
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Masih di hari yang sama, kembali ke sisi Teya..
Setelah Teya memarkirkan mobilnya, gadis itu lalu meraih bingkisan yang berisi beberapa cup kopi panas yang sebelumnya dia beli saat dalam perjalanan. Teya lantas segera keluar dari dalam mobilnya lalu melangkah memasuki gedung perusahaan yang sudah sangat tidak asing lagi baginya.
Yup, gedung perusahaan mana lagi jika bukan gedung perusahaan milik Javer, pria yang kini sudah mengisi setiap sudut ruang yang ada di dalam hatinya.
Saat gadis itu hendak memasuki gedung, dia di sambut ramah oleh 2 satpam yang menjaga pintu masuk.
"Selamat siang nona Teya.." Sapa 2 orang satpam itu seraya menundukkan kepala mereka.
Teya pun membalas sapaan 2 satpan itu. "Selamat siang.. Minumlah, aku membeli kopi ini di dalam perjalanan." Gadis itu berkata seraya hendak memberikan 2 satpam itu masing-masing 1 cup kopi panas.
Namun, 2 satpan itu terlihat enggan untuk menerimanya.
"Tapi nona, kami tidak bisa menerimanya.." Ucap salah satu satpam itu dengan tidak enak hati.
"Sudah, ambil saja.. Jika atasan kalian memarahi kalian, katakanlah aku yang memberikannya. Maka semua masalah akan aman terkendali." Teya berkata seraya mengembangkan senyumnya.
2 satpam itu pun menerima kopi yang di berikan Teya dengan senyum tulus yang terpatri di wajah keduanya. "Terima kasih banyak, nona.." Ucap 2 satpan itu.
"Baiklah, selamat bekerja.." Teya pun kembali melangkah masuk ke dalam gedung dengan salah satu satpam yang membukakan pintu itu.
Sang receptionist yang melihat kedatangan Teya pun segera berdiri untuk menyambut gadis itu. "Selamat siang, nona Teya.." Ucapnya serata tersenyum ramah.
Teya membalas senyuman sang receptionist. "Hai.. Selamat siang, Landsley.. Apa kah Javer ada di ruangannya? Aku datang kemari tanpa memberitahunya."
"Ya, Tuan ada di ruangannya. Nona bisa langsung naik ke atas."
__ADS_1
"Ok, thank you.. Dan, ini." Teya mengeluarkan 1 cup kopi panas dari dalam bingkisan yang di bawanya. "Minumlah agar kau tidak mengantuk, aku membelinya saat dalam perjalanan." Gadis itu berkata seraya meletakkan 1 cup kopi di atas meja receptionist.
"Nona, anda terlalu memanjakan setiap pegawai yang ada di sini.." Landsley berkata seraya mengusao tengkuknya canggung.
Teya yang mendengar hal itu pun seketika terkekeh kecil. "Tak apa, aku senang memanjakan kalian.."
Namun, Teya tidak sadar jika interaksinya dengan Landsley sedang di perhatikan oleh seorang gadis yang tengah duduk di kursi tunggu yang ada di dekat jendela.
Hingga saat gadis itu melihat Teya yang hendak berlalu pergi, gadis itu segera melangkah menuju meja receptionist seraya berkata dengan suara yang sangat lantang.
"Oooh.. Jadi seperti ini cara kerja para pegawai di sini.. Harus mendapatkan sogokan terlebih dahulu baru akan membiarkan tamunya menemui sang atasan?"
Yang mana, hal itu seketika membuat Teya mengurungkan niatnya. Teya lalu menatap gadis yang serasa tidak asing di penglihatannya itu dengan dahi yang sedikit mengernyit karena merasa bingung. Teya kini tengah berpikir, kira-kira, di mana dia pernah melihat gadis ini. Tapi sayangnya, meskipun Teya sudah berpikir dengan cukup keras, tetap saja, Teya tidak bisa mengenali siapa gadis itu.
Saat Teya hendak berbicara, Landsley sudah lebih dulu berkata.
"Ah, begini nona Flow.. Tapi sudah peraturan dari atasan kami untuk tidak membiarkan tamu masuk ke dalam jika tamu itu tidak memiliki janji dengan atasan kami."
