Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Waktu Yang Tidak Tepat


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


"Hah.. Lelah sekaliiii" ucap Teya seraya merenggangkan lehernya yang terasa sangat kaku.


Teya lantas tersenyum ketika melihat Lusi yang mendekat ke arahnya.



Pict by : Ana De Armas


Lusi adalah gadis baik nan ramah yang menjadi rekan magang Teya selama 1 bulan terakhir ini.


Ya, 1 bulan yang lalu, setelah beradu debat yang cukup sengit dengan Javer. Pria itu pun akhirnya mengijinkan Teya untuk menjalani masa magangnya di perusahaan Bottega Veneta.


Dan ya, di sinilah Teya sekarang, berkutat dengan berbagai macam lembaran kertas design pakaian yang kini menjadi pekerjaannya selama 1 bulan terakhir ini.


Teya lantas sedikit mendongakkan wajahnya untuk manatap Lusi yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Teya kemudian.


Lisa pun menganggukkan kepalanya. "Mau makan siang bersama?" Lusi kemudian bertanya seraya menumpukan tubuhnya pada meja kerja Teya.


"Sepertinya aku harus melewatkan makan siangku, aku masih memiliki beberapa design yang harus aku selesaikan hari ini juga. Haaaahhhhh" Teya lantas menghela nafasnya sejenak. "Kau tau.. Aku terlalu malas jika harus kembali mendengarkan *Miss. Dona merapalkan mantra-mantra ajaibnya.." Teya menjawab dengan senyum yang sedikit di paksakan.


*Miss Dona : orang yang bertanggung jawab atas mahasiswa / mahasiswi yang menjalankan masa magang di perusahaan Bottega Veneta.


Lisa seketika terkekeh geli seraya bersedekap dada. "Um hum" Lisa mengangguk-anggukan kepalanya perlahan. "terkadang rasanya aku ingin menyumpal mulut nenek sihir itu menggunakan lembaran-lembaran kertas yang selalu dia lemparkan ketika dia mulai merapalkan mantra-mantra ajaibnya.."


Teya pun ikut terkekeh geli. "Ya, andai saja aku tidak mementingkan nilaiku, aku juga sudah melakukannya sejak awal"


"Lalu, apa aku perlu membantumu?"


Teya menggelengkan kepalanya. "Tak apa, kau bisa menikmati makan siangmu. Lagi pula, aku hanya tinggal merevisi beberapa bagian saja"


"Baiklah.. Kalau begitu, apa ada sesuatu yang kau inginkan? Aku akan membawakannya setelah menyelesaikan makan siangku"


Teya lantas menatap Lisa seraya tersenyum lebar. "Americano please.." ucap Teya seraya menyerahkan kartu magangnya untuk membayar minuman yang dia inginkan.


Lisa pun membalas senyuman Teya seraya menerima kartu itu. "Apa ada yang lain lagi?"


Teya kembali menggelengkan kepalanya. "No.. Thank you.."


"Ok, no problem.. Aku akan segera kembali" Lisa berkata kemudian berlalu pergi dari sana.


Setelahnya, Teya pun kembali memfokuskan diri untuk mengerjakan pekerjaannya.


Hingga beberapa saat kemudian, ada seorang pria yang menghampiri Teya dengan senyum manisnya.

__ADS_1



Pict by : Fabio L


Pria itu bernama Fabio, anak dari pemilik perusahaan Bottega Veneta yang kini menjabat sebagai direktur utama.


Pria yang selama satu bulan terakhir ini gencar mendekati Teya secara terang-terangan.


Ya, Fabio tertarik kepada Teya sejak hari pertama gadis itu memulai masa magangnya. Namun sayangnya, gadis incarannya itu sama sekali tidak memberikan respon positive atas niat Fabio.


Tapi, pria itu tidak menyerah untuk mendekati Teya. Karena setau dia, Teya masihlah seorang gadis lajang. Jadi, tidak ada salahnya kan dia mendekati gadis itu?


Toh selama Fabio mendekati Teya, meskipun gadis itu tidak merspon, tapi setidaknya gadis itu tidak memberikan penolakan yang nyata. Oleh sebab itu, Fabio merasa jika dia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati gadis itu.


Fabio seketika tersenyum saat melihat Teya yang terlalu fokus dengan lembaran-lembaran kertas design pakaian hingga tidak menyadari kehadirannya.


Pria itu lantas mengetuk meja kerja Teya agar gadis itu menyadari kehadirannya.


"Oh hai Mr. sejak kapan anda berdiri di situ?" Teya bertanya setelah mendongakkan wajahnya.


