
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Mari kita lupakan Ben dan beralih kembali pada Javer..
Setelah Marco berhasil Memapah Javer menuju kamar milik Javer itu sendiri. Marco lantas segera menekan bel kamar.
Dan tidak harus menunggu lama, Teya pun akhirnya membukakan pintu kamar itu.
Melihat keadaan Javer yang begitu berantakan, lantas membuat Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa kekhawatiran.
"Apa yang terjadi?" Gadis itu bertanya dengan sangat khawatir.
"Ceritanya terlalu panjang, nona.. Sebaiknya nona segera membawa tuan masuk ke dalam.." Sahut Marco cepat.
"A, ah ya.. Ya.. Berikan padaku, aku akan membawanya masuk.."
Teya lalu hendak menarik Javer untuk masuk ke dalam.
Namun, Javer yang kini mulai memiliki kesadaran penuh pun segera menepis tangan Teya yang hendak memegang tangannya. Karena meskipun Javer hampir tersadar sepenuhnya, Javer masih mengalami efek dari Afrodisiak yang sebelumnya dia minum.
Javer tidak ingin kehilangan akal kalau dia sampai bersentuhan dengan Teya. Oleh sebab itu, Javer memilih untuk tidak menerima bantuan dari Teya.
Teya yang mendapatkan penolakan dari Javer pun seketika menatap pria itu dengan alis yang menukik tajam.
"Kau!! Apa yang sebenarnya terjadi??" Teya bertanya dengan sedikit sinis.
Namun, Javer mengabaikan Teya. Pria itu lebih memilih masuk ke dalam dengan usahanya sendiri meskipun langkah kakinya masih sedikit terhuyung-huyung.
Teya yang melihat hal itu pun hanya bisa mengernyitkan dahinya karena merasa heran. Gadis itu lantas menoleh pada Marco.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa melakukan apa pun kalau aku tidak tau apa-apa." Kata gadis itu kemudian.
"Khem.. Begini nona.." Marco menatap Teya dengan sedikit ragu. "Sebenarnya, tuan melarang saya untuk tidak mengatakan apa pun pada nona.. Tapi, mengingat Tuan akan mengalami efek samping yang buruk jika saya tidak memberi tahu nona, saya akan mengatakan yang sebenernya pada nona.." Tutur Marco.
Karena ya, di saat mereka tengah melangkah menuju kamar Javer. Javer melarang Marco untuk memberi tahu Teya apa yang sebenarnya Javer alami karena Javer tidak ingin menyakiti gadis itu.
"Tidak usah bertele-tele.. Cukup katakan saja apa yang sebenarnya terjadi!!" Teya terlihat sedikit tidak sabar.
"Seseorang memberikan Tuan minuman yang di campuri Afrodisiak dengan dosis yang sangat tinggi." Marco berkata cepat.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Marco, seketika membuat Teya mengerjapkan matanya.
"Afrodisiak?? Dosis tinggi??" Gadis itu menatap Marco dengan sedikit tidak percaya.
Marco menganggukkan kepalanya, meyakinkan Teya tentang apa yang baru saja dia katakan.
__ADS_1
"Lalu, siapa yang memberikan minuman itu padanya? Dan, kenapa dia bisa basah kuyup seperti itu?"
Marco lantas mengusap tengkuknya canggung. "Ah, begini Nona.. Akan terlalu panjang jika saya jelaskan saat ini.. Saya akan menjelaskannya di lain hari.."
"Ah, ya.. Baiklah.. Kalau begitu kau boleh pergi.." Ucap Teya kemudian kembali masuk ke dalam.
Namun, sebelum gadis itu menutup pintu, Marco segera menahan pintu itu agar tidak tertutup.
Melihat apa yang di lakukan Marco, lantas membuat Teya kembali membuka pintu itu.
"Apa masih ada yang ingin kau katakan?" Tanya Teya.
"Bolehkah saya meminta suatu hal yang sedikit lancang kepada nona?" Marco bertanya dengan sedikit ragu.
Mendengar apa yang di katakan oleh Marco, seketika membuat Teya menatap Marco dengan menaikkan sebelah alisnya. Namun, dia tetap ingin tau apa yang akan di minta oleh Marco.
