Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Kecebong?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Ke esokan harinya..


Saat Javer masuk ke dalam kamar, pria itu sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak melihat keberadaan Teya.


"Teya?" Javer mencoba untuk memanggil gadis itu.


(I'm here..) Javer mendengar Teya menyahut dari dalam walk in closet.


Javer lantas menuju walk in closet untuk melihat apa yang sedang di lakukan gadis itu di dalam sana.


"Where are you going, babby? Bukankah seharusnya kau berbaring di atas kasur?" Javer bertanya saat melihat Teya yang tengah bersiap.


Teya yang tengah memakai lipstick pun melirik sekilas pada Javer melalui cermin yang ada di hadapannya.


"I'm okay Javer.. I wanna go drink coffee with Hana." Sahut gadis itu.


Javer lantas menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. "Hanya Hana?"


Teya menganggukkan kepalanya. "Apa kau lupa kalau Gena baru saja bertunangan dengan Liam? Akan sangat aneh jika gadis itu bisa lepas dengan mudah."


"Ya, kau benar. Tapi, apa kau yakin kalau kau baik-baik saja?"


"See.." Teya menghadapkan tubuhnya ke arah Javer. "Apa kau tidak melihatnya? Aku sungguh baik-baik saja."


Javer mengangguk kecil. "Okay.."


"Lantas, kenapa kau kembali? Bukan kah seharusnya kau masih nerada di kantor?" Teya melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Ini masih jam 11.. Bahkan belum waktunya untuk makan siang."


"Ada beberapa berkas yang tertinggal. Aku sengaja tidak meminta Marco untuk mengambilnya karena aku ingin melihat keadaanmu." Tutur Javer.


Karena ya, Javer pulang ke rumah selain untuk mengambil berkas yang tertinggal. Javer juga berniat untuk melihat keadaan gadisnya. Karena sedari tadi malam, gadis itu terlihat tidak enak badan. Oleh sebab itu, Javer ingin melihat keadaan gadis itu mengkhawatirkannya.


Teya mengangguk-anggukkan kepalanya. "But, i'm okay.. Tadi malam aku hanya terlalu lelah.."


"Yaa, kau memang terlihat baik-baik saja.. Lantas, di mana kalian akan minum kopi?"


"Begata Caffe.. Aku dan Hana ingin membahas skripsi. Kau tahu, otakku terlalu buntu jika harus mengerjakannya sendiri." Gadis itu berkata seraya memakai cardigannya.


Memdengar hal itu, lantas membuat Javer menaikkan sebelah alisnya. "Bukan kah kau yang paling pintar di antara kalian bertiga?"


Teya seketika saja mendengus sebal. "Oh c'mon Javer.. Meskipun begitu, aku tetap tidak sepintar dirimu."


"Ya ya ya, i'm sorry for this.."


Teya hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya.


"Mau berangkat bersama?" Javer bertanya karena Begata Caffe searah dengan kantornya.


Teya lantas berpikir untuk sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Sure.. Kalau begitu aku akan memakai sepatuku terlebih dahulu."


"Okay.. Aku akan menunggumu di mobil."


Teya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


.....


Setelah memarkirkan mobilnya di depan Begata Caffe, Javer lantas menoleh pada Teya.


"Apa kau ingin aku menjemputmu untuk pulang?" Tanya pria itu.


Teya menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku akan pulang bersama Hana."


"Okay.. Jangan lupa untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu."


Teya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya.


Saat Teya hendak keluar dari dalam mobil, Javer segera menggenggam tangan gadis itu.


Teya lantas menatap Javer dengan dahi yang mengernyit bingung.


"Apa aku melupakan sesuatu?" Tanya gadis itu kemudian.


"Ya, kau lupa membayar atas tumpangan yang aku berikan."


Teya seketika saja memutar bola matanya malas. Namun, meskipun begitu, Teya tetap memberikan kecupan sekilas di bibir Javer kemudian segera keluar dari dalam mobil sebelum pria itu meminta hal yang lebih jauh.


Javer yang melihat hal itu pun hanya bisa menyunggingkan senyum simpulnya kemudian kembali melajukan mobilnya.


.....


Saat masuk ke dalam cafe, Teya segera mendekati Hana yang sudah menunggunya.


"Sejak kapan kau datang?" Teya bertanya seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Hana.


Hana lantas melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "10 menit yang lalu." Ucap gadis itu.


"Apa kau datang bersama Javer?" Tanya Hana.


Hana seketika saja terkekeh geli. "Lantas, alasan apa yang kau katakan padanya?"


"Membahas skripsi." Gadis itu menjawab seraya menampilkan cengiran lebarnya.


"Tcih!" Hana menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Alasanmu memang selalu masuk akal."


