memastikan Al meminum asi dari dot itu dengan nyaman, Nay lantas membawa Al bersama dengan tas itu keluar dari dalam gedung.
Saat Nay hendak menuju taman, dirinya tiba-tiba saja di tarik oleh seorang pria.
"Oh Tuhan, Fabio!! Kau mengejutkanku!! Bagaimana jika aku menjatuhkan anak ini!!" Nay menatap Fabio dengan nyalang.
Ya, pria itu adalah Fabio, orang yang sedari tadi berkomunikasi dengannya melalui earphone.
"Ck, sudahlah! Berikan bayinya padaku!" Fabio mencoba untuk mengambil Al.
Namun, Nay mendekap Al dengan sangat erat. "Tidak! Aku tidak akan memberikannya padamu. Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan padanya."
Fabio seketika saja menatap Nay dengan sangat tajam. "Apa kau lupa perjanjian awal kita?" Pria itu kembali mencoba untuk mengambil Al.
Namun Nay segera memundurkan langkahnya agar Fabio tidak dapat menyentuh Al. "Aku tidak melupakannya.. Kau bisa membawanya asalkan aku juga ikut bersamanya. Aku sendiri yang akan mengurusinya. Aku tidak bisa mempercayakannya padamu! Kau boleh saja membalaskan dendammu, tapi jangan mengorbankan seorang bayi yang tidak tahu apa-apa!"
"Ck!" Fabio mengusap wajahnya dengan kasar. "Haish!! Terserahlah! Kau boleh ikut. Cepat ikuti aku, sebelum ada orang yang menyadari kita!" Pria itu lantas mengambil tas yang di bawa oleh Nay.
"Maafkan aku Nyonya.. Maafkan aku Tuan.. Aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal ini.. Tapi aku berjanji, aku akan memastikan kalau Al akan selalu dalam keadaan baik-baik saja.." Nay menatap gedung itu dengan tatapan nanar.
"Ciiii! Cepatlah!!" Fabio berkata dengan sedikit gemas karena Nay hanya terpaku seraya menatap ke arah gedung.
"Ya, ya, ya! Bersabarlah sebentar!!" Nay pun segera mengikuti langkah Fabio.
Meninggalkan Javer dan Teya yang tidak tahu kalau anaknya saat ini tengah di bawa oleh musuh terbesarnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1