Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Pesan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Di sisi lain..


"Kak, bisa kah kau menghentikan apa yang akan di lakukan anakku? Dia keponakanmu kak.. Tolonglah.." Eliza menampilkan wajah memelasnya.


Namun, Fier yang kini tengah duduk di sofa seraya memainkan tabletnya pun hanya mengabaikan Eliza.


"Kaaak.. Aku mohon.." Eliza mencoba untuk memohon pada Fier.


"Kaaaaak...." Eliza kini memegang tangan Fier, mencoba untuk menarik perhatian pria itu.


Fier lantas menghela nafasnya kemudian meletakkan tablet itu ke atas meja. Pria itu menoleh pada Eliza untuk beberapa saat.


"Apa kau ingin menghancurkan rencana yang telah ku buat selama puluhan tahun ini??" Pria itu berusaha untuk mengatur emosinya yang tiba-tiba saja naik.


"Tapi kaaakk.. Hal itu sudah berlalu.. Sebaiknya kau melupakan semuanya dan menjalani hidup dengan damai."


"Aku tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan damaiku sebelum aku berhasil membalaskan dendamku." Fier masih menciba berusaha untuk mengatur emosinya.


"Kaaak.. Hal itu sudah terjadi selama puluhan tahun yang lalu.."


"Lalu? Apa kau tidak sadar? Selama puluhan tahun ini mereka hidup senang sedangkan kita harus menderita karena kehilangan? Apa kau juga tidak menderita atas kehilangan suamimu?? Meskipun aku tidak menyukai pria itu, namun dia tetaplah suamimu!! Ayah biologis anakmu!!"


Eliza kini menatap Fier dengan semakin memelas. "Aku mengerti apa yang kau rasakan kak.. Tapi apa kau tidak memikirkan dampaknya akan seperti apa?? Kau juga sudah melihat sendiri bagaimana akhir dari Kavin yang masih saja berusaha untuk mengutamakan ego nya.. Mereka bukan orang sembarang kak.. Mereka terlalu berbahaya untuk di hadapi.."


"Itu karna suamimu yang terlalu bodoh!! Rencana itu seharusnya berjalan dengan mulus jika saja suamimu mau menunggu untuk sebentar lagi!!" Kini Fier sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


Ya, dulu, rencana yang di jalankan oleh Kavin adalah rencana yang di buat oleh Fier. Sebenarnya, Fier memang tidak menyukai pria itu karena telah merenggut kesucian Eliza di saat mereka belum menjalani pernikahan. Terlebih lagi, status Kavin yang merupakan seorang ketua mafia, semakin membuat Fier tidak menyukai pria itu.


Namun, setelah melihat ketulusan Kavin dalam mencintai Eliza. Dan juga setelah mempertimbangkan banyak hal tentang pria itu, Fier pun akhirnya menyetujui hubungan antara Eliza dan Kavin.


Tapi, di balik itu semua, perlu kalian ketahui, Fier menyetujui hubungan Eliza dan Kavin tidak hanya semata-mata karena memang menyetujui. Tapi karena Fier memanfaatkan Kavin sebagai alat balas dendamnya kepada Yama.


Namun sayangnya, akibat dari kebodohan Kavin yang terlalu mengutamakan ego, pria itu harus mati dengan tragis di tangan Yama. Andai saja Kavin mau sedikit bersabar, mungkin rencana Fier untuk membalas dendam pada Javer akan terpenuhi pada waktu itu.


Dan ya, akibat dari kebodohan Kavin itu sendiri. Adiknya kini harus hidup sebagai seorang janda dan membesarkan Fabio tanpa seorang ayah. Ya, meskipun kematian Kavin tidak berarti apa-apa bagi Fier.


Karena bagi Fier sendiri, Kavin tidak lah lebih dari sekedar alat untuk dia membalaskan dendamnya kepada Yama.


Dan Fier juga tidak terlalu merasa kecewa akan hal itu. Karena meskipun Kavin berakhir dengan kematian, Fier masih bisa memanfaatkan Fabio untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya.


Oleh sebab itu, sedari Fabio masih kecil, Fier sudah mengajari Fabio segala hal dengan sangat keras. Bahkan sedari Fabio masih kecil, Fier sudah menanamkan kebencian di kepala Fabio terhadap keluarga Griffiths.

__ADS_1


Hal itu di lakukan Fier agar Fabio semakin mudah dia jadikan sebagai alat balas dendamnya.


Sebenarnya, Fier bisa saja melakukan balas dendam dengan tangannya sendiri. Namun Fier lebih memilih untuk tidak mengotori tangannya. Fier lebih memilih untuk mencari alat yang bisa dia gunakan untuk menjalankan segala rencana yang dia buat.


Namun bedanya, kali ini Fier benar-benar menjaga Fabio dengan sangat baik. Dia tidak ingin sampai Fabio berakhir dengan tragis, sama halnya seperti Kavin.


Karena meskipun Fabio merupakan darah daging Kavin. Tapi di dalam tubuh Fabio juga mengalir darah Fier sendiri. Jadi, Fier tidak ingin jika keturunan secara tidak langsungnya berakhir dengan kematian.


Oleh sebab itu, kali ini Fier benar-benar berusaha untuk memperhitungkan semuanya dengan sangat matang. Fier juga selalu mewanti-wanti Fabio untuk selalu mengikuti instruksi yang dia berikan.


