
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Mari kita Flashback ke beberapa saat sebelum Flow masuk ke kamar nomor 245...
(Lakukan apa pun agar kau bisa membawanya dari sana secepat mungkin. Seseorang sedang menuju ke kamar itu.) Kheil mengatakan hal itu dengan suara yang terdengar sangat panik.
Karena ya, Kheil yang tengah berada di ruang CCTV itu melihat Flow yang kini mulai melangkah menuju kamar no 245. Kamar yang saat ini ada Marco yang masih terus berusaha untuk menyadarkan Javer.
Tepat setelah Kheil mengatakan hal itu, Marco seketika menghela nafasnya dengan sedikit lega karena Javer sudah mendapatkan kesadarannya.
"Dia sadar.." Marco berkata cepat kemudian membantu Javer untuk duduk.
(Segera bawa dia pergi dari sana!) Kheil kini terdengar semakin panik.
"Tuan? Apa tuan baik-baik saja?" Marco bertanya pada Javer yang tengah memegangi kepalanya.
Mengenali suara yang baru saja bertanya padanya, lantas membuat Javer menatap Marco. Meskipun penglihatan Javer masih sedikit samar, namun Javer tetap dapat memastikan kalau pria itu adalah Marco.
Sebab, saat ini dia sudah mendapatkan sedikit kesadarannya. Jadi, dia bisa mengenali orang yang kini tengah bersamanya dengan pasti.
"Marco?" Javer mencoba untuk meyakinkan diri kalau orang yang saat ini berada di sampingnya benar-benar Marco.
"Ya tuan?" Sahut Marco cepat.
Mengetahui kalau dia benar-benar Marco, Javer pun menghela nafasnya dengan lega.
"Di mana aku?" Tanya Javer kemudian.
"Saya akan menjelaskannya nanti, sebaiknya kita segera pergi dari sini."
"Bukan kah ini kamarku?" Javer bertanya dengan sedikit bingung.
Karena meskipun dia sudah mendapatkan sedikit kesadarannya, mamun Javer saat ini tetap masih berada dalam setengah ilusinya.
"Tidak, bukan.. Ini bukan kamar milik Tuan.. Apa kah Tuan bisa berdiri? Kita tidak memiliki waktu yang banyak. Kita benar-benar harus pergi dari kamar ini saat ini juga."
Meskipun masih merasa sedikit bingung, namun Javer tetap menuruti apa yang di katakan oleh Marco. Pria itu segera berdiri dengan Marco yang membantunya.
Mereka lantas segera berlalu dari sana dengan Marco yang memapah Javer.
Namun, saat mereka berada di ambang pintu kamar mandi, Marco menghentikan langkah mereka untuk sejenak.
"Bisa kah tuan menunggu saya sebentar saja? Ada satu hal yang perlu saya lakukan."
__ADS_1
"Lakukanlah.." Sahut Javer cepat.
Setelah memastikan kalau Javer bisa berdiri dengan tegak, Marco pun masuk kembali ke dalam kamar mandi kemudian mendekati cermin besar yang ada di sana.
Marco lalu mengeluarkan spidol dari dalam saku jas yang dia kenakan yang memang selalu dia bawa. Pria itu lantas menuliskan seuatu di atas cermin itu dengan sangat cepat.
Yang mana sudah kita ketahui kalimat apa yang di tuliskan Marco pada cermin itu.
Setelah selesai dengan hal yang menjadi tujuannya, Marco pun kembali menghampiri Javer.
Mereka lalu benar-benar berlalu pergi dari sana.
Dan ya, tepat sesaat sebelum Flow berbelok ke lorong yang menuju kamar no 245. Marco dan Javer sudah lebih dulu berbelok ke lorong yang menuju kamar milik Javer. Kamar yang saat ini tengah Teya tempati.
Kheil yang melihat hal itu dari layar CCTV pun menghela nafasnya dengan sangat lega karena telah berhasil menyelamatkan Javer dari rencana yang di buat oleh Flow.
Kheil lantas memutuskan untuk beranjak dari sana, sebelum dia pergi dari ruang CCTV, Kheil menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan tajam.
Mereka yang ada di sana pun hanya bisa menundukkan kepalanya, mereka benar-benar tidak berani untuk mengangkat kepala mereka karena mereka menyadari kesalahan yang mereka perbuat.
