Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Mencurigakan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Masih di hari yang sama..


Terlihat Javer yang kini tengah berkutat dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja kerjanya dengan sangat fokus. Namun, pria itu menghentikan fokusnya untuk sejenak tat kala mendengar seseorang membuka pintu ruang kerjanya dengan sedikit kasar.


"Ada apa?" Javer bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja kerjanya itu.


Karena, tanpa harus melihat pun Javer sudah sangat tau jika orang yang membuka pintu ruang kerjanya adalah Marco.


"Tuan, apa tuan yakin akan melepaskan home fashion yang ada di kota B? Tempat itu merupakan salah satu anak cabang perusahaan yang selalu menghasilkan keuntungan yang sangat tinggi." Marco langsung mengatakan apa yang menjadi tujuannya menemui Javer.


Karena sungguh, Marco sedikit terkejut tat kala dia melihat tugasnya yang harus mengurus pengalihan kekuasaan atas gedung penjualan baju milik Javer yang ada di kota B.


Bukan karena Marco tidak ingin mengurusnya, hanya saja, Marco tau betul bagaimana kerasnya usaha Javer dalam mengambil alih kekuasaan atas perusahaan itu. Terlebih lagi, perusahaan itu dulunya merupakan perusahaan milik salah satu musuh Athena.


Dan ya, kalian juga harus tau, meskipun Javer merupakan seseorang yang memiliki kuasa tinggi, itu bukan berarti Javer bisa mendapatkan segalanya dengan sangat mudah. Terkadang, pria yang menjadi tuannya itu harus sedikit mengalami kesulitan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.


Termasuk untuk mendapatkan hak kuasa atas gedung penjualan fashion yang kini akan Javer lepaskan untuk seseorang. Oleh sebab itu, Marco yang sangat mengetahui proses pengambilan hak milik atas gedung itu pun merasa sedikit terkejut karena Javer tiba-tiba akan melepaskan gedung itu dengan sangat mudah.


"Tuan?" Marco kembali berucap tat kala Javer tidak segera menanggapi perkataannya.


Javer lantas menoleh pada Marco yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. "Apa lagi yang bisa ku lakukan selain melepaskannya?"


Marco sedikit mengernyitkan dahinya tat kala melihat seulas senyum tipis yang terukir di bibir Javer. "Apa tuan memiliki rencana?"


Javer menatap Marco dengan menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja setelah semua usahaku dalam mendapatkan hak milik atas gedung perusahaan itu?"


Marco kini semakin di buat mengernyitkan dahinya. "Lalu?"


Javer pun hanya menyunggingkan senyum simpulnya kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada lembaran-lembaran kertas yang ada di atas meja kerjanya.


.....


Di sisi lain..


Tok.. Tok.. Tok..


Terlihat Fabio yang mengetuk ruang kerja Horis.


Lalu, terdengar lah sahutan Horis dari dalam sana.

__ADS_1


"Masuk.."


Fabio pun membuka pintu itu kemudian masuk ke dalam dengan raut wajah yang sedikit suram. Setelah masuk ke dalam ruang kerja Horis, Fabio lantas duduk di sofa yang terletak cukup jauh dari meja kerja Horis.


Horis yang melihat hal itu pun seketika mengernyitkan dahinya. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di benakmu? Raut wajahmu tampak tidak terlalu bersahabat." Pria berkata seraya beranjak dari duduknya untuk menghampiri Fabio.


Namun, Fabio tidak segera menanggapi perkataan Horis. Pria itu hanya menatap Horis dengan tatapan yang sulit di artikan.


Horis yang mendapat tatapan seperti itu pun menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau menatap papah seperti itu?"


Fabio seketika menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja.. Apa papah yakin kalau dia benar-benar akan menandatangani kesepakatan pengalihan kepemilikan anak cabang perusahaan itu?"


Horis tiba-tiba saja terkekeh kecil. "Jadi kau mencemaskan hal itu?"


Fabio lantas merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Pria itu menghela nafasnya kemudian berkata. "Aku tidak cemas, hanya saja.. Bukan kah sedikit mencurigakan jika dia melepaskan perusahaan itu dengan tanpa adanya perlawanan atau pun sanggahan? Terlebih lagi, dari informasi yang kita dapatkan, dia membutuhkan banyak usaha untuk mendapatkan gedung perusahaan itu."


"Kau pikir dia melepaskan gedung perusahaan itu secara cuma-cuma?"


