Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Menjelang Status Baru


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


2 minggu kemudian.


Hana tengah menatap geli pada Teya yang saat ini sedang merias diri dengan menampilkan ekspresi yang terlihat seakan-akan di penuhi beban hidup yang sangat berat.



Pict by : Anna Maria Sieklucka


"See.. Sudah ku katakan sejak awal, mau kau menolak dengan cara apapun.. Kau tetap saja akan berakhir masuk ke dalam genggaman pria itu." mulut Hana terlalu gatal untuk tidak memberikan komentar.


Teya seketika menatap Hana dengan tajam. Namun, Hana yang sedang duduk di kursi itu justru tertawa. Karena menurutnya, wajah Teya yang sedang merasa kesal itu terlihat sangat lucu.



Pict by : Demet Ozdemir


Yang mana, tawa yang di keluarkan Hana membuat Teya semakin menatap Hana dengan sangat tajam, bahkan kini kelopak matanya terasa sedikit berdenyut karena menahan rasa kesal.


Begitulah Hana Romagna, gadis yang sering di sapa Hana itu merupakan salah satu sahabat baik Teya yang selalu membuat Teya merasa kesal akibat celotehan yang keluar dari mulutnya. Anak gadis dari keluarga Romagna yang terkenal sukses dalam bidang kuliner itu sudah bersahabat dengan Teya semenjak masuk sekolah menengah pertama, bahkan hingga saat ini menjadi teman satu kelas Teya di kampus.


Gadis berusia 23 tahun dengan tinggi badan 175cm itu juga merupakan gadis yang memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan Teya. Oleh sebab itu, Hana bisa dengan mudah menjadi sahabat baik Teya. Tapi setidaknya, Hana bukanlah gadis yang jahil.


"Hmm.. Lagi pula.. Sejak awal, aku dan Hana sudah merasa sanksi jika kau mampu menghindari pesona pria no.1 yang paling di incar di seluruh daratan Eropa ini" Genya menimpali ucapan Hana.


Genya kemudian menyandarkan tubuhnya di tembok seraya menatap Teya dengan tatapan jahilnya.



Pict by : Hande Ercel

__ADS_1


Genya lalu kembali berkata. "Dan juga, bukan kah sudah aku katakan padamu. Lebih baik kau menerima pria itu, tidak ada salahnya kan mencoba kembali untuk membuka hatimu."


Teya pun mengalihkan tatapan tajamnya pada gadis yang menjadi sahabatnya sejak memasuki sekolah menengah atas.


Berbeda dengan Teya dan Hana yang mempunyai sifat bar-bar dan sering berpenampilan sedikit tomboy, gadis berusia 23 tahun dengan tinggi badan 172cm yang memiliki nama lengkap Genya Norega itu, justru mempunya sifat lembut dan sering berpenampilan feminim. Namun, meskipun begitu, gadis yang berasal dari keluarga Norega yang terkenal sukses dalam bidang industri itu tetaplah satu circle dengan Teya dan Hana.


Melihat Teya yang terus saja menatapnya dengan sangat tajam, Genya kemudian menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau menatapku seperti seakan ingin membunuhku?"


Teya tidak segera menanggapi pertanyaan Genya, gadis itu memilih untuk menghela nafasnya sejenak seraya beranjak dari meja riasnya, lalu meraih dress yang sudah tergantung rapi di dekat cermin.


"Aku hanya kesal pada kalian, bisa-bisanya kalian mendukung pria itu secara terang-terangan.. Aku sekarang merasa sanki jika kalian adalah sahabatku terbaikku!" ucap Teya seraya mulai mengenakan dress untuk pertunangannya itu.


Ya, hari ini adalah hari pertunangan Teya dengan Javer.


"Bukan kah seharusnya kalian membantuku?? Apa kalian pikir aku benar-benar mau bertunangan dengan pria itu?? Aku tidak munafik, aku mengakui jika pria itu sesuai dengan tipe pria idamanku.. Tapi ayolah, aku masih ingin hidup dengan damai. Aku bahkan hingga sekarang tidak bisa membayangkan, akan seperti apa jadinya reaksi para gadis yang tergila-gila pada pria itu."


Teya terus saja berceloteh seraya merapikan dress yang di kenakannya di depan cermin.



Meskipun Teya tidak menerima pertunangan ini sepenuhnya, tapi setidaknya dia tetap harus tampil rapi bukan?


