Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Kemungkinan Yang Tidak Terjadi


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Sebelumnya..


Perkataan Athena seketika terhenti tat kala mendengar sebuah desisan lirih dari Teya.


Yang mana, hal itu membuat semua orang yang ada di sana terdiam lalu memusatkan perhatian mereka pada pada gadis itu. Mereka tidak segera memanggil dokter, mereka memilih memastikan hal itu terlebih dahulu karena mungkin saja mereka salah mendengar. Tapi, ketika mereka melihat Teya yang mulai mengerjapkan matanya, Amaya lantas segera menekan tombol intercom untuk memanggil dokter.


....


Teya terlihat membuka matanya hanya untuk 2 detik lalu kembali menutup matanya.


"Ssssssh..." Gadis itu lagi-lagi berdesis merasakan kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


Javer yang melihat hal itu pun segera menggenggam tangan kanan teya. "Kau bisa mendengarku babby??" Pria itu bertanya dengan di penuhi rasa kekhawatiran.


Teya hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala.


Mereka yang mendapat anggukan dari Teya pun seketika menghela nafas dengan sedikit lega.


Hingga tak lama kemudian, dokter Lay pun memasuki ruangan khusus keluarga Griffiths, tempat di mana saat ini Teya di rawat.


Dokter Lay lantas segera memeriksa keadaan Teya yang masih memejamkan matanya.


"Apa yang nona rasakan?" Tanya dokter Lay seraya mengecek detak jantung Teya.


"Kepalaku terasa berdenyut." Teya menjawab dengan sangat lirih.


Dokter Lay mengangguk-anggukan kepalanya kemudian menyalakan sebuah senter kecil yang ada di genggamannya, lalu menyorotkan senter itu pada mata kiri Teya.


Pada sorotan pertama, dokter Lay sedikit mengernyitkan dahinya tat kala retina mata Teya tidak memberikan respon apa pun.


Pada sorotan kedua, kini dahi dokter Lay semakin mengernyit karena retina mata Teya benar-benar tidak memberikan respon apa pun.


Hingga pada sorotan ketiga..


"Dokter, bisa kah kau tidak terus menerus menyinari mataku, itu sangat menyilaukan." Teya berkata cepat.


Yang mana, hal itu seketika membuat semua orang yang ada di sana mengembangkan senyum bahagia mereka seraya menghela nafas dengan sangat lega.


Dokter Lay pun mematikan senter kecil itu. "Apa Nona bisa membuka kedua mata Nona?"


Teya menuruti apa yang di katakan dokter Lay, gadis itu membuka matanya secara perlahan.

__ADS_1


"Cobalah untuk menggerakan kedua tangan Nona."


Teya kembali menuruti perkataan dokter Lay.


Begitu pun dengan menggerakan kedua kakinya.


Dokter Lay lalu meminta Teya untuk menutup mata sebelah kanannya menggunakan tangan kanan gadis itu. Dokter Lay kemudian menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang di bentuk menjadi hurup V di depan mata kiri Teya.


"Nona bisa melihat dengan jelas tangan saya membentuk angka berapa?"


Teya menganggukkan kepalanya. "Dua.."


Dokter Lay pun tersenyum. "Baiklah, nona boleh menurunkan kembali tangan nona.." Pria itu kemudian menghadap semua orang lalu kembali berkata. "Bersyukurlah karena Nona Teya memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat, hingga membuat keadaannya baik-baik saja. Jadi untuk sekarang, hanya tinggal menunggu hingga keadaan Nona Teya benar-benar pulih. Untuk obat dan lain-lain, nanti saya sendiri yang akan menanganinya. Jadi, jika Nona Teya memiliki keluhan sekecil apa pun, kalian bisa langsung memberitahu saya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Pria itu lantas sedikit menundukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.


....


Setelah saling bercakap-cakap untuk beberapa saat, para orang tua pun memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing. Meninggalkan Javer yang akan menemani Teya.


Kini, terlihat Teya yang tengah berbaring menyamping ke kanan menghadap ke arah Javer dengan berbantalkan lengan pria itu.


