
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Sebelumnya..
Javer pun mengangguk-anggukan kepalanya kemudian bertanya. "Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum dia dan adik perempuannya menghilang? Atau, adakah sesuatu yang sedikit aneh dari adik perempuannya sebelum mereka menghilang?"
"Ada.." Sahut Mona cepat.
....
Javer yang mendengar hal itu pun menaikkan sebelah alisnya seolah meminta Mona untuk menjelaskannya.
"Hmmm..." Mona tampak berpikir sejenak kemudian berkata. "Beberapa bulan sebelum mereka menghilang, Eliza sempat dekat dengan seorang pria yang Zia juga belum pernah melihat wajahnya. Namun, saat itu Fier menentang keras hubungan Eliza dengan pria itu hingga mereka berdua terlibat pertengkaran yang cukup hebat. Saat itu pun Zia tidak terlalu ikut campur.. Karena setelah Zia tanyakan, Fier berkata jika pria itu merupakan pria dari kalangan masyarakat pada umumnya. Jadi, Zia pun membiarkannya, karena memang bukanlah hal yang baik jika kita berhubungan dengan orang dari kalangan masyarakat pada umumnya."
Mona menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Hingga pada satu malam, saat Eliza pulang dari sebuah pesta bersama dengan teman-temannya, dia pulang dalam keadaan yang sedikit berantakan. Tapi, Zia tidak terlalu memperhatikan hal itu. Karena, bukan kah hal wajar jika pulang dari pesta dalam keadaan yang sedikit berantakan?"
Javer dan kakek tua Robert menganggukkan kepala.
Mona lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Lalu, esok harinya, tepat setelah Eliza pulang dari pesta itu, dia kembali bertengkar hebat dengan Fier. Zia sudah berusaha menanyakan hal itu karena Zia merasakan sedikit keanehan di antara mereka, tapi Eliza hanya berkata jika itu adalah pertengkaran biasa antara dua saudara. Dan Zia pun lagi-lagi hanya membiarkannya. Hingga seiring berjalannya waktu, Zia mulai melihat perubahan pada bentuk tubuh Eliza."
"Ya, kakek juga melihat perubahan yang sangat signifikan dari gadis itu. Hanya saja, waktu itu Eliza sangat menghindari kakek. Di tambah lagi dengan kakek yang waktu itu sangat sibuk dengan pekerjaan kakek, jadi kakek tidak bisa terlalu memperhatikan gadis itu." Kakek tua Robert menimpali perkataan Mona.
Setelah memikirkan hal itu, Mona tiba-tiba saja mengerutkan dahinya seraya menatap Javer dengan sedikit ragu. "Tunggu dulu.. Kalau di pikir-pikir lagi, perubahan bentuk tubuh gadis itu dulu seperti tengah mengandung. Hanya saja, dulu Zia belum mengerti apa-apa. Jadi, di saat Eliza berkata jika berat badannya bertambah karena terlalu banyak makan, Zia pun hanya memakluminya.." Wanita itu menghela nafasnya sejenak. "Apa jangan-jangan....." Wanita itu menggantungkan perkataanya.
Javer lantas mengeluarkan sebuah amplop yang ada di dalam saku jas bagian dalamnya kemudian meletakkan amplop itu di atas meja.
"Hal itu akan memperjelas apa yang ada di pikiran Zia." Ucap Javer.
Mona pun segera membuka amplop itu. Hingga saat Mona dan Kakek tua Robert melihat isi di dalam amplop itu, seketika membuat mereka merasa terkejut.
"Jadi, Fier dan Eliza menghilang karena hal ini?" Tanya kakek tua Robert seraya memperhatikan isi dari amplop itu yang merupakan beberapa lembar kertas dan 2 lembar foto.
Javer mengedikkan bahunya. "Setelah apa yang aku cari, mereka menghilang demi menutupi kehamilan Eliza."
__ADS_1
"Tapi tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan wajah anak ini." Kakek tua Robert berkata seraya kembali memperhatikan salah satu foto yang merupakan anak dari Eliza.
