
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Teya menghela nafasnya sejenak. "Aku baik-baik saja.." Gadis itu berkata cepat.
"Apa anda hendak ke?" Salah satu pria lain yang ada di sana menggantungkan kalimatnya dengan tangan kanannya yang menunjuk ke arah toilet. "Saya melihat anda berkali-kali masuk ke dalam sana."
Teya menampilkan senyum canggungnya. "Entahlah, aku tiba-tiba saja mengalami masalah pencernaan sejak 2 jam yang lalu." Gadis itu mengigit bibirnya menahan perutnya yang semakin bertambah sakit. "Sekali lagi maafkan aku, sepertinya aku harus segera pergi."
Mendengar hal itu, lantas membuat kecurigaan Fabio terhadap Teya kini benar-benar hilang. Di tambah lagi dengan melihat wajah Teya yang memang terlihat semakin pucat, membuat kecurigaannya kini sepenuhnya bergantikan dengan rasa penuh kekhawatiran.
"Apa kau ingin aku membantumu?" Fabio bertanya cepat.
Teya menggelengkan kepalanya. "Tidak, terimakasih.."
Dan tanpa basa basi lagi, gadis itu segera berlari menuju ke kamar mandi. Karena sungguh, dirinya sudah tidak kuasa lagi menahan perutnya yang terasa sakit seolah seseorang tengah menusuk-nusuk perutnya menggunakan ribuan jarum.
Fabio yang melihat hal itu pun kini mengernyitkan dahinya. "Masalah pencernaan? Apa jangan-jangan gadis itu yang melakukannya?"
Fabio bergumam seraya terus menatap Teya yang kini hilang dari pandangannya karena gadis itu sudah masuk ke dalam lorong yang menuju ke arah toilet.
Mendengar apa yang di gumamkan oleh Fabio, lantas membuat Kheil kembali mengeluarkan suaranya.
(Javer, apa kau tahu siapa gadis yang di maksud olehnya?)
"Mungkinkah?" Javer bergumam kecil.
(Apa kau mengatakan sesuatu?) -Kheil.
"Tidak.. Bisa kah kau mencari tahu apa yang di lakukan Teya di sini sebelum dia bersamaku?"
(Akan ku lakukan..) Sahut Kheil cepat.
Tak lama setelah itu, Teya terlihat kembali menghampiri Javer.
"Babby, sebaiknya kau masuk ke dalam kamarmu.."
Javer berkata cepat setelah melihat wajah Teya yang semakin pucat. Bahkan lipstick yang di gunakan oleh gadis itu tidak sepenuhnya mampu menutupi bibirnya yang kini mulai memutih.
"Tapi.."
"Ini perintah!!" Javer segera memotong perkataan Teya dengan sangat Tegas.
Mau tidak mau, Teya pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Karena ya, kali ini dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya.
Saat Javer hendak menuntun Teya untuk kembali ke kamarnya, dia harus menghentikan niatnya itu tat kala Kheil memanggilnya.
(Javer?)
"Hm?"
Teya menatap Javer dengan dahi yang mengernyit bingung. Dengan siapakah Javer berbicara? Dengannya? Atau kah dengan orang-orang di balik earphone yang di kenakannya?
__ADS_1
(Teya meminum sesuatu yang di berikan oleh pegawai hotel.) -Kheil.
"Waktunya?"
Mendengar itu, Teya kembali membuang tatapannya dari Javer. Gadis itu kini mengerti kalau Javer tidak sedang berbicara dengannya.
(Waktunya.. Sesaat sebelum Teya menemuimu.."
"Apa wajah pegawai itu tertangkap kamera?"
(Sayangnya tidak..)
"Di mana posisi tepatnya?"
(Di patung.)
"Apa kau sudah memeriksa kamera yang kau letakkan di dalam pot bunga?"
(Ah ya, aku belum memeriksanya.. Kalau begitu, aku akan memeriksanya.)
"Lakukan secepat yang kau bisa, aku akan mengantar Teya ke kamarnya."
(Akan aku lakukan.)
