
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Malam ini adalah malam terakhir untuk Javer menyandang status lajangnya. Karena esok hari adalah hari di mana Javer akan menyandang status baru sebagai seorang suami.
Malam ini adalah malam di mana ke 6 pria tampan berkumpul untuk merayakan hari menjelang Javer akan memiliki status baru. Atau kita sebut saja sebagai pesta lajang.
Tidak ada pesta meriah, Ke 6 pria tampan itu hanya mengadakan pesta barbecue dengan di temani minuman beralkohol.
Marco dan Kheil kini tengah sibuk memanggang daging. Karena selain Javer, hanya 2 pria itulah yang paling bisa di andalkan dalam hal memasak.
Liam dan Enzo kini tengah sibuk membuat api unggun kecil. Namun sayangnya, sudah 30 menit berlalu, ke 2 pria itu sama sekali belum bisa menyalakan apa unggun itu.
Ya, seperti yang kita ketahui, ke 2 pria itu terlalu sibuk berdebat sehingga mengabaikan tugas yang seharusnya mereka lakukan.
Sedangkan Javer dan Rion. Mereka berdua hanya duduk tenang seraya menikmati keindahan langit malam dengan di temani anggur merah.
"Bagaimana perasaanmu karena telah berhasil mendapatkan adikku?" Tanya Rion pada Javer tanpa mengalihkan pandangannya dari langit malam yang sangat indah.
Javer menyunggingkan senyum simpulnya kemudian berkata. "Well yeah.. It's amazing.."
Mendengar hal itu, lantas membuat Rion terkekeh kecil. "Aku tidak menyangka kalau orang seperti mu mampu bertahan dengan segala tingkah ajaib yang adikku lakukan."
Javer menghela nafasnya untuk sejenak, karena dengan membicarakan Teya, membuat rasa rindunya pada gadis itu kini semakin menjadi.
Karena ya, selama 2 minggu terakhir ini. Para orang tua sepakat untuk memisahkan mereka sebelum mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka menyebut hal itu dengan istilah 'Di pingit'.
Awalnya, Javer menolak. Namun, para orang tua berkata kalau bertemu dengan calon pengantin sebelum pernikahan adalah sebuah pantangan atau larangan. Mereka berkata kalau hal itu akan menimbulkan hal buruk.
Jadi, mau tidak mau, Javer pun akhirnya harus menurutinya. Ya meskipun menurutnya hal itu sedikit konyol. Namun Javer tetap menurutinya walaupun dengan sedikit terpaksa.
Karena oh ayolah.. Jangankan untuk tidak bertemu selama 2 minggu lamanya. Tidak bertemu dengan Teya selama 1 hari saja sudah membuat Javer uring-uringan.
Sungguh, tidak bertemu dengan Teya selama 2 minggu penuh, benar-benar membuat Javer merasakan rindu yang teramat dalam.
__ADS_1
Javer benar-benar rindu mendengar tawa renyahnya, tingkah ajaibnya, pelukan hangatnya, makiannya.. Ah, Javer merindukan semuanya..
Tidak ada hal apa pun yang bisa mengobati rasa rindunya. Karena, jangankan untuk bertemu, bahkan hanya untuk sekedar berkomunikasi melalui ponsel saja, para orang tua benar-benar tidak memperbolehkannya.
Hal itu benar-benar membuat kepala Javer terasa sangat berdenyut karena memendam perasaan rindu yang terlalu besar.
Andai saja tidak ada Amaya dan Roma yang menjaga Teya, Javer mungkin sudah menculik gadis itu sejak jauh-jauh hari.
Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Javer pun berkata. "Entahlah.. Aku hanya terlalu mencintainya sehingga aku justru menikmati segala tingkah ajaib yang dia lakukan."
"Ya.. Kau terlalu mencintainya.. Tanpa kau beri tahu pun aku sudah bisa melihatnya dari pancaran matamu." Sahut Rion cepat.
Javer hanya menanggapinya dengan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Ah ya.. Bisakah kau memberitahuku, apa yang membuatmu jatuh cinta pada Teya. Kau tahu, dari sekian banyak pria yang mendekatinya, hanya kau satu-satunya pria yang mampu bertahan dalam menghadapi setiap tingkah lakunya." Rion berkata kemudian menghisap sebatang rokok yang di apitnya.