Karena ya, tujuan yang sebenarnya adalah bukan untuk membahas skripsi. Melainkan untuk bertemu dengan aunty Syiena dengan tujuan untuk memeriksa kehamilan Teya. Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Hana tadi malam.


"Kalau begitu, apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Teya.


Hana menganggukkan kepalanya. "Sure.. Aunty Syiena sudah menunggu kedatangan kita."


Mereka pun segera beranjak dari sana untuk menuju rumah sakit tempat di mana Syiena bertugas dengan mengendarai mobil milik Hana.


Sesampainya di rumah sakit, ketika mereka berjalan menuju ruangan aunty Syiena, Teya menggenggam tangan Hana dengan cukup erat karena merasa sangat gugup.


"Are you okay?" Tanya Hana.


"I'm okay.. Hanya saja, aku merasa sedikit gugup." Teya menatap Hana dengan sedikit memelas.


"Cukup atur nafasmu dan berpikirlah kalau semuanya akan baik-baik saja. Toh, meskipun kau benar-benar hamil, aku yakin kalau Javer tidak akan mungkin menolak anak yang kau kandung."


"Benarkah?" Teya sedikit sanksi atas apa yang baru saja Hana katakan.


"Oh c'mon Teya." Hana memutar bola matanya malas. "Kau hanya berhubungan dengannya, dan Javer juga sangat mencintaimu. Akan sangat aneh jika pria itu sampai menolak bayi yang kau kandung. Jika hal itu sampai terjadi, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."

__ADS_1


Mendengar hal itu, lantas membuat Teya segera mengatur nafasnya guna mengurangi sedikit rasa gugupnya.


"Kau siap?" Hana bertanya sebelum dia membuka pintu ruangan aunty Syiena.


Teya menganggukkan kepalanya. "Aku siap."


Hana pun segera membuka pintu ruangan aunty Syiena.


"Hai.. Aku sudah menunggu kedatangan kalian.." Aunty Syiena berkata tat kala melihat kedatangan Hana dan Teya.


Hana dan Teya segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Syiena, dengan meja kerja Syiena sebagai pembatas di antara mereka.


"Maaf karena telah membuat aunty menunggu terlalu lama." Teya berkata dengan sedikit tidak enak hati.


Syiena lantas menyunggingkan senyum kecilnya. "Tidak masalah.. Aunty justru memanfaatkan hal itu untuk beristirahat. Kau tahu, akhir-akhir ini terlalu banyak calon ibu yang harus aunty tangani." Wanita itu berkata seraya memakai sarung tangan karetnya.


"Baiklah.. Kalau begitu, apa kita bisa melakukan pemeriksaan sekarang?" Tanya Syiena seraya menatap Teya dengan lembut.


Teya menghela nafasnya untuk sejenak kemudian menganggukkan kepalanya.


Syiena lantas meminta Teya untuk berbaring di atas brankar, tempat yang biasa Syiena gunakan untuk memeriksa setiap wanita hamil yang datang mengunjunginya.


Hanya yang mengerti kalau Teya merasa gugup pun dengan sigap berdiri di samping gadis itu. Hana lalu menggenggam tangan kiri Teya guna sedikit mengurangi rasa gugup gadis itu.


"Kau siap?" Tanya Syiena.


Teya menganggukkan kepalanya.


Mendapat persetujuan dari Teya, lantas membuat Syiena sedikit menyingkap baju yang di kenakan Teya agar perut gadis itu terlihat.


"Rileks, okay.. Ini tidak akan terasa sakit." Syiena berkata seraya menuangkan jel di atas perut Teya.


Yang mana, hal itu seketika membuat Teya menggenggam tangan Hana dengan sedikit erat karena jel itu terasa sangat dingin saat menyentuh permukaan kulit perutnya.


Menyadari hal itu, lantas membuat Syiena menatap Teya dengan menyunggingkan senyum kecilnya. "Apakah terasa dingin?"


Teya menganggukkan kepalanya. "Sedikit.."


"Baiklah, mari kita mulai melihat. Apakah ada sesuatu yang tumbuh di dalam perutmu." Syienna berkata seraya menempelkan alat USG di dalam perut Teya.


Hana dan Teya pun menatap ke arah layar monitor dengan sangat lekat-lekat. Mereka benar-benar merasa sangat penasaran, apa kah benar-benar ada kehidupan di dalam perut Teya.


Hingga setelah menggulirkan alat USG itu ke beberapa titik di perut Teya. Syienna pun menghentikan alat itu kemudian menunjuk satu titik kecil yang terpampang cukup jelas di layar monitor.


"Kalian bisa melihatnya? Itu adalah janin yang baru akan tumbuh." Tutur Syiena.


Yang mana hal itu seketika saja membuat Teya menatap Syiena dengan mata yang mengerjap.


"Apa kecebong itu benar-benar tumbuh di dalam perutku?" Tanya gadis itu dengan wajah polosnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2