Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Pekerjaan Penting


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Sebelumnya...


"Hmmm.. Sepertinya tid... Tunggu dulu.. Mungkinkah?"


"Fier??" Ucap Javer dan Mona secara bersamaan.


Dengan Mona yang menampilkan ekspresi bingungnya, dan dengan Javer yang menaikkan sebelah alisnya.


.....


"Tapi aku ragu jika itu Fier."


"he em.." Mona mengangguk menyetujui apa yang di katakan oleh Javer. "Dia tidak mungkin menghubungi Zia. Satu-satunya orang yang sudah pasti akan di hubungi oleh pria itu tidak lain dan tidak bukan hanya Kakek tua Robert. Dan juga, Fier tidak lah mengetahui nama kecil Zia. Tapi, siapa lagi? Dan, untuk apa?"


Mona terlihat merenung untuk beberapa saat. Begitu pun dengan Javer, pria itu menopang dagu dengan kedua tangannya yang di satukan yang bertumpu pada kedua lututnya.


"Apa kah mungkin Eliza?" Javer bertanya dengan sedikit ragu.


"Oh God.. Javer, kenapa Zia sama sekali tidak terpikirkan oleh Eliza!!" Mona berseru dengan sedikit panik. "Selain kalian berempat, satu orang lagi yang mengetahui nama kecil Zia adalah Eliza. Oh Tuhaaan.. Zia benar-benar tidak terpikirkan akan dia!!"


"Apa Zia yakin?"


Mona mengangguk cepat. "Zia yakin, satu-satunya orang luar yang mengetahui nama Zia hanya dia, hanya Eliza."


Javer menaikkan sebelah alisnya. "Lantas?"


"Kita harus mencari tahu bahaya apa yang tengah di hadapai oleh Eliza. Di pesan itu jelas dia meminta pertolongan." Sahut Mona cepat.


Javer menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, pria itu menatap Mona untuk beberapa saat. "Bagaimana kalau itu hanya sebuah jebakan?" Tanya Javer kemudian.


Mona menggelengkan kepalanya. "Tidak.. Zia yakin, itu bukan jebakan.. Zia tau betul bagaimana sifat Eliza. Dia tidak mungkin menghubungi Zia jika bukan dalam keadaan yang sangat terdesak."


Mendengar Mona yang berbicara dengan di penuhi rasa keyakinannya, lantas membuat Javer menghela nafasnya untuk sejenak.


"Apa Zia yakin?" Javer masih meragukan keyakinan Mona.


Mona mengangguk cepat. "Ya, Zia yakin.. Sangat-sangat yakin.. Itu bukan jebakan.."


Javer kembali menghela nafasnya, pria itu lalu menegakkan tubuhnya.


"Baiklah, jika memang itu yang Zia yakini." Javer meraih ponsel jadul milik Mona. "Aku akan membawa ponsel ini untuk melacak keberadaan Eliza."


"Kau boleh membawanya sampai kau berhasil menemukan keberadaan Eliza. Zia mempercayakan semuanya kepadamu. Hanya saja, segera kabari Zia jika kau sudah menemukan keberadaannya."


"Hmm.." Javer menganggukkan kepalanya.


"Aku pergi.. Aku akan mengabari Zia secepatnya.."


Javer lantas beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Mona yang menatap kepergian Javer dengan harap-harap cemas.


.....


Saat di dalam perjalanan, Javer sedikit memelankan laju mobilnya lalu meraih ponselnya yang ada di dalam saku jas nya. Pria itu membuka aplikasi pesan dalam grup yang berisikan dia dan ke 3 orang temannya. Dia lalu mengetikkan pesan di sana.


(Datang ke markas sekarang! Aku memiliki pekerjaan untuk kalian!)

__ADS_1


Hanya selang beberapa detik setelah pesan itu terkirim, Javer langsung melihat jika pesan yang dia kirim sudah di baca oleh ke 3 temannya. Dia bisa melihatnya dari pesan itu yang sudah bertanda 'READ'.


Javer pun meletakkan ponselnya ke jok mobil yang ada di sampingnya. Pria itu lalu mengembalikan laju mobilnya ke kecepatan seperti sebelumnya agar segera sampai di markas.


...


Di sisi lain..


Triiiiing!!!!


Mendengar notifikasi khusus dari ponselnya, Kheil yang tengah berkutat dengan bahan-bahan kimia nya pun segera menghentikan kegiatannya.


Pria itu segera membuka pesan yang dia dapatkan. Setelah membaca pesan itu, tanpa basa basi lagi, dia langsung beranjak dari sana untuk segera menuju ke markas.


.....


Sementara itu...


Triiiiing!!!


Mendengar notifikasi khusus dari ponselnya, Liam yang kini tengah berbincang dengan Gena di sebuah cafe pun segera mengalihkan perhatiannya dari Gena pada ponsel miliknya.


"Tunggu sebentar.." Pria itu kemudian merih ponselnya.


