
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih sekitar 11 jam, mereka pun sampai di bandara internasional Jepang.
Kemudian, salah satu anak buah Javer segera menghampiri Javer yang terlihat tengah menopang kepala Teya menggunakan bahunya.
"Tuan, apa anda butuh bantuan?" tanya anak buah itu dengan suara yang sedikit berbisik.
"Tidak, kau boleh pergi" jawab Javer.
"Baik tuan" ucap anak buah itu lalu menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Javer lantas melepaskan sabuk pengamannya juga sabuk pengaman yang di kenakan Teya. Sejenak, Javer menatap wajah damai Teya yang masih tertidur pulas sebelum akhirnya menggendong gadis itu ala bridal dengan sangat hati-hati, kemudian berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggu kedatangan mereka.
Hingga ketika Javer sudah masuk ke dalam mobil dengan Teya yang berada di pangkuannya, gadis itu sedikit menggeliatkan tubuhnya tat kala merasakan tidurnya yang sedikit terganggu.
Javer pun segera menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut agar kembali tidur dengan nyaman.
Saat Marco masuk ke kursi kemudi, Javer menatap pria itu sejenak sebelum akhirnya bertanya. "Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"
"Sudah Tuan" jawab Marco lalu mulai mengemudikan mobilnya.
Setelahnya, mereka pun melewati perjalanan menuju salah satu hotel milik keluarga Griffiths dengan keheningan.
Begitulah Javer, mau pergi ke belahan negara bagian mana pun, Javer hanya akan mengijinkan Marco untuk menjadi supir pribadinya. Javer melakukan itu tidak semata-mata hanya karena Marco merupakan tangan kanannya, tapi juga merupakan tindakan untuk menjaga privasi dan segala percakapan yang mungkin sewaktu-waktu akan dia lakukan.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Marco sekilas melirik Javer yang sesekali menenangkan Teya ketika tidur gadis itu sedikit terganggu akibat guncangan yang terjadi. Marco diam-diam mengucapkan rasa syukur di dalam hatinya, karena semenjak Javer mengenal Teya, Tuannya itu kini bisa sedikit tersenyum. Meskipun tingkat kekejamannya tetap sama seperti sebelumnya, tapi setidaknya tuannya kini bisa sedikit lebih mudah di ajak berbicara.
__ADS_1
Marco sekali lagi melirik Javer yang kini terlihat sedang memejamkan matanya sebelum akhirnya berkata. "Tuan, kita sudah sampai" lalu segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Javer.
Javer lantas membuka matanya lalu turun dari mobil dengan masih menggendong Teya ala bridal. Yang mana, hal itu cukup membuat terkejut para karyawan hotel yang tengah berbaris menyambut kedatangan Javer.
Ketika mereka hendak mengeluarkan suara untuk menyambut kedatangan Javer, pria itu segera menatap mereka dengan sangat tajam. Pria itu memberikan isyarat untuk mereka agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun karena takut membangunkan gadisnya.
Javer lantas segera berlalu menuju kamar yang biasanya dia tempati, di ikuti oleh sang manager hotel yang akan membantu Javer untuk membukakan pintu.
Hal itu sontak membuat para karyawan yang ada di sana menatap kepergian Javer dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, mereka penasaran tentang siapakah gadis mungil yang tengah di gendong oleh Tuan mereka. Karena sejauh yang mereka ketahui, ini adalah kali pertama tuannya datang dengan membawa seorang gadis. Namun sayangnya, mereka harus sedikit menelan kekecewaan, sebab mereka tidak bisa melihat wajah gadis mungil itu karena dia terlihat membenamkan wajahnya pada dada bidang Javer.
Setelah tiba di kamar, Javer pun memberikan isyarat pada si manager itu untuk segera meninggalkan mereka.
Setelahnya, Javer segera masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan tubuh Teya di atas kasur dengan sangat hati-hati. Javer tiba-tiba saja terkekeh geli karena melihat gadisnya yang tertidur pulas seperti orang yang sedang pingsan.
"Apa kau masih tetap tidak akan bangun jika aku bergerak untuk menggagahimu?" Pria itu bergumam seraya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Teya, kemudian menghela nafasnya sebelum akhirnya beranjak untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Javer lantas membaringkan tubuhnya di samping Teya. Pria itu sedikit beringsut untuk tidur menyamping menghadap Teya yang ada di sebelah kirinya.
Tangan pria itu terangkat untuk membelai wajah Teya yang masih saja setia menyelami alam mimpinya.
Namun, seperti kata pepatah yang mengatakan jika pengalaman adalah guru terbaik dalam menjalani kehidupan. Sebelum Teya berhasil menendang Javer, pria itu sudah lebih dulu menempatkan Teya di bawah kungkungannya.
"Apa menendang orang ketika bangun tidur adalah kebiasaan mu, babby?" Javer bertanya kemudian.
Gadis itu memutar bola matanya malas seraya menghela nafasnya. "Ck.. Menyingkirlah, itu namanya pergerakan refleks. Aku hanya tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan seorang pria" Teya menjawab acuh tak acuh dengan suaranya yang sedikit serak akibat tidur terlalu lama.
Teya tidak berusaha mendorong Javer agar menyingkir dari atasnya, karena gadis itu sadar jika tenaganya tidak akan bisa melawan tenaga Javer.
"Maka biasakanlah mulai dari sekarang" ucap Javer.
Teya lantas menatap Javer dengan alis yang menukik. "Untuk apa? Aku tidak mau"
__ADS_1
"Kau harus.. Karena mulai sekarang, kau akan sering tidur di sampingku" Javer berkata seraya beranjak dari atas tubuh Teya.
"Dasar pria pemaksa" gadis itu bergumam seraya beringsut untuk duduk lalu menatap Javer yang kini tengah memakai jam tangannya.
"But wait, sejak kapan kita sampai di sini?" tanya gadis itu.
"Sejak 30 menit yang lalu" pria itu menjawab tanpa menoleh pada Teya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Tidurmu terlalu nyenyak" jawab pria itu lalu melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Kau tunggulah di sini, sebentar lagi Marco akan datang untuk mengantarkan makan malam" lalu mulai mengenakan jasnya.
"Lalu, kau akan pergi kemana? Bukankah ini terlalu malam untuk pergi bekerja?" Teya bertanya seraya menatap Javer dengan kening yang sedikit mengerut.
Javer menoleh pada Teya. "Aku akan mengurus beberapa perkerjaanku terlebih dulu." pria itu menjawab kemudian berlalu pergi dari sana.
Meninggalkan Teya yang menatap kepergiannya dengan wajah yang melongo.
"Astagaaaaaa.. Jika dia hanya akan meninggalkanku di sini, lalu untuk apa dia membawaku." Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Setelah menghela nafasnya, gadis itu segera beranjak dari kasur untuk membersihkan diri.
Namun, ketika gadis itu selesai membersihkan diri.
"Astaga Teya.. Kenapa kau bodoh sekali....." gadis itu berkata pada dirinya sendiri yang terpantul dari cermin kamar mandi.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
__ADS_1
Salam sayang dari sensi π
Bye bye..