Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Malam Panas - Part 3


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Apa kau takut?" Javer bertanya seraya menyingkirkan helaian rambut Teya yang sedikit menutupi wajah gadis itu.


Teya menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


Javer pun menyunggingkan senyum kecilnya. "Tapi sayangnya, kali ini aku benar-benar tidak bisa berhenti.." Pria itu berkata denga sangat lembut.


"Aku tau.." Lirih gadis itu. "Hanya.. Lakukan dengan perlahan.."


Mengerti dengan apa yang menjadi kekhawatiran Teya, lantas membuat Javer kembali menyunggingkan senyum kecilnya.


"Aku akan melakulannya dengan lembut, hmm.." Pria itu berkata seraya kembali mengelus pinggang ramping Teya dengan lembut.


Teya pun perlahan menganggukan kepalanya.


Setelah melakukan sesi perbincangan singkat, Javer lantas memulai kembali semuanya dari awal..


Pria itu mengecup kening Teya untun sejenak, kecupannya turun menuju sepasang mata indah milik Teya, kemudian menuju hidung Teya yang terlihat sangat mungil jika di bandingkan dengan hidungnya.


Setelah mengecup kedua pipi Teya, kini Javer kembali memberikan kecupan di bibir manis Teya yang selalu menjadi candunya.


Kecupan itu perlahan berubah menjadi luma...tan lembut yang begitu memabukkan untuk Teya.


Teya lantas kembali memejamkan matanya, menikmati setiap hal yang di lakulan oleh Javer kepadanya.


Tidak puas hanya bermain dengan pinggang ramping Teya, elusan tangan Javer kini mulai merambat naik menuju dada Teya yang memiliki ukuran yang begitu pas di dalam genggamannya.


Merasakan setiap sentuhan yang di berikan oleh Javer, membuat Teya kini kembali mendapatkan gairahnya yang sempat lenyap akibat rasa takutnya.


Selagi Teya terhanyut dalam setiap sentuhannya. Javer secara perlahan mulai menyentuhkan miliknya pada milik Teya.


Yang mana, hal itu semakin membuat gairah yang di rasakan oleh 2 insan itu semakin meluap-luap.


Javer yang sudah tidak bisa bersabar lagi pun mulai menempatkan miliknya tepat di depan inti tubuh gadis itu.


Pria itu lantas melerai ciumannya kemudian menatap Teya dengan lembut.


"Babby?" Ucap Javer.


Teya pun membuka matanya kemudian menatap Javer dengan tatapan sayunya.


"Kau tahu, ini akan terasa sedikit sakit pada awalnya.. Kau bisa menyalurkan rasa sakitmu dengan melakukan apa saja terhadapku.. Tapi aku akan mencoba untuk tidak terlalu menyakitimu, hmm.." Tutur Javer dengan selembut mungkin.


Teya yang memang dasarnya sudah mengerti akan hal itu pun hanya bisa mengangguk kecil.


Mendapatkan persetujuan dari Teya, Javer lantas mencoba untuk menyatukan miliknya dengan milik Teya.


Namun, selembut apa pun pergerakan yang Javer lakukan, hal itu tetap saja menyakiti Teya hingga membuat mata Teya mulai berkaca-kaca.


Teya yang tidak ingin mengecewakan Javer pun mencoba untuk menahan rasa sakitnya dengan mencengkram erat kedua lengan Javer.


Meskipun dia belum berhasil melakukan penyatuan sepenuhnya, namun Javer tetap memilih untuk mengehentikannya sejenak agar gadis itu kembali merasa rileks.


"Are you okay, baby?" Tanya Javer kemudian.


"Not really.." Gadis itu menyahut dengan suaranya yang sedikit tertahan.


Mendengar jawaban jujur yang di katakan oleh Teya, seketika membuat Javer menyunggingkan senyum kecil untuk yang ke sekian kalinya.

__ADS_1


Javer lantas mengecup perpotongan leher Teya agar gadis itu merasa nyaman kembali.


Dan ya, hal itu berhasil.. Terbukti dari Teya yang kini mulai kembali mengeluarkan erangan kecilnya.


Tidak ingin menyakiti gadis itu terlalu lama, Javer lantas memutuskan untuk melakukan penyatuan dengan satu kali gerakan.


Yang mana, hal itu seketika membuat Teya memekik tertahan seraya menancapkan kuku- kuku tangannya yang cukup tajam pada kedua lengan Javer.


Namun, Javer tidak merasakan sakit di kedua lengannya karena pria itu terfokus pada betapa eratnya cengkraman milik Teya pada miliknya. Bahkan hingga membuat pria itu menggeram tertahan dengan kedua matanya yang terpejam erat.


Setelah berhasil menormalkan gairahnya, Javer tidak segera menggerakan pinggulnya. Pria itu lebih memilih untuk menatap Teya yang kini tengah terpejam dengan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Maafkan aku, hmmm.." Javer berkata seraya menghapus buliran bening yang berderai dari kedua mata gadis itu.


Ah, tidak.. Dia bukan lagi seorang gadis, melainkan sudah menjadi wanita seutuhnya.


Mengingat hal itu, seketika saja membuat Javer menyunggingkan senyum bahagia yang di penuhi dengan rasa bangga.


Ya, pria itu merasa sangat bahagia sekaligus bangga karena telah menjadi pria pertama yang berhasil merenggut harta berharga milik Teya.


