Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya..


"Landsley, urus beberapa hal terlebih dahulu. Setelahnya, antarkan dia ke ruanganku." Pria itu kemudian menggenggam tangan kiri Teya kemudian berlalu pergi dari sana.


Meskipun Javer berkata dengan suara datarnya. Tapi tetap saja, hal itu membuat Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa curiga.


Sedangkan Flow, dia yang mendapatkan respon seperti itu pun kini semakin terlihat percaya diri.


.....


Saat pintu lift tertutup, Teya lantas menoleh pada Javer. "Siapa gadis itu?" Gadis itu bertanya seraya menilisik Javer dengan tatapan penuh rasa curiga.


Melihat tatapan Teya yang seperti itu, seketika membuat Javer menaikkan sebelah alisnya. "Bukan kah kau sudah mengetahuinya?"


"I know, but.. Untuk apa dia datang kemari?"


"Tanda tangan kontrak, apa lagi?" Javer menyahut dengan acuh tak acuh.


"Bukan kah seharusnya dia menandatangani kontrak di gedung agency? Kenapa harus di sini? Kau menyembunyikan sesuatu dari ku?"


Mendengar pertanyaan beruntun yang di lontarkan oleh anTeya, lantas membuat Javer terkekeh geli.


"Ck, apa yang kau tertawakan?" Teya bertanya dengan sedikit ketus.


Javer menatap Teya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Apa sekarang kau sedang mencurigai tunanganmu?"


Teya mengangguk tanpa ragu.


Yang mana, hal itu justru membuat Javer lagi-lagi terkekeh geli.


"Ish.. Aku serius Javer!!" Teya mencubit lengan kanan Javer dengan sangat gemas.


"Ssshh.." Javer meringis kecil. "Babby, kau menyakitiku." Pria itu berkata seraya mengusap-ngusap lengannya yang sebelumnya di cubit oleh Teya.


Teya yang melihat hal itu pun hanya bisa memutar bola matanya malas. Oh ayolah, Teya sangat tau jika lengan berotot Javer tidak akan tersakiti hanya dengan cubitan gemas Teya.


Lalu 'Ting', pintu lift pun terbuka.


Javer dan Teya pun keluar dari lift kemudian melangkah menuju ruang kerja Javer dengan tangan kiri Teya yang kembali di genggam oleh Javer.


"Javer, kau belum menjawab pertanyaan ku?" Teya bertanya seraya sedikit menundukkan kepalanya, membalas sapaan sekertaris pribadi Javer yang juga menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tuan, surat kontrak yang anda minta sudah saya letakkan di atas meja." Ujar sekertaris itu seraya membukakan pintu untuk Javer dan juga Teya.


Javer pun hanya menganggukkan kepalanya sekilas.


"Pertanyaan yang mana, babby?" Javer bertanya seraya menuntun gadis itu menuju sofa.


"Ya pertanyaan yang aku pertanyakan."


Teya melepaskan tangan kirinya dari genggaman Javer kemudian duduk di atas sofa.


"Coba kau ingat lagi, babby. Kau tidak hanya mengajukan satu pertanyaan kepadaku."


Javer berkata seraya melangkah ke meja kerjanya. Pria itu meraih map coklat berisi kontrak kerja yang sebelumnya sudah di siapkan oleh sekertaris pribadinya. Javer lalu kembali menghampiri Teya, pria itu pun duduk di samping kanan Teya seraya meletakkan map itu di atas meja.


Teya lantas sedikit memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Javer. "Tentang gadis itu."


"Flow?"


Teya mengangguk dengan cepat.


"Model."


Teya seketika memutar bola matanya malas. "Bukan itu maksudku." Gadis itu berkata dengan gigi yang terkatup rapat.


Kini Teya benar-benar merasa sangat gemas dengan tingkah Javer yang seakan menutupi sesuatu darinya.


Menyadari lirikan mata Javer, Teya pun menoleh ke arah pintu. Gadis itu mendengus dengan sedikit kesal tat kala Flow masuk ke dalam ruangan Javer.


Saat Flow berjalan ke arahnya, Teya segera beranjak dari duduknya.


"Babby, kau mau kemana?" Javer bertanya seraya menahan tangan kanan Teya.


"Membersihkan diri, tubuhku terlalu lengket." Sahut Teya cepat.


"Ok." Javer pun melepaskan tangan Teya.


Teya pun segera berlalu menuju kamar pribadi Javer yang ada di ruang kerja pria itu seraya melirik sinis pada Flow yang sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan Javer.