"Katakan." kata Teya kemudian.
"Bisa kah nona membantu Tuan agar Tuan tidak mengalami efek samping dari Afrodisiak yang dia minum? Saya benar-benar khawatir kepadanya karena Afrodisiak yang dia minum benar-benar memiliki dosis yang sangat tinggi." Marco berkata dengan sangat tidak enak hati.
Namun, Teya yang mendengar hal itu justru menyunggingkan senyum tipisnya. Karena Teya sungguh tidak menyangka jika permintaan yang Marco sebut sebagai permintaan yang sedikit lancang itu adalah untuk hal ini.
Ya, meskipun hal ini memanglah sedikit lancang. Namun Teya bisa memakluminya, karena Teya juga mengerti tentang efek samping seperti apa yang akan di alami oleh Javer jika hasrat pria itu tidak tersalurkan.
Karena ya, meskipun Teya belum pernah mengalaminya sendiri. Namun Teya cukup tahu banyak tentang fungsi dan efek samping dari beberapa jenis obat-obatan. Terutama tentang obat yang di namai dengan Afrodisiak itu.
Berterima kasihlah pada Rion yang selalu menyuruhnya untuk belajar tentang obat-obatan. Hingga Teya kini tidak terlalu bingung dalam menghadapi Javer yang telah meminum obat yang di namai dengan Afrodisiak itu.
Yang mana, hal itu justru membuat Marco semakin merasa tidak enak hati. "Sekali lagi, maafkan saja nona.." Pria itu sedikit menundukkan kepalanya.
"Tak apa, aku mengerti kekhawatiranmu.."
"Kalu begitu, saya permisi dulu dan sekali lagi, maaf atas kelancangan saya.."
Teya kembali tersenyum kecil. "Jangan meminta maaf lagi.. Aku sudah memafkanmu.."
"Terima kasih nona.." Ucap Marci cepat kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Setelah mengunci pintu, Teya pun segera masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Javer.
Namun, saat membuka pintu kamar, Teya sama sekali tidak melihat keberadaan Javer.
Teya lantas mendekati kamar mandi karena itu adalah satu-satunya ruangan yang bisa Javer pakai untuk meredakan hawa panas yang sedang di alaminya.
Dan ya, benar saja.. Ketika Teya menempelkan telinga kirinyanya pada daun pintu, Teya bisa mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi pertanda bahwa Javer tengah berada di dalam sana.
Teya lalu kembali menegakkan tubuhnya kemudian mengetuk pintu kamar mandi itu.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Javer?" Teya mencoba untuk memanggil Javer.
Namun, Javer tidak memberikan sahutan apa pun.
Teya kembali mencoba untuk mengetuk pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Javeeeeerr??" Gadis itu memanggil Javer dengan suara yang sangat lembut.
Setelah mencoba untuk yang ke 4 kalinya, Teya pun akhirnya mendapatkan sahutan dari Javer.
(Tidurlah.. Tinggalkan aku sendiri..) Suara Javer terdengar sangat serak.
Teya yang mendengar hal itu seketika meneguk ludahnya dengan sangat kasar. Karena sungguh, hanya dengan mendengar suaranya saja benar-benar mampu membuat Teya membayangkan hal yang tidak-tidak.
Namun, Teya segera mengendalikan pemikirannya itu.
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu kalau kau saja sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja!" Teya terdengar sedikit kesal.
(Aku bisa mengatasinya sendiri.) Sahut Javer cepat.
"Apa kau tidak membutuhkan bantuanku?"
(Aku sudah bilang kalau aku bisa mengatasinya sendiri!!) Javer terdengar membentak Teya.
Namun, Teya tetaplah Teya yang tidak akan takut hanya dengan sebuah bentakan.
Tanpa berkata apa pun lagi, gadis itu pun memilih untuk membuka pintu kamar mandi itu secara perlahan seraya berharap kalau Javer tidak menguncinya.
Dan ya..
'CKLEK'
Sesuai dengan apa yang di harapkannya, Javer tidak megunci pintu itu sehingga Teya bisa membuka pintu itu dengan sangat mudah.
.....
Hoooo.. Apakah yang akan terjadi selanjutnya???
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..