Setelah mendengar nama Flow di sebut, seketika membuat Teya menyunggingkan senyum tipisnya. Kini Teya ingat, jika gadis yang ada di hadapannya ini adalah gadis yang baru saja terjun ke dunia model. Yang beruntungnya, gadis itu langsung menjadi Brand Ambassador dari merk pakaian yang di produksi oleh Javer. Namun, Teya berusaha untuk berdiam diri, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh Flow selanjutnya.
Pict by : Pinterest
Melihat Teya yang hanya mengenakan sweater, celana jeans dan sepatu kets pun seketika membuat Flow menatap Teya dengan sangat sinis.
"Lihatlah, bahkan pakaiannya saja benar-benar terlihat seperti seorang office girl. Tapi kau justru membiarkan dia masuk hanya dengan bayaran 1 cup kopi panas. Heh, sungguh memuakkan!!" Flow berkata dengan sangat sarkas.
Sang receptionist yang mendengar hal itu pun seketika meringis dengan sangat ngilu. Dia sungguh tidak tau, akan seperti apa jadinya jika Javer sampai mendengar Teya di rendahkan oleh Flow yang notabenenya hanya seorang model.
Sedangkan Teya, dia yang mendapatkan kritikan pedas seperti itu pun hanya menatap Flow dengan menaikkan sebelah alisnya. Karena sungguh, Teya sedikit risi akan attitude Flow yang bisa di bilang sangat rendah.
"Apa yang kau lihat? Kau iri pada penampilanku? Atau kau tidak terima karena aku mengkritik caramu berpakaian? Lagi pula, aku hanya mencoba untuk berbicara fakta." Flow kembali berkata dengan gayanya yang terlihat sangat pongah tat kala Teya juga menelisik penampilannya.
__ADS_1
Yang mana, hal itu justru membuat Teya memberikan tatapan remeh pada Flow. Dia sungguh merasa kesal, kenapa dia harus kembali di hadapkan dengan gadis tengil. Setelah Akira, kini muncul Flow. Lalu setelah Flow, siapa lagi yang akan muncul?
"Ap.."
"Aaaaah.. Nona Flow, sebaiknya nona kembali ke tempat duduk nona. Saya akan mencoba untuk meminta ijin agar nona bisa masuk ke dalam." Landsley segera memotong perkataan Teya seraya berjalan menghampiri Flow dengan sedikit terburu-buru.
Landsley mencoba untuk menghindari keributan yang mungkin saja bisa terjadi. Karena meskipun di lantai ini hanya ada dia seorang, tapi tetap saja, Landsley tidak ingin sampai terjadinya keributan.
Karena sungguh, selama Landsley mengenal Teya. Meskipun Landsley mengakui kalau Teya merupakan gadis baik yang akan selalu menghargai setiap orang yang bekerja di perusahaan ini. Tapi, jika Teya sudah merasa sangat kesal, perkataan yang keluar dari mulut gadis itu tidak kalah pedas dari perkataan yang keluar dari mulut Javer maupun Marco.
Oleh sebab itu, dari pada dia harus menghadapi keributan. Lebih baik dia mencoba untuk menghindari kemungkinan terjadinya keributan dengan memisahkan 2 gadis itu.
Tapi, berhubung dengan Flow yang merasa tidak terima atas perlakuan Landsley. Flow menghempaskan tangan Landsley yang akan menuntunnya menuju sofa tempat dia tadi menunggu dengan sedikit kasar.
"Aku tidak mau menunggu lagi, cepat buka kan pintu lift dan biarkan aku masuk ke dalam sana!!" Flow berkata dengan suara yang sedikit tertahan karena menahan emosi.
Karena meskipun dia sangat ingin masuk ke dalam sana, dia tidak akan bisa menerobos masuk karena pintu lift perusahaan tersebut hanya bisa di buka menggunakan kartu akses khusus.
Landsley lantas menghela nafasnya, gadis itu mencoba untuk tetap terlihat ramah. "Tapi nona, anda harus mematuhi peraturan yang di buat oleh atasan saya." Gadis itu masih berusaha untuk memberikan pengertian pada gadis itu.
"Cih.. Lalu, apa dengan membiarkan gadis kampungan ini masuk begitu saja termasuk dengan mematuhi peraturan? Kau pikir aku tidak melihat jika gadis ini datang begitu saja? Kau pikir aku tidak mendengar percakapan kalian? Apa kau tidak tau jika aku ini adalah orang penting untuk atasanmu!!" Flow kini sedikit meninggikan suaranya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..