Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Pergerakan Yang Terbaca


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Javer.."


"Hmmm?" Javer yang tengah memakai jas nya pun menoleh pada Teya yang sedang duduk di atas kasur.


"Bukan kah acara ulang tahun perusahaanmu yang ke 8 akan di adakan besok malam?"


"Em hem," Javer menganggukkan kepalanya. "So? Kau tidak bisa menemaniku?"


Teya menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, aku sudah bilang padamu kalau aku bisa menemanimu ke acara apa pun.."


Javer lantas menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Lalu?"


"Bisa kah aku mengundang teman-teman ku?" Gadis itu bertanya seraya menampilkan cengiran lebarnya kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Kau tau kan, aku tidak mengenal siapa pun di sana kecuali keluarga dan teman-teman mu.."


Javer mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena ya, Teya hanya mengenal keluarga dan teman-temannya saja.


"Jadi, setidaknya jika aku mengundang mereka, aku memiliki teman untuk berbincang ketika kalian sedang sibuk."


Javer lantas berpikir untuk beberapa saat. "Maksudmu, 2 gadis yang sering bersama mu itu?"


Teya menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Javer pun mengembangkan senyumnya. "Sure.. Kau boleh mengundang mereka."


"Ok.. Thank you.." Ucap Teya kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


Javer yang melihat hal itu pun seketika terkekeh gemas. Pria itu lantas menghampiri Teya seraya bertanya. "Kau tidak memiliki kelas?"


Teya menatap Javer kemudian menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," Javer berkata kemudian mengecup kening Teya untuk beberapa saat sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.


....


Saat Javer tengah berkutat dengan pekerjaannya, terlihat ke 3 temannya yang memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Javer yang sudah terbiasa akan hal itu pun hanya menatap mereka dengan acuh tak acuh.


"Waaaah.. Apa kau merubah design ruanganmu?" Enzo bertanya seraya duduk di sofa dengan mata yang terus memperhatikan sekitar.


"Hmm.. Teya yang merubahnya."Javer menjawab seraya menghampiri ke 3 temannya.


"Ck, ck, ck, ck, ck.." Enzo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tak ku sangka, kau benar-benar jatuh pada pesona gadis itu."

__ADS_1


Javer pun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.


"Oh ya, bagaimana persiapan acaranya?" Tanya Kheil kemudian.


"Sejauh ini berjalan dengan baik." Javer menjawab seraya mengisyaratkan Enzo untuk mendekat padanya.


Enzo lantas mendekat ke arah Javer dengan sedikit bingung.


Namun, Kheil yang mengerti apa maksud Javer pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. "Tapi tunggu dulu, sejak kapan kau mengganti design ruanganmu? Ruangan ini tampak lebih segar dari pada sebelumnya." Pria itu berkata seraya memperhatikan apa yang akan Javer lakukan.


"Aku menggantinya sekitar 1 bulan yang lalu." Javer berkata seraya melepaskan alat perekam seukuran kancing kemeja yang tertempel di balik kerah jas yang di kenakan Enzo.


"Aaaa.. Begitu.." Kheil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bisa kah kau memberitahuku siapa yang membuat designnya? Aku tertarik untuk mengganti design ruanganku."


"Ya, aku akan memberikan nomor ponselnya padamu." Sahut Javer seraya meletakkan alat perekam itu di atas meja.


Liam yang melihat hal itu hanya bisa mengembangkan senyum kecilnya kemudian menatap Javer yang tengah mengetik sesuatu di ponselnya.


Sedangkan Enzo, dia yang menyadari kecerobohannya pun hanya bisa menatap alat perekam itu dengan senyum tidak percaya yang tercetak di wajahnya.


"Lantas, apa yang membawa kalian kemari?" Tanya Javer kemudian.


Namun, saat Liam hendak berbicara, dia harus kembali menelan kalimatnya tat kala melihat Marco yang memasuki ruangan Javer.


Setelah menutup pintu ruangan Javer, Marco pun melangkah mendekati ke 4 pria itu. Namun baru 3 langkah dia berjalan, pandangan matanya langsung terpaku pada alat perekam yang ada di atas meja.


Marco lantas menatap Javer yang juga tengah menatapnya.


Seperginya Marco, Enzo menatap Javer dengan di penuhi rasa penasaran. "Bagaimana kau tahu benda itu tertempel disini?" Pria itu bertanya seraya menunjuk kerah jasnya yang sebelumnya di tempeli alat perekam.