"Hmm.." Fabio menganggukkan kepalanya. "Dari apa yang aku ketahui, bukan kah dia melepaskan gedung perusahaan itu secara cuma-cuma?"


Horis lantas menghela nafasnya kemudian beranjak dari sofa. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya kemudian mengambil sebuah maf coklat yang ada di dalam laci meja kerjanya.


Horis terlihat sedikit menimang map coklat yang ada di tangannya itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menghampiri Fabio.


"Apa ini?" Fabio bertanya seraya membuka map itu.


"Baca saja dengan seksama."


Fabio pun membaca berkas yang ada di dalam map itu dengan teliti. Awalnya, dia terlihat biasa saja. Namun, saat dia membaca lembar ke 3, ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah karena merasa sedikit tidak percaya.


"Apa dia bercanda?" Fabio bertanya seraya menatap Horis dengan di penuhi rasa tidak percayanya.


Horis mengedikkan bahu kanannya. "Seperti yang kau lihat, dia tidak mungkin melepaskan gedung perusahaan itu secara cuma-cuma."


"Bukan kah ini sama saja seperti aku tidak memiliki kuasa atas gedung perusahaan itu?"


"Tidak, kau tetap memiliki kuasa atas gedung perusahaan itu."


"Tapi di sini dia hanya bersedia menjual 50% sahamnya pah.." Fabio berkata seraya meletakkan lembaran-lembaran berkas itu ke atas meja dengan sedikit kasar.


Horis lantas menatap Fabio dengan sedikit tajam. "Maka rebutlah 50% saham sisanya. Buktikan kalau kau mampu menjadi pemegang utama gedung perusahaan itu tanpa ada campur tangan dari papah."


Fabio seketika menatap Horis dengan menaikkan sebelah alisnya. "Jadi papah sedang menguji kemampuanku?"


"Ya, buktikan kalau apa yang papah ajarkan selama ini kepadamu tidak sia-sia. Gunakan akal dan otakmu untuk mendapatkan apa yang kau mau. Cukup sudah selama ini kau bernaung di bawah nama papah. Sekarang waktunya untuk membuktikan kalau kau mampu berdiri sendiri." Horis menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Ingat Fabio, papah tidak akan bisa selamanya berada di garda terdepan untuk melindungi dirimu. Jadi, gunakanlah kemampuanmu untuk berdiri dengan kakimu sendiri."

__ADS_1


Mendengar penuturan Horis yang sedikit menyentil hatinya, seketika membuat Fabio menundukkan kepalanya. Karena ya, selama ini, dia selalu berada di bawah perlindungan Horis. Namun, apa lagi yang bisa dia lakukan selain berlindung di bawah nama Horis.


Karena untuk mencapai tujuannya, bukan kah harus ada tameng untuk melindungi nyawanya? Tapi, meskipun begitu, ada sedikit rasa sesak di dadanya saat mendengar perkataan Horis yang seakan membahas tentang kematian.


Bukan karena merasa kecewa kalau nantinya Horis tidak bisa melindunginya. Hanya saja, selama Fabio menjadi anak angkat Horis, Horis selalu merawat Fabio dengan penuh kasih sayang. Jadi, ada sedikit rasa takut akan kehilangan ketika Horis mengatakan hal itu.


Setelah menghela nafasnya, Fabio pun menatap Horis dengan penuh keyakinan. "Aku akan membuktikan kemampuanku."


Horis pun mengembangkan senyumnya. "Buktikanlah kalau kau memang anakku."


"Ya, aku akan membuktikannya." Fabio lantas beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi dari sana.


Namun, saat Fabio membuka pintu, Horis tiba-tiba saja memanggilnya.


"Fabio..."


Fabio pun menoleh pada Horis. "Ya pah?"


"Bisa kah kau berjanji satu hal kepada papah?"


"Ya."


"Jangan pernah menyembunyikan apa pun dari papah."


Fabio yang mendengar hal itu pun seketika merasa sedikit tegang, apa kah Horis mengetahui tujuannya yang sebenarnya? Namun, Fabio segera menormalkan ekspresinya.


Fabio lantas tersenyum pada Horis. "Ya, aku berjanji."


Horis menganggukkan kepalanya. "Baklah, kau boleh pergi."


Lalu, Fabio pun benar-benar berlalu pergi dari sana. Dengan tangan kanannya yang terangkat untuk melonggarkan dasi yang tiba-tiba saja terasa mencekik lehernya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2