Blue Lotus Flower

Blue Lotus Flower
Bonus Chapter : Al x Teya


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Beberapa minggu pun berlalu...


"Al.." Teya mengetuk pintu kamar Al.


"Aaaaal..."


"Ck, apa yang di lakukan anak itu? Tidak tahu kah kalau kita hampir terlambat." Gumam Teya.


"Ralvanooo!!" Teya kembali mengetuk pintu kamar Al.


Tidak kunjung mendapat sahutan dari Al, Teya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar anak laki-laki itu.


Saat masuk ke dalam, Teya seketika saja menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tempat tidur Al yang masih berantakan.


Teya lantas mendekati kamar mandi saat dia mendengar gemericik air dari dalam sana.


"Al!" Teya mengetuk pintu kamar mandi.


"Yes mom?" Sahut Al dari dalam sana.


"Bisa kah kau menyelesaikan mandimu dengan cepat, kita hampir terlambat!" Teya mengomel seraya mendekati tempat tidur Al.


"Yes mom.."


"Cepatlah! Apa saja yang kau lakukan sedari tadi! Kenapa kau baru mandi di saat kita sudah akan berangkat!" Teya terus saja mengomel seraya merapikan tempat tidur Al. "Bahkan kau tidak merapikan tempat tidurmu! Sejak kapan kau menjadi anak yang pemalas!"


Mendengar Teya yang terus mengomel, alih-alih merasa kesal, Al kini justru tengah mengembangkan senyumnya.


Karena, ketahuilah, sebenarnya Al sudah menyelesaikan mandinya sejak 30 menit yang lalu, Al bahkan sudah selesai bersiap. Al sengaja masuk ke kamar mandi setelah mendengar Teya mengetuk pintu kamarnya. Al sengaja tidak segera keluar dari kamarnya karena dia ingin Teya memanggilnya. Al juga sengaja membiarkan tempat tidurnya berantakan karena Al ingin Teya mengomelinya.


Sungguh, Al benar-benar suka mendengar suara omelan Teya. Karena setelah 7 tahun lamanya, Al akhirnya bisa merasakan apa yang selama ini ingin dia rasakan. Al kini akhirnya bisa mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.


Ya, selama ini, Al menginginkan kasih sayang seorang ibu yang benar-benar berasal dari ibunya sendiri. Al selama ini ingin merasakan bagaimana rasanya mendapatkan omelan dari ibunya.

__ADS_1


Dan kini, setelah dia merasakan apa yang menjadi keinginannya, Al benar-benar menikmatinya. Al benar-benar menyukai bagaimana Teya akan memarahinya ketika dia melakukan kesalahan. Al benar-benar menikmati bagaimana Teya akan mengomelinya ketika dia tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Al benar-benar menikmatinya.


Bahkan, demi mendapatkan omelan dari Teya. Al sering kali sengaja melakukan kesalahan, Al sering kali sengaja membantah. Al benar-benar sengaja melakukan hal itu.


Javer yang menyadari apa yang di lakukan Al pun hanya membiarkannya. Karena Javer juga merindukan suara Teya, Javer juga merindukan bagaimana rasanya di marahi oleh Teya. Bahkan kelakuan Javer sama persis dengan Al. Pria itu sering kali sengaja melakukan kesalahan agar Teya terus memarahinya.


Javer benar-benar rindu mendengarkan ocehan yang keluar dari mulut Teya. Oleh sebab itu, Javer membiarkan Al melakukan apa yang dia inginkan. Karena Javer sangat mengerti tujuan dari kenapa Al sengaja kerap kali melakulan kesalahan.


"Aaaaallll..." Teya kini sedikit meninggikan suaranya karena Al tak kunjung keluar dari kamar mandi, Teya bahkan sudah selesai merapikan tempat tidur Al.


"Yes mommy, i'm done.." Al keluar dari kamar mandi seraya berpura-pura merapikan baju yang dia kenakan.


Teya yang melihat hal itu seketika saja berkacak pinggang seraya menatap Al dengan alis yang sedikit menukik.


"Kau memakai pakaianmu di dalam kamar mandi?" Teya kini merasa sesikit curiga pada Al.