Dan ya, selama ini, hal yang membuat Fier yakin untuk menjalankan rencananya adalah karena Fabio yang selalu ada di jalannya. Keponakannya itu benar-benar selalu mengikuti apa yang di perintahkannya.


Hingga saat ini pun, Fabio sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari jalur yang semestinya. Hal itu lah yang kini membuat Fier semakin yakin kalau rencananya kali ini akan berjalan sesuai dengan kehendaknya.


Setelah menghela nafasnya, Fier pun beranjak dari duduknya.


"Sudahlah, kau cukup diam dan memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berjanji padamu, anakmu akan baik-baik saja. Ingat, dia keponakanku. Di dalam tubuhnya juga mengalir darahku, aku tidak akan mungkin membuat anakmu berada di dalam bahaya yang sangat besar." Tutur Fier.


"Tapi kaakk.."


Fier segera memotong perkataan Eliza. "Sudahlah.. Lebih baik kau kembali ke kamarmu.. Aku sudah terlalu lelah jika harus selalu berdebat denganmu mengenai hal ini. Cukup percayakan semuanya kepadaku dan kepada anakmu."


Pria itu kemudian berlalu pergi dari sana, meninggalkan Eliza yang kini mulai terisak kecil.


"Apa yang harus aku lakukan? Tuhaaan.. Tidak bisa kah kau memberiku sedikit kesempatan untuk melakukan apa yang akan di perbuat oleh mereka? Aku tidak ingin kehilangan pria yang aku cintai untuk yang ke sekian kalinya.. Aku benar-benar ingin hidup dengan damai.."


Wanita itu terus saja terisak seraya terus merapalkan doa di dalam hatinya.


Hingga tiba-tiba saja, Eliza menegakkan tubuhnya tat kala mendengar suara deru mesin motor.


Wanita itu lantas beranjak dari sana kemudian melangkah mendekati jendela dengan langkah lebar. Dia mengintip ke arah luar jendela melalui celah gorden yang sedikit dia buka.


"Apakah dia benar-benar akan pergi?" Eliza bergumam dengan sedikit risau tat kala deru mesin motor itu hanya terus berbunyi di tempat.


Tapi tak lama kemudian, Eliza menghela nafasnya dengan sangat lega tat kala Fier benar-benar mengemudikan motor itu keluar dari garasi.


Setelah memastikan Fier tidak lagi dalam jarak pandangnya, Eliza segera keluar dari kamar Fier menuju ke kamarnya sendiri.


Saat di dalam kamarnya, Eliza segera menarik kursi kayu yang ada di sudut ruangan menuju ke satu sudut yang lainnya.


Wanita itu lantas naik ke atas kursi dengan dada yang berdegup dengan sangat kencang.


Setelah berhasil menyeimbangkan tubuhnya, Eliza lantas menarik salah satu atap kamarnya yang terbuat dari kayu itu. Wanita itu kemudian mengambil sebuah ponsel yang dia sembunyikan di dalam sana.


Ponsel yang selama 3 bulan terakhir ini dia simpan tanpa sepengetahuan Fier maupun Fabio. Ponsel itu merupakan salah satu ponsel milik Fier yang sengaja Eliza ambil secara diam-diam.


"Ayolah, kenapa lama sekali." Eliza menggerutu karena ponse yang tengah dia pegang itu menyala dengan sangat lambat.

__ADS_1


"Huffhhh.." Eliza menarik nafasnya dengan sangat panjang tat kala ponselnitu sudah benar-benar menyala.


"Mungkin ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menghentikan mereka.." Eliza berkata seraya membuka aplikasi pesan yang ada di ponselnya.


"Semoga saja sim card ini masih berfungsi dengan baik."


Wanita itu lantas segera mengetikan pesan dengan tangan yang sedikit bergetar.


(TOLONG AKU!! YARAI!!")


Saat hendak menekan tombol kirim, Eliza tiba-tiba saja mematung saat mendengar suara deru mesin motor yang sudah kembali.


"Kenapa dia cepat sekali!!"


Eliza lantas segera mengirimkan pesan itu kemudian mematikan notifikasi dari ponsel itu. Eliza lalu segera menyimpan kembali ponsel itu ke tempat semula tanpa mematikan ponsel itu.


Setelah mengembalikan kursi itu ke tempat asalnya, Eliza kemudian segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia berbaring membelakangi pintu kamarnya dengan jantung yang masih saja berdetak dengan sangat cepat.


Tepat saat itu juga, terdengar Fier yang membuka kamar Eliza. Namun tak selang beberapa detik, Fier kembali menutup pintu kamar itu karena melihat Eliza yang tengah berbaring di atas kasur.


Mendengar suara pintu kamarnya yang kembali di tutup, lantas membuat Eliza melirik ke arah pintu. Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan sangat lega karena apa yang baru saja dia lakukan tidak di ketahui oleh Fier.


...-TBC-...


Nah nah.. Siapa nih kira-kira yang di kirimin pesan sama Eliza? Ada yang bisa nebak ga??


Kalo ada yang bisa nebak, coba kasih tau jawabannya di kolom komentar yak.. Terimakasih..


Lope-lope banyak-banyak dari sensi buat kalian yang udah setia ngebaca dan ngasih like Blue Lotus Flower..


Pokoknya makasih banget buat semua dukungannya..


Kalo masih banyak yang kurang, atau pun alur ceritanya kurang menarik, mohon maaf yang sebesar-besarnya..


Sensi bakalan ngusahain buat lebih baik lagi.. Makasih πŸ’•πŸ€—


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2