
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Mia, bagaimana? Apa obatnya bekerja dengan baik?" Flow kembali bertanya pada si pelayan yang bernama Mia itu seraya melangkah ke arah kasurnya.
Mia pun mengikuti Flow dari belakang.
"Obatnya sudah bekerja, nona.." Sahut Mia yang kini berdiri di hadapan Flow yang duduk di tepi kasur.
Flow menganggukkan kepalanya. "Lalu, bagaimana dengan rekaman CCTVnya?"
"*Ben sudah mengurus semuanya." Sahut Mia cepat.
*Note : Ben adalah salah satu orang yang bekerja di bawah Fabio.
Mendengar hal itu, lantas membuat Flow tak kuasa menahan senyumnya.
"Baguslah.. Aku hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi."
Mia yang mendengar apa yang di katakan oleh Flow pun sedikit mengernyitkan dahinya.
"Apa nona tidak akan langsung ke sana?" Tanya Mia kemudian.
Flow menggelengkan kepalanya. "Aku akan menunggu hingga kesadaran pria itu sedikit pulih. Aku ingin dia sedikit sadar kalau gadis yang di tidurinya adalah aku."
"Bukan kah apa yang akan nona lakukan itu terlalu beresiko?" Tanya Mia cepat.
"Aku bisa menanganinya.. Tidak akan ada pria yang mampu menahan hawa nafsunya jika dia di hadapkan dengan daging segar. Apa lagi dalam keadaan dia yang seperti itu.."
"Tapi nona.."
Flow lantas menatap Mia dengan mata yang sedikit memicing. "Sudahlah, aku akan mengurus sisanya.. Kau boleh pergi.."
Mia pun mau tidak mau akhirnya memilih untuk pergi dari sana. Dia tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang terpenting, dia sudah melakukan apa yang di perintahkan oleh Fabio. Karea ya, Mia juga merupakan salah satu orang kepercayaan Fabio.
.....
Di sisi lain..
Setelah Kheil memarkirkan motornya di sembarang tempat, pria itu lantas segera turun dari atas motornya kemudian meletakkan helm yang dia gunakan di atas motor itu.
Pria itu lantas melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya.
"Fhuuhh.. Maafkan aku Liam.. Aku berjanji, setelah ini, aku akan segera memperbaiki kekasih tercintamu ini."
Pria itu bergumam seraya menatap motor itu dengan sedikit meringis ngilu.
Karena ketahuilah, Kheil mampu memangkas waktu perjalanan yang normalnya selama 1,5 jam itu menjadi hanya 30 menit saja.
Setelah mencabut kunci motor itu, Kheil lantas segera masuk ke dalam hotel seraya mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku jaket yang di kenakannya.
__ADS_1
Pria itu lalu mencoba untuk menghubungi Marco seraya terus melangkah masuk ke dalam hotel, mengabaikan tatapan bingung dari orang-orang yang masih menikmati sisa pesta.
"Haish!! Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku!!"
Kheil kembali mencoba menghubungi Marco untuk yang kedua kalinya.
Hingga setelah dering ke 4, Marco pun akhirnya mengangkat panggilannya.
"Kau di mana?" Tanya Kheil cepat.
(Saya berada di pintu keluar, Tuan. Kenapa Tuan menghubungi saya melalui panggilan telepon?) Suara Marco terdengar sedikit bingung.
"Ceritanya panjang. Untuk saat ini, simpan semua pertanyaanmu itu kemudian segera temui aku di ruang CCTV."
(Baik Tuan) Sahut Marco cepat.
Kheil pun mematikan sambungan kemudian segera berlari ke ruangan yang menjadi tujuannya.
Hingga ketika dia tiba di depan ruangan CCTV, dirinya tiba bersamaan dengan Marco yang juga tiba di ruangan itu.
"Ada apa Tuan?" Tanya Marco cepat.
"Kita harus segera mencari Javer!" Kheil menjawab dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.
"Ada apa dengan Tuan Javer?" Marco bertanya dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Terlalu sulit untuk di jelaskan. Sebaiknya kau segera memerintahkan bawahanmu untuk menyusuri setiap kamar yang ada selama aku memeriksa rekaman kamera CCTV."
Dan tanpa bertanya apa pun lagi, Marco pun menganggukkan kepalanya.
