Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
One By One


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya...


Dan dalam satu kali gerakan, Enzo merebut pistol itu dari tangan Flow kemudian menodongkan pistol itu pada Flow.


"Akan aku tunjukkan cara menembak yang baik dan benar." Enzo berkata seraya menarik pelatuk pistol itu.


Melihat apa yang di lakukan Enzo, seketika saja membuat Flow menelan ludahnya dengan kasar.


"Tolong maafkan aku. A akku, aku, aku terpaksa me melakkkulan ini. Ku mohon, a ampunnni aku." Flow bersimpuh di depan Enzo dengan kedua tangan yang menangkup di depan dadanya.


"Aku mohon.." Flow menatap Enzo dengan sangat memelas, dia meminta Enzo agar memberikan belas kasihan padanya.


Namun, bukan Enzo namanya jika dia akan berbelas kasihan pada Flow. Pria itu mengarahkan pistolnya ke arah dada Flo.


"Sudah terlambat untuk meminta belas kasihan padaku!" Enzo mengedipkan sebelah matanya kemudian menembak Flow.


Flow yang mendapatkan tembakan pun seketika saja membulatkan kedua matanya. Dia terdiam mematung untuk beberapa saat kemudian terkapar tak berdaya.


Enzo lantas meludah kemudian segera bergabung dengan yang lainnya.


Baku tembak pun terus terjadi. Pihak Javer dapat melumpuhkan satu persatu anak buah Fabio. Tapi, tidak sedikit juga anak buah Javer yang gugur akibat baku tembak itu.


Hingga pada suatu ketika, pihak Fabio tiba-tiba saja menghentikan tembakan. Javer dan yang lainnya pun segera menghentikan tembakan. Mereka ada yang bersembunyi di balik tembok, di balik tumpukan karung berisi pasir, dan ada juga yang bersembunyi di balik tiang penyangga.


Setelah hening untuk beberapa saat, Fabio pun berkata. "Anak buahku sudah tidak tersisa, kami juga kehabisan peluru. Jadi, mari kita one by one."


Tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari pihak Javer, Fabio lantas keluar dari tempat persembunyiannya. Pria itu melemparkan pistolnya ke arah pihak Javer kemudian berdiri menunggu salah satu pihak Javer untuk menunjukkan diri.


Di ikuti dengan Ben, dan Mia. Mereka melemparkan pistol yang mereka pegang kemudian berdiri di belakang Fabio.


"Kami tidak memegang senjata apa pun, akan lebih adil jika kita melakukan one by one." Kata Fabio lagi.


Javer yang mendengar itu pun saling bertukar pandang dengan Teya, Liam dan Enzo. Mendapatkan anggukan dari ke 3 orang itu, Javer lantas keluar dari tempat persembunyiannya. Di ikuti oleh ke Teya, Liam, Enzo dan para anak buah yang tersisa.

__ADS_1


Fabio yang melihat Javer pun mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak membawa senjata apa pun, mari kita berduel one by one."


"Tidak, sebelum kau mengatakan keberadaan anakku!" Sahut Teya cepat.


"Tenanglah, anakmu aman, aku tidak menyentuh anakmu barang satu inci pun." Fabio tiba-tiba saja menyunggingkan smirknya. "Anda saja wanita itu tidak menggenggam anakmu dengan sangat erat. Mungkin saja aku sudah menggores setiap inci kulit mulus anakmu."


Hal itu sontak saja membuat emosi Teya yang sedari tadi dia tahan mulai naik ke permukaan.


"Kau benar-benar baj*ingan!!" Teya menatap Fabio dengan penuh emosi.


Fabio seketika saja terkekeh. "Maka dari itu, kalahkan aku terlebih dahulu. Maka kau akan mendapatkan anakmu."


Dan tanpa berkata apa pun lagi, Javer segera meletakkan semua senjata yang di bawanya ke atas lantai. Pria itu melepaskan jas yang di gunakannya kemudian menatap Fabio dengan sangat tajam seraya merenggangkan jari jemari tangannya.


Javer perlahan melangkah ke depan menunu Fabio. Begitu pula dengan Fabio, dia perlahan melangkah ke arah Javer.


Hingga mereka sudh dekat, Javer tiba-tiba saja mempercepat langkahnya kemudian memukul wajah Fabio dengan sangat kuat. Saking kuatnya, hal itu menbuat Fabio jatuh tersungkur ke belakang.


"Bangun! Tunjukkan rasa angkuhmu!" Ucap Javer.