Gena pun hanya diam seraya memperhatikan Liam yng tiba-tiba saja merubah ekspresinya menjadi sangat serius.


"Ada apa?" Tanya Gena.


"Sepertinya aku harus segera pergi, ini mendesak.." Liam berkata dengan sangat tidak enak hati.


Gena menganggukkan kepalanya. "Pergilah, aku akan pulang menggunakan taksi.."


"Tidak, aku akan mengantarmu terlebih dahulu." Liam segera menolak usulan Gena.


"Kau yakin?"


Gena tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Pergilah, aku baik-baik saja.."


"Baiklah kalau begitu, maafkan aku, aku tidak bisa mengantarmu.."


"Ya.. Pergilah.."


Liam pun beranjak dari duduknya kemudian segera pergi dari sana.


.....


Di sisi lainnya lagi..


"Ya, seperti itu.." Enzo menengadahkan kepalanya, kedua tangannya memegangi kepala wanita yang tengah berada di pusatnya.


"Oh yah.. Kau memang tidak pernah mengecewakanku!!"


Enzo semakin menaik turunkan kepala wanita itu.


Namun..


Triiiiing!!!!


Mendengar notifikasi khusus dari ponselnya, Enzo meminta si wanita yang tengah berada di antara kedua pahanya itu untuk segera menyingkir.


"Ada apa?" Si wanita bertanya dengan sedikit bingung.

__ADS_1


"Shuuuttt.." Enzo meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. "Ini mendesak.."


Dia lalu meraih ponselnya kemudian membuka pesan yang dia terima.


Setelah membaca isi pesan itu, Enzo kemudian melemparkan ponselnya ke atas sofa dengan sedikit kesal.


"Haishh!! Kenapa harus di saat-saat seperti ini!! Tidak bisa kah dia menundanya sedikit lebih lama lagi!! paling tidak 15 menit lagi.. Haasshh!!!"


Enzo bergumam seraya merapikan kembali celananya yang sedikit dia turunkan.


Si wanita yang melihat apa yang di lakukan oleh Enzo pun semakin menatap Enzo dengan sangat bingung.


"Tuan, kau akan pergi? Kita bahkan belum sampai pada intinya." Si wanita itu berkata dengan wajah yang sedikit memelas.


"Kita bisa melanjutkan ini lain waktu, aku mendapatkan pekerjaan yang benar-benar mendesak."


Enzo meraih ponsel dan dompetnya kemudian segera berlalu pergi dari sana. Namun, saat di ambang pintu, Enzo menghentikan langkahnya lalu menoleh pada wanitu itu.


"Aku akan mengirimkan bayaran untuk hari ini ke rekeningmu. Tenang saja, aku akan membayarmu seperti biasanya.."


Si wanita itu pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dengan sangat semangat. "Terima kasih Tuan.. Kau memang yang terbaik.."


"Baiklah, sampai jumpa lain waktu.."


"Aku akan siap kapan pun Tuan mengiginkanku.."


Si wanita itu melambaikan tangannya pada Enzo.


Enzo pun hanya membalasnya dengan senyum kecil kemudian benar-benar berlalu pergi dari sana.


....


Kembali ke sisi Javer.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lancar, Javer pun akhirnya sampai di markas, yang sudah kita ketahui kalau markas itu terletak tepat di bawah bangunan rumah milik Yama.


Saat Javer memarkirkan mobilnya di basement, dia menyunggingkan senyum kecilnya tat kala melihat ke 3 mobil temannya yang sudah terparkir secara rapi di sana.


"Mereka memang tidak pernah mengecewakanku." Javer bergumam seraya turun dari mobilnya.


Javer lalu mendekati lemari besar yang ada di sudut basement. Javer membuka lemari itu kemudian menekan tombol kecil yang ada pada patung singa kecil yang terletak di rak no 3 dari atas.


Setelah Javer menekan tombol kecil itu, lemari pun bergeser ke arah samping kirinya, menampilkan jalan masuk rahasia menuju markas utama Cosa Nostra.


Pintu rahasia yang sengaja Javer buat agar mempermudah masuk ke dalam markas. Karena pintu yang sebelumnya Yama buat terletak di halaman belakang rumah dan di dalam rumah.


Javer membuat pintu itu selain bertujuan untuk mempermudah masuk ke dalam markas, Javer juga tidak ingin terlalu mengganggu ketenangam Athena. Jadi, Javer memutuskan untuk memindahkan pintu masuk ke dalam markas tepat di basement tempat mereka biasa memarkirkan mobil.


Setelah memastikan pintu itu tertutup kembali, Javer pun segera berjalan masuk ke dalam markas. Di mana ke 3 temannya itu sudah menunggu.


...-TBC-...


Gimana wakk, ceritanya ngebosenin ga?? Atau jalan ceritanya mudah di tebak?? Tolong jawab di kolom komentar yakk.. πŸ€—


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2