Fabio melirik jam yang ada di pergelangan tangannya lalu berkata. "Sejak dua menit yang lalu"


Teya seketika tersenyum seraya mengusap tengkuknya canggung. "Maaf, saya terlalu fokus dengan pekerjaan saya hingga tidak menyadari kedatangan anda. Lantas, apa ada sesuatu yang anda butuhkan?"


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat" pria itu menjawab seraya tersenyum kecil.


Teya pun mengangguk-anggukan kepalanya.


Teya mengedikkan bahunya. "Seperti yang anda lihat, saya masih memiliki pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini juga"


"Ok, but.. Emmm.. Nanti sore, ready for coffee? Ada hal yang perlu aku bicarakan padamu"


Teya berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya perlahan.


"Ok.. Nanti sore aku akan menunggumu di coffee shop yang ada di bawah.." ucap Fabio kemudian berlalu pergi dari sana.


.....


Sesuai dengan janjinya kepada Fabio siang tadi, Teya pun singgah di coffee shop yang berada di lantai 1 gedung perusahaan Bottega Veneta.


Teya lantas memesan segelas americano kemudian menghampiri Fabio yang sudah menunggunya di meja yang letaknya dekat dengan jendela.


"Apa anda sudah menunggu lama?" Teya bertanya setelah duduk di hadapan Fabio.


"Tidak, aku baru saja duduk saat kau masuk"


Teya pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Teya.." ucap Fabio kemudian.

__ADS_1


Gadis itu menoleh pada Fabio. "Yes Mr.?"


"Bisa kah kau tidak berbicara formal kepadaku? Setidaknya tidak untuk di luar jam kerja"


Namun, ketika Teya hendak menyahuti perkataan Fabio, mulutnya tiba-tiba saja terkatup rapat tat kala melihat Javer yang kini tengah melangkah ke arahnya, di iringi tatapan tajam pria itu yang tak lepas darinya.


Teya seketika sedikit menundukkan wajah lalu memejamkan matanya untuk sejenak. "Oh God, kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat!!" gadis itu menggerutu di dalam hatinya.


"Babby.." ucap Javer setelah berada di dekat Teya.


Teya lantas menatap Javer seraya berusaha untuk tersenyum manis.


Yang mana, hal itu sontak membuat Fabio sedikit terkejut. "Babby?" pria itu bergumam seraya menatap Teya dan Javer silih berganti. Lagi pula, siapa yang tidak terkejut ketika tiba-tiba saja mendengar pria no.1 yang paling di incar di seluruh daratan Eropa memanggil seorang gadis dengan sebutan "Babby"? Dan yang lebih parahnya lagi, gadis itu adalah gadis yang sedang di sukainya. Jadi, bukan kah wajar jika Fabio merasa terkejut?


Teya yang menyadari kebibungan Fabio pun segera memperkenalkan di antara mereka masing-masing.


"Ah begini.. Javer" Teya sedikit menengadahkan wajahnya untuk manatap Javer "Ini Mr. Fabio, direktur utama di tempat magangku." ucap Teya seraya sedikit menengadahkan tangan kanannya pada Fabio. "Dan Mr. Fabio" Teya lalu menatap Fabio "Ini Javer, tunanganku" ucap Teya seraya menunjukkan cincin yang melingkar di tangan kirinya.


Fabio pun melirik Javer sekilas lalu mengangguk-anggukan kepalanya perlahan dengan senyum yang sedikit di paksakan.


Sedangkan Javer? Pria itu masih setia menatap Teya dengan sangat tajam, seakan tidak menghiraukan keberadaan Fabio.


"Khem" Teya lantas sedikit berdehem guna menetralkan rasa gugup yang entah kenapa tiba-tiba saja melandanya. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini Javer?" Teya bertanya kemudian.


"Menjemputmu.." Javer menjawab dengan cepat.


"Bukankah Teya membawa mobilnya sendiri?" Fabio bertanya dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Saat Javer menoleh untuk menatap Fabio, Teya lekas-lekas menjawab.


"Tak apa, aku akan meninggalkan mobilku di sini.. Kalau begitu, aku pamit dulu.. Terima kasih untuk coffee nya, lain kali aku akan menraktirmu kembali" ucap Teya seraya beranjak dari duduknya, lalu sedikit menarik Javer agar segera pergi dari sana.


Meninggalkan Fabio yang kini tengah menyunggingkan senyum liciknya.


...-TBC-...


Btw, Sensi akhirnya mutusin buat ngasih judul di setiap bab nya. Biar wakk wakk sekalian tau maksud dari setiap bab yang sensi buat..


Thanks for reading lah ya pokonya..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2