Fabio lantas meludahkan darah yang keluar dari mulutnya kemudian bangun untuk menyerang Javer.


Tapi tidak dengan Javer, pria itu masih berdiri dengan sangat tegak. Bahkan wajahnya masih terlihat sangat segar tanpa ada satu pun bekas pukulan. Karena mau di bandingkan dari segi mana pun, Fabio tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Javer.


Hal itu bisa terjadi karena Fabio tidak dapat mengontrol emosinya. Kekuatannya benar-benar melemah karena Fabio terlalu kalut dalam emosi yang dia rasakan. Sangat berbanding terbalik dengan Javer yang mempu mengontrol emosinya dengan sangat baik.


Melihat Fabio yang sudah tidak berdaya, lantas membuat Mia dan Bem maju untuk membantu Fabio.


Namun sayangnya, niat mereka harus terhenti karena Teya dan Liam sudah lebih dulu menerjang mereka berdua.


Ben yang sedikit terdorong ke belakang akibat Liam menendng perutnya pun segera menegakkan tubuhnya kembali.


"Jangan coba-coba membantunya." Liam berkata kemudian mulai menyerang Ben.


Sedangkan Mia, dia yang jatuh tersungkur akibat Teya menendang tulang keringnya pun hanya bisa meringis seraya menatap Teya dengan sangat nyalang.


"Hei Bit*Ch! Ingat! One by one.." Teya berkata seraya menatap Mia dengan tak kalah nyalangnya.


Mia lantas berdiri kemudian mulai memyerang Teya. Dia melayangkan pukulan pada Teya dengan sekuat tenaga. Namun, karena Teya sudah terlatih dalam bela diri semenjak dia kecil, Teya dapat menangkis pukulan itu.

__ADS_1


Sekali lagi, Teya sepertinya memang harus berterima kasih pada Rion yang selalu memaksanya untuk belajar bela diri.


Merasa tidak terima karena Teya dapat menangkis pukulannya dengan sangat mudah, lantas membuat Mia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyerang Teya.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Teya menyunggingkan senyum tipisnya. Teya benar-benar suka jika lawan bertarungnya diliputi emosi yang besar. Hal itu akan memudahkan Teya untuk melawan lawannya.


Karena jika di lihat dalam segi tubuh, Teya jauh lebih mungil jika di bandingkan dengan Mia. Oleh sebab itu, Teya benar-benar akan memanfaatkan emosi Mia untuk melawan gadis itu.


"Apa hanya itu saja kemampuanmu?" Teya bertanya dengan pongah saat Mia jatuh tersungkur akibat tendangannya.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat emosi Mia semakin menjadi. Dia menatap Teya dengan semakin nyalang seraya memegang perutnya yang baru saja di tendang oleh Teya. Karena sungguh, tendangan yang Teya berikan tidaklah main-main.


Mia yang awalnya meremehkan kemampuan Teya pun kini mulai mengumpulkan seluruh konsentrasinya. Karena sungguh, meskipun Teya memiliki tubuh yang mungil, gadis itu memiliki tenaga yang sangat besar untuk seukuran tubuhnya.


Mila lantas kembali berdiri kemudian mulai melawan Teya dengan serius.


Karena terus menerus mendapat serangan, lambat laun mulai membuat Teya sedikit kewalahan menghadapi Mia. Hingga ketika dirinya sedikit lengah, Teya mendapat pukulan tepat di wajahnya. Menyebabkan mulut Teya kini sedikit mengeluarkan darah akibat dari bibir bagian dalamnya yang robek.


Tapi, Teya dapat memutar balikkan keadaan. Dia memukul dada Mia dengan sangat kuat sehingga membuat Mia mundur ke belakang, dan dalam gerakan cepat, Teya melayangkan tendangannya ke kepala Mia hingga membuat Mia jatuh dalam posisi terlentang.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Teya naik ke atas tubuh Mia kemudian mulai memukul wajah Mia dengan membabi buta.


"Rasakan ini!!" Teya meninju wajah Mia dengan sangat kuat.


"Dengar! Aku belum membalaskan dendamku padamu karena kau telah membantu Flow untuk memberikan Afrodisiak pada suamiku!" Teya berkata seraya terus meninju wajah Mia dengan sangat brutal hingga membuat wajah Mia kini di penuhi dengan darah.


Mia yang sudah tidak berdaya pun hanya bisa pasrah menerima setiap tinju yang di layangkan oleh Teya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2