
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Setibanya di rumah, Javer tidak segera masuk ke dalam kamarnya. Pria itu lebih memilih untuk menghampiri Kheil terlebih dahulu.
"Aku mendapatkan lokasi mereka." Javer berkata seraya meletakkan apa yang tadi di berikan oleh kakek tua Robert ke atas meja.
Kheil lantas menoleh pada Javer. "Jadi dugaan kita tentang adik perempuannya itu benar?"
Javer menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apa mereka mengetahui sesuatu?" Kheil bertanya seraya mencermati denah yang di berikan Javer.
"Tidak, mereka menghilang tanpa mengatakan apa pun pada kakek tua itu."
"Tapi, apa kau yakin mereka ada di rumah ini?"
"Entahlah, tidak ada salahnya mencoba.."
Kheil pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah.. Kapan kita akan mendatangi rumah ini?"
"Setelah Enzo memahami denahnya."
Ya, Jika dalam urusan jalur dan strategi, Enzo adalah satu-satunya orang yang menjadi pilihan terbaik.
"Okay.. Besok aku akan membahasnya bersama Enzo dan Liam.."
"Bahas hal itu malam ini juga.."
Kheil yang mendengar hal itu pun seketika menatap Javer dengan melongo tak percaya. Tidak tahukah Javer, jika dirinya kini benar-benar merasa sangat lelah. Bukan hanya lelah karena telah mencari berbagai data, tapi juga karena dirinya yang tidak mendapatkan tidur yang layak.
Sungguh, ingin sekali rasanya Kheil membunuh Javer saat ini juga..
Javer yang melihat hal itu pun menatap Kheil seraya menaikkan sebelah alisnya. "Kau merasa keberatan?"
Kheil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tertawa dengan tanpa minta. "Haha.. Tidak, aku tidak merasa keberatan sama sekali.. Kalau begitu, aku akan menghubungi mereka untuk datang kemari." Pria itu berkata seraya meraih ponselnya.
Namun, Kheil meletakkan kembali ponselnya tat kala Javer berkata.
"Pergilah untuk membahas hal itu di markas."
Kheil yang mendengar hal itu pun seketika menatap Javer seraya menaikkan sebelah alisnya. "Kau mengusirku??"
Javer pun hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.
"Jadi kau benar-benar mengusirku?" Kheil kembali bertanya dengan di penuhi rasa tidak percayanya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kheil, Javer memilih untuk beranjak dari duduknya kemudian segera berlalu pergi dari sana.
Mengabaikan Kheil yang kini tengah menatapnya dengan di penuhi rasa tidak percaya seraya bergumam dengan sangat dramatis. "Jadi dia membuangku setelah tidak membutuhkanku lagi??"
.....
Setelah masuk ke dalam kamar, Javer segera membersihkan tubuhnya guna menghilangkan rasa penat yang di rasakannya. Setelahnya, pria itu lamtas naik ke atas kasur kemudian memeluk Teya yang kini tengah memunggunginya.
__ADS_1
"Enghh.."
Teya yang merasakan pergerakan itu pun sedikit melenguh kemudian menghela nafasnya guna mencium aroma menenangkan yang menguar dari tubuh Javer.
"Kau baru pulang?" Gadis itu bertanya tanpa membuka matanya.
"Hmm.. Apa aku mengganggu tidurmu?"
Teya menggelengkan kepalanya lalu membalikan tubuhnya untuk membalas pelukan Javer.
"Apa kau lelah?" Gadis itu bertanya seraya mengusakkan wajahnya pada dada bidang Javer.
"Rasa lelah ku hilang setelah memelukmu." Ucap Javer kemudian mengecup puncuk kepala Teya dengan sayang.
Teya yang mendengar hal itu pun seketika mengulum senyumnya. "Apa kau kini berubah menjadi perayu ulung?"
"Tidakkah kau menyukainya? Aku sudah sangat berusaha untuk merayumu." Javer berkata kemudian terkekeh geli.
Mendengar apa yang di katakan Javer, seketika membuat Teya ikut terkekeh geli. "Baiklah, baiklah.. Aku menghargai usahamu.."
"Tcih.." Javer pun hanya menanggapinya dengan berdecih kecil.
"Pukul berapa sekarang?" Teya bertanya kemudian.
