
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sebelumnya...
Teya yang melihat tingkah aneh Gena pun seketika mengernyitkan dahinya. "Liam, kau mengenalnya?"
Sedangkan Anna dan Hana, mereka yang tidak tau apa-apa pun hanya bisa menampilkan ekspresi bingung mereka.
.....
Liam lantas menoleh pada Teya. "Tentu.. Aku sangat mengenalnya.. Dia adalah gadis yang aku ceritakan pada Javer beberapa waktu yang lalu." Pria itu mengakuinya tanpa ragu.
Teya kini menatap Gena dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kau berhutang penjelasan padaku, girl.." Gadis itu kemudian berlalu oergi begitu saja menuju Javer.
Di ikuti oleh Hana dan Anna yang masih saja merasa bingung. Dan ikuti oleh Gena yang hanya menampilkan sekilas senyum kecilnya pada Liam.
Sedangkan Liam, dia yang juga merasa sedikit bingung akan situasi ini pun hanya bisa mengedikkan bahunya, pria itu lalu memutuskan untuk menyusul ke 4 gadis itu yang sudah berlalu terlebih dahulu.
Setelah sesi perkenalan antara para pria dan para gadis, mereka pun menghabiskan waktu dengan canda dan tawa yang tiada hentinya keluar dari mulut mereka masing-masing.
Pengecualian untuk Javer dan Marco. 2 pria dengan wajah datar itu menanggapi candaan yang ada hanya dengan acuh tak acuh.
Hingga tak terasa, malam pun kini semakin larut. Satu persatu tamu yang hadir pun mulai berpamitan untuk pulang.
Kini, hanya tersisa Javer dan ke 4 temannya beserta Teya dan ke 3 temannya yang masih duduk melingkar di atas kursi lipat di area halaman belakang, dengan api unggun kecil yang mereka kelilingi.
Dengan Teya yang duduk di samping kanan Javer, Marco yang duduk di sebelah kiri Javer, kemudian Enzo, Kheil, Liam, Gena, Hana, Anna, lalu kembali lagi pada Teya yang duduk di sebelah kiri Anna. Ingat, mereka duduk melingkari api unggun.
Melihat teman-temannya yang asik berbagi canda dan tawa di pesta ulang tahunnya, benar-benar membuat Teya merasa sangat bahagia.
Teya merekam dengan sangat baik di dalam ingatannya tentang kebahagiaan yang tengah dia rasakan saat ini. Kebahagiaan kecil yang entah kapan lagi bisa dia dapatkan kembali.
Merasakan hawa dingin yang menerpa tubuhnya, lantas membuat Teya memeluk dirinya sendiri seraya mengusap-ngusap kedua lengannya sendiri.
Javer yang melihat hal itu pun segera melepaskan jaket yang dia kenakan kemudian memakaikannya pada Teya.
Teya yang menerima hal itu pun seketika menoleh pada Javer, gadis itu mengembangkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Terima kasih."
"Bagaimana kalau kita memainkan permainan?" Celetuk Alex tiba-tiba.
__ADS_1
Teya lantas menoleh pada Enzo. "Aku tidak ingin memainkan truth or dare atau dare or dare. Aku selalu sial saat memainkan permainan itu."
Enzo mengembangkan senyum kecilnya. "Calm down girl, kita tidak akan memainkan hal itu. Kita akan memainkan truth or drink."
Teya seketika memutar bola matanya malas. "Lalu apa bedanya?"
Enzo mengangkat bahunya acuh. "Setidaknya tidak ada tantangan, okay?"
"Aku akan meminumnya untukmu." Sahut Javer cepat.
Yang mana, hal itu seketika membuat semua orang yang ada di sana berdehem kecil. Merasakan betapa bedanya sikap Javer jika sudah berhadapan dengan Teya.
Sedangkan Teya, gadis itu hanya bisa menghela nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya. Menyetujui permainan yang di usulkan oleh Enzo.
Namun, saat permainan akan di mulai, Anna tiba-tiba saja memegang tangan kanan Teya.
Teya lantas menoleh pada Anna, menunggu apa yang akan di katakan oleh Anna.
Anna terlihat menghela nafasnya dengan sedikit berat. "Sebelumnya maafkan saya nona, sepertinya saya tidak bisa mengikuti permainan ini. Saya harus segera pulang, ini sudah terlalu larut. Nona Flow sudah menanyakan keberadaan saya." Gadis itu berkata lirih dengan sangat tidak enak hati.