Hana dan Gena pun hanya bisa memutar bola mata malas, telinga mereka terasa panas karena terus saja mendengar celotehan yang tidak ada hentinya keluar dari mulut Teya.


"Sudahlah, tidak usah memikirkan tentang reaksi para gadis itu. Cukup fokus saja untuk menjalani hubunganmu dengan Javer, pria itu juga pastinya tidak akan membiarkan mu dalam kesusahan. Toh meskipun kami ingin membantu, apa yang harus kami bantu Teya? Kau pastinya sudah mengerti, mau kau lari ke ujung dunia sekali pun, pria itu akan tetap menemukanmu.." tutur Gena kemudian.


"Hmm.. Kau tidak bodoh Teya, kau sudah jelas-jelas mengetahui jika pria itu bukan hanya sekedar pengusaha. Sekuat apa pun kekuasan yang di miliki oleh orang tua mu, tetap tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan pria itu" timpal Hana.


"Dan orang tua mu juga menyetujuinya. So, apa salahnya? Lagi pula, aku sangat yakin pria itu akan menjagamu dengan baik" ucap Gena.


Benar kan apa kata Teya, bukannya memihak kepadanya, kedua sahabatnya itu mendukung Javer secara terang-terangan.


"Ya itu karena orang tuaku tidak mengetahui jika pria itu adalah seorang Mafia. Aku yakin, jika mereka mengetahuinya, mereka tidak akan menyetujuinya dengan mudah" Teya berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


"Siapa bilang mama dan papa tidak mengetahuinya?"

__ADS_1


Teya sedikit terkejut karena Amaya tiba-tiba memasuki kamarnya.


Teya menatap Amaya dengan sedikit memicingkan matanya. "Jadi mama dan papa sengaja menyerahkan aku ke kandang singa??"


Amaya menggelengkan kepalanya. "Bukan kah kau sendiri yang sedari kecil selalu berkata jika suatu saat nanti ingin menikah dengan seorang mafia? Maka sekarang mama dan papa mewujudkan keinginanmu."


Mulut Teya sedikit terbuka karena merasa shock saat mendengar mamanya yang berbicara seakan tanpa beban.


"Dan juga, bukan kah kakakmu berteman baik dengan Javer? Apa selama ini kau sungguh tidak menyadarinya? Atau kau hanya pura-pura mengabaikannya?"


Kini mulut Teya terbuka dengan sangat lebar, gadis itu benar-benar melupakan tentang fakta yang satu ini. Sekarang Teya baru menyadari, kenapa kakaknya seakan acuh saat Javer dengan gencar mendekatinya. Teya juga baru menyadari jika pria yang berstatus sebagai kakak kandungnya itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya..


Sungguh, Teya benar-benar lupa jika kakaknya adalah orang pertama yang akan datang untuk memberikan ceramah ketika ada pria yang mendekatinya.


Tapi tetap saja, bagaimana bisa ada keluarga yang dengan suka rela menyerahkan anak gadisnya kepada seorang ketua mafia? Sungguh, Teya tidak mengerti tentang jalan pikiran keluarganya.


"Tapi maaa.. Itu hanya keinginan seorang anak kecil. Kenapa kalian begitu tega kepadaku.." kini Teya hanya bisa merengek.


Sedangkan Hana dan Gena, mereka terkekeh geli ketika melihat perdebatan antara ibu dan anak itu. Lagi pula, sedari awal juga mereka sudah mengetahui jika kakak Teya adalah teman baik Javer.


Mereka mengetahui hal itu ketika mereka tanpa sengaja melihat potret kedekatan 2 pria itu di ponsel kakak Teya. Berhubung mereka memiliki jiwa ingin tau yang sangat tinggi, mereka pun menanyakan hal itu kepada kakak Teya.


Awalnya, mereka sempat ingin mengatakan hal ini kepada Teya. Namun, mereka memgurungkan niat untuk memberitahu gadis itu. Karena mau bagaimana pun, mereka sudah bisa menebak jika Teya tetap akan masuk ke dalam genggaman Javer. Jadi, daripada mereka melakukan hal yang akan berakhir dengan kesia-siaan, mereka lebih baik diam dan memperhatikan.


"Sudahi rengekanmu, lebih baik sekarang kita turun. Semua orang sudah menunggumu" ucap Amaya kemudian.


Teya sekilas melirik ke arah jam dinding, gadis itu menghela nafasnya dengan pasrah. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela, Teya tetap akan berakhir menjadi tunangan Javer.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2