Al seketika saja menelan ludahnya, dia merasa was-was kalau saja Teya menyadari akal-akalannya.


"Khem, bukan kah itu lebih praktis mom? Dengan begitu, kita bisa langsung berangkat ke pesta pernikahan uncle Marco dan aunty Nay."


Ya, acara yang saat ini hendak mereka datangi adalah pesta pernikahan Marco dan Nay.


Setelah kejadian yang berlalu, Nay sudah mengakui kesalahannya. Namun, dia tidak mendapatkan hukuman apa pun karena dia melakukan hal itu karena mendapatkan ancaman.


Jadi, Javer membebaskan Nay dari segala hukuman. Javer bahkan membantu Nay mencarikan donor jantung untuk anaknya. Sehingga kini, anak Nay sudah tidak lagi terbaring di atas brangkae rumah sakit.


Bahkan, anak Nay kini sudah bisa menempu pendidikannya. Anak nay juga sudah bisa bermain selayaknya anak pada umumnya. Tidak hanya itu saja, anak Nay kini juga menjadi teman baik Al.


Lantas, bagaimana bisa Nay dan Marco menjadi dekat?


Hal itu bisa terjadi karena dulu, Marco lah yang bertanggung jawab mencarikan donor jantung untuk anak Nay. Marco juga lah yang di tugaskan oleh Javer untuk mengantar Nay pulang pergi ke rumah sakit tempat anak Nay di rawat.


Dari sanalah mereka bedua menjadi lebih dekat hingga benih-benih cinta mulai tumbuh di hati mereka.


Setelah hampir 3 tahun menjalin hubungan, mereka pun memutuskan untuk melangsungkan pernikahan.


Awalnya, Nay ingin melangsungkan pernikahan setelah Teya bangun dari komanya.


Namun, karena hal itu tidaklah pasti, Javer meminta Nay untuk segera melangsungkan pernikahannya.

__ADS_1


Nay pun akhirnya setuju untuk melangsungkan pernikahannya tanpa harus menunggu Teya bangun dari komanya.


Tapi, alangkah bahagianya Nay, apa yang di inginkannya menjadi kenyataan. Sebelum acara pernikahannya berlangsung, Teya sudah lebih dulu bangun dari komanya.


Hal itu benar-benar membuat Nay merasa sangat bahagia.


Nay pun sudah menceritakan semuanya pada Teya mengenai bagaimana Al bisa berada di tangan Fabio. Nay menjelaskan semua itu karena Nay ingin mendapatkan maaf dari Teya, Nay ingin menjalani hidupnya tanpa beban perasaan bersalah.


Dan ya, Teya tidak mempermasalahkan hal itu karena sebelumnya Javer sudah memberikan penjelasan kepadanya.


Nay pun kini sudah bisa menjalani kehidupannya tanpa memiliki beban perasaan bersalah pada Teya.


"Tapi, kenapa kau tampak mencurigakan Al?" Teya menatap Al dengan sangat menyelidik.


"Ha ha.." Al tertawa canggung. "Aku benar-benar berganti pakaian di dalam kamar mandi, mom.. Lagi pula, kenapa dalam beberapa hari terakhir ini mommmy kerap kali mencurigaiku?"


Teya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Seperti itu kah?"


"Em hem.." Al mengangguk-anggukkan kepalanya, anak itu diam-diam mengulum senyumnya.


Dia merasa gemas sendiri melihat wajah bingung Teya. Karena meskipun Teya sudah tidak lagi muda, namun Teya tetap memiliki wajah bak anak remaja. Kini Al mengerti, kenapa daddynya bisa begitu tergila-gila pada mommynya.


"Ah, sudahlah.. Sebaiknya kau cepat-cepat bersiap, kita harus segera berangkat sebelum kita benar-benar terlambat." Teya berkata seraya hendak berlalu dari kamar Al.


Tapi, sebelum itu, Teya kembali berkata. "Ingat, cepat, jangan menunda waktu lagi, atau mommy akan meninggalkanmu.."


"Ay ay mom.. 5 menit lagi aku turun ke bawah." Al menunjukkan senyum manisnya.


Lalu, Teya pun benar-benar berlalu pergi dari sana.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2