"Untuk kalian semua, besok tepat pukul 9 pagi, segera temui aku di ruang kendali utama!" Titah Kheil yang notabenenya merupakan penanggung jawab sistem keamanan dari setiap usaha milik Javer.
"Baik, Tuan." Mereka menjawab cepat secara bersamaan.
Lalu, Kheil pun benar-benar berlalu pergi dari sana.
"Kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Ben bertanya pada Mia yang baru saja keluar dari kamar Flow.
(Ya, sejauh ini semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Tapi, setelah ini, aku tidak tau akan kah masih berjalan sesuai dengan yang di rencanakan, atau justru akan berakhir dengan kegagalan.) Mia menyahut dengan suara yang terdengar sedikit kesal.
Yang mana, hal itu membuat Ben mengernyitkan dahinya. "Why? Ada apa dengan nada suaramu? Kenapa kau terdengar kesal?"
(Oh, ayolah Ben.. Jangan bertanya seolah kau tidak tahu apa-apa!!)
Ben seketika terkekeh geli, pria itu lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia lalu sedikit memundurkan kursinya dengan tujuan untuk meluruskan kedua kakinya dengan menaikkan kedua kakinya ke atas meja komputernya.
"Haaah.." Pria itu menghela nafasnya kemudian berkata. "Bukan kah sudah ku katakan.. Kau harus sabar dalam menghadapi gadis itu.."
(Tcih!! Jika aku sudah tidak sabar, aku sudah mencincangnya dan menjadikannya makanan untuk peliharaan tuan Fabio!)
Ben lagi-lagi terkekeh geli, pria itu menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit ruangan komputernya.
"Baiklah-baiklah.. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa gadis itu kembali melakukan hal yang keluar dari jalur yang sudah kita tentukan?" Pria itu mencoba untuk tidak menggoda Mia.
(Jika bukan hal itu? Lalu, apa lagi yang bisa di lakukan gadis itu? Gadis itu benar-benar terlalu sulit untuk di atur!)
"Sudahlah, biarkan saja.. Biarkan dia menanggung akibat dari apa yang di sebabkan olehnya sendiri. Yang terpenting kita sudah melakukan tugas kita dengan baik."
__ADS_1
(Hmm.. Lagi pula, aku juga sudah tidak lagi memperdulikannya..)
Ben pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baguslah.. Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
(Apa lagi yang bisa ku lakukan selain kembali ke markas? Lagi pula, Tuan Fabio juga hanya memerintahkanku untuk melakukan hal ini.)
(Ah ya, berbicara tentang Tuan Fabio, apa kau sudah mendapatkan kabar darinya?)
"Entahlah.. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya semenjak dia meninggalkan Hotel.. Biarkan saja, mungkin dia merasa sedikit kecewa atas kekalahannya mengenai perusahaan itu.."
Ben memang benar-benar tidak tahu kalau Fabio kini sedang mengalami kesulitan. Karena beberapa saat sebelum pengumuman hasil akhir, Fabio sempat mematikan komunikasi antara dia dan Ben. Jadi, Ben tidak tahu kalau Fabio mendapatkan kabar buruk dari Fier.
(Hmm.. Baiklah.. Kalau begitu aku akan bersiap untuk kembali ke markas.)
Setelahnya, Ben pun memejamkan matanya untuk sejenak guna mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah akibat bekerja semalam suntuk.
Hingga tak terasa, 40 menit pun berlalu begitu cepat. Ben yang memang masih memiliki tugas pun akhirnya kembali membuka matanya.
Pria itu lantas beranjak dari kursinya kemudian melangkah menuju lemari pendingin. Pria itu lalu mengambil sebotol wishky yang ada di sana.
Namun, ketika Ben hendak meneguk wishky itu. Dia harus meletakkan botol itu kembali ke dalam kulkas, karena komputernya saat ini memunculkan peringatan kalau sambungannya dengan komputer utama yang ada di hotel di putus secara paksa.
"Oh, shiii...T!! Ada apa ini!!"
Ben mencoba untuk menyambungkan kembali komputernya dengan komputer yang ada di hotel.
Namun, usahanya tetap sia-sia karena alat peretasnya di hancurkan.
Ben lantas mencoba untuk menghubungi Mia guna memberikan peringatan pada gadis itu kalau mereka telah diketahui.
Namun sayangnya, Mia sama sekali tidak bisa di hubungi.
Ben pun akhirnya memilih untuk pergi ke hotel guna memastikan keadaan Mia.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1