Javer melirik jam yang terpasang di dinding kemudian berkata. "11 malam. You need something, babby?"
Teya menggelengkan kepalanya. "Apa kau akan tidur sekarang?"
"Tidak, aku ingin memelukmu untuk beberapa saat.." Javer menjawab seraya mengelus kepala Teya dengan lembut.
Mendengar hal itu, Teya lantas mengeratkan pelukannya pada Javer.
"Aku hanya mencoba untuk menyalurkan kehangatan untuk calon suamiku.."
Javer lantas menaikkan sebelah alisnya. "Jadi, sekarang kau sudah mengakui jika aku adalah calon suami mu?"
Teya mengulum senyumnya kemudian menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
Yang mana, hal itu seketika membuat Javer terkekeh geli lalu mengusak kepala Teya dengan gemas.
Setelah melewati keheningan untuk beberapa saat, Teya mencoba untuk kembali membuka obrolan.
"Javer.." Ucap Teya.
"Hmmm?"
"Bolehkan aku menanyakan satu hal kepadamu?"
"Sure.."
"Apa yang membuatmu ingin memilikiku?"
Mendengar pertanyaan Teya yang sedikit tak terduga, seketika membuat Javer mengerutkan keningnya. "Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Ck, jawab saja pertanyaanku.."
Javer lantas menghela nafasnya sejenak lalu berkata. "Tidak ada alasan khusus.. Aku hanya ingin memilikimu karena kau mampu menggetarkan hatiku.."
__ADS_1
"Hanya itu??"
"Hmmm.." Javer menganggukkan kepalanya. "Apa lagi? Apakah mencintai seseorang harus memiliki alasan? Apakah ingin memiliki seseorang harus dengan suatu penyebab? Jika memang begitu adanya, lantas apa yang membuatmu pada akhirnya jatuh cinta padaku?"
Teya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu.." Gadis itu menjawab dengan sangat lirih..
"So.. Jangan lagi menanyakan hal yang tidak akan pernah memiliki jawabannya.." Ucap Javer.
Teya pun menganggukkan kepalanya.
"But, babby.." Ucap Javer kemudian.
"Hmm.."
Javer terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya bertanya. "Jika suatu saat nanti ada masalah besar yang mendatangi kita, bisa kah kau percaya padaku dan selalu berada di samping ku?"
Teya yang mendengar pertanyaan itu lantas sedikit mengendurkan pelukannya, kemudian mendongakkan wajahnya untuk menatap Javer.
"Aku akan selalu berada di sisimu, dan aku juga akan selalu percaya padamu." Gadis itu menjawab lalu mengembangkan senyum tulusnya.
Javer pun membalas senyuman Teya. "Aku juga beranji akan selalu percaya padamu dan tidak akan pernah melepaskanmu.. *Can you believe it?"
(*Bisa kah kamu mempercayainya?")
Teya menganggukkan kepalanya. "Yes, i can.."
"*You know how much i love you??" Javer bertanya seraya menatap mata Teya dengan sangat intense.
(*Kau tahu betapa aku mencintaimu?)
Teya menganggukan kepalanya dengan sedikit malu-malu.
Melihat gadisnya yang menggemaskan, benar-benar membuat Javer tak kuasa lagi menahan rasa gemasnya. Pria itu lantas menundukkan kepalanya untuk mengecup bibir Teya sekilas.
Namun, ketika Javer hendak menjauhkan kembali kepalanya. Teya sudah lebih dulu menahan kepala Javer lalu memberikan luma..tan pada bibir pria itu dengan sedikit kaku.
Javer yang menerima hal itu seketika menyunggingkan senyum simpulnya kemudian memimpin ciuman yang Teya berikan.
Hingga ketika Teya mulai kehilangan nafasnya, Javer pun melerai ciumannya kemudian menyatukan kening mereka untuk beberapa saat.
"Tidurlah, ini bukan saat yang tepat untuk aku memakan bibirmu.." Javer berkata seraya menenggelamkam wajah Teya pada dada bidangnya.
Teya yang mendengar hal itu pun hanya menanggapinya dengan terkekeh geli.
"I Love you Babby..." Ucap Javer kemudian mengecup puncuk kepala Teya dengan sayang.
"I Love you too Javer.." Sahut Teya lalu mulai memejamkan matanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..