"Bacalah terlebih dahulu." Javer berkata kemudian mengedikkan dagunya pada map coklat yang ada di atas meja.


Flow lantas meraih map coklat itu, dia mengeluarkan kertas yang ada di dalam map itu kemudian mulai membaca setiap baris kalimat yang tertera di atas lembaran kertas yang tengah dia pegang.


Javer pun menunggu Flow menyelesaikan membaca kontraknya dengan memainkan ponsel pintarnya.


"Tuan, bisa kah saya mengajukan satu permintaan?" Flow bertanya setelah selesai membaca isi kontrak itu.


Javer lantas meletakkan ponselnya kemudian menatap Flow dengan tatapan datarnya. "Katakan."

__ADS_1


Namun, alih-alih mengatakan keinginannya, Flow hanya menatap Javer dengan tatapan malu-malunya. Karena sungguh, Flow begitu mengagumi ketampanan Javer. Flow benar-benar terpesona pada kharisma Javer sejak awal mereka bertemu.


Terlebih lagi, yang Flow ketahui, Javer masih lah seorang pria lajang yang siapapun punya kesempatan untuk mendapatkan pria no.1 se daratan Eropa itu.


Dan ya, kalian sudah tau pasti, salah satu alasan Flow setuju untuk bergabung dengan agency milik Javer adalah selain karena bayarannya yang sangat tinggi. Flow juga ingin mencoba peruntungannya untuk mendekati pria itu. Terlebih lagi dengan Javer yang langsung menjadikannya sebagai model utama, semakin membuat Flow merasa sangat percaya diri untuk mendapatkan pria itu.


"Khem." Javer berdehem kecil tat kala Flow tak kunjung mengutarakan keinginannya.


Flow yang mendengar hal itu seketika menjadi salah tingkah. Dia sedikit membenarkan posisi duduknya sebelum akhirnya berkata. "Saya ingin apartment yang terpisah dari para model yang lainnya." Flow meminta tanpa ragu.


Karena ketahuilah, semua model kontrak yang ada di bawah naungan Javer. Akan secara khusus tinggal di apartment yang sudah di sediakan oleh agency milik Javer. Tapi, Flow ingin mencoba peruntungannya dengan meminta apartment yang terpisah dari para model yang lainnya.


Karena selain Flow ingin merasa di istimewakan, Flow juga ingin sedikit lebih terbebas dari pengawasan para petugas keamanan. Meskipun Flow sedikit sanksi akan hal itu, tapi setidaknya Flow yakin. Pengawasan yang di berikan kepada Flow tidak akan se ketat pengawasan yang ada di apartment para model yang lainnya.


Setelah berpikir untuk beberapa saat, Javer pun berkata. "Kau bisa mendapatkannya."


Mendapatkan persetujuan dari Javer, seketika membuat Flow mengembangkan senyum manisnya. Dia merasa sedikit besar kepala karena Javer dengan mudah menuruti permintaannya.


"Terima kasih, tuan. Sekarang saya yakin, rumor tentang Tuan yang sangat kejam tidaklah benar." Flow berkata dengan gayanya yang sedikit centil.


Hingga ketika Javer hendak menyahuti perkataan Flow, pria itu harus menelan kalimatnya tat kala Teya muncul dari balik pintu kamar pribadi miliknya.


Flow yang melihat Teya dengan pakaian berbeda pun hanya bisa mendengus kecil. Flow merasa sedikit bingung, apa istimewanya gadis itu sehingga bisa berada di sisi Javer. Karena jika di lihat dari segi fisik, Flow jauh lebih unggul jika di bandingkan dengan Teya.


Flow yang tiba-tiba saja merasa emosi pun hanya bisa menghela nafas seraya menyelipkan helaian rambutnya pada telinga kirinya. Dia berusaha untuk tetap menjaga imagenya di depan Javer.


Sedangkan Javer, pria itu terlihat menampilkan senyum simpulnya.


"Kau sudah selesai?" Tanya Javer kemudian.


Teya pun menganggukkan kepalanya seraya melangkah mendekat ke arah Javer. Teya kemudian duduk di samping Javer tanpa menghiraukan keberadaan Flow.


"Flow, kau bisa memanggil gadis yang di sampingku dengan nama Teya. Dia tunanganku, orang yang akan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan yang akan kau lakukan." Tutur Javer dengan acuh tak acuh.


Yang mana, hal itu seketika membuat Flow dan Teya menatap Javer dengan di penuhi rasa terkejut.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2