Setelah mendapat jawaban pasti, Javer lantas kembali merangkul bahu Teya menggunakan yangan kirinya. Pria itu kemudian menuntun Teya menuju kamar pribadinya yang ada di hotel itu.
Saat baru beberapa langkah, Teya sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer.
"Javer.." Ucap Teya kemudian.
"Hm?"
"Tidak." Javer menolak dengan cepat. "Aku harus memastikan kau berada di dalam kamar dengan mata kepalaku sendiri."
Pria itu kemudian menekan tombol lift.
"Terserah.. Kau memang terlalu sulit untuk di bantah."
Mereka lalu masuk ke dalam lift.
"Lantas, kenapa kau masih saja sering melakukan negosiasi denganku?"
Pria itu bertanya seraya menekan tombol 25, pertengahan lantai hotel itu. Letak di mana ruangan pribadi milik Javer berada.
"Bukan kah mencoba lebih baik dari pada tidak melakukannya sama sekali?"
Javer seketika terkekeh kecil. "Kau memang selalu pandai dalam berbicara." Pria itu bekata kemudian.
"Heh.. Aku pandai dalam segala hal.." Teya berkata dengan sedikit ketus.
Mendengar apa yang di katakan oleh Teya, seketika saja terlintas pikiran jahil di kepala Javer.
"Benarkah? Apa di atas ranjang menjadi salah satu kepandaianmu? Tapi aku belum pernah merasakannya.." Javer mengembangkan senyum jahilnya. "Hmm.. Sepertinya itu adalah ide yang sangat bagus untuk di coba.."
Apa yang baru saja di katakan oleh Javer seketika saja membuat Teya melupakan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
"Yakk!! Apa kau lupa jika teman-temanmu bisa mendengar percakapan kita?"
"Abaikan saja mereka.. Mereka akan pura-pura tidak mendengarnya."
Liam, Enzo dan Kheil yang mendengar hal itu pun seketika menyuarakan komentar-komentar mereka. Namun, Javer tidak menghiraukannya.
Sedangkan Teya, gadis itu hanya bisa memutar bola matanya jengah. Sat ini dia merasa sedikit malas untuk menanggapi tingkah jahil Javer.
Setelah pintu lift terbuka, Javer dan Teya pun keluar dari dalam lift kemudian berjalan menuju ruangan pribadi Javer.
(Aku sudah mengirimkan gambar wajah pegawai hotel itu ke ponselmu) -Kheil.
"Baiklah, aku akan memeriksanya." Sahut Javer cepat seraya membuka pintu kamarnya menggunakan kunci yang berupa kartu.
Javer pun menuntun Teya hingga ke masuk dalam kamar, pria itu lalu membantu Teya untuk berbaring di atas kasur.
Setelah memastikan Teya dalam posisi yang nyaman, pria itu lantas mengecup kening Teya untuk sejenak.
"Istirahatlah.. Aku akan meminta dokter untuk datang kemari."
Teya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih.."
Javer mengembangkan senyumnya. "Everything for you, babby.."
"Aku akan segera kembali.." Javer kembali berkata kemudian berlalu pergi dari sana.
Namun, sebelum Javer benar-benar pergi dari sana, pria itu menghentikan langkahnya di dekat pintu dengan niat untuk memeriksa gambar wajah si pegawai hotel yang sebelumnya di kirimkan oleh Kheil.
Javer pun segera mengeluarkan ponselnya dari saku jas yang dia kenakan. Namun, saat Javer hendak membuka pesan berisi gambar yang di kirimkan oleh Kheil, pria itu harus mengurungkan niatnya tat kala mendengar suara Marco.
(Tuan, sepertinya tuan harus segera kembali ke sini. Hasil akhirnya akan di umumkan 5 menit lagi.)
Javer pun kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jas nya.
"Baiklah, aku akan segera turun."
Javer akhirnya memutuskan untuk menunda niatnya untuk memeriksa wajah si pegawai hotel.
Setelah memastikan pintu kamar itu benar-benar tertutup dengan rapat, Javer pun akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana untuk kembali turun ke bawah dengan langkah lebar.
Pria itu merasa sedikir tidak sabar untuk mengetahui hasil akhir dari penentuan pemegang saham utama.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1