"Ah ya, dan 1 lagi.. Kita akan berkomunikasi melalui ponsel, jadi jangan pernah lepaskan ponselmu dari genggamanmu."
"Baik Tuan." Sahut Marco cepar kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.
Setelahnya, Kheil lantas membuka pintu ruangan itu dengan sedikit kasar.
Para petugas yang ada di sana pun sedikit terkejut karena Kheil tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.
"Tuan Kheil, ada keperluan apa hingga Tuan datang kesini?"
Tanya pemimpin petugas keamanan kamera pengawas CCTV yang memakai name tag bertuliskan Frank yang saat ini tengah duduk di kursi meja komputer utama.
Namun, alih-alih menjawab, Kheil justru meminta Frank untuk menyingkir dari tempatnya.
"Menyingkirlah.." Ucap Kheil.
"Saya?" Frank menunjuk dirinya sendiri dengan sedikit bingung.
"Ck.. Iya kau!! Menyingkirlah!! Ini mendesak!!" Kheil sedikit meninggikan suaranya.
Yang mana, hal itu seketika membuat Frank segera beranjak dari kursinya dengan sedikit kikuk karena merasa bingung atas sikap Kheil yang terlihat sangat panik.
Begitu pula dengan petugas yang lainnya, mereka menatap Kheil dengan pandangan bingung karena ini kali pertama mereka melihat Kheil panik seperti itu.
__ADS_1
Namun, mereka tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, mereka hanya diam memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Kheil.
Saat Kheil duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Frank, kakinya tidak sengaja menendang sebuah benda kecil yang ada di bawah meja.
Kheil lantas menundukkan tubuhnya untuk meraih benda yang tidak sengaja dia tendang itu yang ternyata adalah sebuah alat peretas.
"Haish!! Pantas saja!!"
Kheil bergumam seraya mencabut alat peretas itu yang tersambung ke komputer utama.
Kheil lantas meletakkan alat peretas itu di lantai kemudian menginjak alat peretas itu hingga hancur.
Mereka yang mengetahui fungsi dari alat yang di hancurkan oleh Kheil pun hanya bisa meneguk ludah mereka dengan kasar. Mereka pun hanya bisa berdoa agar mereka tidak di pecat dari pekerjaan ini. Terutama Frank, dirinya kini merasa sedikit takut untuk menghadapi hukuman yang nantinya pasti akan di terimanya.
Setelah menghancurkan alat peretas itu, Kheil pun segera mengotak atik sistem yang ada di komputer utama untuk mengembalika rekaman CCTV yang sebenarnya.
Tapi sayangnya, rekaman CCTV yang sebenarnya sudah lebih dulu di hapus oleh si peretas.
Namun, Kheil tidak terlalu memikirkan hal itu. Karena dia memiliki rekaman kamera pengawas selain dari kamera pengawas yang di pasang oleh petugas CCTV.
Ya, seperti yang kita ketahui sebelumnya. Javer memasang kamera pengawas tersembunyi di kantornya yang hanya di ketahui oleh Javer.
Begitu pula di setiap tempat usaha yang menjadi miliknya, Javer memasang kamera tersembunyi yang hanya di ketahui olehnya, Marco, dan ke 3 temannya saja.
Setelah Kheil menyambungkan kamera tersembunyi yang dia pasang dengan komputer utama yang ada di hadapannya saat ini. Kheil lantas segera mencari kamar mana yang di masuki oleh Javer.
Mendapatkan apa yang dia cari, Kheil kemudian memperbesar gambar yang ada untuk melihat no kamar yang di masuki oleh Javer.
"Dapat!!!"
Kheil berseru seraya menyalakan ponselnya untuk menghubungi Marco.
Dan hanya dalam dering pertama, Marco sudah mengangkat panggilannya.
"245!" Ucap Kheil cepat.
(Baik Tuan) Sahut Marco.
Kheil lantas memutuskan kembali sambungan kamera tersembunyi miliknya itu dari komputer utama kemudian mengembalikannya pada kamera pengawas CCTV yang semua tersambung dengan komputer utama.
Hingga saat dia memperhatikan pergerakan Marco yang baru saja tiba di lantai 25 di mana kamar no 245 berada, Kheil tiba-tiba saja sedikit memicingkan matanya karena melihat pergerakan si pelayan perempuan yang sebelumnya memberikan minuman untuk Javer.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..