Mendengar hal itu, lantas membuat Javer menaikkan sebelah alisnya kemudian melirik Rion sekilas. "Apa saat ini kau sedang berperan sebagai kakak iparku?"
Rion seketika saja terkekeh kecil, pria itu lantas menoleh pada Javer. "Kau bisa menganggapnya seperti itu. Karena meskipun aku sangat mengerti siapa kau. Jika kau menyakitiku adikku untuk sedikit saja, aku pasti akan datang untuk membunuhmu saat itu juga." Pria itu lantas kembali menatap langit.
Javer terkekeh kecil kemudian berkata. "Tidak ada alasan khusus. Bukankah cinta memang selalu seperti itu, datang secara tiba-tiba. Lagi pula, bukan kah kau sudah memastikannya sendiri bagaimana caraku memperlakukan Teya. Aku tahu kalau selama ini kau menugaskan salah satu bayanganmu untuk mengawasi kami."
"Tapi harus aku akui, kau memang pantas menjadi pendamping hidup Teya." Lanjut Rion.
Javer kembali terkekeh kecil. Pria itu lantas menghela nafasnya kemudian menoleh pada Rion. "Lantas, apa setelah ini kau masih akan mengawasiku?"
Rion menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menggelengkan kepalanya. "Dia sudah bukan tanggung jawabku. Sudah sepantasnya aku menyerahkan segalanya kepadamu."
Javer mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu.. Selamat karena telah menjadi kakak iparku."
"Tcih!" Rion seketika saja menyunggingkan senyum simpulnya.
Rion lantas beranjak dari sana kemudian menghampiri Liam dan Enzo.
"Hentikan perdebatan kalian dan menyingkirlah, biarkan aku yang menyalakan api unggunnya." Kata Rion.
Liam dan Enzo yang masih saja memperdebatkan tentang cara memotong kayu pun lantas menoleh pada Rion.
__ADS_1
"Apa kau meragukan kemampuan kami?" Tanya Enzo.
Rion berkacak pinggang seraya menatap tajam ke 2 pria itu. "Alu sangat meragukan kalian. Tidak kah kalian sadari, sedari tadi kalian hanya memperdebatkan cara memotong kayu. Lihatlah, bahkan belum ada 1 kayu pun yang berhasil kalian potong dengan benar!" Pria itu berkata dengan sangat ketus.
Saat Liam hendak menyahui perkataan Rion, Rion sudah lebih dulu berkata.
"Simpan semua alasan yang ingin kau katakan. Sebaiknya kalian berdua menyingkir dari sini. Biarkan aku yang mengerjakannya. Atau tidak akan pernah ada api unggun hingga pagi tiba."
Liam dan Enzo pun saling melemparkan tatapan tajam kemudian beranjak dari sana dengan niat untuk bergabung dengan Javer.
Namun, saat mereka membalikkan tubuhnya ke arah gazebo, mereka mengernyitkan dahi tat kala tidak melihat keberadaan Javer.
"Rion.. Dimana Javer?" Tanya Liam.
"Bukan kah seharusnya dia berada di gazebo? Aku baru saja berbin.." Rion menghentikan kalimatnya tat kala dia menoleh ke arah gazebo.
"Tunggu, kemana dia?" Rion bergumam seraya menoleh ke arah pembakaran di mana Marco dan Kheil tengah membakar daging. Pria itu ingin memastikan kalau saja Javer bergabung dengan mereka.
Namun sayangnya, di sana hanya ada Marco dan Kheil yang sibuk dengan masakan mereka.
Berhubung Marco dan Kheil memunggungi gazebo, jadi Marco dan Kheil pun pasti tidak menyadari hilangnya Javer.
Rion lantas mengeluarkan ponselnya. "Aku akan mencoba untuk menghubunginya." Ucap Pria itu kemudian segera menghubungi Javer.
Liam dan Enzo pun menganggukkan kepalanya.
"Haish!! Dia mematikan ponselnya." Rion berkata seraya menatap ponselnya dengan sedikit kesal.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..