"Ya, wajah anak ini terlihat tidak asing.." Mona tampak berpikir sejenak. "Bukan kah itu wajah Kavin? Tapi.. Tidak mungkin kan jika Eliza memiliki anak dari Kavin?" Wanita itu bertanya dengan sedikit ragu.
"Dia memang anak kandung Kavin.." Sahut Javer cepat.
"Maksudmu??" Tanya Kakek tua Robert cepat.
Javer lantas mengeluarkan sebuah pemutar MP3 dari dalam aaku jasnya kemudian meletakkan pemutar rekaman itu di atas meja.
Pict by : Pinterest
"Di situ berisi informasi dari seorang wanita yang merupakan salah satu teman Eliza yang mengikuti pesta." Ucap Javer.
Mona lantas menekan tombol play pada pemutar MP3 itu. Saat mendengar isi informasi yang ada di dalam pemutar mp3 itu, Mona seketika menutup mulut menggunakan tangan kanannya karena merasa benar-benar terkejut atas apa yang dia dengar.
Begitu pun dengan Kakek Robert, mata pria tua itu terlihat bergulir kesana kemari karena merasa terkejut atas apa yang baru saja dia ketahui.
"Benarkah ini?" Mona bertanya dengan di penuhi rasa tidak percaya.
Javer menganggukkan kepalanya. "Ya, Kavin dan Eliza melakukan malam panas pada saat malam pesta."
"Jadi, Fier menantang keras hubungan Eliza dengan pria itu karena pria itu adalah Kavin?" Mona terlihat seakan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ketahui.
"Kheil sudah mencocokkan data pira itu dengan data milik Kavin berulang kali, dan hasilnya selalu sama."
"Lantas, apa yang membuatmu mencari tahu tentang semua ini?" Tanya Kakek Robert.
Javer menghela nafasnya kemudian berkata. "Pria itu sudah 2x mencoba untuk membunuh Teya."
"Tapi, untuk apa??" Tanya Mona.
"Itu yang saat ini sedang kami cari tahu.." Sahut Javer.
"Apa kalian mengetahui keberadaan mereka?" Tanya Kakek tua Robert.
__ADS_1
Javer menggelengkan kepalanya. "Kami sedang mencarinya."
Mendengar itu, Kakek Tua Robert beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju sebuah lemari kaca yang penuh dengan buku yang tersusun dengan sangat rapi.
Javer dan Mona yang melihat hal itu pun hanya memperhatikan apa yang akan kakek tua Robert lalukan, hingga kakek tua Robert kembali dengan membawa sebuah buku.
Setelah duduk, kakek tua Robert membuka buku itu kemudian mengambil selembar foto rumah yang terselip di dalam buku itu.
Sejenak, Kakek tua Robert memperhatikan foto itu sebelum akhirnya menyerahkan foto itu pada Javer.
"Aku tidak tau mereka ada di rumah itu atau tidak. Tapi, ku rasa, tidak ada salahnya kau mencoba untuk mendatangi rumah itu." Ucap Kakek tua Robert lalu kembali mengambil satu lembar kertas yang di lipat yang juga terselip di buku itu.
"Letak rumah itu berada jauh di dalam hutan Kavilona, kau hanya akan sampai menuju tempat itu jika kau mengikuti denah ini. Karena rumah itu adalah rumah yang ku bangun dengan tanganku sendiri." Kakek tua Robert kembali berkata seraya menyerahkan selembar kertas yang di lipat itu.
"Baiklah, aku akan mencoba untuk mendatangi rumah ini." Javer berkata kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku pergi dulu.." Javer kembali berkata kemudian hendak berlalu pergi dari sana.
Namun, langkahnya terhenti tat kala Kakek tua Robert berkata.
"Bisa kah kau membawa Fier ke hadapanku dalam keadaan hidup-hidup?"
Javer lantas menoleh pada Kakek tua Robert. "Aku akan melakukannya." Pria itu berkata kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1