Ah, bukan, bukan.. Bukan hanya pria pertama, tapi Javer juga akan menjadi pria terakhir yang akan selalu menyentuh setiap jengkal tubuh gadis itu yang sekarang sudah menjadi seorang wanita sepenuhnya.


Javer lantas kembali memberikan sentuhan-sentuhan kecil agar Teya sedikit melupakan rasa sakitnya.


Setelah berhasil membiasakan diri dari sesuatu yang mengganjal di dalam pusatnya, Teya pun membuka matanya kemudian menatap Javer dengan sedikit sinis.


"Kau menyakitiku!" Ketus gadis itu dengan masih di iringi isakan kecil.


Javer seketika saja terkekeh kecil, karena jika Teya sudah berbicara dengan ketus, itu pertanda kalau Teya sudah merasa jauh lebih baik.


"Bukan kah sudah ku katakan kalau ini akan terasa sakit?" Tanya Javer.


Namun, Teya hanya menanggapi Javer dengan mencebikkan bibirnya.


Mendengar hal itu, lantas membuat Javer kembali menyunggingkan senyumnya. Pria itu lalu mengecup bibir Teya sekilas kemudian mulai bergerak secara perlahan.


Lambat laun, pergerakan pria itu kini mulai bertambah cepat.


2 insan itu saling melemparkan tatapan yang di penuhi gairah, dengan erang...an demi eranga..an yang terus keluar dari mulut Teya, merasakan betapa indahnya nikmat duniawi yang tengah di alaminya saat ini.


Hingga beberapa saat berlalu, Teya mencengkram kedua tangan Javer dengan sangat erat tat kala merasakan sesuatu yang sangat mendesak yang akan keluar dari miliknya.


"Javer.. Aku.. Eunghhh!!"


"Just come for me, babby.." Sahut Javer dengan semakin mempercepat pergerakannya.


"Nghh.. Nyahh.. Javer.."


"Yes, babby.. Say my name.."


Hingga tak lama setelah itu..


"Javer!!"


Teya memekik tertahan merasakan seuatu yang tumpah di bawah sana, bahkan hingga membuat tubuhnya melengkung bak busur panah yang siap untuk di gunakan.


Bersamaan dengan itu, Javer menggeram bak serigala yang siap menerkam mangsanya karena dia juga menumpahkan miliknya di dalam milik Teya.


"Oh God.. Teya.." Pria itu menggeramkan nama Teya seraya menatap mata sayu gadis itu lekat-lekat.


Sejujurnya, Javer masih bisa menahannya untuk waktu yang cukup lama. Namun, mengingat ini adalah kali pertama Teya melakukannya. Membuat Javer memutuskan untuk segera mengakhiri permainan karena tidak ingin terlalu menyakiti Teya.


Setelah menormalkan nafasnya, Javer pun mengecup kening Teya untuk sejenak.

__ADS_1


"Terima kasih.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu.." Ucap Javer kemudian kembali mengecup kening Teya.


Namun, Teya yang merasa masih terlalu sulit untuk berbicara karena nafasnya masih sangat tersengal-sengal pun hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya.


Mengerti akan hal itu, lantas membuat Javer melepaskan tautan secara perlahan kemudian membaringkan tubuhnya di samping kiri Teya.


Pria itu lantas menarik Teya agar masuk ke dalam dekapannya.


Teya yang merasa benar-benar lelah pun hanya bisa menurutinya. Dia meletakkan kepalanya di atas dada bidang Javer dengan nafas yang masih sedikit tersengal-sengal.


Beberapa saat kemudian, mendengar Teya yang sudah kembali bernafas dengan normal, lantas membuat Javer menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Teya.


"Babby?" Ucap pria itu tat kala melihat kelopak mata Teya masih bergerak pertanda kalau Teya belum terlelap.


"Hmm??" Sahut gadis itu dengan sangat lirih.


"Are you okay?"


Teya menggelengkan kepalanya. "I'm not okay.. Aku.." Dia menghela nafasnya guna menggantungkan kalimatnya.


Yang mana, hal itu membuat Javer mengerutkan dahinya karena merasa khawatir kalau-kalau saja dia benar-benar menyakiti gadis itu.


Namun, kekhawatirannya itu seketika tergantikan dengan kekehan kecil tat kala Teya kembali melanjutkan kalimatnya.


"Aku sangat lelah.. Bahkan aku tidak memiliki tenaga untuk hanya sekedar menggerakkan jari tanganku.." Teya menggerutu seraya mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer.


"Kalau begitu tidurlah, hmm.." Javer mengelus kepala Teya dengan sayang.


Teya menganggukkan kepalanya lalu mulai memejamkan matanya.


"Good night, babby.. *I love you.. And thank's a lot for tonight.." Javer berkata kemudian mengecup puncuk kepala Teya untuk sejenak.


*Note : Aku mencintaimu.. Dan terima kasih banyak untuk malam ini.


"Hmm.." Teya menganggukkan kepalanya. "Good night.. And, i love you too.."


....


Gimana wakk.. Kurang panas ga??


Kalo kurang panas, berendam aja di air mendidih.. Sensi jamin, kulit wakk wakk sekalian pasti melepuh saat itu juga..


Ok maap.. Bercanda..


Skipp...


Eh, tapi ya wakk.. Sensi kasih tau meskipun sebenarnya hal ini bener-bener ga penting..


Sensi ngetiknya sambil gigit selimut, haha..


Udahlah ya, segitu aja..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2