Hingga beberapa saat kemudian, Teya sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer yang kini tengah memeluknya.


"Javer.." Ucap Teya.


"Hmm.." Javer bergumam seraya menundukkan wajahnya untuk membalas tatapan Teya. "*You need something, babby?" Pria itu bertanya seraya mengelus punggung Teya dengan lembut.


Teya lantas menggelengkan kepalanya. "Hanya saja, apa pria yang menabrakku dalam keadaan selamat?"


"Pria itu bahkan tidak memiliki luka sedikitpun."


Teya seketika merasa terkejut hingga membuat matanya terbuka dengan sangat lebar.. "Waaah.. Benarkah?"


Javer menganggukkan kepalanya..


"Apa itu berarti dia memang berniat mencelakaiku?"


Javer tersenyum kecil lalu berkata. "Kau tidak usah terlalu memikirkan hal itu.. Aku akan mengurusnya hingga selesai.. Lebih baik sekarang kau fokus untuk kesembuhanmu.."


Teya pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tapi Javer.."


Pria itu mengangkat sebelah alisnya. "Hmm?"


"Bisa kah malam ini kita kembali ke rumah? Aku, emm.. Merasa sangat tidak nyaman jika harus berada di sini.." Teya berkata dengan sedikit ragu.


Javer kembali mengembangkan senyum kecilnya. "Tentu.. Aku akan meminta kheil untuk menyiapkan peralatan medis terlebih dahulu.."


"Terima kasih.." Gadis itu berkata kemudian memeluk javer dengan erat seraya menenggelamkam wajahnya pada dada bidang pria itu.

__ADS_1


"Hmmm.. As you wish babby.." Sahut Javer seraya membalas pelukan Teya.


.....


Malam harinya..


Sesuai dengan apa yang Teya inginkan, gadis itu kini sudah berada di rumah.


Awalnya, Dokter Lay menentang keras keinginan Teya karena gadis itu belum melewati waktu 24 jam pasca operasi. Terlebih lagi, rumah bukanlah tempat yang memiliki peralatan medis yang lengkap.


Namun, setelah mengingat kembali jika Teya adalah gadis istimewa milik Javer, seorang pria yang akan selalu mewujudkan apa pun yang di butuhkan atau di inginkan gadisnya. Dokter Lay pun mau tidak mau mengijinkan Teya untuk pulang ke rumah.


Dan ya, di sinilah Teya sekarang. Terbaring di kasur nyaman miliknya sendiri dengan berbagai peralatan medis lengkap yang sudah di sediakan oleh Kheil sebelumnya.


Sejenak, Javer menatap wajah damai Teya yang sedang terlelap. Tangan pria itu kemudian tergerak untuk mengelus pipi kiri Teya yang memiliki sedikit luka goresan akibat dari kecelakaan.


Hingga ketika Javer hendak menarik kembali tangannya, Teya sudah lebih dulu membuka matanya.


"Apa aku mengganggu tidurmu, babby?" Javer bertanya seraya kembali mengelus pipi Teya dengan lembut.


Teya menggelengkan kepalanya. "Aku memang tidak tidur.."


Javer pun tersenyum lalu membenarkan letak selimut Teya. "Kalau begitu, tidurlah.. Aku akan mengurus beberapa hal terlebih dahulu. Ada Marco, Kheil dan beberapa bawahanku yang akan menjaga rumah ini."


Seakan mengerti apa yang akan di lakukan Javer, Teya lantas mengembangkan senyum manisnya lalu berkata . "Hmmm.. Berhati-hati lah, jangan pulang dalam keadaan berdarah.."


Javer yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh geli lalu mencubit hidung Teya dengan lembut.


"Tidurlah, atau aku akan memakanmu saat ini juga.."


Gadis itu pun mengulum senyumnya kemudian segera memjamkan matanya.


Javer lantas mengecup kening Teya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.


...-TBC-...


Btw.. Gimana ceritanya?? Ngebosenin ga?? Tolong kasih tau di kolom komentar yak..


Thanks for reading lah ya pokoknya.


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2