Javer mengangkat bahunya acuh. "Kerah jas sebelah kirimu terlihat lebih menonjol."


"Waaah.. Mata jeli mu memang tidak bisa di ragukan.." Sahut Enzo cepat.


"Lagi pula, dari mana kau mendapatkannya?" Liam bertanya seraya menatap Enzo dengan menaikkan sebelah alisnya.


Enzo yang mendapat pertanyaan itu pun terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Aaaaa itu.. Apa kalian ingat? Saat kita berjalan ke arah lift, ada seorang gadis yang menabrakku."


"Apa kah seorang gadis yang memakai blazzer berwarna merah marun?" Tanya Javer cepat.


Liam, Kheil dan Enzo pun menganggukkan kepala.


"Jadi kau sudah mengetahuinya?" Tanya Liam.


Javer pun mengembangkan senyum kecilnya kemudian beranjak dari sofa lalu melangkah menuju meja kerjanya. Pria itu lantas mengambil tablet yang ada di atas meja lalu kembali menghampiri ke 3 temannya.


Javer pun kembali duduk di atas sofa kemudian mencari sesuatu di tablet itu. "Aku menemukan ini dari rekaman kamera tersembunyi." Pria itu berkata seraya meletakkan tablet itu yang menampilkan video terjeda di atas meja.


Ya, di setiap sudut gedung perusahaan Javer terdapat kamera tersembunyi yang hanya di ketahui oleh Javer, Marco, dan ke 3 temannya.

__ADS_1


Namun, alih-alih menonton video itu, 3 pria lain yang ada di sana hanya menatap Javer dengan lekat-lekat.


Bagaimana tidak? Mereka baru kali ini melihat ada sedikit tanda merah yang ada di bawah telinga Javer. Sehingga membuat mereka merasa penasaran tentang tanda merah itu.


Javer yang melihat tatapan itu pun menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang kalian lihat?"


"Bisa kau memiringkan kepalamu sedikit saja?" Kheil bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.


Javer yang mengerti kemana arah pembicaraan Kheil pun seketika menatap ke 3 temannya itu dengan sangat tajam.


Karena, perlu kalian ketahui. Tanda merah yang ada di bawah telinga Jaber bukanlah tanda seperti apa yang kalian pikirkan. Kemarin, Javer mendapatkan tanda merah itu dari sebuah alat catok rambut.


Tapi ya.. Salahkan saja Javer yang selalu mengejutkan Teya, sehingga membuat gadis itu tidak sengaja menyerang Javer menggunakan catok rambutnya hang sedang menyala.


Ke 3 pria yang mendapat tatapan tajam dari Javer pun seketika memalingkan wajah seraya berdehem guna menghilangkan rasa canggung mereka.


"Haha, lupakan.." Ucap Kheil lalu mengambil tablet itu kemudian menekan tombol play untuk memutar video.


Enzo, Liam dan Kheil pun menonton Video rekaman CCTV tersembunyi itu dengan sangat serius.


"Waaah.. Aku tidak menyangka, mereka benar-benar berani masuk ke kandang iblis." Liam berkata setelah selesai menonton video itu.


Yang di mana, Video itu berisikan tentang 1 orang perempuan yang terdaftar sebagai staf keuangan dan 1 orang pria yang terdaftar sebagai staf keamanan yang melakukan tindakan licik. Di mana si pria itu menghapus setiap rekaman CCTV yang menampilkan pergerakan si perempuan yang memasuki ruangan Javer secara diam-diam.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan pada 2 orang ini?" Tanya Kheil.


"Untuk saat ini, aku akan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka perlu lakukan." Jawab Javer.


"Lalu, bagaimana untuk acara besok malam?" Tanya Liam.


"Kalian hanya perlu mengawasi pergerakan mereka. Aku ingin tau, apa yang akan terjadi besok malam." Jawab Javer.


"Kau akan membiarkan mereka menghancurkan acaramu?" Tanya Enzo.


Javer menggelengkan kepalanya. "Hal itu tidak akan terjadi."


Liam yang mendengar itu lantas menatap Javer dengan kening yang sedikit mengerut. "Bagaimana bisa kau seyakin ini?"


Javer seketika menampilkan smirknya. "Kalian akan melihatnya besok malam.."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2