Teya yang mengerti akan hal itu pun mengembangkan senyum kecilnya. "Tak apa, kau boleh pulang.. Masih ada lain waktu untuk berkumpul kembali."
"Terima kasih nona." Anna menyahut dengan senyum lega yang mengembang di bibirnya.
"Marco, bisa kah aku meminta tolong padamu?" Tanya Teya kemudian.
Marco pun menoleh pada Teya. "Ya nona?"
"Bisa tolong antarkan Anna untuk pulang? Ini sudah terlalu larut, aku tidak bisa membiarkannya pulang sendirian."
"Baik nona." Sahut Marco cepat.
"Nona, tak apa, saya bisa pulang sendiri." Tolak Anna.
"Tak apa, biarkan Marco mengantarmu. Atau aku tidak mengijinkanmu untuk pulang." Tega Teya.
"Baiklah.." Anna pun hanya bisa pasrah. "Kalau begitu saya permisi dulu." Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya.
Begitu pula dengan Marco. Pria itu beranjak dari duduknya kemudian mensejajarkan langkah dengan Anna.
Seperginya Anna dan Marco, mereka lantas memulai permainan. Dengan media kartu remi sebagai penentu siapa yang akan menjadi korban pertama. Di mana nilai terendah lah yang akan menjadi korban pertama.
Yang sialnya, Teya mendapatkan kartu diamond yang memiliki angka 2. Yang berarti Teya menjadi korban pertama dalam permainan itu.
__ADS_1
"Haisssh.. Bukan kah sudah ku katakan, aku sial dalam permainan ini." Gadis itu menggerutu seraya menerima segelas wishky yang sudah di tuangkah oleh Enzo.
"Baiklah, siapa yang akan bertanya?" Tanya Enzo kemudian.
Hana tersenyum lalu mengacungkan kartunya, di mana kartunya ternyata adalah kartu hati king. Kartu dengan kedudukan tertinggi. Karena mereka sengaja hanya menggunakan satu jenis kartu dengan bentuk hati, dari nilai terendah yaitu 2, hingga nilai paling tinggi yaitu king.
Itu sengaja mereka lakukan agar mempermudah untuk menentukan siapa yang akan menjadi korban, dan siapa yang akan menjadi pemberi pertanyaan.
"Baiklah, jawab dengan jujur.. Aku selalu ingin menanyakan hal ini." Hana mengembangkan senyum jahilnya. "*Are you still virgin?"
(*Apa kah kamu masih perawan?)
"*Of course, Yes.. I'm still Virgin.. this is an easy question.." Teya menyahut dengan cepat.
(*Tentu saja, ya.. Aku masih perawan.. Ini adalah pertanyaan yang mudah..)
Yang mana, hal itu membuat mereka yang ada di sana pun mendesah dengan kecewa. Mereka tidak menyangka jika Teya akan menjawab pertanyaan itu dengan sangat mudah, seakan tidak memiliki beban apa pun. Yang mana itu berarti, Teya benar-benar masih seorang gadis yang tersegel.
Tapi di balik itu, mereka juga tidak menyangka jika Javer benar-benar mampu menahan godannya untuk tidak menyentuh Teya ke tahap yang lebih jauh. Apa lagi dengan posisi Teya dan Javer yang kini tinggal bersama. Mereka kini benar-benar merasa kagum pada Javer yang mampu menjaga Teya hingga sejauh ini.
Sedangkan Javer, dia hanya bisa menanggapinya dengan berdehem kecil seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Okay, next.. Ternyata aku tidak se sial itu.." Teya berkata kemudian menyerahkan kartunya pada Enzo.
Setelah menerima kartu dari semua orang, Enzo lantas mengacak kartu itu. Pria itu lantas meminta mereka untuk mengambil 1 kartu yang mereka inginkan.
Setelah mendapatkan masing-masing 1 kartu, mereka lantas membuka kartu yang ada di tangan mereka secara perlahan.
Hingga tiba-tiba, Liam terkekeh kecil karena kartu yang dia pegangnya merupakan kartu dengan angka 2. Pria itu lantas mengacungkan kartunya, menunggu siapa yang akan memberikan pertanyaan kepadanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1